Tidak Butuh Segalanya

1330 Kata
Dua puluh menit mengendarai mobil, akhirnya Fania sampai di kampusnya, Fakultas kedokteran universitas Diponegoro atau biasa di singkat FK Undip, di sinilah Fania akan mewujudkan salah satu impiannya Fersa. Menjadi dokter sebenarnya memang bukan cita-cita Fania namun, tahu sendiri, Fania bukan anak pembangkang. Seseorang menyapa Fania dari kejauhan. Dia Dara, teman dekat Fania. Dara Selfi Andini nama lengkapnya. Dara wanita yang ceria, dia juga menjadi wanita incaran di kampusnya setelah Fania, dengan kecantikannya yang bercampur Arab menjadikannya selalu dilirik oleh para laki-laki yang suka memandang fisik. Dara bukan wanita yang mudah dengan rayuan dan omong kosong, Dara bahkan susah sekali untuk jatuh cinta pada seseorang, sekali dia jatuh cinta, dia jatuh cinta kepada seseorang yang mustahil untuk dimilikinya, siapa dia ? untuk saat ini mungkin hanya Dara dan tuhan yang mengetahuinya. *** Dara dan Fania berjalan berdampingan munuju ke taman yang ada di kampusnya. Seperti biasanya, waktu istirahat, Fania biasa isi dengan sesi curhatan hati dengan Dara, serasa seperti saudara sendiri, Dara teman yang selalu ada untuk Fania, dia orang yang bisa Fania andalkan dalam menjaga semua rahasia-rahasia dalam hidupnya. Selama tiga tahun lebih Fania dan Dara menjadi sahabat, entah apa persahabatannya akan selalu baik-baik saja. Sebelum Fania memulai ceritanya, Dara meminta tolong pada Fania untuk di temani ke toko buku saat pulang nanti, dan Fania tak berat untuk menganggukkan kepalanya. Belum selesai Fania bercerita ke Dara, Dara menyenggol tangan kanan Fania dengan tangan kirinya. Dara menunjuk ke sosok laki-laki yang berjalan menuju tempat dirinya dan Fania. Fania menyipitkan indra penglihatannya untuk bisa nebak siapa sosok yang ditunjuk oleh Dara. "Rafa," ucap Dara ketika sosok laki-laki itu ada di depannya. Fania mengkerutkan dahi menatap Rafa dan kemudian beralih menatap Dara, dia menahan tangan kanan Dara, dia tahu kalau Dara hendak pergi darinya. "Mau apa ?" tanya Fania pada Rafa. "Mau tanya," jawab Rafa cepat. Fania terdiam, menunggu Rafa mengeluarkan kalimat lagi. Rafa sendiri bingung bagaimana dia mau mulai pembicaraannya pada Fania, padahal dia sudah bilang pada Fania mau bertanya, dan dia tinggal bertanya saja seharusnya, tapi Rafa sebenarnya takut kalau Fania akan terluka walaupun itu pasti. Rafa memberi selamat pada Fania dengan suara yang terdengar begitu lemas. "Untuk ?" Berpura-pura tidak tahu mungkin lebih baik menurut Fania. Pikirannya Fania kacau, seharusnya dia mendapat hiburan bukan malah mendapat beban. Rafa dan Fania tak memiliki hubungan lebih dari teman namun, harapan demi harapan Rafa sering ucapkan pada Fania. Mulai dari saling percaya dan akhirnya timbul rasa cinta antara mereka. Rafa menunduk, dia meminta maaf pada Fania dan mengucapkan alasannya yang tak mau melanjutkan ke hubungan yang mereka nantikan. Rafa sadar, dia belum punya segalanya untuk bisa membuat Fania bahagia. "Aku gak butuh segalanya Raf," kedua mata Fania mulai berkaca-kaca. "Bahkan restu dari Ayah kamu aku gak punya Fan," Rafa tersadar akan Fersa yang membencinya. "Kamu bisa punya kalau kamu berusaha mendapatkannya," Fania mulai meneteskan air matanya. Dara hanya bisa menyaksikan Fania dan Rafa yang saling membantah tanpa bisa dia ikut campur. Tidak ada suara untuk beberapa menit, Fania juga Rafa berusaha menetralkan perasaannya agar tak bersikap egois nantinya. Fania dan Rafa saling menjaga perasaan sudah hampir dua tahun. Tidak ada rasa kecewa yang Rafa ataupun Fania ciptakan. Dan sekarang sekali kecewa, mereka kecewa tingkat tinggi. Antara Fania yang tidak bisa menolak keinginan Ayahnya dan Rafa yang tidak memberontak saat dia tahu kalau Fania menerima perjodohannya, mereka sudah bisa dipastikan tak akan pernah bersama. Rafa mengeluarkan pertanyaan yang begitu menyakitkan bagi Fania. "Besok aku pergi ke Surabaya sampai bulan Oktober," alasan Rafa yang ingin tahu kapan Fania menikah. Tahu Fania yang tak berminat menjawab pertanyaannya, Rafa mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia mengambil sesuatu dari tasnya. Rafa menyodorkan kotak berlapis kertas emas ke Fania. Entah apa yang ada dipikirannya Fania sampai dia mudah menerima kotak itu. Rafa tahu sekarang ini Fania penasaran dengan isi kotak yang diberikannya namun, dia ingin menambah rasa penasarannya Fania lagi dengan menyuruhnya membuka kotak itu di rumah. *** Jam tangan Fania menunjukkan pukul 15.30, Fania dan Dara memilih untuk Salat Asar terlebih dahulu di masjid terdekat dari toko buku, sebelum mereka masuk ke toko. Selesai Salat Asar, mereka bergegas ke tempat tujuan. Fania yang belum mengetahui alasan Dara mengajaknya ke toko buku itu untuk membeli buku apa, dia masuk ke toko dan menuju ke rak buku biografi para pahlawan Fania mengambil salah satu bukunya dan membaca judulnya. Dara yang tak ada tujuan mau membeli buku biografi pun berkata pada Fania kalau dia mau membeli buku novel. Sampai beberapa menit di dalam toko dan berputar-putar mengelilingi rak yang ada di toko, akhirnya Dara menemukan buku yang dia incar. Dengan cepat Dara mengambil bukunya kemudian berjalan menuju ke kasir. Dara melirik ke Fania, Dara tahu kalau Fania tak punya hobi sama sekali untuk menghabiskan waktunya dengan membaca novel. Fania hanya diam melihat Dara membayar buku yang dicarinya tadi. Dalam diamnya, Fania sedikit teringat akan satu buku yang dia sangat inginkan. "Ohh iya, kamu tunggu di sini dulu, jangan kemana-mana, aku mau cari buku sebentar," Fania teringat akan sesuatu. Fania berjalan cepat dan jaraknya mulai jauh dari Dara. Pandangan Fania terus dia fokuskan ke buku-buku, sesekali Fania menarik salah satu buku yang ada di setiap raknya tapi Fania belum juga menemukan buku yang dia inginkan. Waktu terus berjalan,dan Fania masih sibuk mencari buku. Pencariannya Fania akhirnya membuahkan hasil juga, dia melihat buku bersampul biru yang dicari-carinya dari tadi. Pada waktu yang sama, ada tangan yang memengambil bukunya, Fania terkejut, hampir saja tangannya bersentuhan dengan orang itu. Fania berbalik badan untuk melihat orang yang telah mengambil buku incarannya, tanpa menatap orangnya, Fania langsung merebut buku yang dipegang oleh laki-laki itu. "Fania ?" tanya seseorang itu dengan nada sedikit membentak. "Bayu ?" Fania dan Bayu saling menatap. "Maaf," Fania menundukkan kepala, merasa bahwa dia telah bersalah. Bayu tidak menjawab Fania, dia langsung pergi meninggal Fania. Fania melamun sebentar dan menatap buku yang sengaja dia pegang dengan kedua tangannya dan dia taruh tepat di depan wajahnya. "Mencintaimu aku menabur luka," Fania membaca judul bukunya. Benar saja, buku yang dicari Fania itu novel tentang percintaan bukan biografi pahlawan, jadi judul bukunya pun mengandung unsur hati dan perasaan. *** Tidak hanya judul bukunya yang Fania baca namun, dia juga mulai membaca halaman yang pertama. Belum menyelesaikan satu halaman, Fania teringat akan Dara, dia langsung bergegas kembali ke tempat di mana tadi dia meminta Dara untuk menunggunya. Fania bersyukur sekali ternyata Dari masih setia menunggunya. Terlihat Dara cemberut di samping tempat kasir. "Maaf," dengan jantung yang berdetak sedikit cepat Fania menghampiri Dara. Dara menghembuskan nafas kasar setelah mendengar ucapan maaf dari Fania. Tanpa menunggu Dara mengucapkan sesuatu, Fania melangkah menuju ke kasir. "Berapa ?" tanya Fania. "Tujuh puluh enam ribu kak," jawab penjaga kasir sangat sopan. Fania mengambil dompet yang ada di tasnya. Dia buka dompet itu lalu mengambil uang seratus ribu satu lembar dan menyodorkannya ke petugas kasir. Fania mengucapkan kata terimakasih mendahului penjaga kasir setelah dia menerima uang kembaliannya. Fania melirik Dara yang masih memasang ekspresi kesalnya. Tak mau ribut di dalam toko buku, Dara menarik tangan Fania untuk mengikuti langkah kakinya keluar dari toko. Fania menjelaskan pada Dara akan kelemotannya tadi saat mencari buku yang ingin dibelinya. "Kalau gak lupa juga gak akan lama," ucap Dara tak panjang lebar namun, berhasil membuat Fania semakin merasa bersalah padanya. "Namanya juga manusia," jawab Fania sebisanya menghilangkan rasa marahnya Dara. "Namanya juga Fania, kalau tepat waktu itu namanya Dara," Dara masih mengomel. Sampai di pinggir jalan, Dara mesan taxi online dan menunggunya dengan Fania. Merasakan lelah juga Dara memarahi Fania. Dia sudah mulai melupakan kesalahannya Fania dan malah menawarkan Fania untuk makan dulu sebelum pulang. Fania yang memang dalam keadaan lapar setuju-setuju saja dengan penawarannya Dara. Tak lalai, Dara dan Fania yang tahu akan rasa kekhawatiran orang tua, sebelum mereka benar-benar pergi ke salah satu restoran, mereka menghubungi orang tua mereka dahulu dan meminta izin juga berkata kalau mereka akan pulang malam. Tidak masalah kalau Fania perginya bersama Dara begitu pun sebaliknya, Fania dan Dara mudah sekali mendapat izin dari orang tuanya karena sudah bisa saling dipercaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN