Let's Meet Again (2)

787 Kata
Setelah memakan sepertiga dari sup dan rotinya, perutnya serasa penuh, seolah akan meledak jika diisi lagi oleh makanan. Ketika dia menurunkan sendoknya, pria itu terlihat kecewa. Mukanya berkerut, mempertanyakan kenapa dia hanya makan sedikit. Dia sudah akan protes ketika Leah berdiri dan mendorong nampan itu kearahnya. Ini sudah waktunya untuk kembali menjadi Putri Kerajaan Estia. Waktunya terbatas, dan dia tidak boleh dilihat ketika matahari sudah naik. Ketika dia mulai menurunkan kakinya ke lantai, tubuh bagian bawahnya menegang dan kakinya bergetar. Tapi, hal itu tidak dihiraukannya, dia tetap berpakaian seolah tak terjadi apapun. Dia menutupi tubuh telanjangnya, memakai pakaian tebal, untuk menutupi kulitnya secara menyeluruh seolah dia terbungkus cangkang. Setelah menggunakan wignya dan merapihkan ujung jubahnya, Leah terlihat sama seperti ketika dia pertama kali masuk ke penginapan. Dia melihat pria itu. Pria itu duduk di kasur, melihat Leah dengan tatapan terpesona. Setelah mendekatinya, Leah menjatuhkan satu koin emas dipangkuannya dan berkata, “Aku senang.” Pria itu terlihat cemberut menatap koin tersebut, yang terasa dingin di kulitnya. Dengan tenang dia mengangkatnya dan mengembalikannya. “Tidak apa-apa.” Lalu, matanya menyipit selagi dia tersenyum ramah. “Mari kita bertemu lagi, Nyonya.” *** Gerobak yang sudah dipesannya telah menunggu dibelakang penginapan. Leah meminta kusir untuk membantunya saat dia berpura-pura menjadi pelayan yang bekerja di Istana. “Tolong bawa aku kesana.” Setelah dia naik keatas gerobak, Leah merasakan kelelahan yang menyerangnya. Ringisan kesakitan keluar dari mulutnya, badannya berdenyut seolah dia sudah dipukuli. Sayangnya, kusir itu menjalankan gerobaknya dengan kasar. Dengan muka pucat, dia menutup matanya selagi gerobak itu mengeluarkan suara berderak. Dia cukup beruntung telah makan terlebih dahulu, meskipun dia kesal pada pria yang memaksanya makan itu. Tetapi jika tidak, dia pasti akan merasa lebih mual saat ini. Dia diturunkan di pintu belakang Istana, dimana pelayan masuk, dan memberikan koin sebagai pembayaran kepada kusir. Dia memastikan bahwa kusir itu telah pergi sebelum akhirnya memulai masuk. Leah tahu bahwa penjaga memiliki jadwal, rute dan pos yang ketat disini. Tetapi, karena pengetahuan ini pula, dia mampu menghindar dan berkeliaran disekitar dinding tinggi Istana yang terhubung pada hutan lebat. Selagi dia berusaha mencari sesuatu, akhirnya dia menemukan dan menekan tombol di dinding, yang akhirnya bergerak tanpa suara, menunjukan jalur gelap di dalam Istana. Jalur ini hanyalah salah satu dari banyaknya jalur rahasia di Istana Estia. Sudah pasti, jalur-jalur ini tetap menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh Keluarga Kerajaan. Bahkan, ketika renovasi berlangsung, pekerja dipilih secara ketat, terutama yang bekerja didekat jalur rahasia ini, untuk menjaga supaya tidak menyebar. Tetapi, bertahun-tahun berlalu, beberapa jalur telah terlupakan, termasuk jalur yang Leah ambil. Setelah berjalan lama, dia akhirnya sampai dikamarnya, dan menjatuhkan diri di kasurnya yang lembut dan empuk. Dia berbau seperti orang-orang di kota. Karenanya, dia mengambil parfum dan menyemprotkannya ke seluruh tubuhnya, untuk menyamarkan baunya. Setelah berpakaian dengan gaun tidur yang tipis, dia menyisir rambut panjangnya dengan rapi dan merapikan kasurnya. Putri Kerajaan diharapkan untuk disiplin, kamar Leah rapi terorganisir. Dia tidak bisa menunjukan ketidaksempurnaan kepada pelayan yang akan datang untuk membangunkannya di pagi hari. Setelah semuanya sempurnah, Leah akhirnya merebahkan kepalanya di bantal. Dia melihat kearah jendela, cahaya samar muncul disela-sela tirainya. Matahari sudah mulai muncul di kejauhan dan secepatnya dia harus segera memulai pekerjaan paginya. Tapi untuk sekarang, dia butuh tidur lebih lama. Dia perlu mengembalikan kekuatannya. Tetapi, pikirannya menolak untuk memberikannya ketenangan. Dia tidak bisa membawa dirinya sendiri untuk istirahat-ketika kejadian beberapa jam lalu masih memporakporandakan kepalanya. Terutama, gambaran pria itu yang muncul di benaknya. Sekarang, ketika dia sudah tidak lagi bersama pria itu, angin dingin terasa menusuk kulitnya. Suhu tubuhnya, yang sebelumnya menyelimuti badannya, sudah cukup panas sehingga dia bisa menanggalkan selimut. Karena ukurannya, dia merasa kasur di penginapan itu kecil, bahkan setelah mereka meringkuk berdekatan dengan satu sama lain. Terlebih lagi, kata-kata kasar dan tajamnya masih jelas dipikirannya. Kata-katanya terdengar vulgar, tapi sentuhannya lembut dan hangat. Dia tidak memperlakukan Leah sebagai bangsawan. Karena itu, dia bisa bersikap tanpa kepura-puraan, bahkan bersikap bandel. Ketika dia memikirkan apa yang telah terjadi, dia merasa tenang. Ketika seseorang kukuh pada instingnya, seperti hewan buas, maka tidak ada yang perlu di khawatirkan… ‘Mari kita bertemu lagi, Nyonya’. Kata-katanya berdering di telinganya. Apakah mungkin aku akan… bertemu dengannya lagi? Selagi dia mengulang momen-momen dan perbincangan yang dia habiskan bersama pria itu, Leah akhirnya tertawa. Dia manganggap itu tidak masuk akal, mengharapkan suatu keajaiban bahwa dia akan melihat pria itu kembali. Seperti oasis di padang pasir, itu hanyalah ilusi yang dibuat pikiran labilnya. Tidak lama lagi, kematian akan menghampirinya, sehingga dia harus memutuskan harapan yang mulai muncul di kepalanya ini. Dia adalah pria dengan identitas yang misterius, dia bahkan tidak tahu siapa Namanya. Semuanya hanya seperti mimpi liar. Melepaskan memori tentang pria itu, Leah menutup matanya dan mencari kehangatan dengan memeluk selimut tebalnya dikegelapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN