Bab 37

2168 Kata

Petikan gitar terus terlantun dengan indah. Nesya mengulas senyum, suara berat Gias tepat dengan nada yang dihasilkan dari perpaduan alat musik lain, layaknya band pop. Harmonisasi yang indah itu membuat Nesya semakin terpukau, bahkan dia semakin yakin dengan menetapkan hati pada Gias.  Tiba-tiba tepuk tangan menggema di ruangan kefe tersebut, para pengunjung kafe semakin ramai saat tahu setiap malam selalu ada band yang mengiringi kencan para pengunjung.  “Sudah lama?” tanya Gias yang baru saja datang.  “Lumayan.” Nesya tersenyum ramah. Setiap malam dia menyempatkan datang ke kafe tersebut, padahal jaraknya cukup jauh dari rumah. Dia sampai harus naik angkutan beberapa kali. Itu dia lakukan hanya untuk melepas kerinduannya pada beruang Kutub itu.  Seperti biasa, pulang akan naik motor

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN