11. Mulai ingat-ingat

1696 Kata
"Nggak usah ah!! Kak Calis ke salon aja sendiri sana! Gue pernah creambath kok sama Mama." Aku emang iri banget sama rambutnya Calista yang bagus banget itu. Wajar dia lihat rambutku ini jelek, karena dia membandingkan dengan miliknya. "Duh, kita nonton atau makan aja deh. Udah malem tahu." "Pernah? Pantes aja adik kamu jomblo, Bebi. Dia cuek dan nggak bisa merawat diri. Pokoknya lo akan gue tatar dalam pendidikan kecantikan ala Calista," Calista berujar. "Malem apaan? Masih siang ini jam setengah delapan. Matahari aja baru turun." Anak malam seperti Aidan malam bisa jadi siang, siang jadi malam. "Ini mal juga 24 jam, jadi santai aja. Sampe pagi juga seru bawa dua cewek duh berasa makin ganteng gue." Aidan tersenyum tengil memainkan alisnya. Aku menghela napas. Dan, sejak kapan matahari bisa turun? Nilai Geografi Aidan pasti jelek. "Ke salon dulu, Bebi. Ya ya ya?" Calista menggelendot manja di lengan Aidan. Aku mengalihkan pandangan. Tubuhku membeku beberapa saat, menegaskan pandangan ke dua objek yang sedang berjalan sambil gandengan tangan. Sang cowok tidak sengaja bertemu mata denganku. Hatiku mencelus saat yakin dia adalah Rafael. Rafael mengalihkan pandangan fokus pada cewek berambut panjang bergelombang yang di sisinya. Alisha. Emangnya siapa aku mau cemburu dan marah? Gara-gara diajak ke mal aku jadi melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Lebih baik aku tidak melihatnya, lebih baik tidak tahu. Dan, biarkan aja Rafael mau pergi sama siapa kek. Tapi, hatiku mengatakan hal lain. Aku sedih. Seharusnya aku sadar, dia tahu nama dan kenalan sudah lebih dari cukup. Karena aku tidak akan menjadi bagian apa-apa dengannya. "Ayo ke salon!" seruku tiba-tiba saja. "Gue bisa jadi lebih cantik lagi nggak?" *** "Abang, main yuk sama Dea ke ayunan di taman dalam!" "Nggak ah, kamu sendiri aja. Abang bete sama Mama, mau ngambek." "Yah, ya udah Dea masuk ke dalam ya. Abang mau terus di parkiran? Nggak capek ngambek mulu sama Mama?" "Bodo. Sana pergi!" "Akhh, Mama! Mama, sakit, huhu. Mama, kaki Dea berdarah … sakit!" Bayangan berganti berputar tidak jelas seperti siluet-siluet. Anak kecil terjatuh di jalanan saat mau jalan keluar dari koridor, wajah anak kecil yang menangis dan wajah seseorang yang buram tiba-tiba mumcul, hanya suaranya yang lumayan jelas. "Hai, jangan nangis. Sini aku bantu." "MAMA HUHUHU, sakit kakinya. Dea nggak bisa jalan." "Aku bantu ke ayunan, yuk. Mau ke sana, kan?" "Kamu siapa? Kenapa di sini?" "Aku ...," "Ah!" Aku bangun dari tidur, ngos-ngosan seperti habis lari ribuan kilometer. Aku mengusap wajah yang sudah berminyak. Mimpi itu lagi. Aku termanggu di atas kasur dengan kaki menempel pada ubin yang dingin. Kulihat sebuah mainan anak kecil, robot berdiri di atas meja belajarku. Sepuluh tahun lalu ada yang pernah memberikan benda itu. Aku nyaris lupa kenangan benda itu kalau tidak bermimpi. Aku tidak pernah memikirkan anak kecil itu lagi, namun sekarang sudah dua kali mimpi aku jadi teringat kembali padanya. Aku tidak ingat jelas, yang kuingat hanya bagian seorang wanita di sebuah panti asuhan memberikanku sebuah robot. Beliau mengatakan dari anak yang mengenalku. Sisanya aku lupa. Tidak mungkin aku mimpi atau khayal, robot itu adalah buktinya. Mama mengatakan robot itu memang sudah ada sejak aku kecil, Mama mengatakan aku tidak pernah memperbolehkan benda itu dibuang. Ingatanku payah juga rupanya. Aku turun ke bawah mencari Mama. Di ruang makan ada Aidan dan Calista lagi sarapan. Aku mengernyit. "Kok masih ada lo?" tanyaku masih kesal dengannya, semalam gadis itu nyaris membuat rambutku berwarna ombre. Sudah tahu aku masih SMA. Gila saja. "Nginep. Nggak seneng amat liat gue?" Calista menyahut makan roti. "Gila amat." "Di kamar tamu. Elah," cetus Aidan menjawab nada bicaraku yang nyinyir. "Tuh rambut lo agak bagusan." Calista menatapku. "Lumayanlah. Mama dan Papa mana?" "Jigong, eh jogging." Aidan memberi isyarat dengan tangan. "Pergi sana, jangan ganggu!" "Dasar gila banget, udah kalian ini dinikahin aja deh." Aku berlalu meninggalkan mereka, terdengar suara nyaring Aidan mengumpat kasar. Aku melihat Mama dan Papa memakai pakaian jogging, sedang di taman depan rumahku melihat sebuah tanaman dalam pot plastik. "Ma, aku mau nanya." Aku nyamperin mereka. "Kenapa, Sayang?" "Mama pernah tahu wajah anak cowok yang dulu suka main sama aku di panti?" Mama terdiam cukup lama. Setelahnya menggeleng pelan. Aku membuang napas kasar. Lemas. Tidak ada informasi lagi. "Seinget Mama, kalo Mama ngobrol di ruang kepala panti, Bu Mawar. Kamu main di luar sendirian. Saat Mama ngajak pulang, kamu udah di depan ruangan duduk nungguin. Kamu selalu ngeluh bosen di ruangan karena isinya ibu-ibu, makanya kamu main. Tapi Mama nggak pernah tahu anak cowok yang katanya sering nemenin kamu itu." "Mama inget?" tanyaku memulai introgasi. Papa yang lagi menggali tanah di taman menoleh mengusap peluh di dahi. Aku menyapanya. "PAPA!" "Kamu belum mandi ya, kok bau?" godanya tertawa geli. Aku mendengkus, tapi ucapan Mama membuatku harus serius lagi. "Cuma itu doang sih. Kenapa sih?" Mama memasang wajah serius. Aku mencerna informasi. Ah, dasar mimpi bikin aku kepikiran saja. "Aku punya teman di panti itu, Ma? Setelah lama nggak inget, aku kebayang dia lagi." "Kayaknya sih, Mama juga lupa udah lama banget. Sayang, Mama beli tanaman baru tadi. Lucu ya nanti kalo udah gede." Mama memamerkan tanaman barunya. Aku menghela napas. "Paling yang rawat nanti Mbak Nurul." Aku menyahut dan masuk ke dalam rumah. Ponselku getar-getar di saku. Aku membukanya. Dika Prayogo invited you to the group "ANU INU" Dea Sagita joined the group Karina Yessi joined the group Andella Jenny joined the group Joshua Diantoro joined the group Rayn Ghali joined the group Alvin Matt joined the group Dika Prayogo: Jgn smpe ada yg left ya para bay Alvin Matt left the group Dika Prayogo: Ya Allah. Sabar dika ;))) Rayn Ghali: pngen ktwa Andela Jenny: Apaan si dimasukin ke grup cowok cucok mehong gini? Karina Yessi: Reborn nih?-_- Joshua Diantoro: Smoga bsa lbih berguna kali ini Dika Prayogo invited Alvin Matt to the chat Dika Prayogo: Siaul -_- Cucok mehong -_- Bomat ya, Del Rayn Ghali: Msih usaha ya brader Dika Prayogo: Tugas baru memanusiakan Alvin Joshua Diantoro: Mulia bgt tugasnya terharu sekali Karina Yessi: Wkwkwk Andela Jenny: -_- Dea Sagita: -_- Alvin Matt joined the group Alvin Matt:  . Dika Prayogo: Walkambek Alvin Alvin Matt: Y Joshua Diantoro: Wuih nambah satu kepala Rayn Ghali: Kayak seven ikon jadinya Dika Prayogo: Bi O Way. Bi O Way. Dea Sagita: -____-   Dulu saat kami baru kenal ada grup yang terbentuk berisikan aku, Rina, dan Della. Semula seru banget karena isinya cewek-cewek, biasalah cewek isinya kebanyakan gosip. Dan, seperti grup pada umumnya mulai hancur saat anak cowok masuk. Jojo masuk karena melihat aku suka cekikikan sendirian membaca chat di grup padahal aku dan teman-teman duduk berdekatan. Jojo memasukkan Dika dan Rayn ke dalam grup kami. Grup berubah menjadi layaknya aplikasi kencan, pokoknya kami modus-modusan mulu, namanya juga baru kenal belum ketahuan busuknya. Gawatnya Rina dan Della terbawa perasaan beneran, Dika dan Rayn ternyata selama ini cuma iseng. Namanya juga cowok-cowok iseng. Bubar setelah Rina dan Della keluar, karena mereka suka galau sendiri. Baru baikan beberapa hari kemudian dan malah kami jadi berteman lengket sama anak cowok itu. Ya setelah itu grup tidak ada lagi, daripada isinya tidak jelas. Meski begitu kami akrab di kehidupan nyata saja. Rina dan Della sudah tidak baper lagi sampe sekarang karena makin lama mereka ilfil sama Dika dan Rayn yang ternyata bukan tipenya. "Hhhh, kenapa gue mikirin tu mimpi?" batinku, tanpa sadar aku mendesah menggenggam ponsel. Sadar-sadar sudah duduk di sofa ruang tamu. Mimpi itu membuatku gelisah lagi. Bayangan yang kuingat juga hanya sekilas. Kadang mimpi membuatku tidak tenang, sampai aku tidak bisa membedakan mana mimpi mana nyata. *** Aku memeriksa kelengkapan seragam hari ini. Semuanya sudah lengkap, karena Senin ini upacara. Kaus kaki putih, sepatu hitam, rok di bawah lutut, kemeja putih, ikat pinggang, dasi, dan topi yang kupegang. Di gerbang ada malaikat pemeriksa atribut. Tugas guru-guru tersebut adalah memeriksa anak murid, yang tidak lengkap akan dipisahkan ke barisan yang paling belakang dan dicatat. Mendapat poin pelanggaran. Terlihat sebuah punggung yang aku kenal milik Alvin melipir ke pojokan, karena terhalang mobil-mobil yang terparkir cowok itu cukup pintar memilih mau masuk lewat pintu kecil yang biasa dipakai para penjaga kantin untuk memasukkan barang. Aku mengekorinya dari belakang siap menyergap cowok itu. Pasti mau melakukan hal yang bikin masalah lagi. Alvin terus berjalan dengan gaya santainya tak menyadari aku mengekor sambil geleng-geleng kepala. Cowok itu masih urakan menginjak sepatunya serta tidak memakai topi dan dasi. Punggung Alvin tiba-tiba berhenti melangkah dan sembunyi ke balik dinding pelindung mesin pompa air. Aku nyaris menjerit saat melihat seorang guru sedang berjalan mondar-mandir bertelepon di koridor depan. Alvin menyadari kehadiranku. Dia refleks menarik tanganku supaya ikutan bersembunyi. Matanya yang sipit menatapku tajam. Tanpa sadar aku sudah mengantar maut berurusan dengannya. "Lo ngapain di sini?" bisiknya dengan suara tajam menusuk. "Lo yang ngapain? Lo pikir bisa lolos lewat sini? Nanti upacara diperiksa lagi tauk. Kalo lo ketauan lewat sini jadi masalah." Terus aku peduli? Aku mendengkus saat sadar kenapa aku peduli sama dia!? Mungkin aku tidak mau anak kelasku, terutama dia bikin ulah lagi. Wali kelasku, Bu Kristin berpesan agar mengawasi Alvin dengan cara baik-baik. Pasang mata pada kelakuan anak itu jika kelihatan mau mulai berulah. "Bukan urusan lo," dengusnya. "Kalo nggak ada lo, gue pasti bisa lewat. Ntar kalo udah bisa lewatin tu koridor, gue bisa ke koperasi pinjem atribut." Cowok itu kesal bukan main ngomel-ngomel dengan wajah dinginnya. Aku melongo. "Pinjem? Mending sekalian beli, biar nggak ngumpet-ngumpet gini pas mau upacara." Pernah ada kabar, anak yang kelupaan membawa atribut menyewa barang di koperasi, daripada beli sayang uangnya. Alvin masih menatapku datar. "Nggak. Bukan urusan lo. Kalo beli atribut, itu cuma buat anak cupu yang parnoan," sahutnya jutek. Aku menganga, tuhkan walau penampilan luarnya cupu abis, dalam diri Alvin sangat bar-bar. Yang cupu siapa? Penampilan Alvin lebih menggelikan dibanding cowok lain yang memang disiplin dan tanggung jawab sama aturan sekolahan. Pemuda itu mengangkat kepalanya sedikit mengintip lalu dia segera menunduk lagi dan mengumpat kasar. Matanya melirik ke tasku yang penuh gantungan lucu. Dia mengembuskan napas. "Hhh, pantesan, elah." "Apa?" Aku bertanya heran. Belum sempat mendengar jawaban Alvin, terdengar suara berat nan galak. "Lah, kalian macam mana pulak ngapain di sini? Alvin lagi, pasti selalu kau yang bikin masalah." Aku melirik Alvin sedang memejamkan mata menahan emosi. TBC *** 9 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN