17. Whaaat?

2273 Kata
"Makasih, Vin, traktirannya!" seru Rayn seraya merenggangkan otot. "Traktiran apaan? Alvin ultah?" Duga Della membuat Alvin yang berdiri paling jauh mengernyitkan dahi. "Bukan, dia kalah taruhan bola semalam ama kita-kita," tandas Dika cepat diselingi kekehan. "Lagian dia nggak mau milih Barca," cibir Jojo. "Kalo semuanya milih Barca, apa gunanya taruhan?" sahut Alvin. Aku menahan tawa, lucu banget taruhan empat orang tapi 3:1. "Gue ikut-ikut aja lagian. Kalian nggak adil." "Wah, ngomongnya udah panjang, Bro!" celetuk Rayn heboh. Suaranya sudah menggema keras. Dika berkomentar. ""Emang harus dilatih biar jadi berisik kayak kita. Inget tugas kita memanusiakan Alvin?" Alvin langsung tersentak mau protes. "Daripada sendirian mending error bareng kita, Vin." Jojo mengerling ke Alvin. Yang digoda tidak bisa berkata-kata, tetapi ekspresinya kecut sekali. Beberapa saat setelahnya terdengar Alvin berbicara. "Ogah. Gue masih mau sehat rohani," sahut Alvin kalem. Yang mendengarnya menjadi terkekeh geli. "Buruan kapan selesainya sih, gue mau balik nih." Aku memandang langit yang sudah gelap. Kami baru mau pulang dari rumah Dika saat jam sudah menunjukkan pukul 18:30. Karena keasyikan main dan dikenalin ke Julia, gebetannya Dika yang rumahnya tidak jauh, aku pun betah banget main di rumah Dika. Julia sama kayak diriku menyukai Adara Emeren. Kami ngobrol banyak. Julia juga sharing bagaimana cara mencari viewers, cewek itu Youtubers terkenal yang suka cover lagu. Dika meminta pada kami yang cewek-cewek supaya tidak banyak bicara menceritakan kejelekan Dika di sekolah. Cowok itu kan lagi pendekatan. Fyuh, bodo amat. Dasar Dika jaim sekali, padahal walau dia dijelek-jelekin masih bisa tetap disukai wanita. Tak ada kejelekan Dika selain berisik banyak bicara. "Jul, nanti kita bagi-bagi info Adara ya? Gue juga mau denger lagu coveran lo. Kalo video gue nggak begitu ngerti cara convert-nya, mau versi lagunya banget deh yang jernih versi HD. " "Tar gue kirim di w******p deh, udah ada nomor gue, 'kan? Gue jarang nemu Adears soalnya." Julia tersenyum ramah. "Atau lo download sendiri di Soundcloud gue." Adears adalah nama fansclub Adara, penyanyi hits yang sering aku akui sebagai kakakku. "Nah, gini dong pada akur." Dika mesem-mesem menatapku penuh makna. Namun, menjadi lembut ke arah Julia. "Kan jadi seru kalo pada kenal begini." "Dika cari sekutu," goda Della. “Modus.” "Bisaan aja deh, lo Dik." Rina mendecak. Rayn ikut menimpali. "Emang si raja modus." "Halah lo juga! Minggu kemarin sama Tania, tadi lagi deket sama Yolan." Dika menggeleng ke Rayn. "Gue bukan Adears, gue ini adiknya Adara. Dia kakak gue yang terpisah." Aku tertawa kecil. Kata-kataku membuat mereka kompak menoleh dengan raut blank. "Halah, ngaca sono! Kaca yang Alvin pernah tunjukin itu kurang gede?" Jojo bergurau, aku menendang tulang keringnya sehingga dia merintih. Aku melihat Alvin memandang ke arah lain. Aku masih dendam banget ketika dia menyinggung perihal kaca padaku. Oke, jangan bahas itu lagi. "Ayo, dong balik buruan! Jo, anterin gue pulang ya? Dea sama Alvin aja, terus Rayn sama Della. Rumahnya kan searah tuh." Suara Rina menyadarkan bahwa kami seharusnya cepat-cepat pulang. Heh, aku pulang sama cowok yang terang-terangan ngatain aku jelek? Apa aku bisa tidak kesal bakalan lebih dekat oleh Alvin yang masih aku simpan dendam kesal? *** Aku melirik jam tangan sudah pukul 7 malam. Tapi kami masih berada di jalan dekat Ragunan. Baru kali ini aku diboncengi oleh Alvin. Cowok itu bawa motornya dewa banget jago nyalip sana-sini di antara kendaraan sebesar gajah yang mengerikan banget. Aku tadi beberapa kali menjerit dan menarik tasnya saat dia membawa motor nyalip truk-truk besar. Kalau aku gelinding masuk ke kolong tronton gimana? Saat dia ngebut lagi aku menyuruhnya agar menjaga kecepatan dan fokus. Bagaimana kalau dia membawa kendaraan lagi meleng mengantuk saat di tengah acara menyalip di antara kemacetan itu. Kacau deh. Dia hanya mendengkus tanpa membalas serius. Terbukti dia masih saja nyalip sana-sini. Tiba-tiba dia membawa motornya ke pinggir jalan dekat SPBU. "Kenapa?" Aku bingung berat saat melihat dia menghentikan motornya, jika mau isi bensin bukankah harus membawa kendaraan sampai ke loket petugasnya? Mengapa hanya berhenti di depan pintu masuk SPBU. Dia membuka kaca helmnya, di sana ada sepasang mata tanpa kacamata culunnya itu. "Goyang, kayak bocor. Coba liatin deh." Suruhnya. Aku mendecak saat tahu tidak bisa pulang lebih cepat lagi. Aku melihat ban motornya. Kempes. Aku menghela napas menatap Alvin gelisah. "Iya, kempes." Alvin mendecak, delikan matanya yang tajam seakan menuduhku hal yang buruk. Atau, aku saja yang kegeeran. "Di depan kayaknya ada bengkel. Lo jalan ke sana!" Aku menyipitkan mata melihat ke arah depan yang dia maksud, sekiranya bengkel itu ada di jarak yang tidak jauh, tapi capek juga kalau jalan. Kakiku pelan-pelan berjalan, di sebelah dia mengekori dengan kecepatan minim mendorong motornya. Sabar, Dea. Gadis cantik dan manis yang sabar disayang Rafael. Saat di bengkel itu aku segera mencari kursi dan menarik napas lega. Alvin segera bercakap-cakap konsultasi dengan montirnya tentang kerusakan apa yang dialami ban itu. Tidak berapa lama cowok itu datang namun tidak duduk. "Gue ke depan, lo di sini aja." "Mau ngapain?" "Kepo." Argh! Bus mana ya? Kayaknya lebih enakan naik kendaraan umum daripada sama cowok nyebelin, kayak kulkas, yang raut wajahnya tuh mirip domba Shaun the Sheeps. *** Alvin habis merokok, aku bisa mencium aroma yang menguar dari tubuhnya itu. Di bengkel selesai sekitar pukul 19:30. Aku mengembuskan napas lega sudah hampir sampai ke rumah. Habis ini bisa makan, mandi, bobo, dan ngayal. Aku menyuruh Alvin berhenti tepat di depan rumah, tidak seperti saat sama Rafael yang aku bawa keliling dulu. Aku ogah lama-lama dekat Alvin, apalagi modus. Habis cowok itu auranya tidak enak. Dingin banget. Jadi, serba salah kayak Raisa. Inginnya cepat-cepat berpisah dari cowok mirip robot itu. Aku turun dari motor Alvin. "Makasih ya," kataku. Alvin mengangguk pelan, dia membuka helmnya lalu menyugar rambutnya jadi acak-acakan. Aku menganga. Mana Alvin yang nerd? Sesaat aku kesulitan bernapas. "Vin," "Hm?" Dia menoleh, mematikan mesin motornya. "Lo-lo nggak ada cita-cita minta maaf ke gue?" Alvin menaikkan sebelah alisnya. "Soal?" Sama sekali tidak merasa bersalah, heran, batinku gemas ingin bisa mencakar Alvin. "Pas lo ngasih kaca ke gue. Emang lo nggak sadar apa, itu nyindir gue tahu? Gue kesel, bete, dan kesindir." "Kenapa? Itu kan fakta." Alvin memandang serius. Aku jadi gagu setelah mendengar kalimatnya. Bibir bagian dalam menjadi aku gigit. Sebisa mungkin aku tidak menangis. "Makasih buat yang itu. Ya, gue emang perlu kaca. Kaca yang gede banget." Aku mau segera pergi tapi ditahan oleh Alvin. Dia mencengkeram tanganku kuat bahkan menarik agar aku kembali berdiri di depannya-yang masih duduk di atas jok motor. Aku melihat sorot mata alvin yang terlihat ragu-ragu dan masih tajam. Dia mendesis. "Gue bercanda. Lo serius amat." "Maksud?" Aku menganga takjub. Apa dia bercandanya begitu, pasang wajah datar yang minta ditabok bolak-balik? "Gue ngasih kaca biar lihat muka lo sendiri tuh bengkak kayak dugong." Penjelasan sama Alvin sama sekali tak mengurangi kekesalanku. Sama saja menyebalkannya. Aku sendiri mengakui muka habis