14. Loh? Kok?

1620 Kata
Ada enaknya, ada tidaknya saat mood acak-acakan diseret ke mal untuk nemenin cewek centil yang tidak ada capeknya pergi ke konter satu ke konter lainnya. "Lo ganggu aja malem ini, besok gue kan masih sekolah." Seakan tidak peduli Calista tetap melihat pernak-pernik lucu di Naughty dengan wajah ceria. Menjadi keajaiban aku jadi sering ke mal nemenin Calista lagi. Percaya saja sejak aku SMP dan dia SMA, aku sudah sering diseret ke mal buat window shopping. Aku baru keluar dari gedung sekolah sudah dicegat oleh Calista yang bawa mobil sendiri. Meminta izin pada Mama, ternyata beliau mengizinkan. Asal pulangnya jangan larut malam. "Dea, kita beli ini kembaran aja yuk!" Calista mengangkat dua buah kalung dengan batu hijau jamrud sebagai hiasannya. Aku menggeleng. "Nggak. Gue nggak pake kalung," sahutku. "Oh, come on, Baby! Ini lucu, ini lucu. Gue suka dua-duanya, jadi kita beli, oke?" Calista memasang wajah memohon. "Kembaran sama temen lo aja napa sih?" keluhku mendecak sebal. "Ogah, si Anabel udah sering kembaran. Kan gue bosen. Ntar kita bisa tukeran, deh." "Beli aja dua-duanya. Gue nggak mau!" "Dea bawel deh, laporin ke Bebi Aidan nih lo nggak nurutin gue." "Oh, yeah. Oke oke." Aku menggeram. Lama-lama cewek ini ngerepotin, kenapa Aidan tidak nge-kos lagi aja sih supaya Calista tidak main ke rumah lagi. Setelah bayar yang dibeli, Calista keluar dari Naughty dengan ceria. Dia mengelus perutnya yang rata. Sumpah deh untuk urusan ini abangku jagonya milih cewek, Calista ini memiliki tubuh yang ideal dan enak banget dilihat. Aku lebih iri sama tubuhnya daripada Alisha. Andai aku bisa tinggi, kurus, dan seksi pasti Rafael tidak akan ragu memilihku. "Makan dimsum yuk?" Ajak Calista. "Nah, kebetulan. Gue laper. Yuk!" Di tengah acara makan-makan aku bermain ponsel ngecek grup ANU INU yang rame banget isinya chat panjang dari Rina, Della, Rayn, dan Dika. Ting .... Rafael Adrian: Ini Dea yang itu? OMG! jeritku dalam hati. Dea Sagita: Iya ^0^ kenapa Raf? (Read) Rafael Adrian: Gue kira Dea yg mana. Dea Sagita: Dea mana lagi? (Read) Cuma dibaca? Okelah. Aku menyimpan ponsel di meja kembali menikmati makanan. Calista mengelap bibirnya dengan tisu, menatapku heran. "Apa?" "Lo nggak eksis ya di sekolah?" tanya Calista. "Nggak." "Payah. Eh, tapi gue lebih suka tipe yang kayak lo gini buat dijadiin temen deket." "Kenapa?" "Karena gue yakin tipe anak yang biasa-biasa aja tulus temenannya, nggak kayak cewek-cewek hits yang populer." Aku menghentikan aktivitas makan, memandangi gadis berwajah tirus itu penuh selidik. "Mereka fakers?" Calista mengangguk. "Lo juga dong." Aku segera menudingnya demi keadilan bersama. Masa Calista tidak sadar diri, makanya aku membantunya sadar. Calista nyengir tandanya membenarkan. "Ya, gitu. Tapi gue kalo nggak sreg temenan langsung jauhin. Nggak bisa lama-lama deket sama orang nyebelin." "Mereka kali yang ninggalin karena lo rese!" ledekku cengengesan seraya menjulurkan lidah. "Enak aja!" kilah Calista segera. "Yang mau main sama gue tuh antre kalii. Males sih sama yang berisik dan ganggu." Orang seperti Calista pun, yang aku kira tidak pernah kesepian merasa ada kalanya memilih teman yang bisa nyaman di hati. Calista juga sama, memiliki sisi di mana ingin sendiri dan tidak mau diikut campuri oleh orang lain. Ting .... Aku menyambar benda pipih itu lagi saat ada nada pesan masuk. Ada notifikasi Alvin Matt menambahkan sebagai teman, dan sebuah pesan masuk barusan. Alvin Matt: Sori dilan yg mencet add. SUMPAH? Aku syok sampai punggungku menegak kaku. Aku membaca ulang takut salah lihat. Memastikan tidak ngigau, aku membalas pesan dari Alvin. Dea Sagita: Gak bakal lo block biar unfriend lagi kan? Eh, aku ngetik apaan coba. Yah, kekirim???! Alvin Matt: Mau gue block? Dea Sagita: Terserah ;)) Alvin Matt: . Dea Sagita: ? (Read) "Kenyang, balik yuk!" Saat aku dan Calista bersiap-siap mau pulang, di salah satu bilik aku baru sadar ada Rafael dan Alisha di sana. Mereka sedang suap-suapan mesra. Rafael melihat ke arah aku, dia tidak menyapaku, melempar senyuman pun tidak. Bersikap seolah-olah tidak saling kenal. Mengapa semua ini menjadi kembali menyakitkan seperti awal lagi. *** Akhir pekan ini aku diajak Mama ke panti asuhan Kasih Bunda. Tujuannya tentu saja ketemu ibu ketua yayasan untuk kunjungan santunan. Biar itu jadi urusan mereka, aku lebih baik mencari tahu. Kali saja akan ada kenangan yang muncul saat terjun langsung berada di halaman panti asuhan. Sejak kecil aku sering ke sini diajak mama. Mama akrab dengan Bu Mawar bahkan sudah menjadi sahabatan. Di tempat inilah aku pernah bertemu seseorang yang sayangnya tidak aku ingat lagi sosoknya. Mama tidak tahu anak kecil yang aku maksud itu, karena ya anak kecil itu menemani jika aku sendirian main-main di taman. Aku berpikir, apa anak itu sungguhan ada atau tidak? Ingat, aku suka mengkhayal yang bukan-bukan? Lo sekarang di mana? Bagaimana wujud lo sekarang? Apa masih inget gue? Aku tertawa hambar. Gue aja nggak terlalu inget, apalagi lo. Saat ini aku sedang duduk di ubin koridor mengamati taman panti yang ada air mancurnya. Suara gemericik air menemaniku sendirian di sini menambah suasana angker. Panti asuhan sepi banget kalau weekend begini, karena anak-anak itu diajak sedang study tour observasi ke Bandung. Aku memandangi sebuah ayunan, jungkat-jungkit dan mainan pelangi yang biasanya untuk anak-anak TK. Kenapa aku nggak ingat apa pun? Krieeek .... Aku menoleh ke suara seperti pintu terbuka. Di ruangan tempat biasa menerima tamu itu di pintunya ada yang keluar, yaitu Bu Mawar bersama dua orang lainnya. Salah satunya wanita cantik berpakaian mewah dan tas jinjing di tangannya. Mataku melotot bahwa cowok tinggi yang sedang berdiri di sisi wanita itu adalah Rafael. Rafael hari ini ganteng banget, memakai sepatu putih, celana hitam, dan kaus lengan panjang warna biru. Rambutnya yang depan disisir membentuk poni, ya karena ini bukan di sekolah Rafael bebas ponian. Kalau begini, gantengnya meningkat 100000%. Aku menganga melototin Rafael yang tidak sadar juga bahwa ada aku di sekitar dekatnya. Aku bangun dari posisi duduk. Samar-samar aku mendengar suara Bu Mawar dan wanita cantik mamanya Rafael. "Saya mohon dengan sangat untuk membantu, supaya kami bisa tenang." "Pasti baik-baik saja. Saya selalu membantu." Bu Mawar, perempuan yang disanggul tersenyum ramah. Keriput di sekitar matanya makin terlihat. Apa yang sedang mereka bicarakan? Kelakuanku menguping diketahui oleh Rafael. Cowok itu berdiri masih di sana menatapku tajam. Dia tidak menyapa, masih dingin, dan bersikap bagai orang asing. Aku menggigit bibir, segera buang muka ke arah air mancur takut-takut. Aku mengepalkan tangan menahan gemetar di tubuh. Kenapa Rafael bisa ada di sini? *** Dalam perjalanan pulang aku melamun sibuk memikirkan kejadian pertemuanku di tempat yang sama sekali tidak terduga. Ini Rafael, kalau bukan dia, tentu aku tidak peduli. Mama menyetir, melihat diriku yang mendesah kesal beliau menolehkan kepala. "Kenapa kamu? Sakit? Diem aja kayak lagi nahan mules." Mama meneliti dengan sorot mata penasaran. "Eh, enggak kok, Ma. Cuma lagi kepikiran aja tentang teman masa kecilku dulu. Ma, tahu nggak tadi tamu yang di ruangan Bu Mawar itu siapa yang dateng ke panti?" Aku daripada menahan rasa penasaran, lebih baik aku tanyakan saja langsung. Aku tahu sih siapa Rafael, tetapi siapa tahu Mama membocorkan cerita lain. "Loh, kamu nggak tahu? Itu keluarga Rafli. Suaminya pengusaha tajir di Jakarta. Mama sempet kenalan kok, dia bilang anaknya sekolah di tempat yang sama kayak kamu juga." Eng, itu Rafael gebetan aku, Ma. Calon pacarku. "Aku syok sampe sekarang. Tadi itu mamanya Rafael. Ada Rafael juga. Kenapa bisa mereka ada di panti ya?" dugaku heboh. "Wajar aja, pantinya Bu Mawar emang banyak didanai oleh para keluarga mampu. Mulai dari pengusaha kecil sampe pemilik perusahaan bercabang kayak Karim Group juga bantuin loh," jelas mama serius. "Karim Group?" pekikku heboh. Siapa yang tidak tahu perusahaan itu, perusahaan yang lagi menguasai Jakarta apalagi bank swastanya terkenal banget. Karim Bank. Mama mengangguk. "Kok Mama tahu, jadi sering ke panti buat bergosip sebenarnya nih?" "Ish, enak aja!" Mama melotot. "Ya, Bu Mawar kan suka cerita ketar-ketir kalo dibantu orang yang kaya yang punya perusahaan besar. Takut ya, gitu. Kalo mereka bermasalah soal duit-duit, nanti panti asuhan juga kena imbasnya," tegas Mama. "Misalnya kalo ada kasus korupsi?" Aku pun membenarkan ucapan Mama dan ketakutan Bu Mawar. Gawat juga. Semoga aja perusahaan mereka bersih. Mama berubah jadi serius lagi. "Mama tadi nanya lagi sama Bu Mawar tentang robot yang dulu dikasihkan ke kamu. Kan beliau yang ngasih, dia juga udah lupa banget siapa nama anak yang ngasih. Udah tua sekarang dan kejadiannya udah lama banget lagian. Soalnya tuh anak cowok ngasihnya buru-buru saat mau pergi. Dia nitipinnya sebelum diadopsi keluarga. Gitu aja yang diinget. Kenapa sih kamu penasaran banget?" "Aku mau ketemu dia lagi. Meski nggak inget nama dan mukanya. Ah, susah deh kalo gini." Aku menggerutu. Yang namanya mimpi mengganggu tetap saja rasanya bagai sudah terasa dekat sekali. "Dasar, itu kan kamu masih kecil. Udah bertahun-tahun. Kalo dipikirin sayang waktumu loh buat mikirin hal kayak gitu." "Aku mau balikin robotnya dengan apa kek gitu. Nyesel Dea nggak ke panti sebelum saat-saat dia diadopsi. Emang Mama beneran nggak tahu anak cowok yang suka main sama aku?" Mama menghela napas pasrah. "Enggak, Sayang. Mama selalu ngajak kamu ke dalem ruangan Bu Mawar. Tapi kamu nggak betah dan main keluar mulu. Pas Mama mau ngajak pulang, kamu udah duduk manis di depan ruang Bu Mawar." Aku tercenung. Hai kamu, sebenarnya ada sungguhan nggak sih? Atau lagi-lagi hanya ilusiku? Sepertinya dia memang ada, kalau tidak, mengapa robot itu bisa sampai kepadaku? Aku membuang pandangan ke jalan raya melihat mobil, motor, dan manusia yang lalu lalang. Bolehkah aku berharap bahwa ternyata anak cowok itu adalah Rafael? Gila saja, imajinasiku kali ini sangat parah dan berlebihan. Aku terlalu banyak baca novel dan nonton drama. Aku ingin merangkai cerita sendiri, bahwa cinta pertamaku ternyata Rafael kecil. Dan, kita bertemu lagi sekarang. Rafael menyadari bahwa aku ini gadis kecilnya. Kami berakhir hidup bahagia. Imajinasiku terlalu liar. TBC *** 12 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN