Semalaman Farhana tak dapat tidur. Dia hanya bisa menangis memeluk lututnya, menyembunyikan apa yang dia rasakan di pangkal pahanya. Sedangkan Farras, tidur terlelap di sebelahnya, tanpa busana dan hanya selimut putih menutupi sebagian tubuhnya. Farhana heran karena tak sedikitpun Farras merasa cemas padanya. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Farhana terus saja terisak, hingga berhasil mengusik ketentraman suaminya. “Hana, kamu nggak tidur?” Farhana menarik napasnya. Dia tahu Farras suaminya, tapi tidak bisakah Farras menunggu hingga dia benar-benar siap menyerahkan mahkotanya? Farras duduk sembari menarik selimutnya. Dia merangkul bahu Farhana dan membenamkan kepala wanita itu di bahunya. “Apa salahnya, kamu istriku, sekarang atau nanti sama saja,” ucapnya enteng. Farhana t

