18. Misterius

2052 Kata
Tadi siang di sekolah Rafael mengatakan hal yang aneh. Jujur saja aku bingung dengan kelakuan dan ucapan pemuda itu. Kenapa aku menduga bahwa Rafael adalah anak cowok itu. Sosok dalam mimpi yang suka bermain denganku dan memberikan robot. Kalau memang itu adalah Rafael, berarti selama ini menyukai satu orang dalam kurun waktu yang lama. Rafael adalah cinta pertamaku sejak dulu? Alangkah bahagianya jika dugaanku ini benar, dia adalah anak cowok itu. Saat tadi aku bertanya apakah dia teman masa kecilku, cowok itu juga hanya terdiam menatapku sendu. Aku sudah sekiranya menanyakan langsung pada Rafael tentang hubungan dirinya dengan panti. Tapi Rafael tidak menjawab, diam beberapa saat seperti merenung, kemudian berdiri berpamitan lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Aku tidak mengejarnya, langkah pemuda itu terlalu lebar sulit untuk aku raih. Begitu pula pertanyaanku mungkin memang juga sangat berat untuk dijawab olehnya. Aku tak bisa memaksanya menjawab. Aku berjanji tak akan mengusik lagi. Pasti berat sekali dalam sisi Rafael untuk bisa membuka suara. Andai, jika dugaanku itu sungguh benar. Saat itu kakiku langsung lemas dan sekujur tubuhku menggigil. Kebahagiaanku meluap-luap saat ada perasaan bahwa Rafael adalah orang yang selama ini aku cari. Dialah orangnya. Apa takdir berpihak pada kami lagi, setelah dipisahkan bertahun-tahun kemudian kami mampu jadi bertemu lagi? Dan, perasaanku pada Rafael lebih besar dari yang dulu. Masih ada yang mengganjal sebelum aku mendapatkan penjelasan darinya. Aku juga tak mau memaksa sampai dia membuka suara sendiri. Tapi, apa Rafael mau membagi ceritanya? Sedangkan dari tatapan dan imej Rafael sekarang dia seperti sedang menutupi sesuatu. Tidak ada gosip atau berita Rafael hanyalah seorang anak angkat. Apa fakta itu yang dia tutupi dari semua orang? Sampai cowok itu memintaku untuk tak bercerita tentang pertemuan tak sengaja kami di panti itu. Sekarang Rafael meminta ingin lebih dekat denganku lagi, karena aku yang sudah tahu siapa dia sebenarnya? Itu kemungkinannya. Jadi, gue nggak perlu nutupin lagi. Itu kata-kata yang aku tangkap dari pembicaraan tadi siang saat istirahat. Ini yang sebenarnya terjadi pada Rafael? Padahal banyak yang memandangmu tetap kagum, meski tahu nantinya siapa kamu sebenarnya. Kuhela napas berkali-kali dan membuangnya kasar. Aku baru saja keluar dari gerbang sekolah berjalan sendirian. Rafael tidak terlihat sampai pulang sekolah. Mungkin dia sedang berpikir tentang ucapannya sendiri. Kalau dia benar-benar mau berteman denganku, dia akan membuka kartu jati diri yang sebenarnya. Jalan Pattimura kali ini tentram dan damai. Tidak ada gerombolan berseragam membawa batu yang saling melawan satu sama lain. Tidak ada kekacauan keributan yang membuat ketakutan. Kalau jalanan sedang damai begini, betah untuk jalan berlama-lama. Kring .... Kring .... "Woi, minggir dong!" Aku terlonjak saat ada suara lonceng sepeda berbunyi disertai teriakan cewek bernada galak. Untung saja aku tidak keserempet sepasang murid naik sepeda dengan seragam putih abu-abu. Anak sekolah sebelah. SMA TeBe. Aku memandangi dua manusia di atas sepeda yang sudah jauh di depan dengan perasaan dongkol. Harusnya mereka lebih menghargai pejalan kaki dong? Dasar. Pacaran naik sepeda aja belagu! Aku mengumat kesal dalam hati. *** Sampailah aku di depan jalan besar Jalan Ngurah Rai. Aku menoleh penasaran saat ada kerumunan di depan ruko. Aku menelusup penasaran ingin tahu ada apa. Yang membuatku syok bukan main, Alvin berdiri diapit dua orang bapak-bapak. Wajah Alvin penuh luka. Dia berbicara dengan dua bapak itu. Kenapa dia? Alvin mendesah seperti menahan sakit lalu dia menoleh dan melihat ke arahku. Aku maju beberapa langkah supaya bisa sampai kepadanya. "Vin, lo kenapa?" "Neng, ini temennya? Abis dikeroyok sama preman barusan." Alvin mendelik tajam ke bapak-bapak yang nyerocos ngasih tahu aku tanpa bisa direm mulutnya. Aku berdeham salah tingkah karena sepertinya kehadiranku lumayan membuat Alvin tak nyaman. "Gimana bisa, Vin?" Aku berdiri di sebelahnya saat dua bapak itu menjauh dari Alvin memberikan jarak. Alvin tampak gelisah menghindari tatapanku, tangannya mengelus sudut bibirnya yang memar. Kerumunan bubar karena sudah tidak menarik perhatian lagi, sang korban sudah ada temannya. Eh, jadi sekarang aku yang diberi beban tanggung jawab mengurus Alvin? "Panjang." Suara berat tiba-tiba masuk dalam telingaku. Aku mengerutkan kening. "Itu ceritanya." Ralat Alvin segera. Dia meringis. Aku memperhatikan penampilannya yang berantakan, tas yang biasa dia pakai tergeletak sembarangan di tanah. Aku mengambil tas Alvin yang sama sekali tidak berat. Dia niat sekolah tidak sih? "Oh, luka lo perlu diobatin. Ke rumah sakit, yuk, Vin atau puskes-" Alvin langsung menatapku sinis. "Jangan, gue nggak mau ke rumah sakit," sambung Alvin lalu dia bergegas siap-siap pergi meninggalkan area parkiran ruko ini. "EH, MAU KE MANA?" Tanpa sadar suaraku meninggi. Dia masih terus berjalan. "Ambil motor. Lo di sini aja, tunggu." Alvin menjawab tanpa menoleh ke belakang, dia setengah berlari kembali memasuki Jalan Pattimura. Aku menunggu dengan tidak sabar. Bagaimana kalau di sekolah pemuda itu bikin ulah lagi? Beberapa menit yang sepertinya tidak terlalu lama mendadak jadi lama saat ini. Tanpa sadar aku menghela napas kala dia datang dengan motornya yang keren itu. Alvin mengendikkan dagu nyuruh aku naik, tanpa ada penjelasan apa yang sedang terjadi padanya tadi. Oke, dia mau ke mana sekarang? Aku naik ke belakangnya membawa tas Alvin. Cowok itu memakai helm motornya. "Gue masih ada banyak pertanyaan." Aku berbicara dari belakang merasa ini semua masih ganjil dan aku terlanjur penasaran. Dia menyeretku padahal aku tidak tahu apa-apa, ini tidak bisa. "Nggak ada yang nyuruh lo nanya," jawab Alvin sekenanya langsung ngegas motor. Aku mencengkeram kuat-kuat tas miliknya sebagai pegangan. Aku berdoa supaya tidak terjengkang, karena peganganku hanya sebatas kain ini. Mama, aku masih muda! Alvin mengendarai motornya menuju jalanan yang lumayan aku hapal. Aku menatap sekitar tidak mungkin salah, dia akan membawaku ke kompleks Dewaruci. Perumahanku. Itu tandanya rumahku juga. Atau diam-diam dia satu kompleks denganku? Aku masih menahan diri tidak protes duduk di belakangnya. Perasaanku tidak enak, aku menusuk-nusuk punggungnya supaya dia menoleh tapi tidak diacuhkan. Motor Alvin berhenti di depan rumahku. Aku sedikit merasa tersanjung Alvin mau mengantar sampai ke rumah, padahal aku tidak minta. "Vin, makasih loh udah nganterin. Oh ya, ini tas lo," ucapku menyodorkan tasnya. "Bawa." Dia mengerutkan keningnya. "Bukain gerbangnya." Alvin menunjuk gerbang dengan dagu. Responsku sangat lamban sampai tidak memahami maksudnya. "Maksud loh?" Aku tidak paham, karena tatapan Alvin makin tajam aku segera pergi ke gerbang untuk membuka kuncinya. Aku membuka gerbang, sementara Alvin memasukkan motornya sampai ke depan garasi. Alvin turun dari motornya yang sudah mati, dia menyimpan kuncinya ke saku. "Lo mau ngapain?" tanyaku heran. "Obatin luka gue." "Hah? Yang bener? Di rumah gue kosong, nggak ada orang. Mending lo pulang aja, nggak enak berduaan." Seketika aku panik dan bayangan gosip mengerikan mengenai Alvin yang kasar dan menyeramkan membuat nyaliku menciut. Alvin mendecak. "Sok polos. Udah buruan buka pintu. Emang kosong plong amat?" Aku mengangguk mantap. Mbak Nurul, ART di rumahku lagi pulang ke kampungnya di Sukabumi ada acara. Dilihat dari garasi yang tidak ada kendaraan Aidan, abangku juga pasti lagi pergi. Jadi, rumahku benar-benar kosong. Aku menggigit bibir panik. Air muka Alvin yang sudah siap meledak memaksa aku untuk mengalah memasuki teras, di belakang Alvin mengekor. Hawa mistis langsung menyambut kami saat buka pintu. Sekarang bukan hanya rumahku saja yang horor, tapi orang yang lagi bersamaku tidak kalah horornya. Aku meletakkan tas di sofa ruang tamu. "Lo duduk dulu, gue siapin buat ngompresnya." Aku menyuruhnya duduk. Dia menurut duduk namun bangkit lagi. Aku menganga melihat Alvin mengambil tasnya. "Di dalem aja, di sini nggak enak." Alvin berjalan mendahuluiku masuk ke dalam ruangan yang lebih dalam. Cowok tinggi dan kurus itu melangkah masuk tanpa sungkan seperti sudah tahu celah dan petak dalam rumahku. Buset, ini orang emangnya borjuis banget? Aku yang mengekor di belakangnya was-was. Aku tidak sedekat itu dengan Alvin. Kalau dia Dika atau Jojo, aku berani mempercayakan nyawa di rumah begini. Tapi, Alvin? Si cowok yang hobi banget berantem itu. "Nggak usah curiga takut gue apa-apain. Lo nggak bikin gue napsu. Yang ada napsu makan gue hilang," cetus Alvin duduk di sofa ruang keluarga dengan santai. "Tutup pintu depan kek, gue nggak suka suara berisik. Banyak anak kecil jadi ganggu." Aku mengamati sosoknya yang layaknya boss duduk sendirian. Sumpah bossy banget aslinya nih orang. "Sumpah ya lo tuh-" Tapi aku menurut saja pergi ke depan untuk menutup pagar dan pintu rumah. Aku tidak menguncinya supaya kalau terjadi p*********n di sini, aku bisa diselamatkan dengan segera oleh orang lain. Aku kembali ke ruang keluarga. Alvin sudah menyalakan TV dan ganti-ganti channel. Kuhela napas pelan. Memangnya dia sudah aku izinkan menyentuh barang-barang di sini? Aku melepas tas menaruhnya di sofa yang tunggal. "Lama nih, muka gue butuh penanganan segera, woi!" seru Alvin saat aku pergi ke ruang makan. Lemari yang berisi peralatan medis ada di sana. Aku mengembuskan napas kasar ingin cepat-cepat Alvin pergi dari sini. Bingung bagaimana cara menangani luka lebam. Alvin membuatku kelimpungan begini. Dan, bukannya tadi aku berniat untuk mengompresnya? Siallll, kok gue jadi b**o gini gara-gara dia? Setelah browsing di internet penanganan luka pukulan atau memar, aku membawa baskom kecil berisi air untuk mengompres lukanya terlebih dahulu. "Suster seksi datang!" seruku mau ngelucu, tapi Alvin malah mengangkat sebelah alisnya. s**l, apaan yang baru saja kukatakan. Pake ada kata seksinya. Dia bukan Jojo, Rayn, atau Dika yang bisa diajak bercanda. Alvin menggeser sedikit posisinya memberi tempat untukku. Aku menatap lengannya yang kekar, karena kaus tipis itu sangat pas di tubuhnya. Mana kemeja yang biasanya bikin dia kelihatan culun? Aku sudah salah menduganya, Alvin tidak sekurus itu. Di balik kemeja kebesarannya itu tersembunyi otot-otot kecil tapi tetap seksi. Aku menganga melihat bodinya secara jelas begini. Kacamata bulatnya juga entah ke mana. Mataku mencari-cari kemeja seragam Alvin tergeletak di sofa lain. Kenapa dia lebih manly begini? "Kalo mau jadi seksi ganti kostum dulu sana," sahut Alvin buyarin lamunanku yang sudah ke mana-mana. Alvin menyandarkan tubuhnya. "Kostum?" "Iya. Ah, lemot lu. Ah, udahlah buruan deh." "Ini mau gue kompres. Posisi lo tegak dong!" Aku mula-mula mengompres luka-lukanya yang tercetak di sudut bibir, pipi dan pelipisnya. Dia menjerit saat aku terlalu menekan lukanya. "ARGH! ARGH!" "AAAA!" Aku berteriak ikutan heboh karena kaget denger pekikan lebaynya. Nah, dulu aku pernah bayangin gimana Alvin masuk rumah hantu. Mungkin ekspresinya kayak begini. Aku berharap suatu saat bisa jeblosin dia ke rumah hantu. Mau tahu ekspresinya kalau kaget bagaimana. Aku gemas memajukan sedikit posisi dan meninggikan tubuh. Dia tidak lebih tinggi dari Rafael, hanya mendekati. Bisa lebih dari 180an cm, sedangkan aku palingan 160an. "Kenapa lo heboh banget?" Dia menyipitkan mata yang sudah sipit, jadinya merem. "Lo ngagetin. Bukannya udah biasa ditonjok, masa sakit?" Aku bertanya, tapi bagai angin lalu dicuekin oleh Alvin. Capek ngomong sama dia, tapi anehnya aku nyerocos lagi. "Lo kenapa bisa digebukin preman?" Pasti karena mukanya nyolot bikin orang lain dongkol. Tidak hanya aku yang punya dendam kesumat sama ekspresi nyebelin Alvin. Alvin meringis. "Tuh preman-preman emang suka lewat deket pertigaan itu. Mereka inget gue yang pernah ribut sama mereka. Ngapain sih nanya mulu kayak hansip kompleks?" cetus cowok itu nadanya tak suka mulai galak kayak biasanya. "Lo bukannya biasa lawan ratusan anak. Masa kalah sama preman?" tantangku. "Hari ini lo nggak sekolah, kan, tapi motor parkir di sekolah? Lo tuh-" "Kalo gue menang mereka bakal balik bawa lebih banyak. Gue malas kalo kebawa sampe kantor polisi. Gue nggak sekolah, karena ada urusan. Dan, bukan urusan lo juga buat nanya-nanya." Alvin mengingatkanku. "Santai aja dong, kan gue cuma nanya." Aku mendengkus memundurkan tubuh meletakkan kain kompres ke baskom. Alvin memajukan tubuhnya mengunci diriku di antara kedua tangannya. Telapak tangannya menyentuh sandaran sofa. Aku meneguk ludah karena jarak antara kami jadi dekat sekali. Dia ngapain sih ngeliatin lurus-lurus sambil kedua tangannya melewati bahuku, seperti mau ..., Wajah Alvin semakin maju ke arah wajahku. Sekujur tubuhku merinding karena perlakuannya. Aku mau teriak, dan lari tidak bisa. Saraf tubuhku diputus otomatis begini jadi sulit digerakkan, aku bagai boneka plastik. Aku mencoba mendorong tubuhnya. s**l, yang aku pegang adalah dadanya yang keras dan bidang. Bukan hanya itu, tanganku di sana merasakan sesuatu yang asing namun tidak asing. Apa ya, ada yang aneh dengan sesuatu yang berdetak keras di sana. Tanganku masih menempel di sana. Membeku. Manik mata hitam Alvin mengunci mataku. Degub jantung cowok itu keras sekali. "Vin, lo-" Aku tergagap. "Kenapa degub jantung lo keras banget?" "Jangan sok polos deh!" seru Alvin. Aku memejamkan mata karena dia tidak mau juga memundurkan tubuhnya dan melepaskan kuncian ini, padahal sudah aku dorong dadanya yang keras dan bidang itu. "Sumpah kok bisa?" gumamku. "Hm." BLAAAAM! "HEH! LO SIAPA? LO NGAPAIN SAMA ADEK GUE?!" TBC *** 16 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN