Irhea tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. “Guru, kita hidup di tempat terpencil. Bagimana mungkin ada Dewa yang bisa mendengar ucapanku? Kecuali mereka terlalu menganggur.” Eukela hanya bisa menghela napas panjang. Setelah itu ekspresinya segera berubah menjadi galak. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Irhea!” “Guru, aku datang ke sini karena ingin berbicara tentang kematian pohon itu.” Akhirnya ekspresi wajah Irhea berubah menjadi lebih serius. Ditatapnya Eukela yang bergerak duduk di kursi. “Aku sendiri terkejut setelah mengetahui itu. Namun, aku tahu, cepat atau lambat pohon itu memang akan mati.” Eukela menatap muridnya dengan sendu. “Seharusnya itu tidak berpengaruh padamu, ‘kan?” Irhea menggeleng tidak tahu. Dia sudah menyerap kekuatan pohon itu untuk membantunya mempelajari sihi

