Mbok Imah sampai kewalahan menghadapi tingkah Guzel yang begitu hyper aktif tapi justru itu yang membuat dirinya senang karena nona mereka ini tidak sekaku apa yang sudah mereka pikirkan sebelumnya dan Guzel juga tidak butuh waktu lama untuk bisa membuat mereka semua menyukai dirinya. Mbok Imah yang melihat Guzel seketika teringat akan mendiang putrinya, jika dia masih ada mungkin usianya juga sudah seumuran dengan Guzel.
" Selamat malam semuanya " sapa Guzel dengan sumringah
Jay, Bams, mbak Sari dan juga yang lainnya terperangah melihat Guzel yang datang menghampiri mereka semua bahkan tanpa dipersilahkan duduk gadis itu sudah mengambil tempatnya sendiri, mbak Sari langsung menghampiri mbok Imah menuntut jawaban.
" Non Guzel mau makan malam bersama kita semua disini " ucap Mbok Imah menatap sendu Guzel
" Tapi Tuan- "
" Tuan sudah mengizinkannya " jawab mbok Imah sebelum Sari banyak bertanya lagi
" Mbok Imah..... " Panggil Guzel
" Iya non..... "
" Ayo kita makan aku sudah laper banget " ujar Guzel manja seperti tidak perduli kalau kedudukan mereka berbeda, Jay dan Bams tersenyum senang melihat Guzel.
Makan malam mereka malam ini sungguh berbeda dengan malam biasanya, Guzel terus berceloteh memuji semua masakan mbak Sari yang terasa sangat enak di lidah nya sesekali dia juga bercanda dengan Jay dan Bams sedangkan mbok Imah hanya tersenyum diam dan menyimak. Mereka semua tidak tahu saja kalau Tuan mereka sedang memperhatikan mereka semua dari balik tembok. Melihat kedekatan mereka semua berhasil menerbitkan senyuman di wajah dingin Shawn.
Setelah menikmati makan malamnya dan sedikit berbincang dengan mbok Imah, Guzel kembali ke kamarnya besok dia harus kembali melewati hari yang panjang dan berharap esok akan lebih baik lagi dari hari-hari sebelumnya.
" Guzel!! "
Gadis itu nyaris mengupat karena kaget tiba-tiba saja Shawn muncul dari ruang kerjanya.
" Astaga.... Uncle sengaja ya mau buat aku jantungan " seru Guzel yang memegang dadanya merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.
" Kita bicara " ucap Shawn, tidak perduli pada Guzel yang mendelik kesal
" Mau ngomong apa? " tanya Guzel ketus
" Ada beberapa peraturan di mansion ini yang harus kamu patuhi " jawabnya tanpa basa-basi lagi, Shawn menatap lekat wajah Guzel yang seketika cengok
" Haa? Peraturan? Peraturan apa lagi? " Guzel Tidak bisa lagi menyembunyikan wajah kagetnya
" Yang pertama apapun yang saya katakan adalah kebenaran, yang kedua kamu tidak boleh keluar dari mansion ini tanpa izin dari saya, yang ketiga setiap pulang sekolah kamu harus segera kembali, yang keempat kemanapun kamu pergi akan ditemani oleh Jay dan Bams, yang kelima jika kamu tidak setuju maka kembali ke peraturan pertama " Shawn dengan santai menatap Guzel yang mendelik kesal
" Peraturan macam apa itu? " desis Guzel, tapi Shawn tidak perduli
" Dan yah satu lagi " ujar Shawn perlahan mendekat, nyaris tak ada jarak antara mereka berdua bau harum tubuh Shawn menyeruak di indra penciuman gadis itu, dia juga bisa dengan jelas menatap indahnya wajah ciptaan Sang Maha Esa.
" Jangan pernah kamu kelantai tiga " suara Shawn terdengar pelan tapi penuh penakan
" Kenapa? Jangan bilang kalau Uncle punya janda simpanan di sana " selidik Guzel dengan alis terangkat sebelah
Awwwwww
Guzel mengusap keningnya yang terasa panas karena disentil oleh Shawn, bagaimana gadis kecil ini bisa berfikir kalau dirinya menyimpan seorang janda di lantai atas, jangankan janda bahkan tidak ada seorang gadis pun yang bisa dekat dengannya.
"Suka banget sih nyentil orang, kalau aku bego gimana??? Uncle mau punya istri bego! " Guzel mendengus kesal, tapi kata-kata istri yang keluar dari mulutnya justru terasa ambigu bagi Shawn.
" Pokoknya kamu nggak boleh naik kelantai tiga, No question!! " tegas Shawn berlalu pergi meninggalkan Guzel yang masih belum terima dengan peraturan yang dia buat.
" dasar orang tua nyebelin!!! " pekik Guzel melihat Shawn yang bablas naik kelantai tiga. Gadis itu menghentakan kakinya kesal.
" Itutu akibat udah tua tapi belum punya istri " gerutu Guzel.
Tapi bukan Guzel namanya kalau tidak membuat ulah lihat saja nanti dia pasti akan melakukan hal yang membuat Shawn naik darah. Tunggu dulu, Lantai tiga? Guzel jadi penasaran ada apa di sana kenapa balok es itu melarang nya naik kesana. Apa benar yang ada di pikirannya kalau Shawn menyimpan seorang janda di lantai tiga?
Tepat tengah malam Guzel keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri, matanya menatap awas kesetiap sudut mansion yang sudah gelap dan sunyi karena para penghuni pasti sudah berada di pulau kapuk dan bermimpi indah, dengan mengenakan topi beruang nya yang lucu perlahan Guzel melangkah naik kelantai tiga dengan susah payah dan penuh perjuangan dia sampai juga akhirnya di tempat yang tidak seharusnya dia datangi, dan WOW!!
Ternyata lantai tiga ada ruangan besar khusus tempat gym, semua alat-alat nya juga lengkap! Mata indah Guzel berbinar dengan mulut menganga.
" Pantas saja balok es nggak bolehin aku naik kesini ternyata dia punya surganya sendiri dan nggak mau bagi-bagi sama orang " gumam Guzel menelisik satu persatu alat kebugaran yang ada disana, dia yakin semua alat olahraga disini harganya pasti sangat mahal.
" Dasar orang tua pelit!! " gerutu Guzel sambil naik kesalah satu treadmill berukuran besar disana dan mulai menggunakannya
" Kalau gini sih aku nggak perlu lagi datang ketempat gym umum karena disini udah paket komplit " Guzel girang bukan main seketika lupa apa yang sudah diperingatkan oleh Shawn tadi padanya.
Tring!!! Tring!!! Tring!!!
Guzel nyaris terpeleset dan mengupat begitu mendengar suara ponsel yang berbunyi dan mengagetkan dirinya, dia mengerenyit pasalnya tadi dia tidak bawa ponsel, jadi ponsel siapa yang berdering?. Guzel menggapai ponsel itu dan tertera nama Joshua disana.
" Joshua? " gumamnya bingung
"Oh God!!! " akhirnya gadis tengil itu ingat sesuatu
"Ini ponsel nya Uncle balok es!! " Lirih Guzel yang nyaris tak bersuara " mati aku!! gimana kalau nanti dia datang terus mergokin aku ada disini?? " tubuh Guzel menegang
Dengan cepat Guzel kembali meletakkan ponsel itu pada tempatnya dan buru-buru keluar dari ruangan itu sebelum pemiliknya datang. Tapi hari sial memang tidak ada di kalender begitu Guzel keluar dia justru dikagetkan oleh tubuh besar seseorang yang menjulang tinggi sudah berdiri di depan sana.
" Aaaakkkkhhhhh " pekik Guzel dan langsung dibekap oleh tangan besar seseorang
" Diam!!! " desis seorang lelaki, Guzel mengangguk patuh
" Aku sudah bilang jangan naik kelantai tiga, tapi kamu melangganya " mata elang itu menatap tajam Guzel seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Di dalam hati Guzel berteriak " peraturan dibuatkan memang untuk dilanggar gitu aja nggak tau!!! "
" A-aku.. aakuu cuma penasaran " jawab Guzel saat mulutnya sudah tidak dibekap lagi, gadis itu sampai memejamkan matanya tidak berani melihat lelaki itu.
Bagaimana Guzel tidak kaget, begitu dia keluar Shawn yang bertelanjang d**a dan hanya memakai boxer pendek sudah berdiri sambil berkecak pinggang di depan matanya. Tubuh Shawn yang seperti atletis dengan perut kotak-kotak seperti roti sobek dan juga otot-otot besar di lengannya terpampang jelas! jangankan seorang janda, bahkan Guzel yakin seorang nenek-nenek pun pasti akan memuji setiap pahatan menakjubkan di tubuh Shawn, begitu juga dengan dirinya saat ini!