nangisku jelek banget. "Makasih banget loh ya,” sindirku. Alvin mengangguki kepalanya. "Sama-sama." Apa katanya? Benar-benar cowok ini nyebelinnya sudah tingkat nasional. *** "Ayo! Ayo, buruan masuk!" teriak Pak Gultom di depan gerbang. Aku lari-lari dari parkiran menuju gerbang yang sebentar lagi mau ditutup. Tidak biasanya aku kesiangan pagi ini. Alasannya aku bangun kesiangan keasyikan pacaran sama Rafael dalam mimpi. Jarum panjang jam nyaris menyentuh angka 6. Kulihat Alvin berjalan santai keluar dari parkiran motor pergi menuju gerbang depan. Astaga! Dia berbicara dengan satpam. Aku masih memutar kepala ingin tahu. "Ya ampun! Kau lagi. Dea, Dea, cepet kau masuk. Mana pacar kau? Eh, itu dia. Hoi Alvin, kau mau ke mana?" Pak Gultom kembali melihatku. "Cepat kau masuk, biarkan pacar kau yang nakal itu urusan Bapak." Tentu saja aku ingin menolak dengan keras. "Hah? Pacar? Siapa yang-" "Udah sana kau masuk! Mau kenak poin kau?" Aku menjilati bibir panik. "Baik, makasih, Pak." Aku berlari cepat-cepat supaya bisa mencapai kelasku yang jauh banget di lantai atas. Sesampainya di kelas, untungnya belum ada guru. Aku mengamati pintu dan kursi Alvin bergantian. Sampai jam istirahat anak itu tidak masuk kelas juga. *** Brukkk .... Setumpuk buku tulis milik teman sekelasku berjatuhan lepas dari pegangan tangan. Baru saja segerombolan cowok lewat berlari menganggapku tidak ada, menyenggol, dan aku kehilangan keseimbangan membuat bukunya jadi berjatuhan. Aku harus membawa buku Matematika ke ruang guru, sekarang yang aku dapat buku berjatuhan bertebaran di lantai. Aku menggerutu memaki cowok-cowok tadi dalam hati. Saat aku mengumpulkan buku satu per satu, ada tangan lain yang membantu memunguti buku-buku tersebut. Aku mengangkat dagu untuk mencari pemilik wajah malaikat penolong ini. Rafael jongkok bertumpu dengan satu kaki, tangannya menyatukan buku demi buku. Rafael tersenyum padaku dengan mata yang berseri-seri. Senyumnya yang biasa mematikan. Degub jantungku kembali berdetak. Rafael berdiri, dia mengambil buku-buku yang aku pegang. Pipiku merona dan panas saat cowok itu menatapku. "Mau ke mana? Gue anterin. Gue aja yang bawa," ujar cowok tinggi itu. Aku berdiri di sisinya, ujung kepalaku tidak mencapai bahunya. Segitu pendeknya kah aku? Aku mencubit tangan di belakang punggung. Sakit, jadi ini bukan mimpi? "Mau ke Bu Dewi. Itu buku anak kelas." "Bawa buku sebanyak ini lo sendirian?" Rafael menatapku kasihan. "Jojo lagi ngambil buku ke perpus, yang lain nunggu di kantin. Lo sendiri tumben masih di sini?" Kami berjalan berjalan beriringan layaknya pasangan dalam drama Korea. Aku senyum-senyum sendiri saat melihat cewek lain pada iri melihat kami. "Nungguin lo lewat sambil main basket tuh sama mereka," katanya sambil menunjuk. Sontak tatapanku tertuju ke lapangan basket. Di sana ada Jason dan Yosi, serta beberapa temannya yang lumayan ganteng juga. Mereka menatap ke arah sini sambil tertawa-tawa. "Nu-nungguin gue? Ngapain?" Mulai gagap aku menjawab malu-maluin. "Mau ngomong aja. Emang nggak boleh? Kenapa sih, De, akhir-akhir ini lo aneh. Kayak nyuekin gue. Apa gue ada salah?" Mana mungkin aku nyuekin kamu, Sayang. Mana bisa aku mengalihkan sedikit perhatianku dari kamu, Ganteng? "Eh, eng ... enggak kok. Kenapa gue harus nyuekin lo?" Aku jadi bingung terjepit begini. Loh, kok?? Bukannya lo yang nyuekin gue, batinku heran. Setelah menaruh buku di meja Bu Dewi, Rafael mengajakku ke koperasi membelikanku roti dan s**u. Dia menggiring diriku untuk duduk di bawah pohon. Oke kali ini aku menikmati waktu istirahat dengan Rafael.   ANU INU (111+) Karina Yessi: DEA!!! Andella Jenny: Lama ya Dea Rayn Ghali: Dea mana oi? Dika Prayogo: Laper ini Joshua Diantoro: Cukup dia aja yg gak peka, Dea jangan. Dea kamu dimanaaaaaa? Abah laper ini.Tolooong yaa. Dea Sagita: Gue gak ikut ya kalian duluan aja, gue udh jajan ;)) sori hehe Dika Prayogo: Y u so k*****t. Karina Yessi: DEA FIX RESE BGDH Andella Jenny: Bilang kek ah -__- Dea Sagita: Dadakan niey hehe Rayn Ghali: Kita hentikan perdebatan ini sementara. saya lapar Alvin Matt: Berisik Joshua Diantoro: Alvin brader, lo dmn? Dika Prayogo: Del Rin, beliin aqua tar gue ganti Rayn Ghali: Jangan caya itu hoax Joshua Diantoro: atas gue korbannya. Dika Prayogo: Diem aja weh kalo mau dapet minum gratis Alvin Matt left the group Andella Jenny: Alvin HAHAHA ngapa dia? Karina Yessi: Ngakak gue lagi pesen mie Rayn Ghali: Mie mulu pantes buncit Karina Yessi: Bicik kamu tu Ayen Dika Prayogo: Hem, Alvin -____- Hatiku ini bukanlah hati yang tercipta dari besi dan baja. Dika Prayogo invited Alvin Matt to the group Alvin Matt joined the chat Alvin Matt:  -_- Dea Sagita: Matiin notif aja Vin Alvin Matt: Gmn cranya? Gue bsanya blokir org. Dea Sagita: Asdfghjkl sadeesss banget   "Halo Dea? Lo kenapa ketawa sendirian sih?" Suara berat Rafael masuk dalam indra pendengaranku. Aku tersentak segera mengunci layar hape menyimpannya ke saku rok. Ekspresi wajah Rafael seperti tidak mengenakkan, ya karena aku mengabaikan dirinya beberapa saat karena baca chat teman-temanku yang lucknut itu. Aku jadi tidak enak hati. "Sori, Raf, hehe. Temen-temen gue nungguin di sana, jadi gue bilang deh kalo bakal istirahat sama lo. Nggak enak pada nungguin gue dateng." "Nanti gue bilang deh sama Jojo buat minta maaf. Kan gue yang minta lo nemenin gue istirahat bareng," kata Rafael merasa bersalah atas semua ini. Sorot matanya juga menjadi teduh dan hangat. "Eh, nggak usah lagi. Mereka sans kok orangnya. Tenang aja," jawabku mencegah keinginan Rafael. Tapi boleh juga dia ngomong ke Jojo, biar kelas makin heboh Rafael sama aku berteman sudah dekat dan akrab. Rafael berusaha berteman dan akrab dengan sahabat Dea agar berhasil melakukan pedekate. Hihihi, indah sekali bayangan itu. "De?" panggil Rafael dengan suara rendah dan pelan. Aku menoleh sambil menyuapkan potongan roti. Di sampingku Rafael sedang menatapku serius. Aku menautkan kedua alis menanti ucapan dari bibir Rafael yang sepertinya ditahan. Jakunnya bergerak-gerak sepertinya meneguk ludah. Aduh, aku lemah. "Kenapa?" "Gue minta maaf atas kejadian waktu itu, yang terakhir kita ngomong berdua. Dea, kalo gue mau lebih dekat dari sekadar kenal gimana? Gue mau lebih dekat lagi sama lo." Rafael tersenyum manis banget. Aku berhenti napas menatapnya tidak percaya. Apa aku salah dengar? Ini mimpi apa lagi? "Oh itu, sori gue suka asal ngomong orangnya. Emang selama ini kita belum dekat ya? Gue ngerasa udah lebih dekat dari yang waktu itu kok." Mulai salah tingkah aku memainkan jemari. Aku menahan degub jantung. Bayangan saat aku masih memuja diam-diam, kejedot papan, ditolak, dan dicuekin tiba-tiba bermunculan. Saat ini Rafael sedang mengatakan ingin lebih dekat denganku? Hah? Ini keajaiban dunia apa? Rafael mengulum senyuman yang berbeda. Dia mengalihkan pandangan, dengan air muka yang tidak secerah biasanya. Kali ini dia tampak gelap dan sedih. "Karena lo yang udah tau siapa gue sebenarnya. Jadi, gue nggak perlu menutupi lagi, ‘kan?" Senyuman di bibirku terhapus. Rafael masih belum menatapku lagi. Dia seperti menghindari tatapanku. "Rafael, apa maksudnya? Soal panti? Tunggu, apa yang lo takutin? Jangan-jangan, apa memang kita pernah ketemu sebelumnya? Di panti itu?" tanyaku langsung pada intinya. Sudah penasaran bukan main dengan dugaan itu. TBC *** 15 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN