Banyak hal yang Farhana lewati, tapi hatinya benar-benar kering. Dia masih memikirkan perkataan Farras kemarin yang menyebutkan doa itu akan kembali padanya, tapi dia merasa tidak mendoakan, itu hanya ucapannya saja, sebagai bentuk kekesalannya terhadap Gias karena terus bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya. Dulu, Farhana hanya ingin Gias menunjukan perasaan terhadapnya. Pria itu kini sedang menyantap sarapannya, segelas teh hangat dan dua butir telur rebus. “Kamu kenapa, Hana?” tanya Farras, dia merasa Farhana sedang memperhatikannya. “Aku harus gimana, ya.” Farras berhenti mengunyah sekejap sembari melihat raut wajah gelisah di wajah Farhana. Namun, dia kembali mengunyah usai mencebikkan bibir di depan wanita itu. “Aku takut nggak bisa bahagia,” rengek Farhana. Farras terse

