Eukela membawa Irhea berteleportasi melewati jalur yang lebih sepi. Bayangan demi bayangan dari tempat-tempat yang dilewati, terus berkelebat begitu cepat di mata Irhea. Dia berpegang erat pada lengan gurunya. Tak butuh waktu yang lama sampai akhirnya dia sampai di tempat tujuan. Semuanya sudah jelas sekarang. Sebelumnya Eukela memilih berjalan kaki bukan karena dia tidak mampu berteleportasi, melainkan karena dia memang ingin melakukannya. Bahkan mungkin Eukela bisa terbang di atas ketinggian. Irhea menginjakkan kakinya di depan gerbang akademi. Sekarang hari sudah sore dan kebanyakan murid seharusnya sedang bebas, tidak ada materi yang mereka terima. Namun, anehnya tidak ada seorang pun yang terlihat berkeliaran. Tentu saja situasi ini membuat sepasang guru dan murid itu menjadi heran

