Sejak kejadian tadi malam Guzel masih terus gusar untuk keluar dari kamar saja, dia takut bertemu dengan Shawn. Dari tadi juga gadis itu terus mengintip dari pintu kamar nya takut kalau tiba-tiba balok es itu muncul tapi jika terus bersembunyi di kamar bagaimana dia akan berangkat ke sekolah apalagi dia juga belum sarapan. Bibir mungilnya terus berkomat-kamit menyerukan doa supaya bisa keluar dari kamar dengan aman.
Dengan langkah kaki yang sangat pelan tanpa suara Guzel akhirnya keluar dari kamar mengendap-endap menoleh kesana kemari dan akhirnya gadis itu bisa menghela nafas lega karena tidak melihat keberadaan Shawn
" ehmmm!!! "
Tubuh Guzel menegang tidak berani menoleh kebelakang dalam hatinya berteriak takut jangan sampai orang ini adalah Shawn lalu membahas kejadian tadi malam, mau di taruh mana mukanya nanti.
" Nona kenapa? "
Guzel langsung menoleh memastikan kalau itu bukan suara Shawn, dan yah ternyata itu memang bukan si balok es. Gadis itu celingak-celinguk seperti anak kucing yang mencari induknya sampai Bams juga ikut celingukan
" cari siapa? "
Dia menggeleng kencang tapi masih belum mampu menutupi rasa keterkejutannya
" dasar aneh " gumam Bams tapi masih tetap memperhatikan gerak-gerik Guzel yang tidak biasa
" Nona mau berangkat sekarang? "
" ha? maksudnya? " Guzel mengerenyit tidak mengerti dari pertanyaan Bams
" apa nona Guzel mau berangkat sekolah sekarang? " Bams memperjelas pertanyaannya
" ohhhh " Guzel nyengir salah tingkah gara-gara ingat kejadian tadi malam dia malah jadi gagal fokus
" saya sudah menyiapkan mobil, karena Tuan Shawn meminta saya dan Jay untuk mengantar nona Guzel "
" dih apaan sih... aku bisa berangkat sendiri kenapa harus diantar "
" maaf Nona, Tuan juga sudah mewanti-wanti kami untuk selalu menjaga nona " lanjut Bams
" tuh orang tua berlebihan banget sih lagian aku juga udah biasa berangkat sekolah naik angkot sendiri tanpa harus diantar kayak aku orang tawanan aja " gerutu Guzel kesal tapi tidak bisa membantah karena dia ingat peraturan yang sudah di umumkan oleh Shawn tadi malam
" ya sudah ayo nanti keburu aku telat " Guzel berlalu mendahului Bams yang masih menatapnya aneh.
Dari arah dapur mbok Imah berlari dengan tergopoh-gopoh ditangannya memegang kotak bekal untuk Guzel, dia tahu kalau nona muda mereka belum sarapan padahal semuanya sudah di siapkan diruang makan. Guzel yang baru saja hendak masuk kedalam mobil berhenti begitu melihat mbok Imah keluar menghampirinya.
" mbok kenapa? "
" ini sarapan buat non Guzel " mbok Imah menyodorkan kotak bekalnya pada gadis itu " non belum sarapan kan? jadi mbok siapkan saja bekalnya untuk dibawa kesekolah "
" ya ampun mbok " Guzel terharu dan tanpa canggung langsung memeluk wanita tua itu
" makasih ya mbok " ujarnya
" sama-sama non! ya sudah non berangkat nanti terlambat "
" bye mbok " sekali lagi gadis itu memeluk mbok Imah sebelum masuk kedalam mobil
" Bams... hati-hati nyetir mobilnya " seru mbok Imah begitu mobil perlahan meninggalkan halaman luas mansion
Guzel tersenyum melihat isi bekal yang dibawakan oleh mbok Imah, gadis itu teringat dengan sang mama yang biasanya juga akan membuatkan sarapan untuk dirinya, Guzel berdoa supaya sang mama lekas sembuh agar mereka bisa berkumpul lagi dirumah meskipun tidak sebesar dan semewah mansion milik Shawn tapi setidaknya disana ada mamanya.
" Jay... " panggil Guzel, Lelaki itu langsung menoleh
" nanti pulang sekolah kita mampir kerumah sakit ya, aku mau liat mama " ucap Guzel
" apa nona sudah minta izin Tuan? " bukannya menjawab, Jay malah melempar pertanyaan menyebalkan itu
Guzel mendengus menatap Jay sengit, tapi dia bisa apa? karena memang sekarang kalau mau kemana-mana dia memang harus minta izin Shawn terlebih dahulu.
" iya nanti aku izin dulu sama balok es " sungut Guzel kesal, Jay dan Bams yang mendengar panggilan Guzel untuk Tuan mereka hanya mengulum senyum geli.
Mobil yang di kemudikan oleh Bams berhenti tepat di depan gerbang
SMU TIRTA JAYA, begitu Guzel yang turun dari mobil langsung disambut oleh teriakan beberapa gadis yang berlari menghambur kearahnya. Jay dan Bams yang masih didalam mobil menatap mereka dengan wajah cengok, ini adalah tugas pertama mereka momong anak gadis orang karena biasanya mereka mengemban tugas yang lebih ekstrim lagi.
" tumben kamu di antar? biasanya juga naik angkot " tanya seorang gadis berambut ikal dengan kacamata tebalnya
Guzel menoleh kebelakang dimana mobil yang ditumpangi nya tadi sudah terparkir di seberang sana, gadis itu hanya menghela nafas jengah dan tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya Guzel langsung masuk.
" ehh Guzel!!! tungguin " panggil mereka
" kebiasaan orang tanya bukannya langsung jawab malah di tinggal pergi gitu aja " gerutu si rambut ikal tadi
Sungguh Guzel merasa risih jika di perlakukan seperti ini, dia merasa ibarat jadi burung yang terkurung di dalam sangkar, gadis itu juga merasa seperti tidak bisa bernafas dengan leluasa, dia yang biasanya bebas melakukan apa saja tanpa ada yang melarang kini seperti tawanan saja. Tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa membantah ataupun melawan Shawn yang pasti sudah kalah telak.
Setelah mata pelajaran kedua selesai, bel yang ditunggu-tunggu oleh para siswa pun berbunyi, ratusan siswa keluar dari kelas mereka masing-masing termasuk Guzel dan juga teman-temannya, dengan senyum mengembang diwajahnya Guzel membawa bekal dari mbok Imah untuk dinikmati di kantin.
" tumben banget bawa bekal biasanya juga jajan cilok " ujar Gea sahabat Guzel yang lebih dulu mencomot potongan sosis di kotak bekal Guzel
" ini di bawain sama mbok Imah " sahut Guzel dengan mulut penuh nasi goreng
" mbok Imah siapa? perasaan dirumah kamu nggak ada deh yang namanya mbok Imah " tanya si rambut ikal, namanya Merry
Guzel melirik kedua sahabatnya secara bergantian, berpikir keras apakah dia harus menceritakan semua yang terjadi pada kedua sahabatnya ini.
" hei kok bengong " tegur Gea, Guzel menghela nafas pelan sepertinya mereka berdua harus tau tentang dirinya yang tidak tinggal lagi di rumah peninggalan mendiang papanya.
Guzel mulai menceritakan pertemuannya dengan Shawn dan juga permintaan mamanya, lalu memberitahu kedua sahabatnya itu tempat dia tinggal sekarang dan apa saja yang ada di sana termasuk mobil mewah yang masih terparkir di depan gerbang sana. Gea dan Merry menatap Guzel iba sedikit banyak mereka tahu tentang cerita hidup Guzel, karena mereka sudah bersahabat sejak di bangku sekolah dasar hingga sekarang.
" kamu sabar ya " Gea menepuk pelan pundak Guzel
" jangan merasa sendiri, karena kamu punya kita " sambung Merry merangkul lengan Guzel yang tersenyum kecut.
" Hai!!!! aku boleh gabung? "