Part 15 -Milikku-

664 Kata
Part 15 -Milikku- Hari demi hari Fita lalui. Siang dan malam berganti dengan begitu cepat. Sudah terhitung 23 hari ia berada di Kerajaan Han. Berbagai macam kejahilan Fita sudah banyak membuat orang sakit dan juga sampai pada tahap trauma. Namun, gadis mungil itu tidak merasa bersalah sama sekali karena hiburannya di dalam istana hanya lah Su Ho dan para korbannya. Mengenai saudara-saudara Su Ho, mereka semakin menampakkan taring mereka ke permukaan dan apa pun itu Fita tidak peduli asal mereka tidak menganggu ketenangannya. Langkah Fita terhenti ketika seorang perempuan berambut hitam legam terlihat sedang berbicara dengan suaminya. Perempuan itu membelakanginya sehingga ia tidak bisa melihat wajahnya. Rasa penasaran yang merasuki relung jiwanya membuat ia berjalan mendekati dengan sangat hati-hati dan mencari tempat persembunyian di balik pohon besar. Sebelumnya ia celingak-celinguk ke sana kemari, takut aksi ngintipnya ketahuan. "Su Ho. Aku mohon." rintih sang perempuan dengan nada yang sangat menyedihkan. Fita memfokuskan pendengarannya, tak ingin ketinggalan satu kata pun. "Ck." Fita hampir saja menyemburkan tawanya mendengar decakan Su Ho. Menurut perkiraannya, laki-laki itu merasa terganggu dengan kehadiran perempuan yang berhanfu ungu itu. "Aku sudah mencintaimu sejak kita masih kecil. Tidak bisakah kau melihat perjuanganku selama ini?" Isak perempuan yang tidak di ketahui Fita itu. Dia dibuat semakin penasaran akan reaksi suaminya. "Aku rela menjadi selirmu, Su Ho." Fita mengepalkan tangannya erat. Jangan salahkan dia, telinganya hanya sedikit sensitif dengan kata selir. Baginya seorang selir sama saja dengan wanita simpanan ups. "Su Ho, aku mencintaimu. Angkat lah aku menjadi selirmu. Aku rela menjadi yang kedua, ketiga, maupun yang kesekiannya asal bersamamu." Tidak tahan lagi, Fita keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan dengan anggun ke arah kedua sejoli itu. Bunyi suara sepatunya terdengar oleh pendengaran kedua orang itu hingga mereka refleks menoleh. "Aku dengar, ada seorang perempuan yang rela menjadi simpanan. Apa itu benar heh? Atau aku hanya salah dengar?" Gayanya saja yang anggun, tapi perkataannya bar-bar. Kedua orang itu menatap Fita dengan tatapan yang berbeda. Satu menahan geli dan yang satunya lagi menatap sengit. "Kau ini rela saja menjadi seorang selir. Kalau aku sih tidak mau menempati posisi rendahan itu." Fita berujar dengan pedasnya. (lebih pedas dari mie pedas level 5 yang membuat author sakit perut haha) Perempuan itu tentu saja merasa terhina dengan ucapan Fita. Dengan tidak tahu malunya dia mengibaskan rambutnya sombong hingga Fita mengernyit jijik. Tidak cocok sama sekali untuk berlagak sombong, batinnya mencemooh. "Aku anak mentri yang paling mempunyai pengaruh di sini. Ka--" "Anak mentri aja bangga! Aku yang anak dari seorang kaisar terkenal biasa aja tuh. Bahkan kalau aku mau, aku bisa menyuruh papa meratakan istana ini dengan tanah." Perempuan itu terdiam. Dia lupa akan fakta yang satu itu. Su Ho yang tidak mau ikut campur pergi secara diam-diam. Dasar suami durhaka emang. "Aku Xu Fita. Anak kedua Kaisar Xu Yu Han yang sangat ditakuti para pemimpin di era ini." Ia menatap perempuan itu remeh. "Dan kau siapa? Anak mentri? Haha! Lucu sekali." Fita tertawa datar. Perempuan itu semakin tersulut ketika Fita merendahkannya. "Aku Ming Ming. Aku me--" "Siapa yang peduli?! Aku tidak ingin berlama-lama lagi bersama dengan wanita tak tahu malu sepertimu. Dengarkan aku baik-baik! Jangan pernah mendekati suamiku lagi!" perintah Fita dingin. Ia bukannya memiliki perasaan lebih ke suaminya, hanya saja dia tidak ingin berbagi miliknya dengan orang lain. Sekali pun dia tidak menyukai miliknya. Ming Ming tertawa sinis. "Hei, apa hakmu melarangnya? Dia seorang raja di sini, dan kau hanya lah istrinya. Seorang raja lebih memiliki kuasa daripada sang istri." Ia menatap perut datar Fita dengan sinis. "Lagipula sampai sekarang kau masih belum mengandung. Kerajaan ini membutuhkan seorang pewaris. Aku yakin kau hanya lah seorang wanita mandul, buktinya sampai sekarang kau tidak berisi." Fita memutar bola mata malas. "Bodo amat. Satu hal yang harus kau ingat! Jika kau mendekati suamiku lagi akan kubunuh kau dengan sadis." Dia tersenyum manis. Senyum manis penyimpan seribu misteri dan kekejaman. "Su Ho milikku! Hanya milikku!" ultimatumnya dan meninggalkan Ming Ming yang mengepalkan tangan marah. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN