Bayu dan Fania sampai di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah Bayu, Bayu melirik Fania yang seakan bingung dengan apa yang ada di pandangannya sekarang.
Bayu membuka pintu mobilnya tanpa mengeluarkan satu perintah apa pun pada Fania, Fania melihat keberadaan Bayu yang ada di depan mobil, Fania kemudian membuka pintu mobil dan keluar.
Fania mengejar Bayu yang jaraknya sudah sedikit jauh dari dirinya, Fania terus menerus memanggil Bayu dan meminta Bayu untuk menunggunya, tapi Bayu sama sekali tak menanggapi dan buruknya lagi Bayu juga enggan membalikkan badannya—karena Bayu tahu kalau Fania pasti mengikutinya.
Seakan sudah mengenal semua yang ada di dalam restoran seseorang yang melihat ke arah Bayu pasti menundukkan kepalanya.
Banyak juga yang tersenyum manis pada Bayu namun, terlihat kalau Bayu sama sekali tak meresponsnya dengan baik.
Bayu berjalan ke arah kiri, di tempat itu terbilang cukup sepi kalau dibandingkan di bagian yang kanan.
Bayu memanggil salah satu pelayan restoran, dia memesan makanan.
Fania yang belum duduk di kursi yang ada di depan Bayu hanya menatap ke pelayan restoran dan Bayu bergantian dengan tatapan seperti orang yang ter bingungkan.
“Duduk!” Perintah Bayu.
Fania mengangguk cepat kemudian dia duduk di kursi yang ditatap datar oleh Bayu.
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan makanan yang tadi dipesan oleh Bayu
Fania menatap makanan yang sekarang tersajikan rapi di atas meja di hadapannya. Fania sepertinya enggan memakan itu.
Be kebalikan dengan Fania yang sama sekali tak ada keinginan mencoba makanan yang telah dipesan oleh Bayu, Bayu begitu cekatan memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Sudah hampir menghabiskan makanannya, Bayu baru sadar kalau Fania dari tadi hanya memperhatikannya tanpa menyentuh makanannya sendiri.
“Kenapa kamu nggak makan?” tanya Bayu yang penasaran.
Pertanyaan yang dari tadi sudah ditunggu-tunggu oleh Fania akhirnya keluar.
“Aku nggak bisa makan daging,” jawab Fania cepat.
“Nggak bisa atau nggak suka?” tanya Bayu ingin membenarkan jawaban Fania.
“Nggak bisa,” jawab Fania tanpa menutup-nutupi sesuatu pada Bayu.
“Alasannya?” tanya Bayu yang telah salah sangka, ternyata Fania tak bisa memakan daging bukan tak suka makan daging.
Fania menunduk, pertanyaannya Bayu berhasil membuatnya teringat akan masa lalu.
Bayu yang tak ada keinginan untuk memaksa Fania menjawab pertanyaan, dia tak mengulangi pertanyaan itu, meski Bayu sebenarnya penasaran dan ingin tahu jawabannya
Bayu kembali memanggil salah satu pelayan yang ada di restoran kemudian menyuruh Fania untuk memesan makanan, tapi Fania rasa dia tak sedang lapar jadi Fania hanya memesan minuman.
“Kamu apa nggak bisa menolak perjodohan kita?” tanya Bayu pada Fania untuk menghilangkan keheningan.
Fania menggeleng, dia menunduk dan tak berani menatap Bayu.
“Kenapa?” tanya Bayu begitu serius.
“Kamu sendiri kenapa melamarku, kalau kamu nggak melamarku aku juga nggak akan nerima lamaranmu,” ucap Fania yang tak sadar telah menaikkan satu oktaf nada bicaranya.
Bayu mengangguk, dia membenarkan ucapannya Fania, tapi yang dia inginkan bukan Fania memarahinya tapi mengetahui jawaban yang pasti mengapa Fania menerima lamarannya.
“Aku nggak bisa menolak permintaan ayahku,” kata Bayu.
“Kamu pikir aku bisa menolak permintaan ayahku,” gerutu Fania.
Bayu terdiam, dia tak menyangka kalau Fania yang terlihat lemah lembut ternyata kalau marah menakutkan.
“Kalau kamu ke sini hanya ingin berdebat mengenai hal yang secara tidak langsung sudah kamu setujui sendiri, lebih baik aku pulang,” ucap Fania yang masih tak bisa mengendalikan emosinya.
Fania berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari restoran, Fania sama sekali tak memedulikan sepasang sepasang mata yang menatapnya heran karena berani membentak Bayu. Tanpa Fania tahu, Bayu itu pemilik restoran yang sekarang dia punggungi.
Fania menghentikan sebuah taxi yang melaju ke arahnya, saat dia mau membuka pintu taxi, Bayu mencegahnya, Bayu menarik tangan kanannya untuk menjauh dari taxi dan menuju ke mobilnya, Fania tak bisa melepaskan tangannya dari genggaman tangan besar Bayu, dan itu membuat dia hanya bisa pasrah mengikuti arah pergerakan Bayu.
Bayu menghentikan langkahnya tepat di samping mobilnya, Fania langsung menghempaskan tangannya.
“Kita belum ada ikatan yang memperbolehkan kita untuk bersentuhan kulit,” bentak Fania.
Lagi-lagi bentakan Fania bisa membuat Bayu kicep. Asli Bayu tak ada niat sama sekali untuk membuat Fania marah.
“Maaf,” ucap Bayu menatap Fania yang mengusap air matanya.
Sekarang posisi Bayu dan Fania berada di dalam mobil, Fania tak mau memperpanjang masalahnya pada Bayu, dia meminta pada Bayu untuk segera mengantarnya pulang.
Mobil bayu melaju dengan kecepatan yang sedang, Itu membuat Fania sedikit bisa menenangkan dirinya.
Hp Bayu berbunyi, seperti biasa, Bayu memilih menghentikan mobilnya dan mengangkat telepon dari seseorang yang sepertinya begitu penting di hidupnya Bayu.
Fania memalingkan wajahnya dari Bayu, dia tak mau juga dibilang orang yang kepo dengan privasinya Bayu.
Alih-alih Fania tak mau tahu dan tak mau mendengarkan pembicaraannya Bayu pada seseorang di telepon, Fania malah mempertajam pendengarannya. Dengan wajah yang tak menghadap ke Bayu, Fania cukup tahu jawaban Bayu pada seseorang yang meneleponnya, Bayu mengucapkan kata. “Iya,” entah beberapa kali.
“Fan,” panggil Bayu pada seseorang yang tak menatap dirinya
Sontak Fania berpura-pura kaget untuk membuat Bayu biasa saja.
“Apa?” tanya Fania sangat berhati-hati, dia sedikit mengira kalau Bayu mencurigainya telah menguping.
“Aku ada keperluan yang nggak bisa aku tinggalin,” ucap Bayu.
“Lalu?” tanya Fania dengan mengangkat satu alisnya.
“Kamu bisa pulang sendiri? Aku nggak bisa antar kamu pulang,” jawab Bayu.
Fania dengan perasaan yang was-was terpaksa mengangguk, dia sadar kalau dia sendiri belum ada hak untuk memaksa Bayu.
Fania keluar dari mobilnya Bayu dengan meninggalkan senyum miring pada Bayu.
Fania melirik jam cantik yang melingkar di pergelangan tangannya. Fania bisa tahu kalau sekarang sudah larut malam. Dia tak begitu yakin ada kendaraan yang bisa mengantarnya ke rumah dengan selamat.
Fania mengambil HP-nya di dalam tas, tapi HP itu ternyata mati, Fania tahu kalau tadi memang baterai HP-nya sudah sedikit. Sudah tak ada harapan kalau dia bisa meminta Kyna untuk menjemputnya.
Jalan yang sepi dan gelap Fania telusuri dengan tak henti-hentinya memanjatkan doa.
Fania menyipitkan kedua matanya menatap ke arah depan yang menampakkan cahaya sebuah mobil.
“Fania,” ucap Rafa pelan dari dalam mobil.
Mobil Rafa melaju cepat dan terlalu sulit untuk mengambil rem mendadak karena itu akan membahayakan dirinya.
Harapan Fania pudar, mobil yang melewatinya tak berhenti. Dia membalikkan badannya dan melihat mobil itu semakin menjauh darinya.
Fania kembali berjalan, sepertinya memang dia sudah ditakdirkan untuk berjalan kaki menuju ke rumahnya, dan mungkin ini hukuman untuknya yang telah meninggalkan Dara dan dia harus menerima ditinggalkan oleh Bayu.
Bayu, sepertinya dia bukan orang yang tak memanusiakan manusia, mobilnya melintas dari belalang tubuh Fania dan berhenti tepat di samping Fania.
Fania menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mobil yang dia ketahui bukan salah lagi, itu memang mobil Bayu.
Bayu keluar dari mobil dan berjalan ke arah Fania yang berdiri mematung.
“Ayo pulang,” ucap Bayu.
Fania mengerjap, entah apa uang ada di pikirannya sampai-sampai dia tak bisa menghentikan keinginannya untuk menatap Bayu dan memuji ketampanannya dalam hati.