Part 13 -Curhatan-
Tawa ceria keluar dari mulut Fita sejak tadi. Xian Ling, Se Ta, Yi Fan, Zhang Yiz, dan Se Ta lah alasannya tertawa. Membuat Su Ho berdecih tak suka. Dia yang notabenya suami sangat jarang mendapati Fita tertawa ceria. Yang dia dapati hanya lah Fita yang sangat nakal dan suka menjahatinya.
Hati Su Ho semakin panas ketika Yi Fan mencubit pipi istrinya. Harusnya hanya dia yang boleh mencubit pipi gadis itu. Laki-laki lain sama sekali tak berhak!
"Kalau makan itu jangan belepotan. Katanya udah gede tapi kok kelakuan masih kayak anak kecil." goda Zhang Yiz, Fita dibuatnya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Tuh kan, semakin seperti anak kecil." imbuh Yi Fan dan kembali mencubiti pipi lembut Fita.
"Jangan mencubiti pipiku lagi." Fita menutupi kedua pipinya dengan telapak tangan.
"Aih, imutnya. Aku semakin ingin memilikimu." gemas Xian Ling keceplosan.
Su Ho seketika menatap Xian Ling tajam, lebih tajam dari pisau yang baru saja diasah. Xian Ling yang sadar dengan hal itu gelagapan seketika. "Anu, itu maksudku jika saja dia belum memiliki suami." ralatnya cepat-cepat dengan kekehan canggung.
Su Ho membuang pandangan ke arah lain. Ia fokus ke minumannya lagi.
"Fita, aku penasaran tentang sesuatu."
Fita menatap Se Ta dengan tatapan seolah menanyakan apa.
"Kenapa kamu bisa menerima perjodohan ini? Eh, sebelumnya Kak Su Ho jangan tersinggung. Aku hanya penasaran." Su Ho mengangguk cuek. "Kenapa bisa? Umur Kak Su Ho kan berbeda jauh dari umurmu?"
"Entah. Padahal dia udah bangkotan gitu. Untung ganteng." sahut Fita asal.
Su Ho mendesis kesal. "Aku belum bangkotan, istri durhaka! Umurku masih 27 tahun!" bantah Su Ho dengan tatapan tajam.
"Oh."
Su Ho semakin meradang. Berhadapan dengan istrinya selalu berhasil membuatnya naik darah. Lama-lama dia bisa mati.
"Oh iya, selir kakak-kakak kemana?"
Seketika semuanya terdiam mendengar pertanyaan Fita. Mereka kecuali Se Ta yang notabenya berumur 19 tahun, belum mempunyai selir. Dia terlalu dibutakan dengan tahta hingga tak ada waktu untuk mencari seorang wanita yang tentunya akan sangat merepotkan. Dia sibuk mencari komplotan untuk menggulingkan kekuasaan Su Ho. Tapi itu sebelum bertemu dengan Fita sang tambatan hati.
Su Ho diam-diam menyeringai mendapati Fita membuat adik-adiknya terdiam kaku.
"Kakak nih ya. Nakal. Kalau aku yang jadi selir kakak pasti aku akan sangat sedih karena kakak dekat dengan perempuan lain." kata Fita mendramatis.
"Tenang saja. Dia tidak akan sedih. Secara kami sudah sepakat."
"Sepakat tentang?" Fita menatap Xian Ling sok polos.
"Dia akan mendapatkan semua yang diinginkannya dan aku akan mendapat kepuasan darinya."
"Kepuasan seperti apa?"
Su Ho greget dengan Fita. Ia tahu. Otak istrinya tidak polos. Otak istrinya sudah terkontaminasi hal-hal m***m. Contohnya saja, di waktu malam pertama mereka Fita mengancam akan memperkosanya.
Xian Ling tertawa garing. "Ya, seperti dilayani. Maksudnya dilayani di sini dia menyiapkan semua keperluan kakak." elaknya seraya terkekeh, menutupi kebohongannya.
"Oh itu."
"Kalian mau tahu sesuatu gak?" Fita melanjutkan ucapannya ketika melihat tatapan penasaran dari mereka. "Aku tidak mau hidup bersama dengan laki-laki yang mempunyai banyak istri!"
Mereka terhenyak. "Kenapa? Bukan kah itu adalah hal yang biasa?"
Fita melipat tangan di depan d**a. "Aku ingin menjadi wanita satu-satunya di dalam hidup suamiku. Seperti papa yang hanya memiliki mama dalam hidupnya, meski pun papa tampan dan berkuasa." Ia tersenyum bangga mengingat sifat papanya yang sangat setia. Dia kembali teringat dengan masa kecilnya. Banyak wanita yang bersedia melemparkan tubuhnya ke sang papa, tapi papanya dengan sadis menolak mereka.
"Aku akan menjadi suami yang kamu idam-idamkan, Fita." canda Se Ta. Candaan yang mengandung makna tak main-main. Hanya Su Ho dan Fita yang menyadarinya.
"Tidak mungkin! Fita kan istri kakak kita." kekeh Yi Fan.
"Bisa saja kan kakak nantinya memiliki istri baru. Dia kan seorang raja. Iya, kan, kak?" kekeh Se Ta masih dengan candaannya.
"Tidak." sahut Su Ho dingin.
"Kenapa tidak, kak?"
"Perempuan itu merepotkan." decih Su Ho.
"Berarti aku merepotkanmu?" tanya Fita garang.
Su Ho mendengus. "Kecuali kau." jawabnya dengan sangat terpaksa. Masalahnya ada saudaranya di sana. Dia tidak ingin membuat mereka merasa mempunyai celah untuk memiliki istrinya.
"Uh, sweetnya." Fita menghambur ke Su Ho. Ia memeluk Su Ho erat hingga laki-laki itu kesulitan bernafas.
Yang lainnya hanya bisa menghembuskan nafas berat. Mereka tak suka melihat Su Ho yang menang banyak dari mereka.
Bersambung...