b***t

780 Kata
Kampus, agak siang..  Puspaa POV lagi.. Bayangan peristiwa semalam masih sangat terlintas di benakku. Menyusuri jalanan dari kos menuju kampus yang tak seberapa jauh semakin membuatku terbayang-bayang akan perlakuan Alesandro Gustafo. Trrrlltt... Trlllt.. Ponselku bergetar. Ada SMS masuk rupanya. Dari Nobi! Hai, Say. Kug gak bales smsku? Ah, Nobi, maafkan aku belum menjawab smsmu. Melihat namamu saja aku belum sanggup. Eeehhh.. aku terkejut. Ada dua tangan tiba-tiba memegang kedua payudaraku dari belakang lalu meremasnya. "Hai, Puspa. Bengong aja.." rupanya Maya, teman sekelasku yang suka m***m. Sudah menjadi rahasia umum bila salah satu ulahnya adalah kebiasaan meremas p******a temannya. Karena dia pula, kebiasaan jorok ini menjadi semacam bentuk salam kami ketika saling bertemu dengan sesama mahasiswi ikatan dinas, tempatku berkuliah. Ya, tentu saja perilaku m***m ini hanya dilakukan jika keadaan memungkinkan. Awalnya, aku tak habis pikir bagaimana kebiasaan buruk ini justru populer di tengah-tengah kami. Tapi begitu merasakan sensasi toketku digrepe Maya aku sedikit merasa nikmat. Jadilah aku ikut-ikutan. O ya, kata teman-temanku di antara kami, payudaraku adalah yang paling montok. Tak ayal aku pun sering jadi sasaran "salam" mereka. "t***t loe tuh enak buat digrepe. Enak gila." Begitu kata Maya suatu ketika. "Eh, Maya. Aku gak melamun kug. Cuma lihat hape doang." jawabku sambil gantian colek payudaranya yang menantang berselimut seragam itu. "Ahh.." lenguhnya kelelepasan. "Eits, pelan dong, May. Entar ada yang denger." "Hehe.., sorry. Habisnya pagi ini gue khan bobok di rumah cowok gue. Mana belum puas tadi malam ena-enanya." "What? Loe ena-ena lagi? Ama siapa?" selidikku. Maya adalah penganut pergaulan bebas. Sudah sering kali aku mendengar ceritanya habis gituan di kos. Maya bahkan pernah hamil karena kelupaan tak pakai kondom. Akhirnya, diputuskan ia melakukan aborsi. Entah sudah berapa lelaki yang pernah ia gaet ke ranjangnya. Aku tak mau ambil pusing melihat kelakuan temanku sekelas yang satu ini.    "Kalau yang ini ama cowokku yang polisi. Mana semalam kontolnya tegang banget di meki gue. Utuh, nikmaat." jawabnya vulgar menyipitkan matanya sembari mengacungkan simbol jari yang artinya em-el. "Halah, kamu tuh pagi-pagi dah cerita kayak gituan." "Soalnya, aku belum puas sih." Ekspresi manyun ia pasang. Kami menaiki tangga menuju lantai dua, tempat kelas kedua. Saat mulai menjejakkan kaki di anak tangga ke sembilan, tiba-tiba hatiku berdebar-debar. "Ada apa ini?" kata hatiku. Tak butuh lama untuk menjawabnya. Di depan mataku aku melihat sosok yang aku benci sekali hari ini, Alesandro Gustafo! Tunggu, siapa wanita yang ada bersamanya? Ou, rupanya Isabella. Mereka terlihat intim. Melihat mereka berdua membuatku ingin muntah dan cepatcepat pergi dari sini. Aku pun mempercepat langkah kakiku, hingga tak sadar Maya tertinggal jauh di belakang. "Hei, Puspa. Tunggu..." serunya. Aku tak peduli pada seruan itu. Apa yang aku lihat barusan sudah cukup membuatku acuh pada lingkungan di sekitarku. Braak! Ku taruh tasku dengan kasar di atas mejaku. Kedua tanganku mengepal erat. Ingin rasanya memukul sesuatu. b***t kau, Ale! Terkutuklah kau! batinku. Perempuan yang bersama Ale tadi adalah tunangannya, Isabella Sylvi. Mereka dikabarkan mau menikah beberapa bulan lagi. Karena itulah waktu Alesandro Gustafo mengatakan kepadaku kalau ia mencintaiku, aku tolak habis-habisan. Selain karena Nobi, aku juga tak mau jadi cewek selingkuhan. Harga diriku terlalu tinggi untuk itu.  Btw, harga diri?? Masihkah aku miliki setelah aku tak virgin lagi? Benakku menyadarkanku. Aku pun kemudian terduduk lemas di kursi. Lagi-lagi remasan pada toketku dari arah belakang menggugahku. Kali ini Nila pelakunya. "Auww" "Pagi, Puspa Cantik." sapa Nila sambil tersenyum. "Pagi.." jawabku tak bersemangat. "Eh, ada apa, Non? Tumben manyun begitu.." "Lagi bete nih gue." "Bete? Karena Nobi?" "Bukan." "Lalu?" "Mau tahu aja. Kepo loe." "Haha. Sorry sorry. Hari ini kita ada jadwal praktikum di laboratorium, lho. Alat yang kemarin kita bagi sudah loe siapkan?" "Udah ni. Udah ku siapkan kug."    Ku keluarkan alat-alat praktek dari tasku. "Kalau udah siap, yuk ke lab!" "Ayuuuk" Kami bertiga bergegas menuju laboratorium. Sebelumnya kami mampir dulu ke ruang ganti. Di sinilah kami harus mengganti seragam kami dengan pakaian praktek. Pada saat ganti baju seperti inilah kebiasaan buruk teman-temanku muncul lagi: ada yang saling meremas p******a bahkan ada pula yang berfoto selfie dalam keadaan topless atau malah telanjang! Mereka tak segan mengirimnya ke WA pacar mereka. Kelakuan b***t! Mungkin hanya aku sendiri yang tak pernah melakukannya. Kali ini akupun tak luput dari remasan Novi dan Maya yang datang menyusul. "Ahhh..." spontan eranganku keluar dari mulutku. Mereka berdua tertawa melihat ekspresiku. Entah mengapa sejak diperkosa Ale, libidoku jadi mudah naik. Gemas, Aku balas saja mereka. Ku remas t***t mereka berdua dengan kasar. “Eghh eghh. Puspa...” seru mereka tak menyangka akan mendapat balasan dariku. Ku jepit p****g mereka dengan kedua jari kiri dan kanan agak lama. "Dasar b***t!" umpatku. Puas kerjai mereka, aku selesaikan ganti bajuku. Aku berlalu menuju ruang praktikum. Mereka berdua lagi-lagi tertinggal di belakang, meringis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN