8. Plot twisted mimpi

1601 Kata
"Jadi lo mau gimana?" "Nggak tahu, tapi gue bakalan tetap suka kok." Aku membayangkan mulai sekarang akan malu jika bertemu dengan Rafael, tapi sepertinya cowok itu tidak bakalan ingat aku. Huh... "Nggak gue sangka aja, ternyata lo suka beneran sama dia," sahut Della meniup rambut kecil poninya. "Kenapa ya dia itu populer, ganteng, dan tajir, tapi nggak playboy. Malah kesannya misterius banget. Kalian nyadar juga nggak sih?" tanyaku. Dua cewek itu mengangguk setuju. "Kehidupannya juga bersih banget, itu yang bikin gue cinta. Nggak ngerokok, nggak nakal, dan tipe cowok-cowok mantu idaman." "Lo bener, De. Dia emang anak baik-baik, beda kayak—” Ucapan Della tergantung, aku melihat ke arah matanya tertuju pada Alvin yang lagi lewat. Dugaanku Della ingin menyebut cowok itu tapi ditahan dulu sebentar sampai Alvin lewat. Kalau kedengaran bisa dihajar jadi roti panggang. "Alvin," bisik Rina dengan muka serius. Aku mengangguk singkat dan mengalihkan tatapan ke Della dan Rina lagi. "Ada tapinya loh, gue pernah denger gosip si Rafael juga suka clubbing sama gengnya itu. Kayaknya diajakin sama Yosi. Tuh anak kan jago dan suka tampil main DJ juga. Beda emang, mereka nakalnya malam-malam di tempat elit. Kalo Alvin di jalanan bawa batu," kekeh Della. Omong-omong soal tawuran aku jadi keingetan tugas untuk wawancara Dilan, pentolan tersohor itu. Mencari Dilan itu bagai jarum dalam jerami. Kita tidak tahu dia ada di mana, karena jarang kelihatan. "Oh ya, Dilan tuh biasa nongkrong di mana sih?" tanyaku membuat para temanku menganga heran. "Hah? Mau ngapain lo?" tanya Rina menatap aneh. "Gue ada tugas wawancara, aneh aja gitu kenapa harus anak kayak dia yang masuk majalah sekolah? Prestasinya apaan coba? Sekolah selama 4 tahun? Mending yang berprestasi kayak Willy, Olivia, Yuda atau Martin, ya ‘kan?" cetusku masam, masih terbawa kekesalan patah hati. "Tapi, kalo lo bisa munculin Dilan di majalah bisa hits loh, secara dia populer juga. Ditakutin sama banyak murid bahkan angkatan di atas kita," timpal Della. “Lo tuh semacam jurnalis yang berhasil wawancara dengan seorang fenomenal. Lo bakal dipuji dan masuk catatan keren di sekolah ini!” Benar juga. Yah, mungkin ini tugasku sementara untuk bisa melupakan mimpi buruk kejadian tadi pagi. Anggap saja yang tadi itu adalah mimpi burukku. Aku akan terus menyukai Rafael, di sini. Aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku pada Rafael. Aku merasa dekat, tetapi jauh di mata. Seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk terus lebih dekat dengannya. Mungkin ini yang dinamakan cinta. *** Langit sore sudah gelap, padahal tadi saat baru keluar dari rumah Rina masih lumayan terang. Baru saja motor Jojo pergi setelah mengantarkanku pulang. Aku memandangi langit menikmati keindahan warnanya gelap dan semburat kebiru-biruan, di langit bagian atas rumah tetangga depanku masih ada warna oranye. Aku merenung sebentar memikirkan kejadian hari ini. Saat aku mau pulang buru-buru ditahan oleh Rina dan Della, mereka mengajakku ke rumahnya untuk mengerjakan tugas Matematika. Niat hanya menjadi niat. Saat tiba di rumah Rina, mereka malah asyik membaca buku katalog make up bulan ini. Melupakan niat mengajakku belajar bareng. Dasar cewek. Tidak lama ada Jojo, Dika, dan Rayn datang menyusul membawa makanan. Katanya mereka disuruh datang oleh Della bawa makanan yang banyak. Jadinya hanya aku yang fokus mengerjakan tugas, dibantu oleh Jojo. Tapi cowok itu kembali asyik cekikikan depan layar ponselnya. Sibuk godain cewek gebetan. Semangatku langsung tersuntik saat melihat di halaman depan Youtube, penyanyi favoritku Adara Emeren merilis video klip terbaru. Aku sangat menyukai lagu terbarunya. Adara Emeren lagi gencar sekali disukai banyak remaja cewek mau pun cowok. Karena lagunya bisa ngena di hati. Aku mau nonton video klipnya lagi nanti di kamar. Aku memutar tubuh membuka pagar rumah. Di garasi depan ada sebuah motor yang sangat aku hapal. Orang rumah yang punya motor hanya abangku. Aidan. Abangku pulang ke rumah? Aku melesat masuk ke dalam rumah setelah menaiki undakan tangga. Di ruang TV ada seorang cowok rebahan di sofa sedang memencet-mencet tombol remote. "Loh? Kok lo di sini?" tanyaku heran. Abang Aidan kuliah di Grogol, meski masih bisa naik motor pulang pergi dia memilih kos di sana. Suatu keajaiban melihat dia ada di rumah di hari biasa seperti ini, karena biasanya jarang pulang. Bisa dibilang abangku ini anak bandel. "Disuruh sama Mama buat pulang," jawabnya masih tetap menonton layar TV. "Hah? Tumben langsung nurut." Aku membanting b****g ke sofa ngeliatin dia. Meski ganteng banget, dia juga b******k banget. "Emang Mama nggak cerita?" tanya Aidan balik. "Apa?" "Gue semalem terjaring razia n*****a di pub, baru tadi pagi diurus sama Mama dan harus balik ke rumah. Meski bersih gue tetep aja suruh balik! Nggak asik, ah," keluh Aidan. "Bandel si lo!" seruku. "Nggak bandel nggak asik tau!" Aidan menyahut santai. "Tar malam Papa pulang lo diomelin lagi, loh. Udah ah, gue mau mandi. Daah!" Aidan mencegahku. "Tunggu, gue laper nih. Abis lo mandi masakin mie ya," suruhnya dengan nada santai. "Jangan lodo-lodo mie-nya." "EH, gue capek. Bikin sendiri aja." Daripada mikirin ucapannya lebih baik aku cepat kabur ke kamar. Aku ketawa saja mendengar Aidan masih ngomel-ngomel. Di dalam kamar aku merebahkan diri sebentar memejamkan mata, saat bayangan kejadian tadi pagi muncul lagi aku mendesis. Tidak bisa aku tahan, aku menangis lagi menutupi wajahku dengan bantal. Biarkan aku terisak-isak suaranya tertahan oleh bantal. Andai, mimpi itu menjadi kenyataan. Karena semuanya terasa nyata. Bahagia yang aku rasa di mimpi itu nyata. *** "Abang, main yuk sama Dea ke ayunan!" "Nggak ah, kamu sendiri aja. Abang bete sama mama, mau ngambek." "Yah, ya udah Dea masuk ke dalam ya. Abang mau terus di parkiran? Gak capek ngambek mulu sama mama?" "Bodo. Sana pergi!" "Akhh, Mama! Mama, sakit, huhu. Mama, kaki Dea berdarah dan sakit!" Bayangan berganti berputar tidak jelas seperti siluet-siluet. Anak kecil terjatuh di jalanan saat mau jalan keluar dari koridor, wajah anak kecil yang menangis dan wajah seseorang yang buram tiba-tiba muncul, hanya suaranya yang lumayan jelas. "Hai, jangan nangis. Sini aku bantu!" "MAMA HUHUHU, sakit kakinya." "Aku bantu ke ayunan, yuk. Mau ke sana, ‘kan?" Tiba-tiba ada suara terdengar menjadi hal yang berbeda. "Maaf, Dea, lo bukan tipe gue. Gue lebih suka sama Alisha yang cantik dan populer. Lo mah apaan, nggak jelas!" "Rafael, bukannya lo bilang sayang sama gue? Kok pergi sama cabe-cabean itu? Please, Raf, jangan tinggalin gue. Gue butuh lo. Gue—" "HAHAHA. Apa lo bilang? Lo yang cabe! Udahlah sana, Dea, lo tuh gak cocok sama Rafael. Dia cuma suka sama cewek yang berkelas kayak gue ini. Pergi sana!" Bayangan Rafael merangkul Alisha pergi menjauh. Mereka tampak serasi dan bahagia. "AAA! NGGAK BOLEH! LO NGGAK BOLEH SAMA DIA! DIA TUH KAYAK MAK LAMPIR! JANGAN TINGGALIN GUE!" teriakku keras. Saat sadar sedang duduk di atas kasur dalam ruang UKS. "AAAAAA! JANGAN PERGI SAMA DIA. ADUH! KEPALA GUE PUSING GINI! AAAA GUE—" Aku berhenti berteriak, menatap tidak percaya ke seorang cowok yang tak asing sedang berdiri dengan raut wajah datar tanpa senyum sekaligus ngeri. Aku menganga tergagu tidak percaya dengan pandanganku sendiri. Satu kata pun sulit aku ucapkan mendapati cowok yang barusan muncul di mimpiku sedang berdiri hanya ada celah beberapa ubin. "RAFAEL????" Alih-alih mau bergumam aku malah berteriak heboh. Untuk kesekian kalinya aku kehilangan kontrol, kali ini teriak di depan cowok itu. "Iya, ini gue Rafael. Ngapain teriak-teriak? Lo mendadak amnesia sampe lupa? Kepala lo nggak kenapa-napa kan, kalo ada gegar otak gawat deh," ucap Rafael berdecak. “HAH, RAFAEL KOK BISA DI SINI?” Lagi-lagi aku berteriak keras. "Bisa biasa aja nggak sih ekspresi dan suara lo. Kayak toa." Aku menutup mulut menahan malu ditegur langsung oleh Rafael. Malu dibilang mirip toa oleh cowok yang aku taksir. "Gue kenapa bisa di sini? Ini nggak lagi ngayal atau mimpi kan? INI NYATA, ‘KAN?" Suara kerasku segera terdengar lagi. Rafael berjengit, karena suaraku yang keras. "Menurut lo?" tanya pemuda itu menyahuti dengan kalem. Aku jadi malu sendiri sudah berteriak dan heboh banget. Rafael membantuku untuk minum. Aku girang bukan main diperlakukan bak tuan putri. Aku mengerjapkan mata memandangi tangan kami tidak sengaja bersenggolan karena menyentuh gelas. Ini mimpi lagi bukan sih? Sadar dong kalo memang mimpi. Eh, tapi jangan dulu gue mau nikmatin mimpi deket-deket sama Rafael. "Kenapa bisa di sini ya?" gumamku bermonolog. Seingatku, ada pelajaran Sejarah seperti biasa mengambil buku, belajar dan setelah bel istirahat bersama Jojo balikin buku ke perpustakaan. Aku melihat Rafael main bola basket dengan gayanya yang keren banget, sampai aku meleng dan cengar-sengir sendirian. Lalu beberapa detik kemudian saat berjalan dekat ring basket, aku melihat sebuah benda oranye melayang ke arahku. DANG! "Sori. Gue yang bikin lo pingsan, karena ngelempar bola, nggak sengaja kok. Lebay banget sih pake pingsan segala!" Cerita Rafael menyambungkan ingatanku. Aku mendengus mau marah. Tapi ini kan Rafael. Aku sama sekali tidak bisa marah, malahan aku mau dilempar bola lagi biar Rafael merasa bersalah dan meminta maaf memberikan satu permohonan. Maka, aku akan meminta menjadi pacarnya. Delusi mulu, lo, Dea! "Sakit tahu," keluhku mengusap kepala yang sepertinya menjadi spot sasaran lemparan bola tadi. Rafael menggelengkan kepala. "Tadi mimpi apa si lo ngagetin gue banget, suara lo kenceng banget," ungkapnya sambil menatapku. "Lo cewek yang kemarin, ‘kan? Hm, nama lo—" Matanya melotot saat melihat name tag di dadaku. "Dea. Masa lupa, kemarin kan udah nanya." Segera terbayang-bayang suara Rafael saat mengatakan, lo siapa? "Dea? Dea Sagita?" Suara Rafael melirih saat mengucap namaku lengkap. Aku senang banget dia menyebut namaku dengan suara berat dan seksi. Suaranya mengulang-ulang dalam otak. "Dea?" Aku mengangguk kayak boneka. Kenapa sih Rafael nyebut namaku berulang-ulang? Eh, tetapi aku senang sih. "Rumah lo di mana? Pulang sekolah bareng sama gue mau nggak?" HUAAA! TBC *** 6 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN