13. Negara ketiga

1454 Kata
"Mundur! Masuk ke dalam lagi! Jangan ada yang coba-coba menerobos mau keluar. Bahaya! Astaga, Alvin mau ke mana kamu?! Alvin! ALVIN!" Suara teriakan keras dari seorang guru mengundang rasa penasaran anak-anak murid semakin ingin meringsek maju ke depan. Gerbang di ujung lorong depan sudah tertutup. Aku ditubruk sana-sini oleh murid yang penasaran ingin tahu ada apa di luar gerbang lobby. Kalau seperti ini dugaanku masih sama, pasti di depan sekolah sedang ada tawuran. Biasanya juga seperti itu. Aku menggigit bibir cemas saat terlihat bayangan Alvin di luar gerbang sedang berjalan agak cepat menuju gerbang depan. Anak itu selalu saja bikin ribet. "Gila, cepet banget tuh anak PS sampe di sini. Padahal palingan bel baru beberapa belas menit yang lalu," cetus seseorang tidak jauh dariku. "Emang sekolah sampah ya kayak gitu hobinya ribut!" "Mau apalagi sih? Bukannya si Rino udah cabut ke mana tahu!" "Masih ada nyali rupanya, paling yang preman-preman kelas ikan cere. Dilan mana mau nanggepin, paling yang muncul yang alay atau lemah." Aku memandang sekitar tidak ada murid yang aku kenal. Kalau ada ricuh begini pasti pada kalang kabut. Sebaiknya aku mundur kembali masuk ke dalam area sekolah. Memasuki area bangunan sekolah lagi di kanan-kiri lapangan banyak murid bertebaran duduk. Mereka rata-rata berekspresi cemas. Teman-temanku pada ke mana? Mengapa tidak ada yang kelihatan? Mungkin mereka nongkrong di gazebo, sebaiknya aku ke sana saja. Tapi di tempat tersebut aku juga tidak menemukan mereka. Aku mengambil ponsel untuk menghubungi mereka. Layar ponselku kedip-kedip menampilkan logo kemudian mati. Aku berjalan ke mana saja tak tentu arah, barangkali bisa menemukan mereka. Sekadar informasi, aku tidak memiliki banyak teman makanya kalau tidak ada mereka aku bingung jadinya. Tiba-tiba kedua tanganku dipegang oleh murid perempuan. Aku menganga saat sadar oknum yang melakukannya adalah centengnya Alisha, Tara dan Linda. Sedangkan Alisha berdiri melipat kedua tangannya dengan ekspresi siap mengintimidasi. Apa-apaan nih? "Bawa ke kebun belakang, mumpung di depan lagi ricuh lebih rame di sana!" Perintah Alisha pada dua temannya. Linda, cewek bertubuh paling kecil, langsing dan cantik menyipitkan mata penuh kebencian. Tara, gadis yang lebih tinggi menarik tanganku kasar supaya ikuti langkahnya. "Kalian ... apaan sih? Gue-" "Jangan banyak bacot! Diem dong!" seru Linda, beda dengan wajahnya imut-imut. Ternyata dia kasar banget omongannya. "Iya, ini pelajaran buat lo!" Aku berusaha memberontak, masa aku kalah sama cewek-cewek kayak gini? Aku tidak terima! Aku harus kuat! Namun, usahaku untuk menyelamatkan diri lumayan sia-sia. Tidak bisa sama sekali melepaskan diri dari cengkeraman Linda dan Tara yang kenceng banget, seperti kukunya mampu menusuk kulitku. Tajam gila. Alisha menyuruh centengnya berhenti di samping ruang ganti baju khusus perempuan. Alisha mengangkat daguku supaya bisa melihat pada wajahnya karena dia tinggi banget. "Sok cantik amat lo godain Rafael!" pekiknya. Matanya yang bulat dilapisi softlens abu-abu. Mak lampir. Aku menatapnya geram. Kalau tidak dipegangi aku ingin menonjok wajahnya biar makin peyot. "Kalo gue emang cantik kenapa? Lo syirik?" balasku agak susah karena rahangku masih dipegangin. "Syirik lo ngggak bisa secantik gue?" Wajah Alisha berubah menatapku serius tepatnya terperangah. "Woi, ngaca lo! Muka kayak kardus bekas!" serunya sambil nunjuk mukaku. Kemudian mereka tertawa riang. "Apa gunanya cantik kalo nggak ada tata krama?" Aku masih berusaha menyahut, masih keras usahaku untuk terlepas dari acara pembulian ini. “Bar-bar. Tukang menindas dan main keroyokan. Kayak cewek kelas rendahan!” Alisha melotot. "Bullshit, yang penting itu cantik dulu. Jelek sih lo, jadi nggak pernah ngerasain jadi orang cantik. Hahaha," katanya dengan ekspresi jahat. Alisha mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Aku melotot melihat dia membawa bedak tabur. Dalam hitungan detik bedak itu sudah bertaburan di udara dan sampai ke tubuhku. Aku memejamkan mata tidak bisa menghindar. Namun, bisa merasakan bubuk menempel di wajah dan kepalaku. Tanganku sudah terbebas tidak dipegangi lagi, yakin sekali dilepas tepat saat Alisha menuangkan seisi betak tabur itu kepadaku. Aku menggosok hidungku yang gatal. Setelahnya sesuatu yang tak terduga terjadi aku bersin-bersin. s****n, ini bedak Salicyl. "HATCHYIIIII!" Aku bersin keras. "Anjir, virus woi! Lo bersin kena muka gue!" seru Alisha. Kulihat Alisha mengelap wajahnya dengan tangan sambil bergidik jijik. Tara dan Linda menatap Alisha dengan rautwajah tak percaya, mereka saling berpegangan tangan bergidik geli. "Aduh, muka gue kan abis facial dan suntik serum. Dasar bopung, bersin lo itu banyak bakterinya. Awas aja muka gue jadi gatel-gatel dan kena penyakit kulit. Lo bakal gue kejar lagi. Tanggung jawab bayar perawatan muka gue." Aku membersihkan sisa-sisa bedak yang sayangnya sangat sulit dibersihkan. Aku menatap Alisha berani. "Jadi ini kelakuan asli lo, wahai tuan putri kelas atas? Nggak ada bedanya lo sama cabe-cabean preman jalanan." Suaraku yang songong itu keluar begitu saja disebabkan emosi berat ditindas dikerjain begini. Kurang ajar banget. "Apa? Ini balasan untuk orang yang nggak tau diri kayak lo ini. Mau ngadu ke Rafael? Lo pikir dia percaya? Silakan. Dia lebih pro dan percaya sama gue. Lo jangan mimpi ketinggian buat bisa sama dia. Kalo diibaratkan negara nih, gue negara maju, Gisela negara berkembang, dan lo adalah negara terbelakang. Gisela aja nggak dilirik sama Rafael, apalagi lo!" Alisha memberi kode pada kawan-kawannya untuk pergi dari sini. "Cabut yuk! Biarin aja, anak cere ini mikir dan harusnya malu. Dia nggak bakalan bisa bersanding sama Rafael." Aku menendang kasar batu dan ajaibnya batu itu mental mengenai punggung Alisha. Cewek centil itu memekik kesakitan. Aku tersenyum bisa balas dendam meski tidak seberapa. Lihat saja nanti pembalasanku. Aku memandang nelangsa sekujur tubuhku. Di rok masih banyak sisa bedak-bedak. Aku mengambil posisi duduk di bawah pohon jambu mengusap bagian-bagian rok yang memutih. Saat aku menunduk runtuhan bedak yang di ujung kepalaku turun. Aku melepas ikatan kuciranku untuk membersihkan bedak yang berada di kepala. Dia lebih pro dan percaya sama gue. Lo jangan mimpi ketinggian buat bisa bersama dia. "Mimpi? Apa ini semua hanya mimpi, kejadian itu adalah mimpi? Benarkah dia hanya mimpi-mimpiku?" gumamku sembari meratapi nasib. Semoga yang hari Jum'at itu bukan mimpi, makanya Alisha mengamuk seperti barusan. Kamu seperti bintang di langit, sulit untuk aku gapai. Sayangnya, aku belum bisa berhenti berharap. *** Ahmad Fahri: Gak usah wawancara Dilan. Kata Bu Disa, ngapain kita wawancara biang kerusuhan. Tar diomongin lagi pas rapat pulang sekolah hari Kamis. Semenjak kejadian diserang oleh gengnya Alisha beberapa hari lalu. Setelah beberapa lama kejadian berlalu itu masih cukup membekas dalam ingatan. Aku sedikit lebih suka menyendiri, menyibukkan diri membaca novel Johan Series karya Lexie Xu. Jujur saja hanya novel yang seram-seram yang bisa sedikit mengalihkan pikiranku dari dunia nyata yang lebih drama dari khayalan. Saat diajak ke kantin, aku lebih memilih menitip nasi kuning atau dibungkus. Sebisa mungkin aku mengurangi ketakutan jika akan berpapasan dengan gengnya Alisha. Malu. Saat ini aku sedang baca novel seri yang pertama di pojokan kursi milik Dika. Cowok itu sedang keluar bersama dengan Jojo dan Rayn, paling nanti ngintilin Rina dan Della. Aku mendesis membaca isi pesan dari Fahri yang bilang aku tidak usah wawancara Dilan. Baguslah, aku masih sayang nyawa. Suasana kelasku kalau istirahat hanya menyisakan segelintir orang. Kelasku tidak solid-solid banget, kebanyakan yang berkelompok dan asyik-asyik sendiri. Di sini hanya ada empat orang. Aku, Rana-Made, dan Alvin. Rana dan Made fokus ngobrol di meja yang paling depan dekat papan tulis. Aku melihat Alvin sedang tiduran menghadap tembok dengan sebuah earphone. Alvin baru masuk sekolah lagi setelah diskors sehari gara-gara tawuran. Tawuran hari Senin berlangsung hanya beberapa menit, anak murid yang masih di dalam diperbolehkan pulang pukul 16:30. Aku pulang dengan keadaan yang aneh, habis ditaburin bedak. Untuk cari aman, aku keluar gerbang saat sekolahan sudah lumayan sepi. Aku tidak fokus membaca novel lagi, kututup novel itu dengan cemberut. Pikiran tentang Rafael yang kembali asing menelusup tanpa bisa dicegah. Aku tersenyum miris, mungkin saja aku yang geer-an mengira Rafael sudah menerima kehadiranku lebih dekat. "HUAAAAA!" Aku terlonjak kaget saat ada suara ramai sekali dari luar. Tepatnya lapangan. Bukan hanya aku saja yang nyaris terjengkang, di pojokan sana Alvin mengangkat kepalanya dengan raut wajah tetap datar. Tapi jelas cowok itu juga kaget banget. Aku jadi penasaran kalau Alvin masuk ke rumah hantu atau dikagetin gimana ya? Kurasa setan palsunya duluan yang menyerah dan mohon-mohon sama pemilik acara rumah hantu buat tidak mau lagi jadi hantu. Dia tak berbakat menakuti orang, terlebih ganggu manusia datar model Alvin. Alvin melirikku dengan sorot tajamnya. Aku mengambil novel lagi dan pura-pura membaca. Diam-diam dari sudut mataku Alvin masih ngelihatin. Aduh, gawat! Itu mata ada sinar apanya yak, berasa bolong-bolong udara di sini. Aku menarik napas lega dari pintu muncul Rina dan Della berteriak centil dan lari-lari. "Geng cogan main basket yang nonton cewek semua!" "Buruan kasih Dea tar kita abis ini nonton." Mereka berdua membawa kresek mendekat padaku. "Benga, lo stres apa baca buku kebalik?" tanya Della polos. "Doi kan anti mainstream." Rina nyengir. Aku melongo sadar bahwa bukunya terbalik. Malu-maluin. Bego. Pantesan dilihatin sama Alvin. TBC *** 11 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN