2. Kejedot

1050 Kata
Koridor yang lagi ramai karena dipenuhi anak-anak murid berseragam bawahan kotak-kotak hijau mendadak sunyi senyap. Biasanya ramai layaknya dengungan lebah. Aku memperhatikan sekeliling seperti ada mesin waktu yang dihentikan, anak-anak cewek langsung terfokus ke sosok yang muncul di ujung koridor. Sebenarnya ada tiga orang yang berjalan menuju ke arahku, tetapi yang mencolok sosok yang di tengah karena paling tinggi, ganteng, dan keren. Dari jauh saja aura gantengnya sudah kelihatan. Aku memekik tertahan saat menyadari itu adalah Rafael, dikawal oleh dua sahabat cowoknya yang tidak kalah tenarnya. Jason dan Yosi. Rafael seperti Gongyoo yang turun di tengah padang pasir sampai menyedot perhatian banyak kaum hawa. Rafael hari ini masih ganteng, dan akan selalu tetap ganteng setiap harinya. Kenapa dia makin ganteng aja makin hari sih?Makin membuatku ingin memilikinya. Rambutnya yang berwarna hitam gelap disisir rapi, manik matanya dalam dan seksi dikelilingi bulu mata yang bagus. Yang membuat cewek-cewek makin menyukainya adalah figur wajahnya yang nyaris sempurna, hidung mancung, bibir tipis, dan kalo senyum bikin dunia gonjang-ganjing. Postur tubuhnya sangat proporsional dengan tinggi 180an cm dan berat ideal, bahu lebar dan tegap bisa buat sandraan manja. Rafael memang idaman cewek mana pun. Aku menjadi semakin deg-degan bukan main saat Rafael berjalan semakin mendekat sambil tertawa kecil dengan teman-temannya yang lain. Sebisa mungkin aku memasang ekspresi biasa aja supaya tidak menunjukkan betapa noraknya aku akan berpapasan atau bertemu mata dengan Rafael, jarang-jarang aku bertemu dengan Rafael sedekat ini. Astaga, apakah ini takdir saat jam istirahat aku memutuskan untuk ke toilet, karena Tuhan akan mempertemukan aku dengan Rafael? Sebentar lagi jarak kedekatanku dengan Rafael hanya sebatas garis ubin. Aku menyelipkan helaian rambut kecil ke belakang telinga menahan senyuman agar tidak menciptakan cengiran lebar. Aku lagi senang banget dan perutku geli sekali bagai dikelitiki. Yihaaaaaa... Rafael senyum manis banget. Astaga! Dia senyum ke gue. Dia makin dekat, dekat, dan dekat. Akhirnya tiba di depanku. Rafael menyadari kehadiranku. Kami bertemu pandangan saling menatap mata satu sama lain. Biasanya dia tersenyum tipis. Kali ini bibirnya membentuk cengiran lebar sehingga menampakkan deretan giginya yang putih bersinar. Aku terenyak, karena dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Duniaku berhenti saat ini juga, dengan gemuruh jantung berdetak tak bisa diatur kembali seperti awal. Aku sesak napas. Rafael masih belum juga menghapuskan senyuman manisnya itu. OH TIDAK! Aku sangat menyukai senyumannya yang lebih adiktif dari zat kafein atau nikotin. Manis banget, gula aja lewat. Akan kukenang selalu senyuman itu dalam benakku. "AWAAAAS!!" Dugh! Jidatku menabrak sesuatu yang tajam dan keras. "AAAAH! ADUHHH!" Aku kejedot papan majalah dinding yang berada di pinggir koridor. Rasanya sakit demi apa pun. Suara itu diteriakkan oleh orang-orang yang berada di sekitar koridor. Lebih menyakitkan lagi begitu aku menoleh ke arah belakang, Rafael dan kawannya berjalan masih tertawa riang. Mereka seperti tidak mengindahkan diriku. Kenapa Rafael tidak menolongku atau memperingatkan sebelum nabrak papan mading ini? Astaga! Jangan bilang dia tidak melihatku? Jadi yang tadi..., Jadi, aku barusan mengkhayal? "Astaga, Neng Boneng!!! Gue liat barusan loh, kasian itu jidat lo!" Tawa seseorang dengan amat keras. Aku menoleh ke depan lagi. Di sana ada Dika dan Rayn, anak kelas yang lumayan dekat, karena mereka sobatnya Jojo. Aku mengepalkan tangan menggeram tertahan. Aku memelototi keduanya yang lagi tertawa bengis. Mereka berdua ketawa geli sampe matanya menyipit dan wajahnya memerah. s**l, pasti bakalan jadi heboh nih di kelasku. Malu. "Gila, papan disosor yak. Ya Allah, Dea. Ini papan bukan cogan. Saking jonesnya lo ya? Atau ngira ini Kemal?" celetuk Rayn memegang perutnya dengan mata terpejam. By the way, Kemal adalah anak kelas sebelah yang tinggi, tapi kurus banget. Sampe dipanggil triplek sama teman-temannya. Aku kontan mendelik, tidak suka digoda oleh dua anak nyebelin ini. "Apa sih, aduh jidat gue sakit. Gue kejedot ya?" Aku mengelus jidatku rada perih, nyut-nyutan dan keras membengkak. "Lah, lo nanya baru sadar?" sahut Dika, dia tertawa mirip mak lampir. "Bege banget nabrak, tapi nggak nyadar. Iya, lo nabrak nih papan. Ya nggak, Yen?" Sosok yang dipanggil Rayen alias Rayn mengangguk membuat aku makin menekuk bibir sebal. "Iya bege lo nabrak. Nih papan, kenapa mesti papan sih? Nih pipi Abang gratis, sini kecup basah manja-manja ria," katanya sambil mengelus pipinya. "Gratis cium pipi gue kalo di bibir juga boleh, nih." Bibir Rayn membentuk kerucut. Cowok bermata sipit segaris itu memang minta dicekik. Aku bergidik jijik, lebih baik aku cium papan cucian. Aku melirik ke kumpulan cewek yang duduk di kursi pinggiran lapangan. Mereka tertawa-tawa sambil menunjuk ke arah kami, tepatnya ke aku. Pasti udah banyak yang liat aku nabrak papan mading gara-gara ngeces ngelamun sambil liatin Rafael. Habis dia emang selalu bisa bikin cewek salah fokus. Aku membuang napas kasar. Kesal karena kelakuan sendiri aku menendang tulang kering kakinya Dika. Cowok itu memekik sambil mengusap kakinya. "k*****t!" "Jangan bilang lo nabrak karena abis papasan sama Rafael? Sok-sokan bilang nggak suka, taunya huu ... cewek suka gitu," kata Rayn nyindir. Aku mengernyit, tahu dari mana nih bocah? "Kok lo jadi nuduh-nuduh? Siapa yang bilang?" tanyaku penasaran. Tanganku berkacak pinggang menatap mereka seperti ngajak ribut. "Della sama Rina bilang katanya Dea sok-sok nggak suka Rafael. Paling seleranya kayak Jojo atau Alvin," ulang si Rayn. "Kok kalian hobi bergosip? Ih! Jangan nyebar-nyebarin gosip. Jojo dan Alvin masuk dalam daftar terakhir cowok yang gue mau. Itu juga kalo terpaksa," ujarku ngesok banget ya? Perasaanku jadi tidak enak. Gini-gini aku tidak biasanya judes loh. "Gara-gara sering sama mereka bukan berarti kita cinlok tahu!" "Lah ngobrol bukan gosip, bedalah," bela Dika. "Anak 11 IPS 3 kan juga punya cerita. Kelamaan main sama Jojo atau Alvin kali aja lo khilaf." Aku mencubit lengan Dika, karena dia sudah ngoceh macam-macam. Cowok itu meringis jerit-jerit heboh. "Huaaaah sakit demi dewa!" teriak Dika. "Kok lo songong sih tampang pas-pasan, tapi belagu banget!" seru Rayn memainkan alisnya. Cowok berwajah oriental itu pasang wajah sok melankolis sok sedih, padahal biasanya b***t. Aku melotot melepaskan Dika. "Pergi sana! Gue mau ke UKS. Jidat gue kudu diselametin." "Tiati, jangan ngelamun lagi." Dika mengingatkan sambil misuh-misuh mengusap yang tadi bekas dicubit. Aku menahan agar tidak mendelik ke arahnya. "Awas kejedot!" seru Rayn sudah tertawa-tawa kembali. Kakiku melangkah melewati Dika dan Rayn yang masih ketawa berisik banget. Aku pergi ke UKS mencari obat. s****n, kenapa kesempatanku untuk papasan sama cogan hilang gara-gara keburu ngayal duluan? Mana dapet bonus benjol di jidat. Belum lagi malunya itu. Aduh! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN