Srrrt..srttt..srrtt Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk, Norma. "Halo.." "Halo, Puspa. Lagi di mana?" "Masih di kos-an." "O,.. Gini. BEM mau adain rapat. Mendadak nih. Bahas bakti sosial tanah longsor. Kamu bisa hadir khan?" "Jam berapa?" "Sekitar setengah jam lagi." "Ou, baiklah. Aku bisa. Di mana tempatnya?" "Kali ini di Kafe Mahasiswa. Ku tunggu, ya." "Ok." "Bye.."
Klik. Telepon ditutup. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aku pun bergegas mandi. Yah, karena aku bermimpi dicumbu sampai kelaminku basah beneran, terpaksa ku mandi besar lagi. 30 menit kemudian.. "Baiklah, teman-teman. Marilah kita mulai rapat mengenai pelaksanaan bakti sosial menanggulangi tanah longsor di Desa Sapuan." suara tegas Norma mengawali rapat BEM. Bagiku, berorganisasi bukanlah barang baru. Aku telah menjadi aktivis sejak bersekolah dulu. Bahkan, pertemuanku dengan Nobi berawal dari kegiatan bersama yang diadakan OSISku dengan yayasan di mana Nobi menjadi pengurusnya. Sebuah kegiatan pengenalan budaya Jepang bagi anak-anak muda Indonesia. Ah, jadi ingat Nobi. O ya, sampai sekarang aku belum menjawab pesan-pesan elektroniknya.
Sejujurnya ini bukan kali pertama, Nobi sudah cukup bersabar dan paham selama ini jika aku lama tak membalas pesannya. Dia akan selalu berpikir jika aku sedang sibuk kegiatan ikatan dinasku, padahal -hehe- kadang kala aku hanya memang lagi malas membalas pesannya. Baiklah, hasil rapat memutuskan mulai lusa aku dan kawan-kawan akan ikut membantu korban tanah longsor Desa Sapuan. Aku dapat tugas di Pos 1. Ku harap bakti sosial ini akan mempermudahku melupakan kejadian di malam yang kelam itu. Melupakan Gustafo! Melupakan fakta bahwa aku kini tak virgin lagi..