Always Accept
Jam delapan malam untuk waktu Indonesia bagian Barat, Fania yang memiliki nama lengkap Fania Fersa berdiri tegap di depan cermin besar yang ada di kamarnya, dia menatap wajahnya dalam-dalam.
"Beautiful," ucap Fania pada cermin.
"Wajah putih bersih, bulu mata lentik, bibir tipis dan hidung mancung tak tertunda," Fania mulai menilai fisiknya dengan teliti.
***
Fania duduk di pinggiran kasur, tanpa sadar dia meneteskan air mata, mengingat akan acara lamaran besok yang telah ditetapkan oleh Ayahnya. Fania menyesal telah begitu dalam mencintai seseorang, sakit pasti, hati Fania sangat sakit walaupun mulutnya Fania berkata."Iya," saat ditanya oleh Ayahnya mengenai kesiapannya dan persetujuannya dalam pernikahan dengan seseorang yang telah Fersa, Ayah Fania tentukan, sebenarnya di dalam hati Fania, ingin menolak keras.
Ini bukan kali pertamanya Fania menerima perintah Ayahnya dengan terpaksa karena bertolak belakang dengan keinginannya.
Dari kecil Fania telah dituntut untuk menjadi anak yang penurut, dia harus mau dan bisa mendapatkan apa yang Fersa inginkan.
Mulai dari berperingkat satu di kelas, menjadi pemenang dalam lomba menggambar, olimpiade, ataupun lomba cabang olah raga semuanya, dan itu Fania lakukan atas dasar perintah Ayahnya, bukan murni berdasarkan bakat yang dia punya. Tetapi, Fania tidak berfikir terlalu jauh, yang dia pikirkan selagi itu memang bisa dia lakukan maka akan dia lakukan, lebih baik dipaksa berusaha dan berhasil mencapainya dari pada bersuka rela dalam kebodohan tanpa ada sedikitpun usaha dan pada akhirnya hanya penyesalan yang didapatkan.
***
"Fania...," panggil Kyna Kakak Fania.
'Ceklek,' Fania membuka pintu kamarnya.
"Sudah siap ?" tanya Kyna dengan penuh harap.
Fania mengangguk, tanda mengiyakan pertanyaan Kakaknya. Apa bisa Fania membangun pernikahan tanpa didasari oleh cinta, itu saja hal yang kini Fania terus pikirkan, sebelum-sebelumnya Fania tidak terlalu memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan itu namun, hari-hari berganti, keinginan Fania untuk menolak akan hal itu semakin besar, tetapi di sisi lain Fania juga tidak ingin menerbitkan rasa kecewa Ayahnya. Biar hatinya terluka sementara dan dia yakin semua akan baik-baik saja pada waktunya, Fania pasti bisa.
Fania, dan Fersa duduk berdampingan di ruang tamu, sedangkan Kyna sibuk menyiapkan suguhan makanan ringan. Ibu Fania ? Hmm Ibunya Fania telah meninggal dunia waktu melahirkan Tio adek Fania.
Terdengar suara langkah kaki dari luar rumahnya Fania.
"Assalamu'alaikum," salam dari sosok yang mungkin akan menjadi mertua dan suaminya Fania. Memang masih menjadi kemungkinan.
Fersa menjawab salam mereka dan tersenyum kemudian mempersilahkan mereka duduk.
Bayu Angga dialah nama seseorang yang di jodohkan oleh Fania. Seseorang yang belum pernah sama sekali Fania temui.
"Bagaimana Fania ?" tanya Anton Papa Bayu ketika Bayu telah menjelaskan secara singkat tujuannya datang.
Fania menunduk, dia menahan air mata, Kyna yang tahu akan perasaan adeknya itu mendekat ke Fania. Kyna memeluk tubuh Fania dari samping, Fania hampir tidak bisa menahan tangisnya.
Tidak ada larangan dalam hal perjodohan, bahkan itu adalah hal yang dianjurkan untuk menghindari perzinanaan namun, perjodohan untuk sekarang ini adalah salah satu hal yang dibenci oleh Fania, bagaimana tidak, semua harapan-harapan Fania luntur seketika. Dia belum sepenuhnya bisa menerima.
"Fania," panggil Fersa pada anak keduanya.
Kyna melepaskan pelukannya pada Fania, Kyna sedikit menggeser tubuhnya agar ada jarak antara dirinya dan Fania. Terlepas dari pelukannya Kyna, Fania menatap Ayahnya dan tersenyum.
"Bagaimana ?" tanya Fersa.
Apanya yang bagaimana, kalaupun Fania bilang tidak juga Fersa pasti akan memaksa Fania untuk bilang iya.
Fania mengangguk pelan dengan indra penglihatannya yang dia fokuskan pada Bayu dan Anton.
Tidak hanya Fania yang terluka, Bayu pun sama, dia tidak ingin perjodohannya itu dilanjutkan, namun seperti halnya Fania, Bayu tidak ada hak untuk menolak keinginan Papanya. Kali ini, Bayu hanya bisa pasrah dan menerima apa adanya, apa iya dia seperti itu ? Mungkin tidak.
Bayu tidaklah Bayu yang akan menjadi sosok yang baik-baik saja ketika melakukan hal atas dasar paksaan. Bayu tidak membenci Papanya dan tidak akan pernah juga membenci Papanya, yang dia benci adalah Fania, mengapa begitu ? Bukankah Bayu dan Fania sama-sama menjadi korban ? Bayu berfikir, kalau Papanya tidak mengenal Ayahnya Fania dan tidak kenal juga dengan sosok yang bernama Fania itu, mungkin dia tidak akan dijodohkan. Begitu egoisnya Bayu.
***
Kyna masuk ke kamar Fania setelah mengetok beberapa kali pintunya dan tak ada sahutan oleh Fania.
Terlihat Fania yang termenung duduk di atas kursi belajarnya. Pikiran Fania untuk sekarang ini memang benar-benar kacau.
Kyna berjalan mendekat ke Fania, dan dia mulai menasihati Fania, Kyna telah merasakan perjodohan dan Kyna berkata pada Fania kalau perjodohan tidak lah seburuk yang Fania bayangkan.
Hanya Kyna sosok yang paling mengerti tentang perasaan Fania, Kyna sendiri juga sudah seperti Ibu Fania, meski umurnya Kyna hanya selisih 4 tahun dengan Fania.
Sifat kekanak-kanakannya Fania tidak terus melekat di dirinya, terkadang dia bersifat dewasa dan terkadang juga dia bersifat sangat manja apa lagi saat bersama Kyna.
Fania tidak menjawab sama sekali nasihatnya Kyna, dan nasihat itu tak berhasil menyadarkan Fania dari lamunan buruknya.
Mungkin akan percuma saja Kyna berbicara dan menasihati adeknya panjang lebar, semua ucapan demi ucapannya hanya masuk ke telinga kanannya Fania dan langsung keluar dari telinga kirinya Fania, tidak sama sekali Fania masukkan ke dalam pikiran juga hatinya.
"Lihat kakak, kakak bahagia menikah dengan Mas Danu, kakak bahagia menikah dengan seorang laki-laki pilihan Ayah, kakak bahagia," ucap Kyna memegang pundak Fania dari belakang.
Untuk ucapan Kyna yang baru saja Fania dengar ini, ternyata beda dari ucapan Kyna yang sebelumnya, yang hanya di dengar tanpa di pahami sedikitpun oleh Fania.
Dalam hati, Fania berdo'a dan berharap, semoga Bayu, orang pilihan Fersa untuk dirinya bisa seperti Mas Danu suami Kyna yang mencintai Kyna dengan tulus.
"Jangan terlalu memikirkan yang macam-macam, tidak perlu takut, karena semua kemudahan akan terhalang hanya karena ketakutan."
Kyna yang tahu hatinya Fania sudah mulai luluh dengan ucapannya, dia tak mau menyia-nyiakan keadaan, Kyna terus-terusan menasihati Fania.
Setelah kesekian nasihat dan kata mutiara yang Kyna ucapkan, sekarang pandangan Kyna begitu fokus menatap jari tulunjuk tangan kanan Fania yang mengelus kuku jari tulunjuk tangan kirinya.
Untuk beberapa menit Kyna tak lagi mengeluarkan suara dan Fania memilih memutar badannya agar bisa melihat wajah Kyna.
Fania menatap hangat wajah Kyna, dia berkata pada Kyna kalau dia ingin di kamar sendiri dan secara tidak langsung itu mengusir Kyna.
Kyna mengusap lembut rambut hitam Fania, dan berpesan pada Fania untuk memasang alarm salat tahajud, kemudian dia bergegas pergi dari kamarnya Fania.
***
Disepertiga malam, Fania terbangun, alarm nya berbunyi, langsung dia pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Dinginnya air seketika membuat kedua indra penglihatan Fania terbuka sempurna, tidak berlama-lama di dalam kamar mandi, Fania kemudian kembali ke kamarnya.
Fania mengambil mukena di lemari dan memakainya, kemudian dia salat istikhoroh, salat untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT. dan dia berharap tidak akan ragu lagi untuk memenuhi keinginan Ayahnya yang sangat sulit.
"Ya Allah jika dia memang jodoh hamba, tumbuhkan rasa cinta dalam hati hamba dan dalam hatinya ya Allah," do'a terakhir Fania.
Fania melipat mukenanya dan melirik jam, ternyata masih jam dua namun, Fania tidak ada niatan untuk kembali tidur, Fania memilih untuk membaca al-Qur'an sampai adzan subuh terdengar.
***
Suasana di meja makan keluarganya Fania terasa tentram, tidak ada yang mengeluarkan suara, termasuk Tio yang biasanya ribut mau ambil lauk juga untuk pagi ini tak seperti itu.
Fania segera menghabiskan makanannya, dia sama sekali tak mau berlama-lama di meja makan yang begitu hambar.
Mengambil tas di kamar lalu mendekat ke tempat duduknya Fersa setelah Fania selesai menaruh piring kotornya di dapur.
Fania mencium punggung tangan kanan Fersa dengan tersenyum manis seperti biasanya.
Fersa tak lupa berpesan pada Fania untuk berhati-hati. Fania mengangguk dan dia masih mempertahankan senyumannya pada Ayahnya.