Sedari tadi Farhana tidak merasa tenang. Hatinya terus bergolak, dia terus mempertanyakan kenyataan yang akan dia terima beberapa menit lagi. "Benarkah Farras?" Bagaimana mungkin Farhana menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Farhana seolah lupa dengan ketulusan Farras menjaganya ketika sakit. Dia kemudian menoleh pada Rahmi yang sedang berdiri di belakangnya. “Bu, boleh nggak sih, Hana batalin aja?” Rahmi meletakan tangannya di atas bahu Farhana yang berbalut kebaya putih. Dia kemudian menatap bayangan wajah cantik anaknya itu di depan cermin. “Kayaknya kamu cuma gugup, Han, jadi omongannya melantur ke mana-mana,” ucapnya. “Tapi, Bu--” Farhana mendengkus. “Ayah pasti bangga dengan kamu saat ini, karena kamu berhasil memenuhi wasiat ayah,” ucap Rahmi sembari tersenyum lembut, m

