Belum sempat mendengar jawaban Alvin, terdengar suara berat nan galak. "Lah, kalian macam mana pulak ngapain di sini? Alvin lagi, pasti selalu kau yang bikin masalah." Aku melirik Alvin sedang memejamkan mata menahan emosi. "Kalian mau datang lewat sini biar nggak kena razia seragam di gerbang ya? Dasar kalian ini!! Ayo, ikut bapak ke barisan spesial! Mau upacara malah nyari masalah," kata Pak Gultom. Guru Biologi yang terkenal disiplin, tetapi kata anak-anak aslinya dia sosok yang baik dan lucu.
Aku nyengir polos pada guru tersebut. "Pak, saya tidak nakal loh, malahan saya mau menyergap Alvin yang kelihatan ama saya lagi lewat sini." Alvin mendelik super tajam. Aku pura-pura tidak peka, sedang berusaha keluar dari masalah ini sendirian. "Pak, nih saya berseragam lengkap, bawa topi juga nih." Aku mengacungkan barang bukti.
"Halah, kau ini kenapa suka banget godain cowok. Kemarin si Rafael, sekarang Alvin. Masih kecil, tahu saja kau sama cowok ganteng," omel Pak Gultom. Aku melotot tidak terima mau protes. Iya, aku emang godain Rafael, tapi Alvin? Pak Gultom mengulurkan tangannya. "Cepatlah bergerak! Ayo, cepat ikut saya sini. Kalian nggak bisa masuk ke barisan kelas, harus masuk barisan anak yang tidak berseragam lengkap."
"Tapi Pak—"
"Nggak ada tapi," potongnya cepat. "Ayo!"
Aku memanyunkan bibir melirik Alvin, seharusnya dari awal aku sadar berurusan dengan Alvin sama sekali tidak berdampak baik.
"Syukurin!" Alvin bergumam kemudian melengos cuek. Dia mendesis dalam perjalanan menuju lapangan upacara.
Aku menghentakkan kaki kesal banget. Jelas-jelas aku beratribut lengkap dikira mau kabur dari pemeriksaan. Alvin mengeluarkan kacamata dan memakainya, ada yang aneh hari ini dari Alvin. Dia lebih berantakan, tidak seperti yang biasanya culun.
"Vin, mata lo nggak minus beneran, 'kan?" tanyaku sok akrab. Alvin melengos tak peduli menjawab, apalagi mendengarkan pertanyaanku.
***
Kami berdiri canggung di depan ruang detensi, memegang sebuah kantong berwarna merah marun. Aku dihukum padahal tidak bersalah sama sekali. Aku tidak bisa mengelak karena Alvin tidak membantuku untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Malah diam saja selama dinasehati oleh Pak Gultom. Kami dihukum untuk meminta uang amal ke kelas satu per satu. Tas kami ditahan di ruang detensi, kami baru boleh masuk kelas setelah satu jam pelajaran nanti. Kalau kami tidak meminta uang amal ke kelas-kelas kami tak bisa mengambil tas.
Repotin banget anak satu ini, selalu bikin masalah. Aku mengembuskan napas di sisinya antara sadar tidak sadar. Cowok tinggi dan kurus di sebelahku itu masih tenang dan dingin.
"Mau ke mana dulu?" Pertanyaanku membuatnya menoleh sekilas.
"Mana aja."
Irit banget, bikin pengen nabok orang itu.
Kalau cowok ini memiliki reputasi yang baik dan tipe anak unyu kayak Jojo sudah berani aku karungin kepalanya pake kantung amal ini. Sayangnya, dia berandalan sekolahan di balik wajah sok polosnya itu.
"Oke. Kelas atas dulu."
"Bukannya lebih enak yang di bawah dulu?" Alvin menimpali.
"Atas aja, biar kelar di atas dulu."
"Bawah aja."
Aku menelan kekesalanku bulat-bulat. "Oke, bawah dulu." Lupakan kata-kata saat dia mengatakan mana aja.
Kami berjalan menuju kelas-kela bawah supaya tugas ini lebih cepat selesai. Kami berjalan dalam keheningan panjang. Aku masih belum tahu bagaimana cara bersikap di depan Alvin.
"Vin, nanti di kelas 11 IPA 1, lo masuk sendiri aja ya," kataku setelah menyelesaikan ambil amal kelas yang ada di bawah.
Alvin menggumam. "Kenapa?"
"Pokoknya lo aja deh sendiri yang masuk."
"Nggak."
"Ayolah, Vin. Gue jajanin nanti deh di kantin, gimana?" tawarku memainkan alis.
Dia melengos menaiki tangga duluan. Aku mengembuskan napas, lama-lama emosi juga berhadapan individu dengannya. Aku malu meminta uang amal di kelasnya Rafael. Apalagi, itu kelasnya Alisha juga. Tiba di depan kelas 11 IPA 1, aku diam saja membiarkan Alvin sudah di depan pintu. Dia menoleh memberi kode supaya aku ikut masuk.
Langsung aku menggeleng menolak. "Nggak deh, lo aja."
"Ayo! Apa yang lo takutin?" tanyanya menatapku penuh intimidasi.
"Oke, gue mau masuk, asal—"
"Bomat." Alvin menyahut cuek dan malas.
"Belum selesai. Bantuin gue deketin ke Dilan yak?" Setelah mengucapkan itu Alvin menoleh secepat kilat dengan kening berkerut. Tatapan Alvin jujur membuatku terganggu, jadi aku segera menjelaskannya. "Gue ada tugas wawancara, gue bingung kalo misalnya tiba-tiba nyamperin Dilan. Ya, ya? Plis!"
"Bukan urusan gue," jawab Alvin kemudian dia membuka pintu kelas 11 IPA 1. Aku mengatur pernapasan siap menghadapi sesuatu di balik kelas sana.
Kami anak kelas bontot gitu loh. Mana aku sedang bersama pentolan tawuran. Semoga Rafael tidak ilfil dan menganggap hari Jumat kemarin hanyalah ilusi. Soalnya sejak mengantarku pulang, Rafael sama sekali tidak mengabariku lagi via ponsel. Chat atau pun telepon.
Alvin melangkah percaya diri masuk ke kandang musuh. Kelas hening itu terfokus pada Alvin yang berjalan ke guru mata pelajaran untuk meminta izin. Aku mengekori Alvin nyusul, seketika mata-mata itu menatapku. Dari sudut netra, aku melihat reaksi Rafael juga kurang lebih sama. Menatapku tajam. Kelas eksklusif ini memang beda. Bersih dan bikin betah berlama-lama di sekolah.
Kenapa dulu aku kurang pinter sih? Kalau aku masuk kelas ini bisa ngecengin Rafael setiap hari. Kami akan belajar bareng dan nempel terus layaknya sepasang kekasih anak cerdas. Ah, indahnya.
"Ehem." Alvin berdeham. Kepala Alvin memberi kode.
Aku melamun lagi. Aku sadar langsung gugup."Oke, oke."
***
Aku berjalan menuruni tangga mau menyusul Rina dan Della ke kantin, mereka sudah duluan mencari meja sedangkan aku harus membantu Jojo menyusun buku tugas berdasarkan absen. Ada saja guru iseng yang minta buku tugas disusun berdasarkan nama absen biar gampang masukin nilainya. Langkahku terhenti saat melihat Rafael berdiri tidak jauh di depanku diapit oleh Yosi dan Jason. Aku berdeham salah tingkah merapikan rambut. Yakin bahwa dia seperti sedang menantiku, karena saat kami bertatapan, dia melemparkan senyuman.
Eh?
"Hai, Raf!" sapaku balas senyum.
"Hai, kantin bareng yuk. Gue kira lo udah di sana, taunya belum turun ya?" Rafael senyum lemah.
"Boleh," kataku tersenyum.
"Oh ya, lo udah kenal sama sobat-sobat gue belum? Jason dan Yosi." Rafael menunjukkan dua sohibnya yang tidak kalah gantengnya juga. Siapa yang tidak kenal dua cowok yang juga lumayan banyak diincar itu.
"Siapa yang nggak kenal kalian sih?" Aku tertawa sumbang.
"Bisa aja," sahut Jason ramah. "Ya udah, yuk buruan. Laper,oi!"
"Tapi tenang aja, dibayarin ini," sahut Yosi ketawa.
"Bentar dong, kalian jalan duluan sana." Rafael mendorong punggung Jason dan Yosi supaya menciptakan jarak.
"Modus lo!" teriak Jason dari depan buru-buru merangkul Yosi berjalan lebih cepat.
"Awas malah belok ke tempat lain," gurau Yosi membuatku menahan senyuman.
Kini tinggal aku dan Rafael berjalan berdua saling melirik kikuk lalu melempar senyuman. Rafael bertanya, "Lo kok tumben sendirian aja?"
"Iya, yang lain udah duluan." Aku nyengir gugup. Aku memandangi sekitar, cewek-cewek di sekeliling menatapku iri. Huuu, aku lagi jalan sama the most wanted sekolahan nih. Sekarang aku bagai putri yang ditatap dari segala arah, benar-benar hebat sekali efek Rafael ini.
"Lo mau makan apa, De?"
"Asal sama lo, gue mau makan apa aja kok." Aku senyum-senyum sendirian.
"Heh, gila! Jijik banget gue, ih, Dea!!!!" Tubuhku terhuyung ke samping. Seseorang mendorongku kasar. "Sumpah, ih, gue masih normal!" seru suara cewek.
Loh, loh, loh?
Aku terperanjat saat tersadar tubuhku didorong kasar oleh seseorang. Aku melotot tak percaya sedang duduk di sebelah Rina. Dia menatapku ketakutan. Della dan Jojo memajukan kepalanya memandangku dari samping. Aku nyaris terjatuh saat disenggol oleh Rina tadi.
"Apaan sih!"
AH, lamunan tadi indah harus pupus keburu disadarkan oleh Rina. Lebih memalukannya lagi di depanku berjejer Dika, Rayn, dan juga Alvin. Dika dan Rayn melongo dengan mulut menganga minta disumpal lap jelek.
"Ya, ampun! Dunia memanggil lo, wahai Dea. Ngelamun mulu nih bocah," gerutu Jojo dari posisinya di pojok sana.
Aku mendorong bahunya lewat belakang punggung Della. "Jangan sotoy deh!" kilahku yang sudah malu banget.
Dika menggelengkan kepala. "Halah, ngaku aja. Keliatan tadi lo senyum-senyum sambil lihatin meja belakang gue." Kepala bagol Dika menoleh ke belakang. "Bener kan, tuh objek lamunannya si Dea!"
"Rafael palingan," sambung Rayn. "Astaga, ngelamun jorok mulu." Mata Rayn yang sipit menatap serius. Lalu cowok itu tertawa penuh makna. Resek.
Aku menendang kaki dua cowok itu dari kolong. Mereka mengaduh sakit sambil melotot. "Ish, rese deh."
"Serius, mau makan apa lo?" tanya Rina berusaha mengembalikan topik pembicaraan, "Gue pesenin atau jalan sendiri?"
"Gue nasi uduk aja deh." Aku sudah terlanjur bete gara-gara diledekin.
"Lo emang suka ngayal deh, gara-gara lo jadi ngaret nih!" Della mengomentari dengan wajah sudah jutek.
"Iya, sori deh, Guys."
Rina bangkit dari duduknya, sehingga aku bisa membenarkan posisi duduk. Cewek itu melangkah riang untuk memesan makanan. Aku menopang dagu di botol air mineral dingin, arah mataku tertuju pada Rafael yang sedang bercanda dengan geng elitnya. Ternyata yang kemarin itu lebih buruk dari mimpi. Rafael saja bertingkah seperti tidak terjadi sesuatu. Apa bedanya sama mimpiku yang lalu-lalu? Aku memejamkan mata merasa sesak di d**a.
"Gimana si Rafael?" tanya Della.
Meski para cowok tidak menunjukkannya, aku tahu mereka penasaran juga mau ikut bergosip.
"Auk." Tadi saat meminta uang amal di depannya, cowok itu seperti tidak mengenalku. Tidak ada senyuman atau sepatah kata pun. Aku sakit hati banget. Enak banget ya menjadi dirinya, bisa ngacak-ngacak perasaanku begitu hebatnya. "Gue kapan ya bisa gabung sama mereka?" gumamku tanpa sadar.
"Kapan-kapan," sahut Rayn menyebalkan. Aku memberi tatapan tajam padanya. "Udahlah, De. Jangan ngarep berlebihan," kata Rayn lagi.
Aku menopang dagu di dua tangan yang kutumpuk di meja. Alvin tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mengejar seseorang yang baru melewati meja kami. Bukan hanya aku saja yang memperhatikan Alvin. Aku tampak tertarik saat cowok itu berbicara, namun tidak bisa aku dengar jelas. Lawan bicara Alvin sepertinya adik kelas, dia memberikan makanannya pada Alvin dengan raut wajah pasrah, lebih tepatnya takut.
Alvin membawa makanan itu ke meja kami kembali. Alvin makan chiki dan menyedot segelas jus milik adik kelas itu tanpa beban.
"Vin, lo ngapain?" tanya Jojo penasaran.
"Makan?" Alvin menjawab pelan.
Sudah, jangan nanya lagi. Bikin emosi. Aku mendecakkan lidah sedangkan Jojo terlihat sedang menggelengkan kepala.
"Lo ngomong irit banget, kayak ada limit kata," ucap Dika komentar. Kalau Dika bisa bersikap seperti Alvin, aku akan bertaruh besar. Supaya cowok itu bisa diam atau lebih irit bicara dibanding biasanya yang berisik sekali.
Alvin menaikkan sebelah alisnya.
"Kayak lagi makan permen mints, ada dingin-dinginnya gitu." Rayn terkekeh.
Obrolan mereka tidak mengusikku. Aku mengalihkan pandangan ke Rafael lagi. Mimpi seperti nyata, yang nyata kayak mimpi.
Unreachable.
Unreal.
Atau ini yang Real?
TBC
***
10 Okt 2021