4. Cantik dan berani

2046 Kata
Saat kami melewati meja di mana Alvin sedang tidur, cowok itu masih memejamkan matanya dengan pulas. Sekilas aku melihat wajahnya yang tak dihiasi kacamata bulat kesayangannya itu. Aku menepis bayangan yang tidak-tidak, daripada ngayal lagi. "Masih tidur, jir. Kalo diabsen Mam gimana?" gumam Jojo lesu. Raut wajahnya tidak enak. "Jujur aja tinggal bilang nggak tahu." "Kalo disuruh nyari dan harus bawa dia balik ke kelas gimana?" Jojo memandangiku serius. Aku terdiam. Kami pernah disuruh mencari Alvin yang bolos jam pelajaran Seni Rupa, kami tidak mendapatinya di manapun. Saat kembali ke kelas tanpanya, kami diperintah jangan ikutan kelas sampai bisa datang membawa Alvin. Merepotkan sekali bukan sekelas dengan anak yang semaunya saja. Waktu itu akhirnya kami menemukan Alvin di depan aula (bangunan tambahan berada di belakang sekolah) sedang merokok, setelah dibujuk ke kelas akhirnya dia menurut untuk ikut. Nyebelin banget sih anak itu merasa seperti sekolahan ini miliknya saja dengan bertingkah semaunya begitu. "Terpaksa bangunin singa tidur," lirihku. Menatap ke Jojo kemudian meja Alvin bergantian. Mata Alvin yang terpejam perlahan buka. Layaknya film horor, tengkukku meremang hawa-hawa dingin. Alvin menoleh dengan matanya yang tajam menatapku. Tatapan itu seperti mengisyaratkan, 'Apa liat-liat?' versi Alvin. "Vin, ke kelas!" seru Jojo agak ditahan, ini sedang di perpus jangan berisik. Jojo melirikku takut. Alvin bangun dari posisinya memijat tengkuk. Baru kali ini melihat cowok itu tanpa kacamata dan kerahnya yang biasa dikancing semua lagi dibuka. Untung ada baju dalamannya. Kalau tidak, bisa mati aku. Eh, kok dia seksi banget kalau begini? "Hm." Alvin memberikan respons. Hm aja nih? Kemudian Alvin menguap lebar jelek banget mirip kudanil. Untung ada lagi hal yang membuatku ilfil pada Alvin. Dia memakai kacamatanya dan mengancingkan seragamnya sampai ke atas. Jojo segera mengisyaratkan kami cepat-cepat keluar dan kembali ke kelas, pasti sudah ditunggu berat oleh guru. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Alvin mengekori kami menuju kelas. Dia berjalan tepat di belakangku. Bagai memiliki sinar laser super tajam, punggungku merinding bukan main. Saat menoleh ke belakang Alvin menatapku tajam, sehingga aku kembali menghadap ke depan. "Kalian jalannya lama," decak Alvin dari belakang. Suaranya yang berat dan rendah tapi karena koridor hening kita bisa mendengarnya. "Berat bukunya tahu," jawab Jojo sekenanya wajahnya sudah ketus. "Iya, ini berat," tambahku. Agak kesal, karena Alvin bukannya jalan di depan saja kalau mau cepat-cepat. Ngapain jalan di belakangku, bikin perasaan tidak enak. "Dasar lelet. Lama," kata Alvin lagi dengan nada ngeledek. "Gimana kalo tawuran?" Aku menahan agar tidak menyahut siapa juga yang mau tawuran. *** Bel istirahat berbunyi panjang sekali. Setelah guru mata pelajaran keluar, aku merenggangkan otot yang mulai pegal-pegal dan keram, terlalu lama tegang untuk pelajaran hari ini. Aku menguap lebar tidak kuat menahan kantuk. Tadi malam aku tidur terlalu larut, karena membaca habis novel tanpa bisa ditunda. Punggungku terasa ditusuk pulpen. Aku menoleh ingin tahu. "De, parah!! Lo bakal keduluan sama adik kelas!" seru Della. Sesaat aku mengerutkan kening. Maksudnya apa ya? Keduluan apanya? Emang aku ngapain? Della menangkap gelagat tidak pahamku. Dia mendecak. "Ada yang mau nembak Rafael. Lo tahu Gisela, junior yang suka nari tradisional itu, ‘kan? Penari Bali itu. Dia kan cantik banget. Aduh kalo diterima gimana ya? Cokiber kita bakal punya pacar, gawat! Nggak seru gebetin cowok yang punya pacar!" Aku terkejut bukan main, tapi secepatnya memasang ekspresi tenang. "Apa?" Aku tahu Gisela adik kelas yang cantik. Banyak cewek-cewek cantik di sekolah kami, di sini memang terkenal gudangnya cecan dan cogan. Mengingat Rafael pernah menolak gadis paling cantik anak kelas 10 dan 12 versiku (gadis paling cantik kelas 11 adalah Alisha dan tidak pernah ada berita dia ditolak Rafael, malahan akrab banget sebagai teman doang), aku ragu Rafael akan menerima Gisela. Tapi tetap saja aku gelisah. "Bigos, dasar! Tahu dari mana sih?" "Anak kelas sebelah. Ya … namanya juga berita cepet kesebar," kata Della. Gadis itu jago banget buat nyari tahu info. "Iya. Duh, bakal galau banget kalo misalnya dia diterima. Patah hati nasional di sekolah ini kalo Cokiber kita punya pacar." Rina tampak cemas. Omong-omong Cokiber memiliki arti adalah cowok kita bersama. Aku juga langsung berat hati, hatiku sakit banget mengingat Rafael bakal punya pacar. *** Kabar tersebut bukan hanya kabar burung. Saat turun ke lantai dasar, kami bertiga disambut oleh gerombolan yang memenuhi sekitar lapangan upacara. Della langsung menarik diriku mencari tahu sedang terjadi apa di sini. Rina yang bertubuh mungil menyelinap dengan gampang. Kami bertiga mendapat posisi lumayan strategis. Di tengah lapangan sudah ada Rafael berdiri menatap gadis di depannya, Gisela seperti biasa masih cantik dan gemesin. Rafael berdiri tenang, kedua tangannya dimasukin ke saku celana. "Aku sayang banget sama Kakak." Hatiku sakit banget saat mendengarnya. Suara imut Gisela terdengar meski banyak orang bergerombol, sosok itu seakan menjadi fokus semua orang. "Kak Rafael, mau ngggak jadi pacar aku?" tanya Gisel mendongakkan kepala memandangi Rafael yang masih bergeming. Setelah kalimat itu terdengar suara dengungan layaknya lebah di sarang. Suara rusuh dari para penonton sama sekali tidak mengusik Rafael. Aku melirik salah satu sudut, di dekat tanaman hias ada gengnya Alisha. Cewek tinggi itu menatap dengan pandangan meremehkan ke arah Gisela. Dia adalah rival sejatiku. Tidak sengaja gadis itu melihat ke arahku, yang tidak kusangka dia menyadari sosokku yang biasanya tak kasat mata ini. Dia segera buang muka menatap nyinyir ke arah Gisela dan Rafael lagi. Kedua sobat Alisha yang bernama Linda dan Tata tertawa kecil. "Sori nih ya, Dek. Lo bukan tipe gue," kata Rafael pada akhirnya membuat suasana menjadi ricuh. Aku tidak tega, tetapi jujur saja hatiku langsung lega. Aku menatap kasihan sosok Gisela yang menatap Rafael dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi terluka. Aku cewek, sangat mengerti bagaimana perasannya saat mendapat penolakan dari cowok yang sangat disukai. "Aku cantik, berbakat, body goals, dan populer. Kurang apa sih, Kak? Aku cinta sama Kakak. Bukannya Kakak suka dan cocok sama cewek-cewek yang kayak aku gini?" Mata Gisela sudah berlinang air mata. Aku sontak memandangi diriku sendiri dari ujung kaki sampai d**a lalu meraba wajah. Nyaris perfect gitu aja ditolak apalagi gue? Boro-boro, paling Rafael langsung pergi sambil istighfar. Aku segera menggelengkan kepala harus optimis. Kali saja kayak di novel remaja yang lagi hits kalau cowok ganteng naksirnya sama cewek yang biasa-biasa saja namun menarik. Eh, aku cantik kok kata Mama. Pipiku merona membayangkannya. Segera aku tepis takut kepergok Della dan Rina yang kelihatannya belum napas sejak melihat adegan penembakan ini. "Sori. Gue ulang nih ya, lo bukan tipe gue." Suara berat Rafael terdengar membuat para cewek sontak menghela napas lagi. Rafael tenang banget ya dia biasa ditembak cewek duluan di depan umum begini. Cowok ganteng sudah biasa. Aku meneguk ludah ketika Rafael pergi menuju dua kawannya yang sejak tadi nonton sambil ketawa. Saat Rafael tiba, Yosi—si cowok putih dengan bibir memerah berbicara sambil menepuk lengan Rafael. Rafael menjawabnya hanya dengan mengendikkan bahu. Jason, cowok yang hits karena skillnya bermain basket melipat kedua tangannya depan d**a sambil geleng-geleng kepala. "HIKS!!! HUEEEE!" Suara tangisan cewek pecah. Iya. Gisela baru saja lewat sambil menangis histeris. Aku menatapnya prihatin. Sepertinya selera Rafael memang model Alisha. Yang agak-agak mirip barbie. "Gila!" Kata pertama yang Rina ucapkan setelah memelototin Rafael sejak tadi. "Ditolak, Men!" seru Della heboh dan matanya berbinar. Aku memandangi mereka berdua sambil berpikir. Kejadian barusan menyadarkanku, bahwa Rafael sangat sulit aku raih. Tepukan keras terasa di pundakku. "De, jangan patah semangat! Mungkin nanti lo beruntung. Kayak gosokan undian di minuman gelasan rasa jeruk." Della nyengir. Cewek berambut pendek itu terlihat semangat sekali. "Apaan?" Aku melotot. "Kalo lo diterima, kita harus makan gede-gedean," timpal Rina polos. "Asyik!!!" "Barusan aja ada kejadian malu-maluin. Masa gue disuruh lakuin hal yang sama?" tanyaku. Kalau ditolak secara terang-terangan kayak tadi siapa yang tidak malu coba? "Kalo lo nggak suka, nggak bakal baper, De. Anggap aja kita iseng," kata Della lagi-lagi membuatku menganga. "Gue pengen banget lihat lo nyoba nembak Rafael." Aku rasa dia sudah ketularan usilnya Jojo. Awas saja mereka berdua! "Mimpi aja! Nggak mau!" Aku berlari menjauhi mereka dengan perasaan campur aduk. Aku belok ke lorong menuju gedung ekstrakurikuler, sesekali aku menoleh takut dikejar dan ditangkap oleh Rina dan Della. Aku tidak mau, karena dugaanku selalu benar. *** Aku kabur ke ruangan sekretariat ekskul. Aku anak ekskul jurnalistik, ruangan ekskul kami berada di lantai dua. Ruangan lantai dasar untuk ekskul seperti marching band, pramuka, seni musik, dan yang menggunakan alat-alat. Sedangkan ekskul yang biasa-biasa saja di lantai dua. Di dalam ruangan ekskul sudah dipadati beberapa anak klub jurnalistik. "Rafael nolak adik kelas cantik," ucap Dian, seangkatan denganku tetapi anak IPA. "Setiap nulis artikel tuh cewek, majalah kita juga dapet respons positif. Dia hits gitu loh." Aku duduk di kursi plastik membaca majalah bulan lalu dan memasang telinga super tajam. "Bege emang! Kalo gue yang ditembak, ya mau lah," timpal Fahri, ketua ekskul yang agak galak anak kelas 12. "Maunya apa sih tuh cowok banyak gaya, sok ganteng, sok laku, dan gayanya jijik banget. Gue enek banget sama tuh bocah, nolakin cewek mulu. Untung bentar lagi gue cabut dari sini." "Ganteng tau, Ri. Gue aja juga suka lihatinnya," ucapan Kikan membuat Fahri sontak melotot bengis. Kikan tertawa centil sambil memilin rambut. "Kayak bukan manusia biasa, jelmaan pangeran Disney kali ya? Kadang tuh dia ada aura kayak vampire gitu. Ganteng deh! Kalo dia emang vampire, gue mau digigit dan disedotin darahnya. Aw!" Aku menahan tawa tapi gagal. Tawaku sumbang keluar mengganggu mereka. Tiga orang yang di dekat meja menoleh barengan. Aku berdeham salah tingkah. "Hai!" sapaku. "Eh, elo. Gue harap lo nggak ikutan muji-muji tuh cowok sok ganteng," ujar Fahri dengan nada penuh penekanan. “Males banget dengerin cewek-cewek muji dia!” "Nggak kok." Aku memasang wajah kalem. "Emang ganteng ye, ya nggak, Kan?" tanya Dian kepada Kikan. Diangguki mantap. Aku pun membenarkan dalam hati. Iya!! Memang ganteng banget! "Jadi, gimana konsep buat tema bulan depan?" Tiba-tiba saja Fahri mengalihkan pembicaraan. Aku pura-pura sibuk baca artikel tentang manfaat pupuk kompos. s**l, aku mau ngumpet malah kejebak disuruh mikir oleh Fahri. Bulan depan adalah Maret, tidak lama lagi akan ada Ujian Nasional dan perpisahan anak kelas 12 di bulan Mei. Aku belum mendengar kabar konsep prom nite untuk kelulusan nanti. Biasanya acara tersebut diurus oleh anak-anak OSIS. Pengisi acara diambil dari anak kelas biasa biar makin ramai dan seru. Tahun lalu kelasku mengisi acara memainkan alat musik. Aku tidak ikutan karena yang diambil anak-anak berbakat saja. “Bentar lagi lulus. Coba Ri, lo wawancara Dilan sono! Kayaknya kita butuh deh artikel tentang dia,” ucap Dian sandaran di meja menatap Fahri serius. “Secara dia maskot dalam sejarah sekolah ini. Bentar lagi dia cabut dari sini loh.” Dilan itu anak kelas 12 IPS 3 yang terkenal karena record-nya jelek-jelek banget. Ngapain coba dibutuhin artikelnya? Aku membayangkannya saja sudah tidak enak. "Dilan," gumam Fahri. "Nggak ada yang pernah dapet artikel tentangnya. Susah. Siapa yang berani, takut dipelototin diajak ribut duluan. Tapi dia nggak kalah menariknya sama Rafael sok ganteng itu." Fahri lagi-lagi nyindir. "Halah, dulu lo ngatain Dilan mulu nggak guna, gara-gara dia hobi tawuran," decak Kikan sinis. "Setidaknya dia lebih laki. Rafael apaan coba?" Fahri bergidik. Dari kata-katanya cowok itu menggunakan perasaan pribadi. Mungkin dia iri karena Rafael yang ditembak Gisela. "Iya sih, apalagi Dilan bokapnya yang misterius tajir banget itu juga bikin penasaran banget." Angguk Kikan. "Iya, dia kan disebut maskot karena betah sekolah di sini sampe 4 tahun. Musuhnya banyak dan pengikutnya loyal. Jangan lupa, meski dia penguasa nggak banyak gaya apalagi sok ganteng. Dan satu hal, dia nggak pernah kelihatan pacaran sama anak sini. Menarik, ‘kan?" sahut Dian meracuni isi otak Fahri. "Homo kali." Aku membekap mulut. Ketiganya menoleh ke arahku memberi tatapan tajam. Dilan itu ganteng, cowok banget, dan berani. Tipe bad boy yang pastinya disegani karena paling tua. Kenapa tidak punya pacar? Mungkin benar homo atau tidak ada yang menarik di sini. Selera cowok sulit ditebak. Rafael saja belum bisa menemukan tipenya, mungkin Dilan juga. Mungkin. Atau ada masalah lain yang kita tidak tahu. "Daripada ngatain mending lo mastiin sendiri, ya, De?" Fahri menatapku penuh harap. "Lo pergi wawancara dia nanti." Mati. Aku lebih takut sama Dilan daripada Rafael. Aku menatap Fahri minta pengertian. "Gimana bisa gue nggak deket atau kenal sama Dilan, Kak?" "Teman sekelas lo yang bandelnya calon penerus Dilan itu kan deket. Good luck, Dea!" Aku menepuk jidat. Yang dimaksud oleh Fahri itu si Alvin, ‘kan? TBC *** 2 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN