Niat Rafa yang ingin menolong Fania harus dia ciutkan, dia mengatur kelambatan mobilnya agar tak semakin mendekat ke arah mobil Bayu.
Baru kali ini Rafa kecewa dengan keputusannya sendiri mengenai kelanjutan hubungannya dengan Fania. Benar, memang Fania yang meninggalkan Rafa dan memilih menerima lamarannya orang lain, sebelum itu Rafa pernah mewanti-wanti Fania agar tak terlalu berharap pada dirinya, jadi tak pantas saja kalau Rafa menyalahkan Fania apa lagi punya pikiran buruk mengenai Fania, yang jelas semua berawal dari dirinya sendiri dan salah dirinya sendiri juga, tidak ada yang pantas untuk disalahkan kalau sudah seperti ini, ujung dari suatu keputusan yang berat sebelah memang penyesalan yang sangat menyakitkan.
Rafa menatap ke arah depan, dia bisa menyimpulkan betapa bersyukurnya Fania yang telah pamit darinya dan beralih ke lain hati. Rafa tak tahu saja kalau tadi Bayu habis meninggalkan Fania dan bukan Bayu itu sebagai peran penolong Fania, itu salah! Harusnya Rafa mang yang menjadi si penolong Fania, semuanya kalau saja.
Bayu membukakan pintu untuk Fania dan Fania masuk kedalamannya. Lagi-lagi kalau saja, Fania sama sekali tak menghadap atau sekedar melirik ke arah belakang.
Bayu sama saja, dia tak memedulikan arah lain selain arah menuju ke mobilnya, dia langsung menyusul Fania yang sudah duduk anteng di dalam mobilnya.
"Kita langsung pulang kan?" tanya Fania yang ada sedikit keyakinan kalau Bayu punya niatan lain.
"Kamu nggak ingin langsung pulang?" Bayu balik bertanya.
Fania menggeleng cepat.
"Nggak, aku mau pulang, mau cepat pulang," jawab Fania dengan suara lucunya.
Bayu tersenyum miring, dipikirkannya Fania memang absurd dan punya sifat yang bisa berubah-rubah.
Dinginnya angin malam yang jarang Fania rasakan kini harus dia terima menimpa di tubuhnya. Bukan masalah Fania yang suka pakai baju hangat saat keluar, tapi kalau jam sekarang ini biasanya Fania sudah terlelap dan pergi ke alam mimpi. Fania jarang keluar rumah, masalah baju yang tebal atau keluar rumah saat malam hari bahkan larut malam sama sekali tak ada dalam sejarah hidupnya Fania dalam dua puluh tahun lebih sedikit ini.
Rasa dingin semakin dingin, tak akan juga berubah hangat. Fania menyilangkan kedua tangannya, bersedekap di depan d**a. Selain dilanda kedinginan, Fania juga dilanda rasa kantuk, kedua matanya sudah tak biasa dia ajak untuk kompromi, sedikit-sedikit menutup dan membuka, kalau dia ingat di sampingnya ada Bayu rasanya Fania malu dan dia berusaha dengan sisa kekuatannya yang melemah untuk tetap bisa membuka kedua matanya.
"Kalau mau tidur, tidur saja, nggak ada yang maksa kamu tetap__"
"Nggak, siapa yang mau tidur? Siapa yang ngantuk? Siapa yang nggak__"
"Nggak bisa nahan ngantuk? KAMU,"
Fania dan Bayu saling memotong ucapan, dan diakhiri dengan ucapan yang jelas dalam menyebutkan jawaban.
"Kamu jangan macam-macam," ancam Fania dengan mata yang benar-benar sudah tak ada lagi rasanya kuat untuk membuka kedua mata.
Dan waktu mengantarkan Fania untuk merasakan kedamaian hati dan pikiran.
Indra penglihatan Bayu sedikit-sedikit mengarah ke wajah polosnya Fania, sungguh pemandangan yang menggemaskan.
Kali ini berbicara andai, ada keinginan yang tiba-tiba muncul di benak Bayu untuk cepat-cepat menjalin hubungan yang sah, dan diakui negara.
Masalah kekasih bayangan atau seseorang penyemangatnya Bayu mudah sekali dia lupakan hanya karena dia sadar sedikit lagi, satu langkah lagi dan beberapa bulan lagi dia akan dipersatukan dengan seseorang yang tak dia sebit sebagai penyemangat itu.
"Cantik sebenarnya," ucap Bayu sedikit tak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
Sadar atau tidak yang pasti Bayu sudah mengagumi paras Fania dan memuji Fania meski diluar dugaan Fania yang Fania hanya punya pikiran kalau Bayu sulit untuk memuji atau juga menyadari kecantikan dan kelebihan seseorang.
***
Hari ini Bayu sengaja beralasan sama Anton dengan membawa-membawa Fania agar dia diperbolehkan untuk libur kerja. Sangat tak setuju dan menolak dengan keras kalau saja Fania tahu dirinya digunakan untuk suatu alasan yang sama sekali tak ada balik kebaikannya.
Bagi Anton, sekali Bayu bilang pergi sama Fania dan itu benar, seperti kemarin sampai pulang larut malam maka Anton akan mudah mengiyakan dan percaya dengan apa yang Bayu ucapkan, selagi berputar mengenai Fania.
Berbeda dengan Bayu yang harus mengemis perizinan terlebih dahulu sebelum melalukan atau bertindan sesuatu, untuk Fania sangat tak ada kemiripan, tanpa ada keinginan untuk libur dari kuliahnya meski dia sakit, pusing, dan Fersa memaksanya untuk istirahat dan diam di rumah, Fania malah menolaknya, sebelum impus melekat di pergelangan tangannya, dan selagi Fania kuat untuk berjalan dan berdiri, apa pun alasannya, Fania akan mementingkan perihal kuliahnya.
Apa untungnya bagi Fania kalau dia malas-malasan dan dikelilingi begitu banyak alasan untuk tak beraktivitas. Hal itu malah sangat merugikan, waktu akan terbuang dan terlewati tanpa adanya kebaikan yang bertambah.
Gerimis mengiri Bayu menuju ke kampus Fania, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan dua kali lipat kalau dibandingkan dengan dia sewaktu bersama Fania.
Fania sempat membuka HP nya, pesan dari Bayu terbaca, membuat dia tak meminta Kyna untuk menyuruh Pak Reyes untuk menjemputnya.
Fania duduk di halte bus tempat yang selalu diramaikan dengan cerita dan tawa, tempat yang selalu penuh waktu jam istirahat sekolah, dan tempat itu pula tempat yang dijadikan berpasang sahabat untuk mengukir kenangan yang tak bisa dia alami selepas mendapat julukan sarjana.
Menyibukkan diri dengan membaca novel dan berangan-angan membuat Fania tak merasa sudah lama berada di halte, dari mulai banyak orang sampai hanya tersisa beberapa orang saja yang berada di sana.
Hujan tidak datang, hanya gerimis yang menghiasi mobil Bayu, bersih, jelas, tetapi habis kuguyur air gerimis mesti Bayu akan memandikan mobilnya, seakan-akan mobilnya itu tak bisa kena air hujan.
Mobil Bayu berhenti di hadapan Fania, semua orang yang masih berada di halte bus pada menatapnya. Fania menghentikan aktivitasnya mengkhayal bersama tokoh novel, dia mendongakkan kepalanya dan berdiri.
Fania membuka pintu mobilnya Bayu sendiri sebelum Bayu keluar untuk membukakannya. Bayu tersenyum lebar mendapati Fania yang sudah duduk di sampingnya.
“Teman kamu yang kemarin pas di restoran, nggak ikut pulang bareng?” tanya Bayu mengenai Dara.
“Nggak, dia ada tugas tadi, nggak tahu apa, dia pulang akhir,” jawab Fania tanpa menatap orang yang bertanya.
Bayu merespon ucapan Fania dengan memoncongkan bibirnya, dengan makna dia menjawab Ohh meski tak di dengar oleh Fania.
Bayu mulai mengatur kecepatan mobilnya dan melaju cepat namun, tenang. Salah satu alasan Fania mau ikut dengan Bayu atau naik mobil bareng Bayu juga karena Bayu tak pernah ada niat jelek seperti ingin mencelakakan.