Ada Yang Aneh

1107 Kata
Bayu berulang kali menawari makan dulu sama Fania, tetapi Fania tolak, Fania beralasan kalau dia sudah kenyang, karena Fania rajin membawa bekal. Meski Fania sudah dijuluki mahasiswa, dia tetap tidak malu untuk membawa bekal karena baginya hemat itu nggak hanya berlaku untuk anak kecil namun untuk orang dewasa seperti dirinya juga, malah sebenarnya harus. Satu ajakan ditolak tak membuat Bayu berhenti mengajak, entah apa tujuan Bayu sebenarnya, tapi tingkahnya seakan dia ingin di dekat Fania. Fania sendiri punya pikiran kalau Bayu mau apa-apa atau mau memanfaatkan kesempatan dalam kesempatan. Kali ini Bayu mengajak Fania ke mall, Bayu tahu kalau perempuan diajak ke mall pasti nggak akan nolak, termasuk Fania. Iya, Fania mau diajak sama Bayu ke mall. Mobil Bayu terpakirkan di area parkir mall yang begitu luas. Fania turun dari mobil dan menyapu pandangan ke sekitar, mengamati semua orang yang berlalu lalang di sekitarnya. "Tunggu dong," jerit Fania pada Bayu yang tanpa dia tahu ternyata Bayu sudah berjalan menuju ke pintu masuk mall dan meninggalkan dia yang masih sibuk menatap dan melirik orang-orang yang tak jauh darinya. Bayu membalikkan badannya menatap ke Fania yang berjalan cepat menujunya. Lagi-lagi Bayi tak bisa menahan dirinya untuk tak tersenyum, tingkah lucu Fania yang sebenarnya tak lucu bagi Fania begitu menghibur dirinya. "Cepat! Jangan jalan macam siput!" perintah Bayu. Bayu langsung membalikkan badannya dan menatap ke depan maksudnya agar Fania tak melihat dia senyum karena Bayu bagi Fania itu seperti kulkas bernafas dan Bayu tahu itu, terus kalau Fania tahu dia selalu senyum di depannya, bisa-bisa wibawa batu esnya cair. "Siapa yang menyiput." Fania mendorong punggung Bayu yang. Bayu menyeimbangkan tubuhnya, dorongan Fania pelan namun, berasa. "Yang merasa," ucap Bayu. "Aku nggak ngerasa," ujar Fania dengan mata seakan menatang. "Berarti nggak kamu," ucap Bayu dengan tangan yang ingin menarik hidung mancungnya Fania. Bayu tersenyum. "Apa?" "Maaf," ucap Bayu yang lupa kalau di belum jadi apa-apanya Fania. "Maaf nggak ku terima," ucap Fania. "Caranya biar diterima gimana nona?" tanya Bayu dengan nada bicara yang buat Fania muak. "Hmm," Fania berdehem, memikirkan apa yang harus dia perintahkan pada Bayu untuk membuat orang itu malu semalu malunya. Maaf Bayu, kali ini nggak ada kata ampun bagimu. Bayu berjalan ke dalam mall. "Pikir lagi nanti," ucap Bayu. "Tinggal aja terus," sindir Fania yang tak suka dengan kelakuan Bayu yang suka mengabaikan dirinya. Fania memutar bila matanya dari arah kiri ke kana, mencari titik yang pas untuk dia tuju. Bayu memberi kesempatan Fania untuk menentukan mau ke arah mana, jadi dia hanya diam dan menunggu jawabannya Fania. "Ke sana," ucap Fania dengan jari telunjuk tertuju pada arah mainan anak-anak. "Ayo," ajak Fania, kali ini dia yang meninggalkan Bayu. Bayu mengikuti langkah kaki Fania yang terbilang cukup cepat, Fania tidak bisa santai kalau berjalan, tidak seperti perempuan yang sekarang dilihat Bayu, anggun dan begitu manis dipandang. "Kamu ke sana dulu, aku mau beli itu beli, beliiii," ucap Bayu gagap. "Beli apa?" tanya Fania bingung. "Beli itu pokoknya kamu tunggu aku saja di sana, nanti aku ke sana," jawab Bayu dengan tangan kanannya menunjuk-nunjuk ke suatu tempat yang tadi di tunjuk oleh Fania. "Awas kalau kamu ninggalin aku," ancam Fania yang punya firasat nggak enak. "Nggak bakal aku ninggalin kamu, bisa di ceramahi macam mamah Dedeh selama dua puluh empat jam tanpa henti," ucap Bayu panjang lebar. Fania tersenyum geli, Bayu kalau lagi ngelucu ternyata memang lucu, dan lucunya Bayu itu natural tanpa dibuat-buat. Tapi nggak bagusnya menghibur orang bukan hal yang disukai Bayu. "Ya sudah aku ke sana," ucap Fania yang mendatarkan ekspresi wajahnya. "Oke," balas Bayu. Bayu membalikkan badannya dan memunggungi Fania namun, belum juga melangkah ke depan, Fania memanggil dirinya dan membuat dia mau tidak mau harus membalikkan badannya dan menghadap ke Fania lagi. "Apa?" tanya Bayu. "Jangan lama-lama," jawab Fani masih dengan wajah yang datar dan suara yang datar, tujuannya agar Bayu tak ada pikiran kalau Fania tak mau jauh-jauh dari dirinya. "Iya," balas Bayu dengan nada meyakinkan. Fania tersenyum manis dan itu tandanya dia yakin dengan ucapannya Bayu. Bayu ikut teersenyum, ada daya tarik tersendiri bagi Bayu waktu Fania tersenyum. "Senyum-senyum," ucap Fania jahil. "Siapa?" tanya Bayu yang nggak punya maksud untuk bertanya. "Kamu," ucap Fania. "Yang tanya," balas Bayu dengan senyum kemenangan dan habis itu dia membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Fania. Fania masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari menatap punggung Bayu. Setelah tubuh Bayu tak lagi tampak jelas karena berada di antara tubuh-tubuh orang lain, Fania memutar badannya seratus delapan puluh derajat. Fania berjalan ke tujuan awalnya. "Dara," teriak Bayu pada seseorang yang tadi dia puji anggun dalam hati. "Bayu," ucap Dara pelan. "Hai." Bayu tersenyum. "Kamu sama siapa?" tanya Dara melirik ke samping kanan, kiri dan belakang Bayu namun, tak dia lihat ada seseorang yang membuntuti Bayu. "Hm, sama teman," jawab Bayu tak berbohong. "Oh." Dara membulat bibirnya. "Hm," Bayu mendengus. Dara tersenyum, menyadari dirinya yang sudah salah menginterogasi Bayu. Tidak seperti biasanya juga Dara ketemu Bayu di mall, bisanya memang Dara yang ajak Bayu ke mall, kalau selain Dara, Bayu tak akan mau. "Kamu mau beli apa?" tanya Bayu mencari topik pembicaraan. "Ini sudah beli, mau pulang," jawab Dara menunjukkan barang-barang yang telah dia beli dan jelasnya telah dia bayar. "Mau pulang?" tanya Bayu. "Iya, kamu sendiri kan? Bisa antar aku pulang? Maksud aku mau antar aku pulang?" tanya Dara dengan mengeluarkan cara untuk membujuk. Bayu membulatkan kedua matanya, dia langsung teringat akan Fania, apa lagi dia tadi sudah menjawab. "Iya," waktu diperintah nggak pergi lama oleh Fania. "Kenapa? Nggak bisa?" tanya Dara yang memperhatikan wajah Bayu dengan teliti. "Maaf ya," ucap Bayu dengan menunjukkan rasa penyesalannya. "Nggak Pa-Pa, tapi apa alasannya?" balas Dara diakhiri dengan pertanyaan yang membuat Bayu semakin bingung. "Aku belum beli apa-apa," jawab Bayu waswas. "Oh, tapi aku jan bisa nemenin kamu belanja terus kita pulang bareng, memangnya kamu mau beli apa?" tanya Dara. "Penting pokonya, maaf ya, aku nggak bisa antar kamu pulang, aku ke sana dulu," jawab Bayu. Dara sedikit banyak merasakan keanehan pada diri dan sikap Bayu. Yang pertama Bayu tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba pergi ke mall tanpa sepengetahuan dia lagi, terus yang kedua nada bicaranya Bayu nggak enak didengar, mengarah seperti orang yang menutup-nutupi sesuatu. Terus yang terakhir, Bayu memperlihatkan ekspresi wajahnya yang gelisah.  Dara jadi teringat dengan ucap salah satu temannya yang psikologi, katanya kalau ada, seseorang yang ditanya kemudian bola matanya nggak bisa berhenti melirik ke arah kanan dan ke arah kiri berarti orang itu lagi berbohong dan mencari-cari alasan untuk tak terlihat seperti orang yang lagi berbohong. Dara bernafas kasar menatap bagian belakang tubuh Bayu, sudah jelas dari pandangan Dara kalau Bayu sepertinya enggan membalikkan badannya untuk menatap dirinya atau mendekat ke dirinya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN