Long, Restless Night (2)

759 Kata
Jari-jari tebal itu masuk, terus menerus keluar masuk kedalam dindingnya. Pusat tubuhnya bergetar, menelan jari pria itu. Semakin jari itu bermain lama, semakin basah bagian bawah tubuhnya. Sensasi itu terus muncul dari bagian bawah perutnya dan mulai mengisinya seperti api liar. Bingung akan rasa nikmat yang terus muncul, dengan terburu-buru Leah mendorong pria itu. Sayangnya, pria itu keras bagai batu dan tidak goyah sama sekali, tidak sedikitpun. Dengan posisi mengangkangi pria itu, Leah memberontak dan menggelengkan kepalanya. Dia memeluk pria itu dan mencakar punggungnya dengan kukunya. Tetapi sensasi itu tidak juga hilang dan pria itu tidak goyah akan niatannya. Leah seolah terdorong hingga keujung tebing. Ketika jari pria itu mulai menggosoknya, mengeluar masukan jarinya pada pusat tubuhnya, kembang api seolah muncul didepan matanya. “…!” Leah membuka lebar matanya, mulutnya menganga. Dia melentingkan punggungnya. Anehnya, lipatannya menjadi lebih basah dari sebelumnya. Engahan puasnya menggema, diikuti dengan sensasi tak tertahankan yang menguasai tubuhnya. “Oh, uh, ah…!” Leah menggeram keras. Ketika dia kembali sadar, Leah sadar bahwa dia telah menggantungkan tubuhnya pada pria itu dan merasa tubuhnya gemetaran. Dia merasa lututnya kehilangan kekuatannya. Dia merosot kepada pria itu, benar-benar berantakan saat tubuhnya terus bergetar. “Ahhhh!” Itu adalah puncak yang pertama kali dia rasakan dalam seumur hidupnya. Sensasi kehilangan control atas tubuhnya membuatnya seolah mati rasa. Melihat Leah menangis, kewalahan atas perasaan yang bercampur antara rasa malu dan nikmat. Ujung bibir pria itu sedikit terangkat. “Bukankah itu terasa nikmat?” Dia berkata, tangan usilnya bergerak untuk menjahili klitorisnya, yang mengeras dibawah sentuhannya. Ketika dia melakukannya, titik itu seolah berteriak atas perhatiannya. Leah menyadari bahwa bagian itulah yang menjadi pusat denyutan yang saat ini dia rasakan. “Berhenti, berhenti…” dia memohon, tetapi pria itu melakukan sebaliknya. Dia merebahkan Leah di atas Kasur dan membuatnya mencapai puncak sekali lagi. Leah mencengkram sprei dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ketika lidah kecilnya muncul dari bibirnya yang terbuka, pria itu segera menangkap mulutnya dan menghisapnya. Ditengah kebingungannya diantara klimaks dan ciuman kasarnya, Leah tidak menyadari bahwa dalaman tipisnya perlahan dilepaskan. Ketika Leah sadar itu sudah terlepas, membuatnya terbuka dan rapuh atas pria itu, dia kembali mencoba menutup kakinya, tetapi kembali lagi, dibuka lebar oleh tangan pria itu. Itu adalah tindakan yang tidak etis. Dia tidak pernah merasa terbuka lebar seperti ini didepan orang lain. Ditambah lagi, pria ini menatap vaginanya tanpa malu. “Apa yang terjadi disini?” suara pria itu membuatnya memerah seluruhnya. Tidak seperti yang lain, dia hampir tidak berambut dibawah sana. Jari panjangnya memijat lipatan merahnya. Leah menjawab dengan gerangan. “Memang selalu seperti itu…” “Dari lahir?” Menganggukkan kepalanya, pria itu meraih pergelangan tangannya, mengangkat tangannya dengan tajam. Ketika dia melihat ketiaknya yang mulus, pria itu mendesah sedikit, bergumam dengan nada yang menyiratkan masalah. “Aku tidak mengira akan menyukainya sejauh ini.” “…” Kenapa dia jadi seperti ini? Pria itu terlihat seperti ingin menjilatinya diseluruh bagian. Dadanya terus naik turun semakin cepat. Pria itu mulai melepaskan celananya. Ya Tuhan… Leah terkejut saat dia melihat yang ada diantara kaki pria itu. Dia sudah mengira bahwa itu akan besar, karena memang fisik pria itu yang signifikan. Tetapi, itu tidak normal. Tanpa melebih-lebihkan, itu lebih tebal dari lengannya. Penisnya, yang telah bangkit dan kaku hingga menyentuh perutnya, terdapat ujung yang basah dan uratnya yang menonjol. Kurkan mewarisi darah dari binatang buas, dan bagian itu tidak kurang dari buas. Pria itu tertawa seolah tahu apa yang Leah pikirkan. Dia menghela napasnya pelan dan mengusap bagian itu pada paha Leah. “Apakah kamu terkejut?” bagian Leah yang diusap terasa panas seolah terbakar. “Tapi ini karena kamu. Kamu harus mempertanggungjawabkan dan menyenangkannya.” Leah meraih selimut, kalimat ketakutan muncul dari mulutnya. “Tidak, bagaimana mungkin itu bisa masuk kedalamku?!” “Kamu harus mencobanya.” Ujung bulat bagian itu mencoba masuk ke lubangnya yang sempit. Tekanannya masih bisa diterima, meskipun hanya ujungnya. Bagian dalamnya sudah cukup basah, tetapi masih ketat dan sesak. Pria itu menarik napas dengan kesulitan, bibirnya membentuk garis lurus. “Kamu begitu ketat…” Tapi tidak seperti suaranya yang kasar, mata pria itu begitu menenangkan, seperti lautan tenang. Tanpa Leah sadari, bagian pria itu sudah masuk setengahnya kedalam dirinya. Pria itu memasukannya dan hanya berhenti ketika melihat muka Leah yang dipenuhi air mata. Dia hampir tidak bernapas, tetapi ketika merasakan sesuatu memasukinya, dia bertanya pada pria itu. “A-apakah sudah kau masukan semua…? “Apakah kamu meremehkanku?” Pria itu menjawab dengan senyum jahilnya. “Masih banyak yang belum masuk.” Setelah itu, dia mendorong bagian tubuhnya sampai ke akarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN