"Abang, main yuk sama Dea ke ayunan di taman dalam panti!"
"Nggak ah, kamu sendiri aja. Abang bete sama Mama. Mau ngambek aja."
"Yah, ya udah, Dea masuk ke dalam ya. Abang mau terus berdiri di parkiran? Nggak capek ngambek mulu sama Mama?"
"Bodo. Sana pergi!"
"Akhh, Mama! Mama, sakit, huhu. Mama, kaki Dea berdarah, jadi sakit!"
Bayangan berganti berputar tidak jelas seperti siluet-siluet. Anak kecil terjatuh di jalanan saat mau jalan keluar dari koridor. Wajah anak kecil yang menangis dan wajah seseorang yang buram tiba-tiba muncul, hanya suaranya yang lumayan jelas.
"Hai, jangan nangis. Sini aku bantu!"
"MAMA HUHUHU, sakit kakinya. Dea nggak bisa jalan."
"Aku bantu ke ayunan, yuk. Mau ke sana, ‘kan?"
"Kamu siapa? Kenapa di sini?"
"Aku baik kok bakal bantuin kamu ke ayunan."
"Nggak akan jahat?"
"Nggak. Aku pakein plester ya. Nama kamu siapa?"
"Dea. Dea Sagita, anak Mama Mayang dan Papa Reno. Kalo kamu?"
"Aku-"
Kringgggg!
Aku bangun sadar-sadar berada di dalam kelas. Suara dalam kelas berisik, maklum baru saja bel. Gara-gara bel aku terbangun. Aku kesal banget karena keburu bangun sebelum tahu kelanjutan mimpi itu. Siapa dia? Nama dia siapa? Dia tadi hampir menyebutkannya.
Guru Sejarah menutup pelajaran dan keluar bawa buku. Aku menidurkan kepala di meja, menjedoti kepala pelan ke meja. "Abis ini pelajaran apa ya?" gumamku.
"Gila. lo tidur sampe bikin peta tuh, untung nggak ketahuan guru pas gue bangunin susah payah." Jojo ngomel panjang dengan raut wajah kesal.
Aku terlonjak bangun dan melihat bercak basah di buku tulis. "Ih, kok gue jorok banget?" tanyaku bermonolog. "Abisnya gue berasa didongengin, ngantuk denger suaranya yang aduhai."
"Emang lo jorok. Geli sumpah, ke toilet sana cuci muka! Ih!" seru Jojo.
Aku bangkit dari duduk merenggangkan otot. "Gue mau ke toilet, absenin ntar kalo ada guru masuk," sahutku.
"Eh, nitip dong."
Ucapan Jojo membuat keningku berkerut. "Maksud? Sini nitip, lo taro plastik apa botol!!"
"Anjir, bukan! Gue lagi mikir nih. Eh, itu nitip pulpen! Makanya melek dulu baru fokus," tandas Jojo cepat-cepat.
Aku mencerna ucapannya kemudian tertawa sendirian. Aku geli sama diriku sendiri. "Lo yang ngomong setengah-setengah!"
"Belum selesai ngomong udah lo potong aja, udah sana buru!" Jojo mengendikkan kepalanya.
Aku secepatnya pergi dari kelas menuju toilet. Lumayan refreshing bentar sebelum jam Akuntansi. Aku melangkah riang menuruni tangga saat ingin berbelok, ada Rafael sudah berdiri tegap di depanku. Cowok itu sekarang tampak menyeramkan bagiku. Entahlah, mungkin karena ekspresi yang muncul sekarang di wajah layaknya cowok penindas. Aku menggigit bagian dalam bibir.
"Kebetulan, gue perlu ngomong." Rafael bersuara dengan nada tegasnya.
Setelah dibuli oleh cewek-cewek, apa aku juga mau dikecam olehnya?
"Sori, kenapa ya?"
"Tutup mulut lo bisa, soal apa yang lo lihat kemarin?"
***
"Jangan bilang ke siapa-siapa kalo lo lihat gue di panti itu." Rafael berdiri menghadap samping dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku. Kami menyingkir berbicara di dekat perpustakaan menghindari menjadi bahan tontonan orang.
Aku menggaruk kepala. "Kenapa?"
"Awas, aja sampe ada berita kayak gitu. Ada anak murid yang menyebut nama panti dan gue. Udah pasti lo yang bocorin," tandas Rafael langsung.
Cowok ini sepertinya tidak mau memberi alasan pastinya, padahal bukankah tidak keberatan jika ada berita Rafael tidak hanya tampan, cerdas, dan supel. Tapi juga baik, terbukti keluarganya rajin menyambangi panti asuhan. Bukankah itu lebih menarik? Kenapa dia menyuruhku tutup mulut seakan memergokinya di pub malam dikerubutin cewek-cewek seksi?
Aku mengangguk maklum. "Oke, lagian gue nggak ada niat ngember kok."
"Bagus deh." Rafael menghela napas, kami bertatapan sesaat. "Gue rasa lo udah cukup ngerti." Dia berjalan hendak meninggalkanku.
Aku menahan tangannya. Aku sendiri takjub akan keberanianku menyentuh Rafael. Dia berhenti memandangi wajahku kemudian turun ke tangannya. "Rafael, menurut lo kalo kabar itu akan jadi masalah kalo orang lain tahu?"
Rafael tidak menjawab atau pun mengelak. Kami sama-sama diselimuti keheningan, aku menanti respons yang tidak keluar juga dari dirinya. Kami menatap manik mata satu sama lain mencoba menerobos mencari kejujuran yang kemungkinan hanya ada di mata. Karena bibir masih sering menipu.
"Rafael? Lo cuma bisa jawab ya atau nggak," perintahku.
"Entahlah. Lepasin ya!" Rafael menarik tangannya sekuat tenaga sehingga tangannya bisa terlepas dari peganganku. Salah aku sih yang main menyentuhnya sembarangan saja. Dia berjalan pergi, aku memandangi tubuhnya yang lama-lama mengecil dan kemudian menghilang di belokan koridor.
Aku menyentuh bagian yang sedang sakit saat ini, rongga d**a sebelah kiriku. Aku tidak benar-benar menyayangi Rafael, hanya sebatas kagum. Karena aku sama sekali belum mengenalnya. Rasanya ada sesuatu yang ada pada Rafael, dan tidak semua orang menyadarinya. Sikapnya yang barusan, berbeda dengan Rafael minggu lalu.
Aku belum mengenal Rafael.
Atau, aku memang tidak mengenalnya.
Lantas, mengapa aku bisa sayang?
Apa aku hanya terbuai pesona rupanya?
***
"Kalian pernah rasain sayang sama yang unreachable gitu?" tanyaku memecahkan keheningan. Rina dan Della yang lagi ketawa-ketiwi depan layar ponsel membuatku geram sehingga harus menarik tangan mereka kasar. "Hei, gue lagi ngomong!"
"Apa sih," desis Rina kesal. Dia merengut menarik tangannya lalu merebahkan diri.
"De, lo rese. Laper ya? Ambil tuh Snickers!" cibir Della. Aku mendelik kesal.
"Gue nanya, ih. Kalian sibuk ngapain sih? Lagi lihatin foto cogan ya, makanya nggak dengerin gue?!" teriakku.
Saat ini kami bertiga lagi main ke rumah Della, aku memikirkan Rafael sejak tadi berbicara dengannya. Aku bingung, selama naksir Rafael tidak pernah terpikirkan dalam benakku bahwa apa yang aku lakukan selama ini sia-sia.
Rafael bahkan tidak seperti artis yang saat kita support, mereka akan melakukan fan service.
"Bukan, gue dapet kenalan cowok anak sekolah sepupu. Ganteng masa mirip Taehyung Oppa. Daritadi kita bales-balesan pesan," kata Rina cekikikan centil. Dia tiduran memeluk bantal. "Dia mau ngajak gue ketemuan."
Sontak aku kaget. "Lah?"
"Gue juga lagi gebet anak sekolah Tebet loh, SMA Indonusa. Nih liat gantengan gebetan gue mirip Sungjae BTOB. Gemes banget, gila," ungkap Della tidak jauh berbeda ekspresinya dengan Rina. "Baik banget lagi."
Aku mengembuskan napas kasar. Kesal banget. "Kok kalian nggak suka sama Rafael lagi?"
Rina berdecak, "Ah, Rafael tuh apa ya? Kecengan doang buat segerin mata. Gue masih cukup realistis buat ngejar calon pacar yang sesungguhnya," ujar gadis itu sok bijak.
Aku melongo merasa dibodohi publik. "Maksud? Kok kalian jahat, naksir cowok lain? Rafael gimana?" tanyaku plenga-plengo.
Bahuku ditepuk keras oleh Della. "Buat lo aja, itu juga kalo Rafael mau sama lo." Della terkekeh geli. "Ya, gue tuh ngerasa ke Rafael kayak apa ya, kayak kagum ke artis gitu loh. Suka, kagum, tapi gue sadar gak bakalan bisa sama dia. Sementara nih, BTOB punya lagu dan album gue bisa fangirling-an. Lah, Rafael? Cuma foto doang! Mending sekalian ngefans sama artis!"
"Jahat. Sumpah kalian tuh jahat!" pekikku sambil menggeleng. "Kalian udah nggak koalisi sama gue, ketemu cowok lain aja langsung meleng."
"Lo belum ketemu aja cowok yang bisa bikin lo berpaling. Meski nggak seganteng Rafael. Tapi gue nyaman banget." Della ketawa lagi sambil baca layar hapenya.
"Ah!! Emang ada yang bisa bikin berpaling dari Rafael? Gue mentok sama dia. Gimana dong? Gue masih suka ngayal bisa sama dia. Pasti ada jalan buat meraih dia. Yakin deh. Eh, kok kalian pada sibuk sendiri sih?"
Aku dicuekin oleh dua temanku itu. Aku mengganti channel TV karena tingkah Rina dan Della yang nyebelin. Aku jadi merasa nelangsa banget kayak kambing kehabisan rumput. Plenga-plengo. Di layar salah satu stasiun TV swasta ada video klip lagu terbaru penyanyi favoritku. Adara Emeren. Aku bernyanyi-nyanyi sendiri untuk menghibur hati yang lagi campur aduk.
Aku sudah mendapat jawaban atas pertanyaanku tadi di awal.
Kalian pernah rasain sayang sama yang unreachable gitu?
Setelah dipikir-pikir, apa bedanya aku suka Rafael dengan Ji Chang Wook? Keduanya sama-sama unreachable.
Aku pikir ini waktunya aku bangun dari dunia khayalku.
Ayo, Dea, kamu pasti bisa! Ini bukan novel remaja penuh cinta yang tokohnya mudah dipertemukan dalam takdir. Aku hanya Dea, anak kelas 11 IPS, gadis tukang ngayal yang mimpi punya cowok keren the most wanted.
***
Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi. Coret. Aku menggelengkan kepala saat kata-kata tersebut terlintas dalam otakku begitu saja saat melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah tercinta. Pagi yang cerah untuk jiwa yang lebih cerah. Ini lebih tepat.
Aku tersenyum penuh semangat memantapkan kata itulah yang tepat untuk hari ini. Hari ini bisa aku katakan cerah dan menyenangkan, karena tidak ada PR. Iya, PR yang katanya kependekan dari Pekerjaan Rumah, namun sekarang sudah beda arti lagi karena sudah jarang yang mengerjakannya di rumah. Lebih baik dinamakan PT, Pekerjaan Terpaksa. Astaga, aku ini kacau banget deh. Tapi PR ada manfaatnya juga sih biar anak murid tidak lupa materi yang didapat dari sekolah. Kebanyakan setelah sampai di rumah malas buka buku lagi.
"DOR! Cie, gue liatin dari belakang lo jalannya semangat banget!" Tiba-tiba saja ada Dika muncul sambil nyengir. "Tumben semangat ke sekolah, jangan bilang ada rencana besar yang mesti lo lakuin?"
Dia menuduhku mau nembak Rafael pagi-pagi lagi gitu?
"Sembarangan," jawabku sembari menyenggol lengannya. "Siapa yang nggak semangat hari ini free tugas? Lo yang kayaknya semangat banget dateng lebih pagi?"
"Alig. Emang iya, apa? Wah, gue dateng kepagian dong?" Dika mengeluh dengan suara pelan dan menjerit kecil pada akhir kalimatnya.
"Wuih, apaan tuh rame-rame!" Unjukku ke papan mading. Dika mengarahkan tatapannya tertuju pada kerumunan yang ada di suatu titik. Cowok jangkung itu mengangkat bahunya dengan alis menyatu. "Sono gih samperin, lo kan kayak jerapah bisa melihat dengan jelas."
Dika melirikku tajam. Aku nyengir membentuk peace sign. Setelah Dika kembali dari mencari tahu di kerumunan itu ekspresinya terlihat biasa saja.
"Ada apaan?" tanyaku sudah tak tahan mau tahu apa yang sedang terjadi.
"Poster prom nite. Ada-ada aja belum ujian juga. Dan, acaranya bisa lebih fresh deh dari tahun lalu. Soalnya dibuka pendaftaran pengisi acara bebas, nggak disesuaikan sama perwakilan kelas lagi."
Aku melotot. "Serius?" Dalam hati lega banget karena di kelasku yang isinya anak-anak pasif bin gengers sulit banget disatukan. Kalau ada acara ginian bisa jadi yang peduli cuma teman-temanku, kan kasihan Jojo. Bisa bernapas lega tidak ada yang memaksa ikutan unjuk kebolehan. Aku lebih suka jadi yang biasa-biasa saja.
"Dea, gue sendiri nih ke prom nite. Temenin yuk. Kita pasti jadi pasangan yang serasi." Rafael mengajakku dengan wajah memohon, dan bibirnya tersenyum ganteng.
Murid yang tidak populer dan punya mimpi pacaran sama Rafael. Fyuh, lagi-lagi melamun.
Di tengah kekosongan kata antara aku dan Dika, cowok itu mengerutkan kening menatap murid yang lama-lama pergi. Datang seseorang merangkul kami berdua sok akrab.
"Eh, gue ada ide. Kita ikut ngisi acara gimana?" usul Jojo cengar-cengir memainkan alisnya. Cowok yang lebih pendek dari Dika itu pasang wajah sok imut biar idenya disetujui. Jojo itu jago sekali mempengaruhi orang lain.
"Hah?" Aku mangap lebar.
"Emang kita apaan?" tanya Dika polos, "Maksudnya apa yang bisa kita isi? Kita nggak jelas gini."
Aku mendecih menatap Dika. "Lo aja kali yang nggak jelas!" cetusku. Dika menatapku tajam. Jojo menepuk bahu-bahu kami dengan raut wajah mirip sales oli. Ingat, dia sangat mudah mempengaruhi orang lain? Aku korban kelicikannya. Dia pasti memiliki ide-ide aneh yang melampiaskan keusilannya pada teman-temannya.
"Kita main drama-dramaan yuk?"
Seketika aku tercengang, sedangkan Dika juga tidak kalah terkejutnya. Cowok itu melotot dengan mulut terbuka lebar.
TBC
***
13 Okt 2021