9. Lemparan ajaib

1714 Kata
"Guys, gue mimpi nggak sih? Coba cubit gue deh?" Aku heboh banget setelah kuat berjalan nyamperin Rina dan Della yang ada di koridor tidak jauh dari UKS. Mereka berdua menabok pipiku. Dan, rasanya sakit. "AW. GILA. Ini apa sih? Masa Rafael baik banget nyodorin gue minum dan nawarin nganter gue ke kelas. Gue speechless banget dia jadi manis." "Lo abis kena s**l, bege. Tadi kata Jojo pas lo kelempar bola diketawain rame-rame," sahut Della menghela napas gusar. Mendengar cerita Della hatiku sedikit malu. Benar begitu? Mukaku mau ditaro di mana ya? "Lo diapain? Kok gue iri mau jadi lo yang dilempar bola juga dan digendong. Aduh," kata Rina. Della mendengkus geli mendengar celetukan Rina. "Pokoknya dia manis banget deh. Beda sama kemarin yang sengak pas nolak cinta gue. Apa dia mulai tertarik sama gue?" Dugaku mengabaikan tatapan kosong tak habis pikir dari Rina dan Della. "Dia baru sadar kalo gue ini ternyata lumayan menarik? Bisa jadi ya, ‘kan?" Aku menatap serius dua teman cewekku itu, namun mereka berdua sama sekali tidak terkesan. Della bergidik sehingga rambutnya ikut bergoyang. "De, lo abis kena bola makin g****k!" Della membuat gerakan di depan jidatnya, seolah-olah aku orang gila. Senyumku terhapus menyenggolnya dengan lengan. "Ih, gitu amat lo sama gue!" Rina menghela napas dan menengahi. "Mending kita makan dulu. Gue laper karena panik pas tahu lo pingsan, untung cuma beberapa belas menit. Masih bisa istirahat nih." Rina menarik tanganku dan Della menuju kantin. Dalam perjalanan aku terus nyerocos tentang Rafael selama kami berada di dalam UKS. Semoga ini bukan mimpi kayak yang sudah-sudah. Dan ucapan Rafael untuk mengantarku pulang terus memutar. Aku tidak bisa lagi menahan, mau pamer. "EH, RAFAEL NGAJAK GUE PULANG BARENG!" "ANJIR? Serius? Lo pake pelet pas abis ditolak ini mah fix." Aku menjitak kepala Della, karena gadis itu ngomong yang bukan-bukan. "AW! Dukun mana tuh tokcer banget?" tanya Della heboh. "Sembarangan. Nggak pake pelet juga, gue udah ada pesonanya kaliiii," timpalku dengan hati berbunga-bunga. "KOK BISA? HOKI LO, ANJIR. Pokoknya lo harus baik-baikin tuh biar dia betah deket sama anak alay kayak lo ini. Duh, gue envy! Gue lebih envy sama lo, daripada sama lucky fans yang ditarik Park Bogum. Ih, Dea!!!!" Rina menggerutu gemas. Aku pun tersenyum angkuh. "Mungkin ini bakal jadi awal yang baik buat hubungan kita. Dia udah mulai liat gue, Guys." Aku tidak bisa menahan cengiran di bibir. Meski harus benjol dulu aku mendapat kesempatan buat deket-deket sama Rafael. Apa ini jalan yang diatur Tuhan? Memang akan ada kejadian yang bakalan bisa membuat kenangan besar. Di kantin meja kami disamperin oleh Dika, Rayn, dan Jojo. Jojo duduk di sebelahku dengan raut wajah cemas. "Lo sehat, De? s**l banget udah ditolak, dilempar bola juga," tutur Jojo sudah mulai ngajak ribut. Aku menoleh padanya memutar bola mata. "Yah, meski masih pusing gue nggak apa-apa." "Sori, pas gue mau bawa lo ke UKS si Rafael yang minta dia aja yang bantuin. Biasanya dia kan cuek, sumpah cewek-cewek tadi pada teriak. Lebay banget gue jadi kayak figuran yang kena jatah diblur. Setelah heroik Rafael pergi gendong lo, gue yang beresin buku paket. Apes gue kebagian yang jelek-jelek." Jojo pasang wajah sedih. Cowok itu menghela napas lelah. Aku jadi membayangkan cerita Jojo tadi. "DEMI? DEMI APA CEWEK-CEWEK LIHAT ITU? WAW!" seruku heboh. "Lebay gila," celetuk Rayn nyinyir. "Dasar cewek kena bola aja pingsan!" komentar Dika. "Dea emang meleng tauk, lihatin Rafael lagi main basket. Gue yang kena omel Bu Endah, buku perpus ada yang lembarnya lecek. s**l amat gue!" cerita Jojo. Aku tertawa kecil kepada Jojo yang lagi dumel. "Sabar ya, pokoknya gue seneng banget." Aku mesem-mesem. "Gila," decak Rayn. "Otaknya geser nih anak!" "Bodo. Wleeek!" Aku menjulurkan lidah ke Rayn yang mendengkus. "Emang dari tadi Dea jadi gila," tambah Della berbisik-bisik pelan. "Pokoknya sekarang Dea jadi makin kelebihan energi." Rina melirikku. Aku menekuk bibir bete. "Aneh banget Rafael peduli ngangkat Dea. Si Jojo palingan juga ragu mau gendong apa gelindingin sampe ruang UKS," ujar Dika membuatku ingin melemparnya dengan mangkuk bakso. Dia sudah nyengir tak berdosa. "Dika, lo jangan mancing-mancing orang jadi berniat berbuat jahat ke gue dong? Untungnya nggak ada lo tadi. Jo, lo enggak kayak Dika kan yang punya rencana jelek—" Aku mengalihkan pandangan ke arah Jojo, cowok itu memandangku serius. "Iya. Gue pas lihat dia pingsan tadi kayak what the hell, Dea. Kalo gue jadi Rafael juga gelindingin aja kali," jawab Jojo sekenanya. "Nasib banget habis ditolak dilempar bola. Jangan-jangan Rafael dendam, karena lo mimpi buruknya dia!" Tawa buas Rayn terdengar membahana. Tawanya menular karena Dika dan Jojo jadi ikutan tertawa lebar sambil gebrakin meja. "Gini-gini," Dika menyambungkannya, "Malam habis ditembak Dea, Rafael susah tidur karena tiap merem langsung muncul muka horor Dea. Nakutin mukanya, kayak Annabelle campur Valak." "Pokoknya ke mana-mana muncul wajah Dea bikin Rafael jadi parnoan terus ngerancang ide balas dendam. Gitu nggak sih?" Rayn mengusap-usap dagunya menerawang. "Iya, pas tadi gue sama Dea lewat. Itu kesempatan yang pas buat Rafael langsung lemparin bola—" Belum selesai Jojo menyambungkan imajinasi mereka, aku harus segera menghentikan semua ini. "JAAAHAAAAT!" pekikku menghentikan imajinasi liar para cowok ini dan melototin mereka satu per satu. "Parah banget kalian, woi!" cetus Rina menengahi sebelum emosiku meledak beneran gara-gara tiga cowok ini. "Kalian merusak suasana hati Dea yang lagi berbunga-bunga aja oi!!" seru Della ikutan membelaku dengan menghentikan aksi nyebelin para teman cowok. Aku merasakan sesuatu bergetar di saku rok, aku mengambil ponselku. Di sana ada sebuah nomor tidak bernama memanggil. Aku mengernyit ragu-ragu nomor siapa yang lagi meneleponku. "Halo?" Aku angkat mungkin panggilannya penting. "Hai Dea, ini gue Rafael. Nanti gue hubungin lo pake nomor ini ya buat janjian pulang bareng." Aku menutup mulut tak percaya. Sekelilingku menyadari reaksiku, mereka semua langsung diam, karena penasaran. "SERIUS INI RAFAEL?" teriakku semoga Rafael tidak b***k dan ilfil karena terus-terusan aku teriakin. "Iya." "Oke. Tapi lo tahu dari mana nomor gue?" "Ada lah, udah nggak penting. See you, Dea! Selamat istirahat." Usai telepon tertutup aku masih mencerna ini semua, apakah mimpi atau kenyataan. Perasaan baru kemarin Rafael mengatakan hal yang menyakitkan, sekarang aku dibikin senang banget. Yah, namanya juga rezeki anak soleh. Ingin cepat-cepat pulang sekolah deh biar ketemu Rafael. Hihi .... Tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh suara seseorang yang datang ke meja kami panik. "HOI, JOJO! BANTU PISAHIN, SI ALVIN BERANTEM DI LAPANGAN!" seru Tristan anak kelasku. Senyumanku terhapus bersamaan dengan berita tersebut. Kami semua jadi panik dan serempak bangun dari duduk pergi menuju lokasi. *** Kebahagiaanku ada saja yang merusaknya. Satu nama itu membuat punggungku menegak. Kami bergerombol pergi ke lapangan untuk menengahi pertengkaran itu. Alvin dan Jerry anak kelas 12 sedang berantem tonjok-tonjokan. Aku tidak bisa maju melerainya, bagaimana bisa tubuhku ini lebih kecil. Jojo saja bingung memandangi dua sosok yang masih bergulat itu sambil mengacak rambutnya dengan amat frustrasi. Dika dan Rayn juga hanya bisa terdiam. Di dekat mereka ada beberapa orang yang memegang muka dan meringis. "Gue mau misahin ditabok Alvin." "Gila emang, Alvin bisa lawan lebih dari satu orang." "Gue ditonjok Jerry." Baru pertama kali aku melihat Alvin berantem dalam mode on. s***s banget. Kacamatanya sudah entah ke mana, wajahnya dipenuhi luka dan seragamnnya udah berantakan. Bukan seperti Alvin yang biasa aku lihat. Matanya yang hitam gelap itu menyeramkan seperti serigala kelaparan. Tidak lama gerombolan terbelah, di sana Dilan datang. Mukanya tua mirip anak kuliahan, ya emang dia harusnya sudah kuliah. Badannya juga enak buat gelayutan manja. Dari segi body goals, Dilan lebih keren dari Rafael. Anak-anak yang tadinya menggerubung memberikan jalan saat Dilan masuk ke dalam lingkaran memisahkan keduanya yang pukulan demi pukulan belum juga berhenti. Alvin dan Jerry masih saling membalas pukulan. "Hoi, berhenti, k*****t! Mau jadi jagoan berantem di sekolah?" teriak Dilan sambil memisahkan keduanya. Kalau bukan Dilan, mungkin dua manusia itu sulit dipisahkan. Aku menahan degub jantung saat bertemu sepasang mata yang menyorotkan kemarahan. Mata sipit dan tajam itu seperti menusukku. "Bubar, woiiii! Lo pikir ini acara lenong? Masuk kelas sana, belajar! Ngapain lihatin orang ribut?" Aku tersentak saat suara keras Dilan memecahkan suasana, membuat kerubungan memudar. Murid berbalik badan menuju kelas masing-masing sambil misuh-misuh. "WOI! KALIAN JUGA! Ke kelas sana! Ngapain masih di sini?" teriak Dilan ke arah gerombolan kami. Serem banget sih nih cowok, pantesan jomblo. Aku memutar tubuh, sebelumnya aku melihat Dilan sedang marah-marah ke arah Alvin dan Jerry. *** "Cie, mau pulang sama gebetan!" "Eh, eh, s**l. Si Dea bedakan dulu sebelum pulang." Aku tertawa menolehkan kepala ke belakang. Kedua temanku itu senyum-senyum menggoda sambil membereskan alat tulis. Baru saja guru mapel terakhir keluar. Aku membenahi diri supaya tidak malu-maluin jalan sama Rafael. "Eh, gue ngobrolin apa yak?" "Ya, yang biasa-biasa aja,” sahut Rina. "Jangan lebay, ege, tar dia enek." Della cekikikan. "Nah, bener tuh. Malah harusnya lo agak kalem, kan masih sakit hati sama penolakan dia." Rina memasang wajah ingin balas dendam. Benar juga. Tapi kalau misalnya dia tidak suka cewek kalem yang dingin gimana? Apa ini bisa menjadi cara untuk melihat bagaimana cara Rafael memperlakukanku, habisnya aku rada curiga dia mau nganterin pulang, karena merasa bersalah bikin aku pingsan dan malu. "Okeh. Mungkin gue bakalan lebih menutup diri." Ya, seperti biasanya yang sok-sok nggak butuh gitu. "Wow. Pelet apa yang lo pake," bisik Jojo dari sampingku. "Lihat tuh Rafael nyamperin lo ke kelas. Mantap!" Matanya memberi kode ke arah depan. Kontan aku mengembalikan posisi jadi menghadap ke depan, di pintu ada Rafael berdiri menjulang menenteng jaket. Kehadiran Rafael membuat kelas jadi hening. Di sana Rafael menatap tepat ke arahku, ekspresinya tidak terbaca, kalem-kalem gemes. Dan, aku jadi merasakan hawa panas menyelimuti sekujur tubuh. Melihat Rafael berada di depan kelasku adalah keajaiban baru. Dia tahu kelasku. Aku masih tidak menyangka dia yang akan mencari info sendiri, setelah mencari tahu nomorku (yang entah didapatkan dari siapa). Dia nyamperin sampai ke kelas? Astaga! Berasa putri kerajaan yang dijemput pangeran berkuda. Aku merapikan barang-barang memastikan tidak ada yang tertinggal. Sudah tidak sabar mau pulang bersama Rafael. Yes! "Good luck, jangan nyosor lo mentang-mentang deketan." Jojo berpesan saat aku hendak pulang. "Yeeee, emang gue angsa nyosor bae ke manusia. Semoga aja ya gue tetap terjaga imej di depan si doi." Semoga mimpi ini tidak akan bangun-bangun. Aku mau bahagia dulu. Tapi, semoga saja ini bukan mimpi! Aku mau kenyataan yang indah. TBC *** 7 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN