Pagi menjelang siang ini, di salah satu gedung perkantoran di Central Plaza, Hongkong tepatnya di ruangan milik Nugraha Abimanyu, sudah duduk berhadapan Alex Pratama,Denis Saputra, Nugraga Abimanyu dan Jeremy Abimanyu. Pertemuan yang sengaja diatur oleh Alex dengan maksud tertentu.
“Berhubung kunjungan Pak Alex saat ini bermaksud membahas masalah di LGS jadi saya tidak akan basa basi lagi. Pak Alex memiliki 25 persen saham di LGS pasti mengalami kerugian yang cukup signifikan seperti yang saya alami. Namun saya yakin dengan kemampuan keuangan perusahaan milik Pak Alex mampu menopang LGS untuk bangkit dari masalah ini. Saya bermaksud meminjam sejumlah dana untuk menutup defisit keuangan perusahaan Kami akibat penggelapan dana yag di lakukan Andi, sebagai jaminannya Saya akan menyerahkan 10 persen saham Saya ke Pak Alex dengan menandatangani perjanjian ini”. Jelas Nugraha langsung ke inti permasalahan. Ini bukan pertemuan pertama Alex dan Nugraha, mengingat Alex salah satu pemegang saham di perusahaan tersebut.
“Saya akan memberikan sokongan dana pada LGS, tanpa jaminan apapun. Namun Saya minta untuk dapat menikahi putri Pak Nugraha”. Alex yang to the point mengejutkan semua yang hadir. Mata Denis seperti ingin keluar dari tempatnya. Begitu pula Jery yang langsung emosi mendengar pernyataan Alex yang begitu mengejutkan.
“Apakah Anda mengenal Putri Saya? Kalian menjalin hubungan”? Tanya Nugraha sedikit terkejut juga bingung dengan permintaan Alex.
“Kamu pikir kami akan menjual putri kami hanya untuk menyelamatkan perusahaan? Memangnya kamu pikir dia barang?”. Geram Jery tiba tiba yang sudah mengepalkan tinjunya menahan emosi.
“Saya tidak bermaksud membeli atau menjual barang disini, tetapi Saya bermaksud menikahi Putri Anda Leona, dengan begitu otomatis saya akan menjadi menantu Anda. Tanpa perlu anda meminta Saya akan membereskan masalah keuangan di LGS Pusat. Pastinya akan berpengaruh dengan LGS di Hongkong. Untuk Leona Anda tidak perlu khawatir Saya akan memperlakukan dia dengan baik, dan Saya akan mengijinkan Leona untuk tinggal di apartemennya sendiri sampai dia siap untuk tinggal bersama Saya. Saya akan membuat perjanjian dimana pernikahan ini akan batal apabila terdapat laporan bahwa saya menyakiti atau merugikan Leona”. Jelas Alex meyakinkan Nugraha dan Jeremy, yang masih tidak percaya dengan tawaran Alex. Denis pun menyodorkan 1 buah map yang berisi perjanjian pernikahan antara Alex dan Leona.
Nugraha yang bingung tetapi juga merasa tidak di rugikan dari penawaran tersebut, tapi bagaimana dengan Leona, apa dia akan marah atau membenci ayahnya jika ayahnya menyetujui penawaran atau lebih tepatnya lamaran dari Alex yang tiba-tiba ini?.
“Maafkan Papi Leona. Semoga keputusan Papi tidak melukai dan merusak masa depan kamu”. Dalam hati Nugraha berdoa sambil menandatangani perjanjian yang sudah di siapkan oleh Alex.
“Apa yang Papi lakukan? Ini akan menyakiti Leona Pi”! Jery mengingatkan Nugraha.
“Apa yang Kamu khawatirkan tidak akan terjadi. Sebelumnya sudah Saya katakan, jika ada laporan Saya menyakiti Leona maka pernikahan ini otomatis batal. Leona akan bahagia bersama Saya, begitu juga Natasya”.
Mendengar nama anaknya disebut, membuat Jery tersadar dan merasa menyesal belum bisa merawat anaknya sendiri. Jery pun tak dapat mencegah Ayahnya menandatangi perjanjian itu.
**********************************
Bak mimpi di siang bolong, pagi ini sudah tampak di ruang tunggu Kantor Catatan Sipil Alex,Leona, Denis dan juga Bi Lia yang akan mengesahkan pernikahan antara Alex dan Leona secara hukum negara. Denis dan Bi Lia sebagai saksi nikah. Antrian begitu panjang, ada yang ingin mendaftarkan pernikahan, tetapi lebih banyak yang mengurus pengajuan perceraian.
Wajah Leona yang pucat sejak tadi semakin resah melihat antrian yang ada. Alex pun mengambil telephone genggamnya sembari menghubungi seseorang di balik telephone, takut kalau Leona berubah pikiran melihat banyaknya orang yang ingin bercerai. Tidak berapa lama setelah telephone di tutup tampak Kepala Kantor Catatan Sipil keluar tergesa-gesa seperti ingin menyambut kedatangan tamu penting.
“Selamat pagi Pak Alex, ada keperluan apa sampai repot-repot datang ke kantor Pak?” Sambil menyalami Alex dengan wajah yang sumringah.
“Oh ya selamat pagi Pak, Saya ingin mendaftarkan atau lebih tepatnya mengesahkan pernikahan Saya dan Istri Saya”.
Tanpa basa basi semua urusan selesai dalam waktu singkat. Bagaimana tidak keluarga Pratama sangat berpengaruh di Kota ini. Kedatangan seorang Alex Pratama di Kantor Catatan Sipil sudah mencuri perhatian beberapa orang yang melihatnya.
“Ayo ikut Aku”.
“Ikut kemana lagi sih Om, bukannya urusan kita udah selesai?”
“Belum selesai Leona, ini baru permulaan. Ayo kita harus bicara berdua”. Alex sambil menggegam erat jemari Leona sembari membawanya ke mobil yang akan mereka tumpangi.
“Tapi Om, Aku ga bisa tinggalin Tasya lama lama”.
“Kamu ga perlu takut, Tasya kan di jagain Sandra jadi ga ada alasan untuk Kamu khawatirin dia”.
Disinilah mereka sekarang, di meja salah satu Cafe yang cukup sepi karena ini masih dapat di katakan cukup pagi untuk orang nongkrong di Cafe.
“Apa yang mau Om bicarakan lagi? Semuanyakan sudah jelas di surat perjanjian Kita”.
“Ehmm Sekarang Kita sudah resmi menikah dan kamu adalah Istri sah ku. Sebenarnya Aku tidak perduli dengan surat perjanjian itu”. Alex berbicara sedikit canggung tidak seperti kebiasaannya yang begitu dingin dan tegas. Pemandangan kali ini lebih terlihat seperti seorang pria dewasa yang sedang menyatakan perasaannya tapi masih malu dan tidak tahu bagaimana harus memulainya.
“Sepertinya Aku harus memperjelas aturan mainnya”. Alex sedikit berpikir sambil melihat Leona yang sama sekali tidak b*******h untuk bicara atau merespon pembicaraan dengan Alex.
“Aturan apalagi sih Om…? Kan Om mintanya Aku jadi istri Om dan sekarang kita sudah menikah, apalagi?” Leona bicara dengan nada yang sudah sangat di tekan supaya tidak keihatan kesal.
“Pertama Aku bukan Om kamu, jangan panggil Aku dengan sebutan Om. Kedua Aku ingin Kamu melakukan peran Kamu sebagai Istri yang sesungguhnya, bukan hanya di atas kertas”.
“Istri sesungguhnya? Maksud Om, eh.. kak,eh… e… Mas apa?” gugup Leona mendengar kalimat Istri sesungguhnya.
“Ya panggil Mas kayaknya lebih manis”. Senyum manis Alex terpampang nyata, membuat Leona sedikit terpana melihat sisi lain dari Alex yang tidak pernah di lihatnya selama mengenal Alex.
“Istri sesungguhnya, ya peran sebagai istri. Siapin makan, baju kerja, ya pokoknya semua kebutuhan aku sehari-hari kamu yang siapin”.
“Stop stop, gimana aku bisa melakukan itu semua sementara di perjanjian kita menyatakan jika aku belum siap untuk tinggal bersama mu,Aku boleh tinggal di rumah ku sendirikan?”
“Betul sekali, tapi aku sudah siap tinggal bersama mu jadi besok aku akan pindah ke apartemenmu. Tolong siapkan kamar untukku. Tidak masalah kan?”
“Ti…dak masalah”. Jawab Leona dengan lemah dan pasrah.
Senyum puas Alex merekah sepanjang perjalanannya ke kantor hari ini. Berbanding terbalik dengan Leona yang tengah mengeluh setengah menangis dikamarnya yang di perhatikan oleh Sandra yang hanya bisa menjadi pendengar yang baik saat ini.
“Gimana selanjutknya hidupku San? Besok Alex akan pindah ke apartemen ku, kalau hanya nyiapin makan, pakaian it’s oke, tapi kalau dia minta yang lebih gimana? Aku ga siap San? hu hu hu “ rengekan Leona dapat di dengar oleh Bi Lia yang hanya bisa prihatin mendengar keluh kesah majikannya.
“Sabar ya Na,semoga semua ga seburuk seperti yang ada di pikiran kamu saat ini, mungkin aja Alex hanya mau PDKT sama kamu, atau cuma mau isengin kamu aja atau mungkin dia kesepian di rumahnya, jadinya dengan adanya kamu hidupnya bisa lebih rame,lebih berwarna”.
“Tapi kita ini terlalu mendadak San, kenal dekat juga enggak sekarang malah udah jadi suami istri, gimana juga nasib Tasya nanti? apa dia bisa terima suara anak bayi nangis, memang sih Tasya anaknya ga rewel,tetep ajakan ada moment nya pas dia rewel,nangis,berisik apa orang aneh itu bisa terima? “
“Huff Aku juga ga tau Na,Kamu yang sabar ya,..Aku selalu siap kapan aja kamu perlu bantuan, Aku akan selalu usahain bisa untuk kamu dan Tasya”.
“Thank you San…” keduanya saling berpelukan memberi rasa lega bagi Leona,menyadari dia tidak sendiri.
********************************
Ting Tong …. Suara bel apartement Leona berbunyi beberapa kali, memecah lamunan Leona yang tengah berdiri bak patung di depan kuali masakannya.
“Non ada tamu, ehh maksudnya suami non dateng” Suara Bi Lia membuat mata Leona seketika terbuka lebar. Setengah berlari Leona segera ke arah pintu apartemennya.
“Pagi..sorry Aku sedikit terlambat”.
Reflek Leona melihat jam dindingnya menunjukan pukul 7 pagi.
“Apanya yang terlambat? ga datang juga ga apa”. Ucap Leona dalam hati.
“Enggak kok, memangnya ngpain juga mesti pagi-pagi”? Sahut Leona.
“By the way karna aku ga mau jadi beban dengan aku tinggal di apartemen kamu,jadi aku bawa ART di rumah ku untuk bantuin kamu dan Bi Lia, ini kenalin Mbak Nunung”.
“Good morning selamat pagi, Saya Nunung siap melayani”. Sambil membungkukkan setengah badannya Nunung memberi salam pada Leona.
“Pagi mbak” Sahut Leona dengan senyum tulusnya.
“Pantesan aja Tuan Alex klepek-klepek sampe mau pindah rumah, Istrinya manis banget kayak gulali”. Celetuk Nunung spontan,dan seketika membuat mata Alex meliriknya dengan sinis tanda tutup mulut mu.
“Ayoo masuk, sarapannya bentar lagi selesai, Aku ga mengira Mas akan datang sepagi ini. Hemm Aku anterin dulu ke kamar Mas untuk taruh kopernya. Berjalan menuju kamar yang sudah di siapkan untuk Alex, yang posisinya tepat didepan kamar Leona.
“Ini kamarnya, silahkan dilihat-lihat dulu. Kamar ini dulu aku yang tempati sesekali menginap supaya dekat ke coffee shop. Sekarang kamar aku di depan, itu kamar utama lebih besar supaya Tasya lebih nyaman kalau berdua sama aku. Mas kalau perlu apa-apa panggil aja Bi Lia atau aku juga boleh di kamar depan”.
“Aku cuma perlu kamu”.
Seketika dengan gerakan cepat Alex menyudutkan Leona kedinding kamar, hampir tak ada jarak.Sambil berbisik,
“Aku sungguh-sungguh ingin kamu jadi istriku yang sebenarnya”.
“A..a..pa maksud mas?di surat…”
“Ya di surat semuanya sudah jelas, tapi Aku sudah terjebak disini bersama kamu. Aku tidak akan memaksa Kamu tapi Aku akan berusaha membuat Kamu menerimaku”.
Jantung Leona seperti tabuhan gendang yang bertalu-talu, mungkin Alex dapat mendengar suara detak jantungnya yang berdebar tak karuan saat ini.
Tak bisa di sangkal wajah Alex, bahasa tubuhnya bahkan tatapannya sangat mempesona. Wanita manapun yang ada di posisi Leona saat ini hatinya pasti luluh lantah di buatnya.
Emuah..satu kecupan manis mendarat di kening Leona, sontak membuat bulu kuduknya meremang. Begitu manis dan hangat di hati Leona.
“Ka..kamu mau apa Mas”? mata Leona tak putus menatap wajah Alex, manis tapi juga terlihat dingin.
“Kenapa menatapku seperti itu? Kamu mulai jatuh cinta padaku? atau menginginkan yang lebih dari ini”?
“Ng..nggak kok” Leona gugup dan ingin segera melepaskan diri dari Alex, tapi apa daya kungkungan Alex lebih kuat jika di bandingkan dengan usaha Leona saat ini.