“Irhea! Jangan lancang! Siapa yang memberimu keberanian sebesar ini?!” teriak Lucia dengan keras. “Aku sendiri. Sudah terlalu lama aku mengeram dalam kepengecutan,” balas Irhea dengan dingin. Dia mencengkeram erat tombak emas milik Lucia. Harus dia apakan senjata yang satu itu? “Gadis sial4n! Aku tidak akan melupakan apa yang terjadi hari ini!” geram Lucia, wajahnya dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Sebelumnya dia sudah kembali ke rumah untuk mengambil tombak emas andalannya. Namun, itu ternyata masih tidak cukup, bahkan senjata itu justru direbut oleh Irhea. Apa-apaan itu? Dia tidak pernah menerima penghinaan seperti ini sebelumnya. “Nona, apa yang harus kita lakukan?” tanya perempuan di sebelahnya yang merupakan pelayannya. “Apa kita perlu memanggil para pengawal sekarang?” Lucia

