Long, Restless Night (1)

1058 Kata
Selagi lidah mereka bertaut, tangan pria itu turun melalui badannya dan bergerak tanpa tujuan. Tidak seperti ciumannya yang kasar, sentuhan tangannya terasa lembut… seolah menenangkan. Mungkin, karena dia tahu, setajam apapun perkataan wanita dalam pelukannya ini, tanpa keraguan, dia masih polos. Memutuskan ciumannya, lidahnya bergerak ke telinganya dan salah satu tangannya mulai turun. Dari lehernya hingga ke sisi badannya, dan akhirnya menangkup payudaranya. Secara naluriah, Leah merasa kaku pada sentuhan asing dan mempersiapkan tubuhnya atas apa yang akan datang. Pria itu menggenggam erat pakaian yang memisahkan telapaknya dari ketelanjangannya dan tanpa keraguan, dia merobeknya. Dalam sekejap, puncak dadanya terekspos. Dengan adanya angin dingin yang berhembus puncak dadanya mulai menegang. Mata pria itu menari melihat hal tersebut, dan membuatnya tidak bisa berkata-kata. Karena pria itu tertawa ringan sebelum akhirnya berkata, “Imut.” Dada kecil Leah bahkan tidak mampu memenuhi setengah tangannya, tetapi dia tetap memainkannya dengan semangat, seolah-olah dia diberikan mainan yang lucu. Kulitnya mengencang dibawah sentuhan pria itu. Puncak pinknya itu dijebak diantara jari-jarinya, dia mengusapnya dalam pola melingkar, mencubitnya, sesuka hatinya. Tiba-tiba, mulut pria itu berpindah ke sisi lehernya, dimana nadinya berpacu dan melompat. Dia mengecap dan menggigitnya seolah kelaparan. Leah terkesiap, bibirnya terbuka selagi dia berusaha menormalkan lagi napasnya. Meskipun begitu, jantungnya terus berdegup semakin kencang. Dia tidak bisa melakukan apapun, kecuali memegang bahu lebar pria itu, selagi pria tersebut menyentuhnya sesuka hati. Tidak menunggu lama hingga badan sensitifnya kembali memulai reaksinya atas beberapa stimulus yang diberikan pria itu padanya. Pundaknya bergetar selagi sensasi aneh yang muncul akibat belaiannya. Hal ini terasa sangat mirip dengan perasaan dikelitiki, tetapi juga berbeda disaat yang bersamaan. Tetapi, dia merasa terganggu dengan sensasi menggelitik yang muncul dari salah satu dadanya, pria itu terus-terusan menyentuh p******a kirinya dan meninggalkan yang satunya. Suara yang tidak dapat dia kenali itu keluar dari tenggorokannya selagi dia bergumam, “Uh… Kenapa… Hanya sisi itu…” “Jangan merengek. Aku akan kesisi satunya nanti.” Balasan pria itu. Bahkan dalam momen panas ini, pria itu tidak pernah berhenti menggodanya. Dia yakin dia tidak merengek! Tetapi protes apapun yang akan dia keluarkan terhenti di tenggorokannya ketika pria itu mulai mengisap kulitnya dengan keras dan hanya berhenti ketika itu memerah. Itu adalah tandanya-klaim pria itu padanya. Malam ini, Leah adalah miliknya, bukan orang lain… Tempat terakhir yang bibirnya gapai adalah p******a kanan Leah. Badan Leah melenting kebelakang ketika mulut hangat pria itu mengisap payudaranya. Pria itu menempatkan tangannya dengan kokoh di punggung Leah sehingga dia tidak mampu melarikan diri. Dengan lembut dia menggoda p****g itu dengan lidahnya dan menggitnya dengan taringnya, menyebabkan sedikit rasa sakit. Suara jilatan dan hisapan memenuhi kamar yang sebelumnya sunyi. Bagian bawah tubuhnya mulai berkedut. Untuk menutupinya, Leah menyatukan kakinya, atau paling tidak, berusaha untuk menyatukan kakinya. Tetapi, sebelum dia bisa menutup kakinya, tangan pria itu ditempatkan di antara pahanya dan berkata dengan tegas, “Bagian ini harus terbuka lebar.” Erangan pendek keluar dari mulutnya dan terkejut. Leah tidak percaya suara itu keluar dari dirinya. Mata emas pria itu seolah bersinar, menatapnya menyeluruh, melihat Leah yang perlahan menjadi terangsang. Kewalahan atas indranya yang terasa lebih sensitif, Leah mencengkram Pundak pria itu dan menutup matanya. Tetapi, di momen berikutnya, mata Leah terbuka lebar. Dia merasakan tangan pria itu menangkup pusat tubuhnya yang masih tertutupi kain tipis. Tubuhnya berusaha melawan, tetapi pria itu tidak memiliki niatan sedikitpun untuk melepaskannya. Malam, jari tebalnya mulai mengusapnya dari luar, menyebabkan rasa puas yang muncul dibawah sana. Dunia terasa melambat selagi dia merasakan gairah asing yang menarik. “Mari kita mulai dari hal-hal kecil sekarang.” Leah melihatnya dengan tatapan kebingungan, dan dia menjawab dengan sesuatu yang membuatkan terkejut. “Pernahkah kamu mencoba mastrubasi?” *** Atas pertanyaan itu, Leah merasa pusing seketika. Dia benar-benar Barbarian yang tidak tahu adat dan sopan santun. Dia berhasil menahan kata-kata pahit yang akan keluar dari mulutnya. Tidak mampu mengucapkan apapun, dia hanya menggelengkan kepalanya. “Sangat disayangkan. Akan sangat menyenangkan untuk memainkan ini dengan jari-jari kecilmu…” “…” Sungguh keterlaluan! Leah ingin membuatnya menutup mulut yang hanya bisa mengutarakan hal-hal c***l itu. Tetapi, dia tidak bisa melakukannya karena pikirannya terus mengarah pada jari-jari yang terus menerus membelainya diatas pakaian dalam tipisnya. “Kita bisa melakukan itu lain kali… tapi untuk sekarang,” pria itu tersenyum dan mengarahkan bibir ke telinga Leah. “Aku akan membuatmu merasa puas.” Suara pria itu semakin rendah dari apa yang bisa Leah bayangkan. Dia mengencangkan tangannya disekeliling tubuhnya. Dengan kontak fisik itu, kulit pria itu terasa kokoh dan panas… Jari yang tadi menggoda bagian tubuh yang tertutupi itu mulai menggosok dengan keras, menghasilkan gesekan yang membuatnya merasa hidup. Menurunkan kepalanya, bibir pria itu menangkap bibirnya dan lidahnya masuk kedalam mulutnya berulang kali, seolah menari atas musik yang sensual. Dari momen mereka memulainya, dia tidak melepaskan pandangannya dari Leah. Dia melihatnya menyerah akan sentuhannya. Dan dengan pasti, Leah tenggelam dalam perasaan nikmat, pakaian dalamnya mulai basah. Kain lembab yang menempel pada lipatannya yang basah, seolah menelusuri setiap celahnya. Pahanya merasa menegang. Panas yang dia rasakan di tubuh bagian bawahnya membuatnya seolah-olah kesemutan. Dirasa cukup, pria itu menyampingkan pakaian dalamnya, memperlihatkan bagian bawah tubuhnya. Lalu, objek asing mulai menyentuh dan memasuki tubuh bagian bawahnya. Jari tengahnya terus masuk lebih dalam pada lubang basahnya. Begitu dalam hingga telapaknya nyaris datar pada vaginanya. Leah merasakan itu semua, jarinya yang perlahan masuk dan meregangkannya. “Ah…!” Leah terkejut dan menarik pinggangnya kebelakang-tindakan yang salah karena pria itu tidak menyukai perlawanannya, menarik kembali pinggangnya dan menusukan jari tebalnya lebih dalam lagi. “Tung…tunggu sebentar…” perkataannya menjadi terbata, selagi pria it uterus menusuk dindingnya yang sempit. Suara basah dari jarinya didalam vaginanya terdengar, membuat pipinya seolah terbakar. Tak lama, jarinya yang terus keluar masuk dari bagian bawah tubuhnya mulai melengkung, menghasilkan teriakan teredam dari Leah. Dia mulai mengeluarkan desahan. “Huh, uh, ah, tunggu, berhenti, uh…” Tetapi, seperti yang sudah dia lakukan di awal, dia tidak mendengarkannya sama sekali. Dengan keras kepala, pria itu terus menusuk bagian bawahnya dengan lebih cepat dan kasar. Leah, memutarkan badannya, melihat pria itu dan bertemu dengan mata emasnya. Kerutan yang dalam terbentuk diantara alisnya yang lurus dan tebal, ketika dia menyadari ada air mata yang turun di pipinya. Pria itu berbisik, menyapukan sudut matanya dengan tangannya yang bebas. “Kenapa kamu sudah menangis? Kita bahkan belum memulainya.” Gelombang gairah menyapu mata emasnya yang cekung, menjanjikan satu hal, malam yang panjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN