"Gimana sekolah kamu, Sayang?" Mama bertanya sembari menyetir di sebelahku.
"Baik-baik aja, Ma," jawabku mengalihkan pandangan ke arahnya. Aku memeluk buku Sosiologi karena ada hapalan. Percuma saja niatnya mau belajar malah tidak bisa. Lebih baik baca di kelas nanti saja.
"Mama masih wanti-wanti kamu berhati-hati banget. Kamu yang minta udah nggak mau naik ojek. Jadi waspada, oke?" Mama menoleh menampilkan senyuman hangatnya. Mamaku bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan swasta, setiap pagi aku diantar olehnya berangkat bareng.
"Iya, Ma. Aku udah gede." Aku memperhatikan jalanan besar Ngurah Rai yang dipadati kendaraan bermotor.
Sekolahku terletak lumayan dekat dengan jalanan besar, sehingga kalau aku turun di pinggir jalan pun bisa masuk ke dalam Jalan Pattimura dengan berjalan kaki. Sekolah ini cukup favorit dan lumayan elit. Sayang, ada saja perusuh di sekolah yang masih mempertahankan tradisi dari senior dulu saat sekolah kami masih jelek. Tradisi tawuran. Namanya juga punya musuh dari masa yang sudah lama, masa tahu-tahu saja tak ada badai bisa berbaikan. Apalagi yang terakhir pentolannya sama-sama kuat.
Sekolahku sering diserang sekolah musuh, SMA Persada. Puncak terparahnya tawuran saat aku kelas 10. Pulang sekolah dijemput oleh ojek langganan takut susah pulang, sejak kenaikan kelas tawuran sedikit berkurang dari sebelumnya. Seharusnya tidak perlu khawatir takut kejebak tawuran, karena letak sekolahku lumayan strategis, berbeda dengan SMA Taruna Bakti yang setiap terjadi tawuran di Jalan Pattimura akan membahayakan karena kena serangan dari kanan dan kiri. SMA Persada letaknya di ujung Jalan Pattimura. Yup, di jalan ini ada tiga sekolah swasta berbeda. Sering melakukan tawuran di jalan yang menjadi jalan lewat para warga perkampungan sekaligus menghindari SATPOL PP di jalanan besar.
Sejak semester genap tawuran lumayan berkurang, menurut berita yang santar terdengar, pentolan SMA tetangga (yang pindah untuk kabur karena capek menghadapi betapa kuatnya pentolan SMA kami) menghilang tanpa jejak. Awal ceritanya sih kecelakaan namun setelahnya menghilang tanpa kabar. Tidak ada yang tahu ke mana pentolan ganteng yang suka memancing emosi Dilan itu. Abaikan sikapnya yang arogan dan suka nyari ribut, orangnya lumayan ganteng dan setiap melihatnya tidak ada yang mengira dia jago berantem. Kalau cowok itu diantar ke gedung entertainmen bisa jadi direkrut debut menjadi artis.
"Itu jidat kenapa diplester?" tanya Mama membuatku kikuk.
"Kejedot."
Mama tertawa renyah setelah bisa berhenti baru berkomentar. "Makanya jangan ngayal mulu, pasti ngelamunin Rafael. Ya, ‘kan?" tanyanya.
Sontak aku malu banget pipiku memerah. Aku pernah mengigau tepat saat Mama berusaha membangunkan tidurku, aku mengigau nyebut-nyebut nama Rafael dibubuhi kata sayang. Kepalang tanggung, aku bercerita saja pada beliau, bahwa aku menyukai cowok ganteng bernama Rafael. Jadi, nama Rafael tidak asing lagi di antara kami. Tapi tetap saja aku malu kalau ketahuan melakukan hal yang bukan-bukan. Seperti kejadian kemarin. Sampai pulang sekolah, Dika dan Rayn tidak ada hentinya godain jidatku yang memerah dan agak lecet. Jojo ikutan ngeledekin. Berita kalau aku sering ngelamun jorok pun tersebar di kelas. Dasar cowok-cowok rese!
“Masa Dea mengkhayal aneh-aneh sama Rafael.” Ucapan Rayn si lelaki yang memang tanpa malu berbicara hal tabu membuat suasana pojok belakang semakin terbakar. Aku hanya melotot kesal lalu menimpukinya dengan kertas yang dikepal menjadi bola-bola keras.
Della dan Rina memastikan apa aku beneran kejedot saat Rafael lewat, aku menceritakan kejadian itu. Mereka berdua sama-sama bergidik membayangkan betapa malunya jika Rafael akan mengenang diri nereka sebagai gadis kejedot. Tapi bukan hanya aku saja yang pernah ngelakukan hal konyol gara-gara terpesona. Banyak cewek lain yang tersandung, kepleset, kecebur got, nabrak tiang, dan numpahin minuman gara-gara meleng lihat Rafael lewat.
"Ih, Mama! Apaan deh," kilahku malu-malu. Padahal senang juga digodain mama. Hanya mama yang sering godain aku dengan Rafael, bikin hatiku senang.
Mama tersenyum geli. "Dasar abege! Oh ya Sayang, seperti biasa akhir minggu ini ke panti Kasih Bunda. Kamu ikut ya?"
Aku mengangguk setuju. Mamaku sering banget ke Panti Kasih Bunda untuk menyantuni, kebetulan sang pemilik sahabat dekatnya. Dari kecil aku sering ke sana. Aku merenung sesaat tiba-tiba saja sesuatu yang sudah aku lupakan sejak lama muncul lagi. "Ma?"
"Ya?" Aku mendesah karena mobil sudah masuk ke dalam gerbang sekolah. Kebetulan yang menguntungkan. Mama menatapku bingung. "Tadi mau ngomong apa?"
"Nggak jadi deh. Aku udah harus masuk kelas," cengirku. Aku menyalami tangan mulusnya. Aku heran mengapa Mama cantik sekali, sedangkan aku tahu sendirilah. Sudah banyak ucapan temanku yang mengatakan demikian. "Aku sekolah dulu ya. Hati-hati di jalan, Ma."
"Belajar yang pinter ya, jangan mikirin cowok mulu."
Aku hanya tertawa kecil sambil turun dari mobil. Aku di sekolah menjadi gadis yang terlihat asosial dan lebih milih mojok dengan novel tebal. Sangat berbeda dengan dalam diriku yang sebenarnya bukan? Biarkan Rafael menjadi milikku dalam duniaku sendiri. Tidak perlu diumbar. Aku malu ketahuan bersaing dengan ratusan cewek.
Di parkiran sudah dipadati berbagai jenis motor dan mobil, mobil Mama memutar balik dan keluar dari gerbang. Sekolahku ini dari luar terlihat kecil, tetapi dalamnya luas dan besar. Parkirannya saja bisa untuk menampung anak murid yang bawa mobil.
Bruk ....
Seseorang menyenggol lenganku hingga bukuku terbang sesaat dan akhirnya jatuh. Sosok bertubuh bongsor dengan punggung tegap dan tas hitam yang menabrakku tadi berjalan begitu saja.
"Heh, mata lo di mana sih? Aduh, buku-buku gue!" teriakku. Namun, di akhir kalimat lebih pelan diperuntukkan untuk diriku sendiri.
Cowok itu menoleh dengan ekspresi nyebelin seolah teriakanku mengusiknya. Alis sebelahnya terangkat. Cowok berkacamata itu hanya menatapku datar seolah kehadiranku ini membuatnya bingung dan tak penting banget. Ekspresi yang sangat aku benci kalau dia menunjukkannya setelah aku ngomel-ngomel panjang lebar. Alvin si biang kerok kelasku. Cowok yang terlihatnya culun tapi hobi tawuran. Alvin meneruskan langkahnya membuatku makin kesal.
Krek ....
Aku menganga saat ada suara aneh. Ketika aku mendapati sebuah fakta jika bukuku diinjak oleh seseorang, karena lembaran buku itu terbuka. Sebuah sepatu bermerk yang masih bagus dan kinclong. Aku mencari pemilik wajahnya agak susah, karena tubuhnya yang tinggi. Mataku menangkap wajah rupawan Rafael. Dia menatapku heran kemudian suara cowok itu memecahkan keheningan.
"Astaga, sori itu buku lo ya!" seru Rafael memundurkan kakinya, sehingga di bukuku ada cap sepatu miliknya dan sedikit lecek. Cap sepatu dari tanah.
Sinar-sinar dan gelembung berbentuk hati warna pink bermunculan di sekitarku. Ekspresinya yang preciuos membuat fokusku masih padanya, bukan ke bukuku yang kotor. Aku menggigit bibir dengan gemas.
Rafael mengerjapkan mata memandangiku heran kemudian bibirnya tersenyum manis, sekilas tapi nyaris membuatku kehabisan oksigen. “Sori banget.”
"EH, NGGAK APA-APA KOK!" Aku menjawabnya dengan suara cukup keras. Aku tersenyum sewajar mungkin menutupi rasa salah tingkah.
"Oke." Rafael pergi setelah melemparkan senyuman dan anggukkan sekilas. Aku meremas tanganku gemas. Ini rezeki banget ketemu Rafael pagi-pagi. Aku memungut buku yang kotor dan membersihkan noda tanahnya.
Asyik, aku dapat cap sepatu Rafael.
***
"Jidat lo udah sehat, De?" Jojo menopang kepalanya dengan satu tangan, memandangiku dari kursinya dengan ekspresi geli. Sudah pernah aku katakan hidupku dikelilingi cowok yang mulutnya usil?
"Kok nanyain jidat gue sih? Guenya dong?" balasku mendecakkan lidah.
Saat ini sedang pergantian jam mata pelajaran dari Matematika ke Bahasa Inggris. Aku mengeluarkan buku-buku dan kamus mengabaikan Jojo yang lagi ketawa geli. Teman sebangkuku ini emang kelewat ceria, sebangku dengannya bikin hidup cerah dan bahagia. Nyebelinnya kalau dia melimpahkan tugas mengurus kelas padaku. Dan usilnya kumat.
"Yang sakit di lo apanya?" tanya Jojo balik.
"Jidat," jawabku polos.
"Nah, ya udah."
Aku mengusap wajah kasar. "Apaan sih elo nggak jelas. Terserah lo aja, Jo."
Jojo tersenyum geli. "Lo suka beneran sama Rafael ya?" Dia memandangku dengan serius tiba-tiba.
Aku mendelik karena ditembak pertanyaan kayak gitu. Kenapa mendadak jadi pada penasaran? "Bukan urusan lo."
"Kalo lo bisa jadi pacarnya Rafael itu keajaiban besar, De."
"Berisik."
"Sok jual mahal. Kita nungguin nih kapan lo berani jalanin misi yang kemarin. Tapi jujur gue kasian ntar pas ditolak depan umum," ucap Jojo bikin hatiku linu mendengarnya.
"Nggak ah!" tolakku cepat. Aku berusaha menyibukkan diri membuka kamus, terbayang-bayang kejadian tadi pagi lagi sambil menahan senyum.
"Tuhkan, lo takut sakit hati ditolak Rafael. Coba-coba kali aja beruntung Rafael lagi khilaf nerima." Kenapa cowok ini bisa menyimpulkan begitu?
"Anjir, kenapa kalian hobi banget mojokin bukannya bantu dorong gue?" tanyaku.
"Dorong kok, dorongan moral." Jojo tertawa keras.
"Bege!!"
Kelas mendadak sepi, di pintu muncul Ma’am Yana, guru Bahasa Inggris berwajah cantik namun galak banget. Anak kelas yang berisik dan pergi dari mejanya segera kembali sampai saling bertubrukan.
"Hey! You and You! Dea dan Joshua jangan pacaran aja, ambil buku di perpustakaan!" Suaranya Ma'am Yana yang keras sudah pasti terdengar sampai satu kelas.
Aku menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari Jojo yang berdecak dengan raut wajah masam. Sudah biasa aku dengannya dijodoh-jodohin. Sepertinya Jojo sudah mulai geli pada ledekan itu. Apa tidak ada yang menjodohkan diriku dengan Rafael? Aku lebih rela dipasangin sama Rafael. Ya, 11:12 dengan Alisha yang sering dijodoh-jodohin dengan Rafael. Sekali-kali tukeran dong, aku yang jadi Alisha biar bisa dekat dengan Rafael.
"Don't daydreaming, Dea! Go go!" Lagi-lagi Ma'am Yana menggertak. Ekspresinya sudah tidak sabaran.
"Yes, Mam!"
Aku bangun dari kursi bersamaan dengan Jojo. Kami menahan tawa saat ke-gep dipelototin oleh guru cantik itu.
***
"Oi, temen lo tuh tidur. Bangunin gih! Gila! Jadi, tadi dia nggak ada di kelas?" Aku memekik heboh saat melihat di salah satu meja perpustakaan ada Alvin tidur di atas meja yang digabungkan. Karena letaknya yang jauh dari jarak aman penjaga perpus, Alvin pede sekali tidur di atas meja dengan satu tangan menutupi wajahnya. Dari ekspresinya Jojo juga tidak percaya ada anak kelas kami yang bolos di jam pelajaran.
Jojo menggaruk kepalanya. "Seinget gue dia ada di kelas pas Matematika mulai, tapi keluar setengah jam sebelum bel. Ckck, bangunin sana, De. Kalo sama cewek dia kan ada keraguan buat mukul. Kalo gue, bisa dibanting nanti udah ganggu," ucapnya gelisah. Alvin bertubuh lebih besar dari Jojo makanya dia takut digebukin.
Aku mendorong lengan Jojo. "s**l, gue dikasih tugas bangunin cowok emo dengan kepribadian ganda. Gue ngeri, gue masih cewek lemah dan lembut yang takut dipukul. Mending jangan pukul gue, sayangi gue aja."
Jojo melempar pandangan jijik. Aku mengerjapkan mata dengan ekspresi memohon dan mengendik ke arah Alvin.
"Geli, lebay amat. Udahlah ambil buku aja, biarin Alvin bogi di sini." Jojo memerintah.
Mataku melebar. "Bogi?"
"Bobo pagi. Kalo Boci kan bobo ciang," tambahnya. "Kata cewek-cewek sekarang sih gitu." Jojo menatapku dengan sorot kesal karena harus menjelaskan hal aneh.
"Bodo amat. Terserah lo aja, Jo!" Aku memutar kedua bola mata mengekori Jojo yang memberi kode supaya cepat-cepat ke rak buku dan kembali ke kelas lagi. Sebelum Ma’am cantik dan jutek itu ngamuk panjang lebar dengan Bahasa Inggris. Aku sedih sampai mau menangis setiap diomelin, karena tidak mengerti. Betapa lemahnya aku dengan Bahasa Inggris.
***
TBC
***
1 Okt 2021