Please Forgive Me, Master

928 Kata
Selama hidupnya di Istana, kata-kata vulgar biasa Leah dengar dari saudara tirinya, Blair. Tapi tidak ada satupun kata-kata tersebut yang membuatnya tersentak seperti yang dikatakan laki-laki diatasnya ini. Apakah itu karena suaranya yang rendah dan dalam? Leah merasa kata-katanya lebih tidak sopan dan lebih menyinggung. Dibawah pengawasannya, Leah berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya meskipun mukanya terbakar rasa malu. Pria itu menatap muka memerah Leah dan tersenyum, lalu menarik tangan besarnya dan dia letakkan di sisi wajahnya. Lalu dia menggunakannya untuk merobek pakaiannya, membuat suara robekan itu bergema dikamar. Dengan kekuatannya yang besar, tangannya tidak cukup ahli untuk membuka kancingnya satu per satu tanpa membuat kerusakan, sehingga dia hanya menarik dan melepaskannya, menyerahkan dirinya atas insting mendasarnya. Tubuh Leah bergetar, seperti domba yang ada dibawah belas kasihan binatang buas. Beberapa saat lalu, dia mampu berbicara tanpa rasa takut, tapi sekarang, dia tidak mampu menyembunyikan rasa takut yang mulai menyelimutinya. Rasa takut untuk melakukannya pertama kali-dengan orang asing pula! Mata Leah terbuka ketika dia merasakan angin dingin menusuk kulitnya. Dia menemukan dirinya tidak menggunakan apapun kecuali pakaian dalamnya. Pria itu melihat Leah dengan rasa bangga atas tindakannya. Dalam ruangan yang gelap, hanya ada cahaya redup yang muncul dari lilin meja dan cahaya rembulan dari sela-sela tirai. Tapi itu sudah cukup untuk menyinari tubuhnya, dan mata emasnya melihat itu semua. Pandangannya membuat Leah kembali menggigil. Sebagai seorang putri, tubuhnya sudah biasa dirawat, tidak meninggalkan bekas luka sedikitpun. Kulitnya putih bersih, tidak ternoda, sama seperti rambut peraknya. Leah pikir pria itu akan langsung memujanya. Tetapi, muka pria itu mengeras dan mengucapkan kata-kata yang tidak dia kira. “Kamu terlalu kurus.” Dengan hati-hati, dia memegang pergelangan tangan Leah dengan lembut, seolah itu adalah ranting yang mudah patah jika diterpa angin. Dia bergumam, “Apakah kamu makan dengan baik?” Berani-beraninya… Kejujurannya, hampir seperti lelucon, menenangkan syaraf Leah yang tegang. Dengan pasti, Leah menarik napas panjang dan tanpa berpikir, mulai menarik karet celana pria itu. Tangannya, seperti punya pemikirannya sendiri, bergerak terburu-buru. Seketika, pandangan pria itu bergerak dari pergelangan tanggannya ke tangan satunya yang berusaha menurunkan celananya. Dia terkejut dengan perlakuannya. Matanya kembali melihat pada wajah Leah. “Berhenti berbicara omong kosong dan cepat lepaskan,” adalah perintah dari muka-merah Leah. Tidak seperti Leah, pria itu hanya membuka jubahnya dan masih berpakaian lengkap. Dia tersenyum miring ketika Leah memerintahkannya untuk membuka pakaiannya dan tertawa ketika Leah gagal saat berusaha menarik turun celananya. Leah tidak tahu apa yang pria itu anggap lucu, tetapi pria itu terasa selalu tertawa setiap kali Leah berbicara. Sehingga Leah membuka mulutnya dan membentak, “Jangan berbicara seperti itu padaku.” “Seperti apa?” “Seperti… ‘buka kakimu.’” Ucap Leah sambil meringis. Mata emasnya menatap tajam padanya. Meskipun begitu, Leah membalas tatapan matanya, seolah tidak takut akan itu. Dia menjulurkan lehernya ke samping, tatapan matanya menurun. “Saya hanyalah pria rendahan yang tidak mengemban pendidikan. Tolong maafkan saya, Nyonya,” dia meminta maaf, tetapi nadanya penuh dengan ejekan. Dia memegang paha Leah dan melebarkannya. Menempatkan tubuhnya diantara paha Leah, dia tetap bisa membuatnya tetap terbuka meskipun Leah memberontak dan mencoba untuk menutup kakinya. Itu sudah terlambat. Pinggangnya sudah berada diantara kakinya. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, Leah memegang ujung pakaian pria itu. Dia menanggap ini adalah undangan untuk membuka pakaiannya. “Haruskah saya membukanya satu per satu, Nyonya?” Selagi pria itu membuka setiap helai pakaiannya, tubuh telanjang pria itu terkuak. Leah terkejut. Dengan pakaian yang terpakai, pria itu terlihat sempurna, tampan dan kuat. Tetapi ketika dia hampir telanjang, kenyataaanya tidak demikian. Otot yang liat bergerak disetiap pergerakannya. Otot itu terlihat indah seolah dipahat bagai patung Yunani. Tetapi kulitnya… mengerikan. Luka dalam berbagai ukuran tidak dapat dijelaskan disetiap bagian tubuhnya, dan yang ada di dadanya terlihat tebal dan menyakitkan. Meskipun begitu, luka-luka ini membuatnya terlihat lebih ganas. Rasa takut mulai menyelimutinya selagi matanya mengikuti jejak luka-luka yang ada di tubuhnya. Pria itu menyeringai pada Leah, yang tidak sadar bahwa dia menatap terlalu lama dan tanpa sadar memeluk tubuhnya sendiri. Leah lalu merasa tangan kuat mengangkat pantatnya dan bagian atas tubuhnya selagi kakinya melingkari pinggang lelaki itu. Terkejut karena perubahan posisi yang tiba-tiba, dia memegang paha pria itu untuk menahan tubuhnya. Ketika dia melakukannya, dia merasakan sesuatu yang panas dibawah telapak tangannya. Ahh! Seketika dia menarik kembali tangannya seolah terbakar. Dia bergidik selagi pria itu mendecakan lidahnya dan menarik pergelangan tangan Leah, menempatkannya pada pundaknya. Leah menutup matanya dan berteriak dalam diamnya. Meskipun dia tidak memiliki pengetahuan atas tubuh pria, Leah tau dia jauh dari biasa. Dia tidak percaya pada kulit panas yang tadi ada di bawah telapak tangannya. Leah lalu merasakan tangan yang bergerak di belakang kepalanya. Karena fisiknya yang besar, tatapan mereka sepantar meskipun kaki Leah yang melingkari pinggangnya seperti koala bergantung di pohon. Pria itu hanya melihatnya dalam keheningan, lalu menekan tangan yang ada pada kepalanya. Selagi dia menekan, kepala mereka semakin dekat, dan dia berhenti saat hidung mereka hampir bersentuhan. Mata emasnya bersinar, dan napas Leah tercekat. Keningnya menyentuh kening Leah selagi dia berbisik “Mari kita lakukan sesuai urutan.” Sebelum Leah dapat menjawab, pria itu menurunkan bibirnya pada bibir Leah. Ciuman itu ringan dan lembut. Tetapi, itu tidak bertahan lama-ciumannya berlanjut dengan buas. Lidahnya membuka bibir Leah dan masuk kedalam mulutnya. Itu panas dan liar. Lidahnya bergerak kasar didalam mulutnya. Ketika lidahnya keluar, lidahnya kembali masuk, lagi dan lagi, tidak menyisakan ruang bagi Leah untuk bernapas. Dia mengisap bibirnya dan melakukan hal-hal yang Leah tidak tahu itu memungkinkan. Tetapi, selagi dia melakukannya, Leah tidak bisa mengabaikan sensasi aneh yang mulai muncul didalam dirinya, terutama ketika dia bisa merasakan gigi taring yang menggores kulitnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN