Beberapa jam kemudian...
Puspa POV
Terperanjat mataku. Aku sepenuhnya tersadar. Nyawaku sudah kembali. Aku, aku.. ahh.. merasakan nyeri pada pangkal pahaku. Ku coba bangkit dari telungkup di ranjang. Ku rasakan tubuhku bagian depan dan belakang lengket dan agak berbau amis. Pasti Alesandro mengolesi tubuhku dengan pejuhnya semalam. “Aghh..” aku meringis kesakitan. Ku lihat sekeliling tak tampak dirinya lagi. Rupanya ia sudah pergi, meninggalkan melampiaskan hasratnya. ku usai "Dasar, b******n!" runtukku dalam hati.
Sembari mengumpulkan tenaga untuk berjalan ke kamar mandi, aku mengambil ponsel. Kulihat daftar panggilan tak terjawab menumpuk di sana. Oh, nomor Nobita mendominasi. Ia sepertinya mencoba menghubungiku ketika lelaki b******k itu menggumuliku semalam. Sialnya, ponselku aku senyapkan karena memang semalam aku berniat langsung tidur setelah perawatan tubuh. "Gome na sai 1 , Nobi." lirihku. Air mataku kembali mengalir. Lebih-lebih kala memandang bercak merah di ranjang. Pertanda keperawananku sudah pecah. Lama aku menangis. Aku telah kotor, Nobi.. Kering air mataku, Aku beranjak menuju kamar mandi. Aaaih, nyeri di vaginaku masih sangat terasa. Kata sebagian temanku yang sudah pernah bersetubuh, memang setelah pertama kalinya melakukan, pangkal paha seorang perempuan akan terasa nyeri. Rasa yang sebenarnya ingin ku dapatkan bersama suamiku pada malam pertama nanti. Sambil menahan sakit aku berjalan selangkah demi selangkah. Di hadapanku tergeletak baju, celana pendek, dan dalamanku yang berserakan di kamar. Aku tersadar aku sedari tadi tak memakai sehelai benang pun. Untung kamarku tertutup rapat, jadi tak ada yang melihatku dalam keadaan menjijikkan seperti ini. Aku tak peduli lagi kalau aku masih bugil. Aku memaksa berjalan ke kamar mandi. Aku ingin segera membersihkan tubuhku yang telah ternoda. Saat mulai berjalan, aku merasakan ada cairan yang melekat di selangkanganku. Darah dan cairan kenikmatanku sudah mengering. Ku nyalakan shower. Ku siram seluruh tubuhku. Bagaimanapun meski aku telah dipaksa melakukan persetubuhan, aku harus tetap memenuhi aturan agamaku, mandi besar, mandi wajib setelah senggama. Kini, segar sudah tubuhku. Aku segera beribadah taubat. Aku ingin mohon ampun atas kesalahanku semalam pada Tuhan. Usai beribadah, aku pun bersiap ke kampus. Melihat seragamku yang berwarna putih membuatku semakin merasa tidak lagi suci. Kejadian semalam adalah benar-benar kesalahan terbesarku. Ya, aku tak mau munafik. Selama berpacaran dengan Nobi, kami memang pernah "nakal" jua. Tapi paling-paling itu hanya sampai level grepe-grepe saja. Paling parahnya ialah pipiku dikecupnya, pertama kalinya pipiku dicium lelaki. Tapi, ironisnya mahkotaku justru terenggut bukan oleh kekasihku yang aku cintai itu! Mengingat ini saja timbul amarah di dadaku. Dendam kesumat membara menunjuk pada satu nama: Alesandro Gustafo!
Dan, oh hari ini aku akan melihat wajah itu lagi di kampus. Sial! Aku harus siap mental menghadapinya!
1Maafkan aku (Jepang)