A Wisps of Pleasure

813 Kata
Leah menemukan dirinya dalam posisi yang sulit. Dia terkejut… Apa yang baru saja terjadi? Tidak menunjukan rasa bersalah, bahkan terhibur dengan muka kebingungannya, pria itu memuji Leah dan menjilat pipinya. “Kamu menelan semuanya.” Pada akhirnya, bagian tubuh pria itu masuk kedalamnya. Dia tidak percaya itu. Perutnya terasa seperti akan meledak. Ketika ditelusuri, bagian perutnya terlihat seolah-olah ada yang menonjol. Napasnya tercekat, kembali mencengkram sprei seolah-olah itu mampu menyelamatkannya. Seolah menenangkan, pria itu memberikan perhatiannya pada payudaranya yang terbuka. Dengan lembut dia menyentuhnya, mencubit, menekan dan melintir putingnya yang mengeras. Payudaranya terasa seperti sutra dibawah sentuhannya. Perlahan dia menarik keluar p3nisnya dan terdiam kaku sesaat. “…” Dia memincingkan matanya dan melihat bercak darah dibagian tubuh mereka yang bersatu. Dia sedikit berkerut saat kembali melihat jejak darah pada sprei putih, lalu mulai menggerakan tubuhnya dalam ritme yang familiar. Itu mulai terasa lebih mulus. Bagian tubuh panas pria itu menggesek bagian basah dindingnya terus menerus. Pergerakannya lambat sampai Leah sepenuhnya terbiasa. Leah kira dia bisa menahannya jika kecepatan lambat seperti ini berlanjut, tapi gerakannya semakin lama semakin menuntut. Kecepatannya meningkat, bibir pria itu menjadi garis tipis ketika dia berusaha mengontrol kekuatannya dan keinginannya untuk menggagahi perempuan ini seperti pria gila. Tetapi, dia sadar akan betapa rapuhnya perempuan yang ada dipelukannya saat ini. “Apakah sakit?” tanyanya sambil menggertakan gigi. Meskipun merasa sedikit tidak nyaman, Leah menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan pria itu. Bagian tubuh besar di dalam dirinya terasa berlebihan, dia merasa terenggang lebih dari yang dia kira mungkin. Untungnya, rasa sakitnya perlahan hilang… Dia melepaskan pegangannya pada sprei dan dengan berani, memegang perut bawahnya. Perutnya benar-benar membesar! Dia masih belum bisa percaya bahwa pria itu mampu memasukan bagian itu kedalam dirinya. Memberikan sedikit tekanan pada jarinya, dia merasakan bentuk bagian pria itu yang terus menusuknya tanpa henti. Dan dia terkesiap, wajahnya kosong dan matanya melebar. Diam-diam memperhatikan apa yang dia lakukan, pria itu tertawa singkat. Pria itu menarik kembali bagian tubuhnya, yang sebelumnya masuk dengan dalam, hingga hanya menyisakan ujungnya saja. Saat itu terjadi, Leah merasa mukanya kembali bersinar. Dia mengumpulkan keberaniannya dan bertanya. “…Apakah ini sudah berakhir?” “Tentu saja tidak.” Dan, pria itu kembali menusukan p3nisnya, “Kita baru saja mulai.” Di titik ini, Leah akhirnya menyadari wujud aslinya… Pria itu mulai menggenjot dengan cepat, seolah-olah, ritme cepat yang sebelumnya dia lakukan hanyalah tipuan. Suara kulit yang saling bertemu terus terdengar. Membuat Leah, yang merasa tidak berdaya, mencoba untuk memberontak. “Ah, ugh…!” Bola matanya berputar kebelakang, hanya menyisakan putihnya saja. Dalam setiap hentakannya, badan Leah akan berguncang dan matanya mulai berair. Itu menyakitkan. Tetapi, disaat yang bersamaan, dia tidak bisa mengelak atas rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya. Itu adalah perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Leah, yang sedang merasakan sensasi terbakar, mengaitkan kakinya di sekitar pinggang pria itu. Memukul bagian paha dan lutut pria itu dengan telapak kakinya. “Ugh, pelah, tolong pelankan!” Tetapi, permohonan Leah seperti lebih menyiramkan minyak pada api pria itu hingga membuatnya menggeram dalam. Didalam Leah, dia bisa merasakan kemaluan pria itu membesar. Leah tidak percaya bagian itu bisa menjadi lebih besar dari sebelumnya. Air mata yang sebelumnya terkumpul dimatanya mulai jatuh menuruni pipinya yang merah. Dalam ketidakberdayaannya, dia mencoba mendorong pria itu. Tetapi, pria itu malah menarik tangannya da mulai menyesap dan menjilat jari-jarinya. “Aku berusaha untuk lebih pelan, jadi…” Pria ini pembohong. Leah menangis ketika pria itu menikmati tubuhnya. Setiap hentakan, dia seolah menusuk vaginanya dengan dalam. Tidak hanya itu, bibirnya juga menghisap putihnya yang sudah mengeras. Berada di puncak kenikmatan setinggi ini, bahkan Leah tidak mampu untuk mendesah. Apakah ini yang disebut hubungan seksual? Yang Leah bayangkan sebelumnya ada ciuman yang lembut, belaian pelan dan rasa nyaman yang secukupnya. Tetapi, melakukannya dengan pria ini sama sekali bukan hal yang disebut secukupnya. Leah merasa sedang dimakan hidup-hidup oleh binatang buas. Kakinya yang kaku hanya bisa menggantung lemah di udara. Dalam akhir yang tidak terelakan ini, sensasi aneh mulai muncul di tubuhnya. Leah merasa tubuhnya seolah akan jatuh dan hancur. Dia mencoba mengontrolnya tetapi seolah-olah tidak bisa. “Hmm… Ugh, tidak seperti ini, tolong pelankan…!” “Bukankah kau menyukainya?” Pria itu tiba-tiba menarik p3nisnya hingga Leah merasa kosong. Leah lalu menutup kembali kakinya. P3nis pria itu mulai terlihat, Leah bisa melihatnya berkilau-basah oleh cairan mereka berdua. Benda itu mengeluarkan aroma yang erotis yang kuat, hingga membuatnya merasa sakit kepala. Pria itu menyeringai dan berkata, “Lalu mengapa basah sekali disini?” Leah menjilat bibirnya dan memalingkan wajahnya atas perkataan pria itu. Hal ini dia lakukan supaya dia tidak perlu melihat kemaluan pria itu. Dengan mata berkaca-kaca, Leah mengutuk pria itu, “Barbarian…hewan liar…” Dia hanya tertawa dalam atas gumaman Leah, “Kamu sadar itu ternyata.” Dan setelah itu, dia memegang kedua pergelangan kaki Leah dengan kedua tangannya. Setelah menjilat telapak kaki dan pergelangan kakinya, pria itu kembali menghentakan k3maluannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN