Meninggalkan

1032 Kata
Fania dan Dara sampai di restoran Gfrayvz entah bagaimana bacanya, itu restoran favorit mereka, ada menu yang menjadi andalan mereka. Setelah memesan makanan, tidak menunggu lama, makanan tersajikan di atas meja yang Dara dan Fania tempati, akhirnya tanpa memperdulikan keramaian di kanan kirinya mereka, mereka menikmati makanan itu dengan lahap. Fania membuka pembicaraan dengan Dara dan dia mulai bertanya tentang kegiatannya Dara untuk besok. Dara bukan anak tunggal dan dia anak pertama, berbeda dengan Fania anak tengah. Tugas rumahnya Dara dengan Fania mungkin lebih banyak Dara, apa lagi Mamanya Dara sering pergi ke luar kota sampai beberapa hari, dan pasti Dara lah yang harus ngurus rumah sekaligus ngurus adeknya juga. Waktu manjanya Dara terkuras habis untuk menyelesaikan tugas sebagai anak perempuan pertama, sama seperti Kyna mungkin yang Fania sendiri tak tahu bagaimana sibuknya Kyna waktu dia tak di rumah. Fania menghentikan makannya, dia memegang perutnya dengan kedua tangan. Dirasa mulai hilang gejolak di perutnya, Fania langsung melanjutkan bakatnya dalam menghabiskan makanan. Fania melirik-lirik novel yang dibeli oleh Dara tadi, sengaja Dara tak memasukkan novelnya ke dalam tas dan memilih menaruhnya di samping piring makannya. Mulai penasaran Fania bertanya mengenai novel yang habis di usap halus oleh tangan kanan Dara. Fania tak mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya karena Dara sendiri juga belum tahu isi dan cerita novel itu walau hal singkat mengenai novel itu Dara sedikit tahu, tapi dia asli tak mau memberi tahu pada Fania. Dipikirannya Dara, kalau mau tahu ya harus mau membaca, sudah cukuplah Fania tahu isi cerita beberapa novel remaja karena mendengar cerita darinya dan sekarang dia sudah tak mau lagi menceritakan Fania tentang cerita yang habis dibacanya. Fania yang mulai merasakan kecanggungan dengan sahabatnya sendiri, dia mengalihkan pembicaraan yang mula-mula hanya seputar novel, sekarang menjadi seputar perjodohan. Kalau Fania satu hari atau dua hari tinggal di rumahnya Dara mungkin dia bisa sedikit menenangkan dirinya. Dara juga tak akan menolak keinginannya Fania yang mau tinggal dengannya, Dara itu orang yang tak tega. Langsung ke inti, setelah Fania menceritakan permasalahannya, dia bilang ke Dara kalau dia mau tidur di rumahnya. Tidak bisa langsung mengiyakan, Fania menunggu jawabannya Dara dengan penuh rasa ingin. "Hmm," Dara berfikir. "Why ?" tanya Fania. Sekarang bulan Agustus dan Dara teringat kalau besok tanggal dua puluh, seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan dan tanggal itu, di keluarga besarnya Dara mengadakan acara kumpul. Untuk tahun ini Dara bilang ke Fania kalau acara kumpulnya di rumah Om Ikhsannya dan mungkin dia tidak ikut. "Bagus dong, aku bisa nemani kamu di rumah. Ohh iya orang tua kamu ke rumahnya Om Ikhsan berapa hari ? Sampai kapan ? Yang jelas lebih dari satu hari kan ? Itu acaranya hanya kumpul biasa ? Atau juga berpesta ? Atau syukuran ? Atau gimana ?" pertanyaan kereta Fania berikan pada Dara. "Dua hari," jawab Dara yang sama sekali tidak sebanding dengan pertanyan panjang kali lebarnya Fania. "Jadi...?" Fania meminta kesimpulan. Dengan sedikit malasnya karena Fania banyak bertanya, Dara mengatasinya dengan menganggukkan kepala. Tersenyum, itulah yang Fania lakukan saat keinginannya pada Dara teriyakan. Dara yang melihat Fania tersenyum manis juga ikut tersenyum, mengandung magnet mungkin senyuman yang Fania perlihatkan. "Eh aku mau ke itu.... sebentar," merasa perutnya kembali sakit, Fania meminta izin pada Dara untuk ke toilet. *** Sampai di tengah perjalan menuju kembali ke meja makannya, tiba-tiba badan Fania menabrak seseorang yang ada di depannya. Fania tidak melihat ada seseorang yang berjalan di depannya secara tiba-tiba karena, Fania berjalan sambil menundukkan wajah seperti mencari sesuatu di dalam tasnya. Belum sempat Fania mendongakkan kepala untuk melihat orang yang di tabraknya dia terlebih meminta maaf dengan cepat. Belum juga kata maafnya Fania terucap kengkap sempurna, orang yang Fania tabrak itu menyentak. "Kalau jalan lihat kedepan," orang itu melotot. Dengan keberanian untuk mengetahui siapa yang telah ditabraknya, Fania tak memilih menunduk dan dia mengangkat wajahnya menatap cemas orang yang tepat berada di depannya. "Kamu lagi," Bayu membentak Fania, ya sosok yang ditabrak Fania adalah Bayu. Fania yang tak tahan akan tatapan tajamnya Bayu, dia menundukkan kepalanya cepat. "Maaf," ucap Fania pelan. "Ikut aku," Bayu memerintah dan tak mau sama sekali menerima penolakan. Bayu membalikkan badannya dan berjalan keluar dari restoran. Fania yang bingung mau bagaimana, dia memilih mengekori Bayu. Fania tahu dia salah jadi memang sudah seharuanya dia menuruti perintahnya Bayu, dia juga belum mendapatkan maaf dari Bayu, dan dia harus mendapatkan maafnya agar tak selalu dipandang salah oleh Bayu. Tak tahu berapa langkah lagi sampai di mobilnya Bayu, Fania menghentikan langkahnya, dia berhenti mengikuti langkah Bayu yang semakin cepat. Bayu yang tahu kalau Fania menghentikan langkahnya itu pun dia cepat ikut menghentikan langkahnya dan membalikkan badan untuk menatap Fania. Bertanya mengapa Fania berhenti, Bayu bukannya mendapat jawaban namun, malah mendapat pertanyaan. Fania bertanya dia akan ikut kemana dengan Bayu, dan Fania jadi teringat akan Dara yang mungkin masih menikmati makanannya. "Pulang," jawab Bayu tak banyak kata untuk menjawab pertanyaannya Fania. Jawabannya Bayu sama sekali membingungkan Fania, Fania berfikir kalau Bayu itu marah tapi kenapa Bayu ingin mengantarnya pulang. Fania belagak menjadi orang yang tak mau nurut, dia mencari alasan untuk tidak jadi diajak Bayu pergi. Dara, iya, Dara dijadikan alasan Fania untuk menolak ajakan Bayu kali ini. Kalau saja Dara tahu, siap-siap saja Fania di caci maki oleh Dara, tak ada ampun. "Tap__," ucapan Fania terpotong. "Mau nolak ?" tanya Bayu cepat. Bayu berhasil membuat Fania tidak bisa berkata-kata. Sudahlah, Fania nyerah dan akan ikut dengan Bayu. Setelah melakukan perintah Bayu, Fania kemudian mengangkat kepalanya, Bayu yang tadi terus mengamati Fania tahu Fania menatapnya, dia langsung memalingkan wajahnya dan bergegas melangkah menuju mobilnya. *** Di mobil Rafa, Fania mendudukkan badannya dengan mencari posisi yang sangat nyaman baginya. Rafa terus memperhatikan Fania yang sibuk memakai sabuk pengaman. Fania sedikit kesulitan karena ada rasa gugup yang menempel di dirinya, belum lagi dengan Rafa yang memasang tatapan tajam, itu benar-benar membuat hati dan pikirannya gak karuan. Lima menit waktu cukup lama yang dibutuhkan Fania untuk memakai sabuk pengaman dengan benar. Rafa mulai menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang. "Loh kok lewat jalan sini, kamu gak lupa alamat rumahku kan ?," Fania melirik ke kiri jalan, jelas itu bukan jalan menuju rumahnya. "Mampir," jawab Bayu. "Mampir ?" tanya Fania tak faham. Jelas Fania tak faham, jawaban Bayu memang membingungkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN