10. Pulang bareng

1579 Kata
Rafael aneh. Itulah yang aku simpulkan setelah sudah duduk di sebelahnya beberapa belas menit. Aku menggigit bagian dalam mulutku tidak tahu harus bicara apa, karena kami lebih banyak diam. Rafael berbeda dengan yang biasanya saat bersama gengnya bahkan Alisha. Rafael yang ini, tenang, dingin, dan serius. Meski sesekali kami melempar senyuman canggung, dan senyumnya itu manis banget bikin nagih. Aku mengamati figur sampingnya lalu meneguk ludah, cowok itu masih fokus menyetir mengarungi jalanan Ragunan. Apa dia lagi menyesali keputusan nganterin anak murid dari kasta kelas paling bontot gudangnya murid tidak bener? Ah. "Udah lihatinnya?" tanya Rafael tiba-tiba membuatku tersentak dan salah tingkah. Rafael mengukir senyuman miring melihat ke arahku. "Maksud?" "Lo ngelihatin gue mulu, seakan gue alien atau makhluk aneh." Ganteng. Bikin gue seneng lihatinnya. "Nggak nyangka aja sekarang lo malah nganterin gue balik. Sori yang kemarin, gue bikin lo malu ya?" celetukku yang pasti tahu betul jika ditembak oleh seseorang yang tak rupawan pasti malu banget Rafael terkekeh pelan. "Santai aja." Dia menoleh lagi. "Gue jadi tau ada teman seangkatan yang kayak gini loh." Kayak gini loh itu seakan: udah jelek, malu-maluin, nggak tau diri, gak ngaca dulu, dan nekat. Berani banget lo nembak cogan kayak gue? Aku menggaruk kepala belakang. "Emang tipe lo yang gimana sih? Lo ngomong gitu, gue jadi bertanya-tanya deh." Rafael mengangkat kedua bahunya. "Gue nggak ada tipe sebenarnya. Gue baru tau suka apa nggak sama orang ya harus kenalan dulu. Tak kenal maka tak sayang." Makanya kita kenalan dulu, habis itu sayang-sayangan. Ihiw. Aku tertawa pelan karena Rafael menyeringai geli. Rafael menyalakan radio dan terputar single terbaru dari Adara Emeren. Aku menyanyikan liriknya menggumam. "Ada yang tidak bisa aku pahami, meski sulit untuk kuterima. Bahwa aku mencintaimu sepenuh jiwaku. Jangan lari, berbaliklah aku di sini." Alis sebelah Rafael terangkat. "Lo suka Adara?" Aku mengangguk. "Lagunya asyik banget. Lo gimana? Suka lagu apa?" Meski sudah tahu jawabannya aku sok-sok tidak tahu. Rafael pernah nonton konser Maliq & D'essentials, aku tahu dari i********:-nya. Dia juga follow fanbase band itu. Jadi ya, aku tahu tapi pengen mancing aja biar dia ngomong cerita panjang lebar tentang favoritnya. "Katanya suka gue tapi nggak tau. Hahaahahaaa." Rafael menggoda. Aku nyengir, cuma mau mancing pembicaraan aja kok. "Gue suka apa aja sih. Kalo dari Indonesia suka banget Maliq dan band-band senior." “Maliq, ‘kan?” Tuhkan bener. Saat suara kami keluar bersamaan, aku tersenyum penuh kemenangan. Rafael juga sudah nyengir lebar. "Wah, kalo gitu lo suka dateng ke konser Java Jazz dong?" "Wajib banget itu mah. Alisha juga suka." Hhhhh, hatiku mencelus saat mendengar nama Alsiha disebut tanpa beban oleh Rafael. Aku diam saja. "Lo sendiri mau banget dateng ke konser siapa?" "Adara dong. Duh, gue kemarin lihat foto dia di majalah jadi model produk make up. Pengen gue gunting, tapi nggak boleh sama Della." "Adara saingannya Isyana dan Raisa. Ehehe, gue lebih suka Raisa sih soalnya cantik. Adara lumayan walau masih muda udah keren. Idola lo boleh juga." Rafael memuji, hidungku jadi kembang kempis. "Iya dong. Gue suka lagunya yang Raisa juga kok. Lebih ngena denger lagu cewek yang bawain." "Mana nih rumah lo kok nggak nyampe-nyampe?" Aku menahan tawa melihat raut bingung dari wajah Rafael. Aku sengaja biarin dia nyetir terus padahal rumahku sudah lewat tidak jauh dari gerbang perumahan, ya biar modus dikit mau lama-lama ngobrol sama dia. Aku menahan senyum. "Itu nanti di depan belok kiri, ambil kiri lagi, dan terus lurus aja dulu." Rafael menoleh dengan kening mengerut. Aku pasang wajah sok polos. Jangan-jangan dia tahu aku sengaja ngerjain, itu kan sama aja muter balik. Biarin deh, bilang aja nanti kelupaan asyik ngobrol sampe kelewatan. "Jangan bilang tadi kita udah kelewatan? Tapi—” "Iya, sebenarnya kita kelewatan tadi, hehehe. Nggak apa-apa sekalian muter balik nanti belokan yang kedua lo ambil ya." "Hhhh, dasar si Dea. Pantesan aja aneh." Aku tertawa geli melihat cowok itu gelengin kepala amat frustrasi dengan tingkahku. Mobil rafael sudah mengambil belokan kedua, aku menghentikan tepat di samping rumahku. "Mau turun sini? Rumah lo yang mana?" "Ini." Aku menunjuk rumah di sebelah kiri, siap-siap mau melepas seatbelt. "GILA! Ini di depan jalanan yang kita lewatin tadi, ‘kan?" Dia tertawa keras. Aku terpesona melihatnya memandangi cowok itu tersihir. Rafael menoleh nyengir kikuk. "Bisaan aja lo, sumpah bisaan," decaknya. Apa aku ketahuan modus? Hehe. "Jangan turun di sampinglah, gue maju bentar biar bisa ke depan rumah lo. Oke?" Dia menyetir mobilnya lagi membuat kini mobil berhenti tepat di depan rumahku. Dia menahan tawa geli. Kenapa sekarang aku baru merasa ini Rafael yang biasanya. Rafael yang penuh tawa dan senyum. "Nah, di sini kan lebih enak." "Makasih ya udah nganterin." Aku tersenyum tulus. "Mau mampir?" Aku melirik ke garasi ada sebuah motor. Hhh, Aidan di rumah. Semoga Rafael tidak mau mampir. "Nggak deh, gue mau langsung balik. Dadah, Dea!" "Hati-hati di jalan ya, gue turun." Rasanya tidak rela harus turun meninggalkan Rafael. Apa hari esok, esoknya lagi, dan seterusnya aku bisa merasakan seperti ini? Semoga kebahagiaan ini tidak imajiner. Nyata. Sepanjang jalan memasuki rumah aku tidak berhenti tersenyum. Saat masuk ke ruang TV aku terperanjat melihat abangku si Aidan sedang berciuman panas dengan cewek berambut panjang bersemir kecoklatan. "HUAAA!" Aidan dan kekasihnya, namanya Calista, menjauhkan diri menoleh dengan raut wajah kaget seperti maling ketangkep warga. Ternyata pacar Aidan masih si Calista yang dipacarinya sejak SMA itu. "ASTAGA! Kalian??" "Heh bocah, masuk rumah kasih salam dan ketuk pintu kek!" seru Aidan gusar. Dia mengusap wajahnya frustrasi. "Kalian m***m!" Aku menjerit. "DEAAAA!" Calista berseru dengan ekspresi kesal. Aku segera lari untuk kabur melewati mereka sebelum ketangkap Calista, karena cewek itu tidak segan bertingkah gemas padaku seperti cubit pipi atau ngacakin rambutku. Aku menaiki tangga seperti dikejar setan, sambil berdoa kali ini nyawaku terselamatkan bisa sampai di kamar. Pantesan aja Mama menyuruhnya untuk pulang, ternyata mereka mengerikan banget di belakang kita semua. *** Jangan tanya mengapa aku bisa berada di sini. Duduk di belakang Calista, mengamati gadis itu sedang menceritakan tentang cewek di kampusnya ada yang lebih gaya daripada dirinya. Calista tak suka ada orang yang sok gaul. Di sebelahnya ada Aidan, abangku mendengarkan sambil angguk-angguk kepala kecil. Aku dipaksa ikut ke mal dengan mereka, pasalnya kalau aku tidak ikut Aidan tidak boleh membawa mobil. Mamaku yang memberikan syarat itu, jadilah aku harus ikut, meski feeling-ku mengatakan akan dibuang jauh-jauh saat di mal nanti. "Aku tuh sebel banget sama Vanya, masa dia ngatain sepatuku KW. Ngeselin banget, ‘kan?" Calista menggerutu. "Dia tuh sombong banget baru punya tas, aku udah punya tas kayak dia dari berapa bulan lalu. Ih, pokoknya ngeselin deh!" Aku memijat kening sudah diseret paksa menjadi obat nyamuk, ocehan Calista semakin membuatku suntuk. "Sepatu KW nggak ngaruh sama wajah kamu, Sayang. Kamu tetap cantik kok, udah jangan bete lagi dong." Seperti biasa Aidan jagonya ngegombal. Aku mencibir di belakang, bisa-bisanya aku kejebak di tempat seperti ini. "I love you, baby. You're the one only in my heart." "Bang, berhenti lakuin hal cheesy begini. Geli tahu!" semprotku mulai mual. Calista menoleh dengan bibir menekuk. Gadis cantik itu suka bertingkah imut tidak ingat usianya yang seharusnya sudah harus bersikap dewasa. "Kenapa? Ini romantis bukan cheesy," sambung Aidan melihat dari kaca. Risiko banget punya abang ganteng. Tidak peduli cowok itu berkulit gelap, kesannya seksi dan maskulin. Untungnya bersih, kalau dekil aku pura-pura tidak mau ngakuin. Abangku sering dikecengin teman-temanku sejak SD. Sejak masuk SMA, aku tidak terlalu percaya teman. Mereka cuma modus mau deketin Aidan doang. Kenaikan kelas tahun lalu aku baru merasa punya teman beneran, yaitu Rina dan Della. Jojo cs adalah cowok, jadi tidak usah dikhawatirkan, mereka masih normal tidak mungkin modus ke abangku. Abangku yang playboy dan genit, pacarnya childish banget. Meski banyak yang bilang mereka lucu, tapi tetap saja bikin aku terganggu. "Makanya lo punya cowok, Dea." Calista melempar cengiran ngeledek. "Ini pasti kutukan gue ikut ke mal sama kalian? Sementara kalian pacaran gue ngapain?" "Ngapain aja kek ngecengin cowok aja, lo kan sendiri pasti digoda ama om-om," kata Aidan tertawa geli. "Nyebelin. Abang jahat, rela gue sama bapak-bapak. Gue masih doyan sama yang sepantaran," ucapku nyahutin dengan jengkel. Calista tertawa renyah. "Kalo lo udah dewasa, nggak akan masalahin umur. Yang penting banyak duitnya." Mataku melebar menatap tak percaya ke gadis cantik yang lagi menatapku penuh makna itu. Aidan menatap kekasihnya. "Kamu kok mikir gitu? Jadi, kamu juga suka ama Om-om?" "Nggak, Bebi. Temen-temenku sih iya, tapi aku sayangnya cuma kamu kok," tandas Calista mesra sambil mencubit pipi Aidan pelan. Oh, Tuhan tolong cabut diriku sekarang lalu pindahin ke mana kek. Asal tidak melihat sepasang orang pacaran ini. *** Aku tidak bisa menggambarkan suasana apa saat ini. Aidan berjalan mesra merangkul Calista, sedangkan aku yang selalu berusaha memisahkan diri jalan di belakang mereka ditarik paksa oleh Calista supaya jalan di sebelahnya. Jadi, aku sebisa mungkin mengabaikan tatapan dari orang-orang. Aku seperti bocah yang nyasar jalan sama orang dewasa pacaran. Di tengah jalan tiba-tiba Calista memegang rambutku. "Lo nggak pernah creambath ya? Duh, rambutnya nggak sehat ini. Kering banget dan kaku. Bebi, kalo kita ke salon gimana?" tanya Calista sambil memegang rambutku yang nyaris menyentuh bahu. Aku menarik kepala supaya cewek itu tidak pegang-pegang rambutku lagi. Oh ya, perasaan aku baru keramas tadi sore. Aidan menoleh dengan ekspresi datar, "Salon? Hmmm," gumamnya sambil mikir. Aku melotot supaya dia menolak keinginan pacarnya itu. Kalau ke salon bisa satu jam, lalu ngapain lagi? Mana sudah pukul 19:30 malam. Semoga saja tidak akan selama dan seribet itu agenda malam ini. TBC *** 8 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN