Awal Kebahagiaan

2013 Kata
Fersa maupun Bayu sama-sama tersenyum melihat tingkah Tio yang seakan gelagapan menjawab ucapannya Kyna. Kyna saja juga seperti itu, suka ngejailin Tio. "Tio pamit main ke rumah Dimas ya Yah," ucap Tio yang sudah berdiri dari tempat duduknya dan ingin pamit pergi. Tio pintar juga mengalihkan suasana, Bayu yang kesulitan menahan tawanya, mendengar Tio pamit mau ke luar rumah, dia langsung bisa menghentikan tawanya. "Ita, hati-hati Tio sayang," balas Kyna. Tampak Tio tak menerima balasan Kyna dengan baik. "Tio pamitnya sama Ayah, bukan sama Anda," ucap Tio tak jauh-jauh dari cara gaya bicaranya orang dewasa. "Eh berani sebut Anda, Anda." Kyna tak terima. Kyna mendekat ke Tio dan langsung menjewer pelan telinga Tio. Tio sama sekali tak kesakitan namun, karena mengondisikan keadaan, dia berpura-pura kesakitan dan memberontak agar Kyna cepat menghentikan acara menjewer telinganya. "Ada yang salah dengan kata Anda ya Yah?" tanya Tio menatap ke arah Fersa tang senyum-senyum menatapnya disiksa oleh Kyna. "Nggak," jawab Fersa. "Terus kenapa Kak Kyna nggak terima seperti ini." Tio menggerak-gerakkan kepalanya untuk membuat tangan Kyna terputus dari telinganya. "Menurut Kak Kya salah," ucap Kyna dengan sangat jelas di telinga Tip karena posisinya sangat dekat dengan Tio. "Maaf, janji nggak Tio ulangi lagi." Tio mulai memperlihatkan dan menyatakan kalau dirinya kalah berdebat dengan Kyna. Kyna merasa puas mendengar dengan ucapan maafnya Tio, dia langsung melepaskan tangannya dari telinga Tio. "Aduh sakit," ucap Tio setelah telinganya terbebas. "Kebanyakan drama, padahal juga cuma kakak pegang telinganya." Tio tertawa renyah, dan tawanya menular ke Fersa dan juga Bayu. "Sudah, sudah, sana pergi, katanya mau pergi," ujar Kyna dengan tangannya ter ayunkan ke depan bermaksud mengusir Tio dengan sangat rak sopan. "Tio bukan ayam," protes Tio yang mengerti perlakuannya Kyna pada dirinya sekarang. "Ada yang bilang Tio ayam?" tanya Kyna meledek. Tio tak melipat kedua tangannya di depan d**a, memperlihatkan kalau dia marah besar, dia langsung berjalan dengan kaki yang dia hentak-hentakkan ke lantai sampai meninggalkan suara yang beraturan. Bayu terus menatap punggung Tio yang semakin tak terlihat. "Bisa marah juga Tio," ucap Bayu pelan namun, terap busa di dengar oleh Fersa dan Kyna. "Dia kalau marah bukan menakutkan tetapi menggelikan," ucap Kyna dengan menahan tawanya. Siang yang penuh dengan tawa bisa Bayu rasakan di siang ini, setelah di berbicara begitu serius dengan Fersa, dia lalu menemui Tio. Tio tak jadi ke rumah temannya karena dia malas jalan dan tadi dia pergi dari ruang makan menuju ke ruang tamu. Bayu sudah akrab saja dengan Tio, seperti orang yang sudah kenal lama, bahkan akrabnya Tio dekat Bayu mengalahkan dekatnya Tio dengan Fania. Fania pulang sama Dara namun, tak seperti biasanya, karena hari ini yang bawa mobil Fania jadi yang antar Dara pulang Fania, bukan Fania yang diantar Dara pulang. Dara ada kesibukan, dia tak bisa ikut Fania untuk main ke rumahnya Fania. Fania juga hanya antar pulang Dara dan tak mampir atau sekedar minum dulu di rumahnya Dara, Fania teringat akan pesan Bayu yang bilang kalau dia masih di rumahnya. Dari rumahnya Dara, Fania rak langsung menuju ke rumahnya, dia memilih untuk mampir di toko buah, dia membeli buah mangga, belimbing, semangka, nanas dan apel sesuai permintaan Kyna, rencananya Kyna mau buat rujak buah. Fania mengucapkan salam sebelum dia masuk ke dalam rumahnya, dia menatap Tio yang sedang asyik bermain dengan Bayu. "Mas Bayu, belum pulang?" tanya Fania. Fania tadi sudah melambat-lambatkan acara beli buahnya, dia juga tadi tak menambah kecepatan mobilnya sama sekali, dipikirkannya Fania dia ingin bertemu Bayu karena tadi saat mengantar Dara pulang, dua ingin cepat sampai di rumah namun, di hatinya Fanua, dia sangat takut bertemu Bayu, dia mengingat akan kejadian waktu dia lebih memilih pulang bersama Rafa dari pada Bayu. "Belum, tadi Kak Kyna minta untuk menunggu dulu," jawab Bayu. "Aduh berat." Fania tak bisa menahan berat kantong plastik hitam dia bawa di tangan kanan dan tangan kiri. Fania membiarkan kantong plastik hitam yang sebelumnya dia pegang jatuh ke lantai. Bayu dengan sigap mengangkat kantong plastik. "Aku saja yang bawa masuk," ucap Bayu ingin membantu. Fania mengangguk pelan, tidak busa dipungkiri, dia benar-benar sudah tak kuat bawa kantong plastiknya, dia butuh bantuannya Bayu dan bagusnya tanpa Fania minta, Bayu sudah bersedia menawarkan bantuan. Bayu berjalan menuju ke dapur, dan Fania mengikutinya dari belakang. Kyna yang sedang di dapur, netranya langsung tertuju pada Bayu dan Fania yang semakin mendekat. Bayu dengan hati-hati menaruh dua kantong plastik hitamnya di meja dapur. "Itu kak buahnya," ucap Fania dengan tangan kanannya menunjuk je dua kantong plastik hitam yang ada di hadapannya. Kyna tersenyum pada Bayu dan dua tak memedulikan ucapannya Fania, tetapi dia mendengarnya. "Kak, malah bengong." Fania menyenggol pelan lengan Kyna. Kyna tersadarkan, dia mengerjapkan kedua matanya, oh iya, dia ternyata melamun mengagumi ketampanan Bayu, sadar wahai Kyna, kamu sudah punya suami. "Kenapa Kak? Kok kelihatannya sampai nggak berkedip seperti itu," tanya Bayu dengan senyum yang semakin menambah aura ketampanannya. "Nggak tadi itu kakak lagi ngelamunin suami kakak yang gantengnya itu tak jah beda sama kamu, beda tipis begitu," jawab Kyna penuh dengan kebohongan. "Oh." Mulut Fania membulat. Kyna membuang mukanya, dia menatap ke arah dua kantong plastik hitam, dia mulai membukanya dan mengeluarkannya dari kantong plastik hitam itu. "Bantu kakak kupasin buah-buah ini!" ucap Kyna pada Bayu juga Fania. Kyna mengambil dua baskom besar, satunya dia gunakan untuk menaruh buah apel, nanas, dan mangga yang belum terkelupas, dan baskom yang satunya mungkin akan dia gunakan untuk menaruh buah-buah itu nanti kalau sudah di kupas dan di cuci. "Pisaunya mana Kak?" tanya Bayu. "Ita mana pisaunya?" Fania ikut bertanya. Kyna menuju ke rak piring, di sebelah pinggirnya ada tempat sendok, garpu, supit dan juga pisau. Kyna mengambil tiga pisau kemudian melangkah ke arah Bayu dan Fania yang sedari tadi menatapnya. "Ini," ucap Kyna menaruh pisaunya ke atas meja. Bayu dan Fnia langsung mengambil salah satu pisaunya. "Ini aku kupas di depan saja ya Kak," ucap Fania dengan tangannya yang sudah siap membawa baskomnya. "Iya," jawab Kyna. "Oh iya Bayu, kamu bawa ini buah semangkanya!" perintah Kyna dengan tangan kanannya memukul-mukul buah semangka yang ada di depannya. "Iya kak," jawab Bayu. "Eh buar aku saja yang bawa buah semangkanya, kamu bawa baskomnya saja itu." Fania dengan cepat melepaskan baskom tang penuh dengan buah dan dia segera meraih buah semangkanya. "Hm ... Iya," balas Bayu tanpa ada niatan untuk menolak. Fania mendahului Bayu, dua berjalan cepat ke ruang keluarga, dan kali ini ganti posisi, Bayu yang mengikuti dari belakang. Fania dengan pelan-pelan menyelehkan buah semangkanya di atas lantai di samping Tio. "Berat ta?" tanya Fania pada Bayu yang baru sampai di sampingnya. "Nggak, enteng," ucap Bayu tak mau di sepelekan kekuatannya oleh Fania. Fania tersenyum miring, dia tahu badan Bayu yang besar itu tak ada apa-apanya kalau hanya disuruh membawa baskom saja. Bayu duduk di samping Fania, Fania sedikit menggeser tubuhnya untuk menjaga jarak sama Bayu. "Jangan dekat-dekat!" perintah Fania melihat Bayu yang ingin menggeser tubuhnya juga. "Maaf," ucap Bayu. Bayu mengambil buah apel, memang antara buah nanas, buah mangga dan buah apel, paling mudah mengupas buah apel. "Kamu mau mengupas buah apa?" tanya Bayu yang sudah siap ingin mengambilkan satu buah untuk Fania kupas. "Buah semangka ini," jawab Fania. Bayu tersenyum, dia kemudian mulai mengupas buah apel yang sudah ada si tangan kirinya dan Fania juga mulai memotong buah semangka yang ada di depannya agar terbelah menjadi dua. Bayu melirik ke tangan Fania. "Kulit semangkanya juga kupas!" perintah Bayu. "Tahu saja kalau aku paling nggak bisa mengupas kulit buah semangka," ucap Fania pelan. "Ya rahu, kamu memang serba tak bisa," ucap Bayu menyindir, dia ternyata bisa mendengar ucapannya Fania yang pelan. "Kamu bilang apa? Serba nggak bisa?" Fania membentak. "Eh Tio, kak Fania serba bisa ya?" tanya Bayu berbisik-bisik dengan Tio. "Nggak Om," jawab Tio. "Eh Tio awas saja, nggak kakak beli in mobil-mobilan kamu." "Nggak apa-apa, Tio sudah dibeli in sama Om Tio," ucap Tio yang semakin membuat Fania kesal. "Om, Om, dia bukan Om kamu," bentak Fania. "Kakak Tio, bukan Om," ucap Bayu ada dipihak Tio. Fania langsung menatap Bayu tajam. "Calon Tio lebih tepatnya," ucap Bayu membalas tatapannya Fania namun, dengan tatapan yang berseri. "Aku itu serba bisa," ucap Fania ingin kembali ke masalah awal. "Sebutkan tiga hal yang kamu bisa Fan," ucap Kyna yang tiba-tiba datang dari arah belakang tubuhnya Fania. "Aku bisa ...," Fania tampak berpikir. "Bisa menyapu, bisa mencuci baju dan bisa membuat kamu jatuh cinta Bay," ucap Kyna ingin membantu Fania. "Ya itu," ujar Fania. "Eh apa maksudnya buat jatuh cinta, jatuh cinta, nggak ...," tolak Fania setelah mengoreksi kembali ucapannya Kyna. "Nggak apa? Benar kok," ucap Bayu. "Dengar ity, brnar, kamu itu serba bisa." Kyna memberikan tepukan tangan pelan pada Fania. Fania melengos, dia tak ada minat untuk menatap Kyna, Bayu maupun Tio, semuanya sama-sama menyebalkan baginya. Tetapi kalau dipikir-pikir, Fani masih belum mengerti dengan ucapannya Bayu yang tak menyalahkan ucapannya Kyna mengenai dirinya yang bisa membuat Bayu jatuh cinta. Fania mau berpikir yang tidak-tidak namun, takutnya tadi Bayu mengucapkan kalimat itu karena tak sadar atau bahkan tak begitu mendengarkan atau tak begitu paham dengan maksudnya Kyna yang sebenarnya. Kyna telah selesai membuat sambal rujaknya, dia membuat sambal manis. "Ini bantu kupas buah semangkanya kak!" perintah Fania mengambil buah semangka yang ada di depannya dan menaruhnya di depan Kyna. "Kamu dari tadi cuma mengupas satu buah mangga," ucap Kyna dengan nada cukup tinggi, mewakilkan rasa terkejutnya. "Iya," jawab Fania tanpa ada masalah. Kyna mengangguk-anggukkan kepalanya, menyadari akan kebiasaan Fania yang tak busa bekerja cepat. Bayu hanya tersenyum menikmati keributan kecil antara Fania dan juga Kyna. Kyna tak mau membuang-buang waktu, dia langsung mengupas kulit buah semangkanya dan dengan waktu singkat dia telah menyelesaikannya, sedangkan Fania masih saja mengupas buah mangga yang ke duanya dan itu saja masih baru setengah yang sudah dia kupas. "Sudah, capek," ucap Fania menaruh pisaunya di aras lantai dan buah mangganya di baskom. "Itu belum selesai kamu mengupasnya," gerutu Kyna. "Lanjut in kamu ya kak," ucap Fania dengan ekspresi yang akan membuat seseorang iba kalau menatapnya. "Cuma satu buah yang jamu kupas dan tanpa ada malu-malunya kamu bilang capek?" Kyna menatap Fania nyalang. Bayu menggelengkan kepalanya, Fania memang rak jauh beda sepeti anak SD yang tak mau sedikit kelelahan. Fania menghembuskan nafasnya kasar, memperlihatkan kelelahan dalam dirinya. "Aku nggak mau nerusin, ini yang velum dikupas saja masih banyak," ucap Kyna memutuskan. "Itu buar Bayu saja yang mengupas Kak," ucap Fania. "Mas Bayu," timpal Fersa yang baru saja melewati pintu rumah. Fersa ikut duduk di lantai bergabung sama Fania, Kyna, Tio dan Bayu. "He he iya maaf lupa, maaf ya mas Bayu," ucap Fania dengan cengengesan. "Ayah bantu nggak?" tanya Fersa menatap buah nanas yang belum ada yang terkupas sama sekali. "Tadu Ayah dari mana?" tanya Fania yang sama sekali tak menyambung dengan pertanyaannya Fersa. "Dari luar," jawab Fersa. "Oh ...," "Ayah itu buah nanasnya belum dikupas, Ayah bisa mengupas buah nanas kan?" tanya Fania dengan tangan kanannya mengambil pisau yang dia pakai tadi dan dia taruh di deoan Fersa. Fersa tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian tangan kanannya meraih satu buah nanas yang ada dalam baskom. "Lah ini siapa tang mengupas buah mangganya? Kok nggak diterusin?" tanya Fersa yang baru sadar dengan buah mangga yang ada di baskom juga dan kondisi kulit buahnya baru separuh yang sudag terkelupas. "Kak Fania Yah," ucap Tio ingin menjawab pertanyaannya Fersa. "Capek Yah ...," ucap Fania menatap Fersa dengan tatapan memelas. "Sudah berapa buah yang kamu kupas?" tanya Fersa. "Baru satu buah mangga sama itu separuh Yah." "Ih ni anak nyerocos terus " Fania menatap Tio yang terlihat sangat suka membuat dirinya malu di depan Fersa. Bayu tersenyum, semua kejadian siang dan sore ini tak akan pernah dia lupakan dan mungkin ini awal dari mulainya kebahagiaannya bersama Fania. "Kak Fania Yah," ucap Tio ingin menjawab pertanyaannya Fersa. "Capek Yah ...," ucap Fania menatap Fersa dengan tatapan memelas. "Sudah berapa buah yang kamu kupas?" tanya Fersa. "Baru satu buah mangga sama itu separuh Yah." "Ih ni anak nyerocos terus " Fania menatap Tio yang terlihat sangat suka membuat dirinya malu di depan Fersa. Bayu tersenyum, semua kejadian siang dan sore ini tak akan pernah dia lupakan dan mungkin ini awal dari mulainya kebahagiaannya bersama Fania.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN