16. Teman baru

1700 Kata
Jojo membuka rapat pleno tentang idenya yang mau kita-kita main drama. Seriously, drama tuh tidak cuma butuh pemain. Ada tugas lain-lainnya seperti pengatur latar, suara, dan back dancer kalau ada bagian jogetnya. Eh, ini mah film India. Intinya ya merepotkan sih. Siapa yang mau membuat naskah? Memangnya mudah mengarang dan mencari ide yang fresh tentu saja. Sebagai sahabat yang baik, tentu saja kami harus mendengarkan dulu ide luar biasanya itu. Jojo duduk di meja sebelah kananku, untungnya yang punya sedang tidak berada di kelas. Bisa mencak-mencak melihat Jojo nangkring supaya bisa diperhatikan oleh kami berlima. Saat Jojo mau membuka suara, dia melihat Alvin berjalan ke mejanya yang jauh dari deretan kami. "Vin, sini dong, gabung sama kita!" titahnya memberi kode dengan tangan. Aku sontak melirik Dika dan Rayn yang belum bisa berkomentar saking syoknya dengan ide Jojo. Di belakangku Della dan Rina mengangguk saja. Iya, lebih baik dengerin Jojo dulu. Kalau dia eror atau ngasih ide yang di luar logika baru kita protes. Suara kursi bergerak menyadarkanku. Alvin duduk di kursi Jojo, sebelahku. Alvin tidak berkata-kata menutup mulutnya rapat tapi matanya menusuk mataku. Dia sering makan es batu ya, kok dingin banget auranya? Atau sering berada dalam lemari pendingin atau peti es? Berdeham salah tingkah aku kembali menatap Jojo yang udah mirip pak presiden mau pidato. "Begini teman-teman, gue pengen banget ada sesuatu yang mengesankan di masa SMA ini. Kita belum tentu ada kesempatan sekelas lagi saat kenaikan kelas nanti," ucap Jojo membuat mataku berkaca-kaca terenyuh. "Gue masih mikirin kita mau ngapain, tapi karena gue lagi mabok drama Goblin. Gue jadi pengen main drama." Sebelum kami sempat protes, Jojo sudah memberi kode supaya kami tidak menyundul ucapannya duluan. "Gini, gini, tapi drama emang susah sih. Paling ntar peran utamanya Dea dan Alvin." Uhuk .... Uhuk …. Alvin batuk-batuk usai mendengar pidato Jojo. Cowok yang kadar kepekaannya rendah itu saja syok, apalagi aku. Mataku melotot pada Jojo. Sangat sulit bayangin Alvin dan Jojo bermain peran. "Jangan drama! Pokoknya jangan drama!" tegasku setengah menjerit ngeri. "Terus apa?" tanya Jojo balik. "Ada ide?" Kami pun kompak menggeleng. Sudah suka protes, tapi tidak ada alternatif. Aku menghela napas kasar. "Nggak usah aneh-aneh deh, Jo. Gue juga nggak ada ide soalnya." "Hah, lo mah mageran mulu, De!" seru Jojo membuatku malu. "Nggak asyik!" Aku lebih memilih tidak mengisi acara, menghabiskan waktu berdansa dengan Rafael dan kami ... astaga, aku ngayal lagi! "Iya, gue juga mager kok." Tambah Rina pelan. "Enakan juga jadi penonton." Della tertawa. “Halah, ribet banget sih ginian segala. Baru bayangin aja udah capek badan.” "Ah, kalian nggak asyik!" Jojo buang muka sambil melipat kedua tangan, ekspresinya lagi ngambek lucu banget. Aku tidak tega. Dika dan Rayn mengangkat bahu. "Yah, Jo jangan ngambek dong!" seru Della. "Terus kita mau ngapain emangnya?" Rina menyahut. Tiba-tiba Jojo menoleh dengan raut wajah menakutkan. Aku bisa bilang menakutkan karena perubahannya jelas banget. Kini dia menatap kami kembali berbinar-binar. "Kita nggak jadi ngisi prom nite, tapi kita-" "Kita?" gumam kami serentak, aku melirik Alvin yang sandaran pada kursi di sebelahku. Dia terlihat sedikit tertarik, dilihat dari arah tatapannya yang tertuju ke Jojo serius. Semoga saja dia tidak ada niatan untuk menghajar Jojo setelah ini, karena sudah menjerumuskannya ke dunia ajaib. *** "Vlog kita kecil-kecilan aja dulu dari i********:. Okey? Ada ide?" Jojo bertanya, menatap kami satu per satu. Vlog ini lebih menarik dari ide drama saat prom nite tadi. Terbukti Rina, Della, Dika, dan Rayn langsung setuju banget. Aku menoleh ke Alvin. Cowok itu diam saja tidak ngomong sepatah kata pun. Aku jadi bingung bagaimana cara menyikapinya. Dia menoleh saat merasa aku perhatikan. Saat tersadar kami serempak buang muka. "Video masak." Rina ngangkat tangannya. "Tutorial make up dong!" Della melotot. "Cover lagu." Dika memainkan alisnya. "Tips selingkuh?" Rayn langsung mendapat pelototan. Cowok sipit itu nyengir sok polos. "Kalian nggak asyik, ini seru tau." "Nice, nice." Jojo angguk-angguk kepala tersenyum ceria. "Yen, cari yang bener, kecuali lo mau bikin video parodi." Tatapannya beralih ke dua manusia batu yang diam saja, aku dan Alvin. "Kalian maunya bikin apa?" "Parodi menarik." Aku menoleh kepada Alvin, cowok itu mendesah berat. Alvin menatapku. "Pass. Ikut yang ada aja," sahutnya bersuara rendah. Jojo terlihat sedikit kecewa mendengarnya, tapi itu lebih baik daripada Alvin tidak setuju. "Kalo yang aneh-aneh, gue nggak mau temenan ama kalian lagi," ancamnya. Kami pun langsung berubah kikuk. Aneh-aneh versi Alvin itu gimana ya? "Oke, rapat selesai. Kita lanjut nanti sore di rumah Dika." Jojo menepuk pundak Dika dengan semangat. *** "Abang, main yuk sama Dea ke ayunan di taman dalam!" "Nggak ah, kamu sendiri aja. Abang bete sama Mama, mau ngambek aja." "Yah, ya udah Dea masuk ke dalam ya. abang mau terus di parkiran? Nggak capek ngambek mulu sama Mama?" "Bodo. Sana pergi aja kamu!" "Akhh, Mama! Mama, sakit, huhu. Mama, kaki Dea berdarah jadi sakit!" Bayangan berganti berputar tidak jelas seperti siluet-siluet. Anak kecil terjatuh di jalanan saat mau jalan keluar dari koridor, wajah anak kecil yang menangis dan wajah seseorang yang buram tiba-tiba muncul, hanya suaranya yang lumayan jelas. "Hai, jangan nangis. Sini aku bantu." "MAMA … HUHUHU, sakit kakinya. Dea nggak bisa jalan." "Aku bantu ke ayunan, yuk. Mau ke sana, ‘kan?" "Kamu siapa? Kenapa di sini?" "Aku baik kok bakal bantuin kamu ke ayunan." "Nggak akan jahat?" "Nggak. Aku pakein plester ya. Nama kamu siapa?" "Dea. Dea Sagita, anak mama Mayang dan papa Reno. Kalo kamu siapa?" "Aku anak panti. Mau jadi temanku nggak?" Tangannya yang dingin terulur disambut. Tangan yang bersahabat dan melindungi. "Mau. Kamu baik ya?" "Harus baik." Bayangan berubah-ubah tak menentu, ada suara tawa anak-anak, bunyi besi tua berderik dan kata-kata perpisahan. “Dadah! Aku harus kembali ke kamar!” *** "Jangan! Jangan pergi!" teriakku. Lagi-lagi aku bermimpi di tempat yang tidak seharusnya. Ruang keluarga rumahnya Dika. Aku mengusap wajah kasar, bisa-bisanya ketiduran di karpet ini. Dika dan Rayn asyik main karambol di bawah tidak jauh dariku. Wajahnya sudah penuh corengan bedak dan menjerit-jerit berisik. Rina lagi nonton drama di saluran TV luar negeri dan Della lagi teleponan. Aku memikirkan mimpi yang barusan. Otakku terus mencerna mengapa makin lama mimpi itu tersusun rapi dan setiap aku mimpi ada lanjutannya. "Lo kenapa teriak horor banget?" Suara seseorang menyentakku. Aku terlonjak saat mendapati Jojo merebahkan diri di sofa belakangku. Jojo menatapku datar. Aku membekap mulut. "EH? LO DI SITU PAS TADI GUE LAGI TIDUR? Pelecehan s*****l lihatin cewek tidur!" cetusku melempar bantal langsung mengenai tepat pada wajahnya. Jojo meringis, mengambil bantal melemparnya balik kena wajahku. "Lo tiba-tiba tidur pas gue ajak ngomong, Benga. Masih untung nggak gue apa-apain. Lagian gue mau ngapain," ujarnya. "Gue malah geli lo tidur nggak ada cakep-cakepnya. Kayak tukang cilor." "IH! JAHAT!" Di ruangan ini tidak terlihat Alvin sama sekali. Apa dia belum datang? "Jo, Alvin nggak ke sini?" "Katanya mau nyusul, tahu dah. Ntar juga dateng." "Mana katanya mau ngomongin vlog, malah jadi sibuk sendiri? Payah nih." "Liat sendiri aja pada sok sibuk." Jojo pasti sudah kelelahan karena sudah seharian ini beraktivitas. Beda saat masih segar dan memiliki ide-ide berat. Saat lelah cowok itu pasti jadi malas sudah tak mood. "AH, buang-buang waktu gue aja sih. Masih ada novel yang harus dibaca." "Kebanyakan baca novel lo jadi drama dan ngayalin Rafael." Aku menjulurkan lidah. "Sok tahu banget. Gue juga baca novel horor tahu, ye," cibirku. Ponsel Jojo berdering panjang, ada telepon. Cowok itu bangkit dari posisinya untuk nerima telepon. "Halo? Ah, iya lo masuk aja, nggak apa-apa." Jojo memandangi layarnya dengan kening berkerut. "Buset dah, udah nggak salam, main nutup telepon aja lagi." "Siapa?" "Alvin udah di depan." Jojo mengangkat kepalanya mengendikkan dagu. "Tuh dia dateng." Jojo melambaikan tangan menyapa Alvin. Di sana ada Alvin dalam balutan jaket hitam. Kacamatanya masih setia. Bedanya itu kerah kemeja seragam tidak dikancing sampai atas seperti biasanya. Kalau begitu, dia lumayan seksi. Aku meneguk ludah. Sesuatu lain membuat diriku gagal fokus. Dia membawa kresek, seakan transparan aku bisa mendeteksi isinya bawaan makanan. Suasana mendadak jadi ribut karena kami rebutan makanan dari kresek yang dibawa Alvin. Aku, Rina dan Della yang heboh rebutan Mogu-mogu. Della mengalah sejak melihat Nescafe. Tinggal aku dan Rina yang main tarik-tarikan. Aku berhasil mendapatkannya, Rina menggerutu ngorekin isi kresek lagi. Dia mendadak ceria kala mengangkat botol Cimory. Aku menjulurkan lidah ke Rina ngeledek pamer Mogu-moIgu. Kepalaku digeplak pelan oleh Jojo. "Sumpah, liar banget kalian ini kayak monyet-monyet rebutan pisang," cetus Jojo geleng kepala. "Alvin bawa apaan lagi?" tanya Della masih ngobrak-abrik kresek. Segala jenis makanan yang dibawa Alvin sudah dijajah bawa ke dekat papan karambol oleh Dika dan Rayn. Sisanya hanya cokelat Chacha dan cokelat payung? Aku mendadak jadi tertegun segera menatap Alvin yang duduk dengan kalemnya di sofa. Aku mengambil cokelat payung itu. "Lo beli ini?" Unjukku memaknai pada cokelat payung itu. Cokelat payung itu segera diambil cepat-cepat oleh Alvin. "Iya, ini punya gue. Lo yang lain aja." Alvin menyuruh aku ambil di kresek lagi. Seperti kehilangan kesadaran aku menatap Alvin dan cokelat payung itu secara bergantian. "Apa liat-liat? Gue nggak suka bagi makanan." Cowok dingin itu berkomentar. Aku mendengkus dan nyari sesuatu lagi di plastik. Tidak aku sangka cowok yang lebih sering malakin adik kelas jajanin banyak banget. Eh, apa jangan-jangan dia ngerampok minimarket? Alvin merebahkan diri di sofa santai dengan mata terpejam belum sempat mulutku usil nyeletuk. "Vin, tadi dicariin loh sama Dea. Katanya Dea kangen berat." Jojo mulai bersuara jail. Uhuk, aku tersedak minuman lalu sebisa mungkin memberi pelototan tajam ke Jojo. Aku menatap Jojo marah. Ini fitnah. "Ish, apaan deh! Jojo ngibul. Ketai lo, Jo!" Yang aku semprot hanya cekikikan. "Bilangin ke Dea, gue nggak mau dicariin dan dikangenin," Alvin menyahuti masih dengan mata merem terpejam rapat. Aku menganga lebar tercengang. Jelas-jelas aku kan berada di dekatnya. Aku menyenggol-nyenggol lengan Jojo yang di dekatku. "Alvin ngigau apa tuh? Masa dia nyahut aneh banget begitu? Dia tumbenan ngomong panjang," bisikku pada Jojo. Jojo tidak menanggapi dengan serius malah memutar bola mata. "Tanya aja sendiri. Dia punya mulut kali, Dea." "Terserah lo!" sahutku judes masih terheran-heran kenapa Alvin tuh suka nyebelin banget, terhitung sejak kejadian aku nembak Rafael dan dikasih kaca sama dia. Bye, bye, rapat vlog. Waktuku habis untuk acara tidak penting ini. TBC *** 14 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN