Farhana terbangun dan yang pertama kali dia lihat adalah kalender meja yang sudah dia beri lingkaran merah pada setiap hari dan tanggal yang dia lewati. Ini adalah hari keduanya berada di Jakarta. Entah di hari ke berapa dia bisa kuat melewati ini tanpa ada beban apapun. Dia membuka ponsel dan satu harapannya, pesan dari Farras. Tak pernah dia berharap sedalam ini pada Farras sebelumnya. Farhana menghela napas. Dia kemudian berjalan ke luar kamarnya. Semua orang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Fahri di teras menikmati kopi disertai dengan asap kelabu dari cerutunya. Persis seperti ayahnya, bedanya hanya pada koran yang Fahri pegang dalam bentuk digital. Suara mesin cuci menderu, berputar ke kanan kemudian ke kiri, harusnya Farhana rindu dengan cerewetnya Amelia yang berteriak ingi

