Lain Lagi

1138 Kata
Jenny mematung dalam posisi yang begitu dekat dengan Emil. Kedua tangan Jenny juga masih dalam genggaman Emil. Tak berangan-angan cukup lama dan ingin langsung ke praktiknya, Emil menarik tangan kanan Jenny dan dengan pasrah Jenny mengikuti gerak tubuhnya. Untuk sekarang Emil berada di samping ranjam, dia membalikkan badannya dan menatap Jenny, dia kemudian memegang pinggul Jenny dan berputar sampai posisinya berkebalikan dengan Jenny. Emil menekan pundak Jenny sampai membuat Jenny terduduk di atas ranjam. Emil menunduk, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jenny dan apa yang akan dilakukan oleh Emil jelas sudah ada di pikirannya Jenny. “Buka mata kamu,” perintah Emil. Emil tak mau saja melakukan sesuatu dengan didasari paksaan, yang Emil inginkan tak hanya dia yang menikmati namun, juga Jenny. "Ini masih siang," lirih Jenny. "Memangnya ada yang berkata ini sudah malam," sanggah Emil. Emil mendekat ke indra pendengarannya Jenny yang sebelah kiri. "Saya tak peduli," ucap Emil yang terdengar sangat jelas. Emil ternyata tahu juga apa maksud dari perkataan Jenny. Tetapi sekedar tahu tanpa peduli itu tak ada gunanya juga. “Suara apa itu?“ tanya Emil. Jenny memegang perutnya seketika kemudian dia menunduk merasa malu pada sosok yang bertanya. “Saya akan belikan makanan untukmu,” ucap Emil yang begitu peka sekali dengan kondisi Jenny—kondisi kelaparan maksudnya. Emil berdiri dan mengusap pelan rambut Jenny sebelum dia berjalan keluar kamar. Ditinggal oleh Emil membuat Jenny sedikit lebih tenang meski dia tahu kalau tak lama lagi Emil pasti kembali namun, setidaknya dia bisa punya waktu untuk membuatnya bisa membuang pikiran buruk mengenai apa yang ingin Emil lakukan dengan dirinya. Kamar mandi selalu saja menjadi tempat favorit Jenny untuk berpikir kritis, Jenny masuk kembali ke dalam kamar mandi. Yang Jenny rasakan berada di dalam kamar mandi itu sebuah kenyamanan, dia selalu merasa tenang meski pikirannya berputar-putar. Jenny mencari di internet mengenai malam pertama-- sangat polos-- Jenny membaca satu persatu artikel yang berisi tentang hal yang dia maksudkan itu. Baru dua artikel, sudah membuat dirinya merasakan sebuah kenikmatan. Pengaruh artikel dia baca ternyata cukup kuat, yang bisa membuat Jenny tak lagi memikirkan hal buruk yang akan terjadi pada dirinya kalau dia melakukannya. Suara langkah kaki mulai terdengar, sebelum Emil mengusik dirinya dari luar kamar mandi, Jenny cepat-cepat membuka pintu kamar mandinya dan keluar. Jenny menyipitkan kedua matanya menatap sosok laki-laki berjaket hitam dan bercelana hitam berdiri di samping pintu, dia menutup pintunya dan berjalan mendekat ke arah Jenny. “Berhenti!” perintah Jenny dengan pikiran menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh pria yang jarak tubuhnya tak jauh dari dirinya. Pria itu bertepuk tangan pelan, dan dia sama sekali tak mendengarkan perintah Jenny. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan pria itu berhasil mengunci pergerakan Jenny, kedua tangannya lurus menempel ke tembok seakan mengurung Jenny dalam sangkar burung. Apa yang dilakukan oleh pria itu? Sungguh Jenny dibuatnya seakan mau mati, dia kehabisan nafas. Pria itu menghentikan aksi tercelanya pada Jenny, sepertinya dia ingin menyiksa Jenny secara perlahan-lahan, dia tak mau juga kalau Jenny langsung sampai di dunia lain tanpa mengalami penderitaan. “Kamu tahu siapa yang punya hotel ini?” tanyanya dengan nada yang mengerikan. Jenny menggeleng, pria itu ternyata bisa membaca pikirannya Jenny, dari langkah awal yang dilakukan oleh pria itu, Jenny sudah bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana dia bisa masuk? “Saya,” ucap pria itu. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Jenny. “Jadi saya bisa dengan mudah mendapatkan kunci kamar ini,” ucapnya. “Berhenti Dev.” Jenny memberontak, dia menundukkan kepalanya dan berhasil keluar dari lingkaran tangan Dev. Dev mendengus kasar, dia langsung mencekal tangan kanan Jenny untuk tetap berada di dekatnya. “Biarkan saya menikmatimu, dan saya akan membiarkanmu hidup bahagia dengannya,” ucap Dev dengan nada yang tak begitu tinggi namun, cukup keras. “Ha ha ha,” Jenny tertawa remehkan. “Kamu mau membiarkan aku hidup bahagia? Nggak mungkin. Semut yang ada di dinding pun tak akan percaya, Dev,” ucap Jenny yang sudah hafal sekali dengan sifat pria yang ada di hadapannya. PLAK Tamparan maut diterima pipi kanan Jenny. “Oh mau main kasar? Kamu sadar? Kamu itu laki-laki,” bentak Jenny dengan rasa marah yang meninggi. PLAK Tamparan yang lebih keras di terima pipi kiri Jenny, Dev sangat tak terima dengan bentakan Jenny, apa lagi Jenny menaikkan satu oktaf nada bicaranya waktu menyebut. “Laki-laki.” “Atau jangan-jangan ... Kamu bukan laki-laki.” Masih dengan mental yang kuat Jenny berusaha mengukir senyum yang semakin membuat Dev merasa terendah kan. “Diam,” tampik Dev. Jenny semakin melebarkan senyumannya, selain hobi bersemadi di dalam kamar mandi, terlihat, Jenny juga hobi membuat orang emosi. Dev mengepalkan kedua tangannya, menahan sebuah tindakan yang akan merugikan dirinya sendiri. “Jenny, pintu kamar kamu kunci?” teriak Emil dari luar kamar. Pahlawan datang, Jenny melototkan kedua matanya, dan menatap ke arah pintu, apesnya, Dev masih mencekal tangannya dan membuat dia tak bisa segera lari menuju ke pintu. “Salam buat suamimu,” ucap Dev. Jenny tak berhenti mengipratkan tangannya agar bisa terlepas dari tangan besarnya Dev, sampai membuat Dev geram, Dev mencengkeram tangannya dengan kuat dan belum juga dia merintih, Dev melepaskan tangan itu. Dev rasa hari untuk menyiksa Jenny tak hanya bisa dia lakukan hari ini, dia memilih membiarkan Jenny yang berlari ke arah pintu. Jenny membalikkan badannya cepat sebelum dia memutar kunci kamarnya. “Ke mana dia?” gumam Jenny. "Ah nggak penting," lanjutnya. "Jenny sayang, buka pintunya," Emil kembali berteriak. Pintu terbuka "Maaf," ucap Jenny. Emil sedikit terkejut, dia memegang dadanya. "Maaf," ucap Jenny lagi, yang kali ini ditambahi dengan tangan yang menelangkup membentuk segitiga di depan dadanya. "Iya," balas Emil. Emil langsung berjalan melewati Jenny, dia menuju ke meja yang ada dalam kamar hotel dan meletakkan sebuah kotak yang bisa ditebak oleh Jenny isi kotak itu adalah makanan. Emil bergegas duduk di ujung ranjam dan menunggu Jenny berjalan mendekat ke dirinya. "Ambil kotak itu!" perintah Emil sebelum Jenny ikut duduk di sampingnya. Tanpa menjawab, Jenny langsung melaksanakan perintahnya Emil. Jenny mengambil sebuah kotak yang ditunjuk oleh Emil dan membawanya ke samping Emil. "Kalau ujung-ujungnya bakal di sini kenapa kamu taruh di atas meja?" Tanya Jenny setelah duduk di samping Emil dan terpisahkan oleh sebuah kotak yang baru dia ambil. "Sengaja," jawab Emil. "Untuk apa? Biar apa?" geram Jenny, dia begitu gerundel. "Untuk kamu, biar kamu yang bawa ke aku," jawab Emil dengan senyum manis. "Jadi?" Jenny meminta kesimpulan. "Kesannya kamu tang beli in makanan untuk aku, kamu yang memuliakan aku," cetus Emil. "Oh." Singkat namun, berhasil membuat Emil terkekeh. Emil menatap ke kedua mata Jenny dan beralih menatap ke bagian wajah Jenny yang lain. Jenny menunduk saat mengetahui Emil menajamkan indra penglihatannya menatap ke arah kedua pipinya. Emil memegang dagu Jenny dan menggerakkannya ke atas, membuat Jenny tak lagi bisa menunduk. Jenny memejamkan kedua matanya, dua mulai mencari-cari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Emil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN