Fania memasukkan HP-nya dalam tasnya.
Rafa melihatnya dari kaca mobil di depannya.
"Dara lagi?" tanya Rafa.
"Iya," jawab Fania.
"Tadi Dara bilang kalau dia mau pulang sama temannya yang lain, kuta nggak perlu ke bandara jemput dia," lanjut Fania.
"Jadi kita langsung pulang saja ini?" tanya Rafa memastikan kalau ucapannya Fania tadi bukan ucapan di luar kesadaran.
"Iya," jawab Fania.
Rafa jadi punya suatu pikiran untuk mengajak Fania ke suatu tempat, karena ya jarak yang dia tempuh sudah cukup jauh, jadi merasa sia-sia kalau tak mampir ke suatu tempat yang tak jauh darinya sekarang.
"Mau langsung pulang atau mampir dulu?" tanya Rafa.
"Mampir ke mana?" Fania balik bertanya.
"Ke suatu tempat yang indah, nanti pasti kamh suka," jawab Fania.
"Ini sudah mau malam Raf, nanti kalau aku dicariin sama kakakku, dicari in sama Ayahku juga bagaimana?" tanya Fania yang sepertinya dia ingin menolak penawarannya Rafa.
"Iya kamu bilang saja lewat pesan," Rafa mengeluarkan argumentasinya.
"Hm ..., maaf ya Raf, lain kali saja," ucap Fania yang tam bisa menerima pendapatnya Rafa.
Rafa tersenyum namun dengan wajahnya yang ingin bereksepsi datar.
Fania tak busa mengelak, dia jadi merasa nggak enak sama Rafa.
Rafa saja selalu menurutinya dan sekalinya Rafa yang meminta, Fania selalu saja menolak dan bilang tak bisa.
Rafa telah mengantarkan Fania sampai di rumahnya, Fania menawarkan pada Rafa untuk mampir ke rumahnya namun, Rafa menolaknya dan beralasan sama persis waktu Fania ditawari oleh Rafa untuk mampir ke suatu tempat sebelum mereka pulang.
Fania jadi mengerti kalau seorang laki-laki ternyata kecewanya bisa menjadikan orang yang telah membuatnya kecewa ikut kecewa juga.
Pintu Fania sedikit terbuka, dia langsung melebarkannya dan masuk ke dalam.
Fania menyapu pandangan ke sekitar ruang tamu rumahnya, dia tak menemukan Kyna ada di sana.
"Kak Kyna, Fania pulang," teriak Fania setelah mengucapkan salam.
"Bagus, pulang selalu jam segini tanpa ada izin," sindir Kyna yang muncul dari arah dalam rumah.
Kyna bertepuk tangan pelan sambil senyum-senyum sangat menakutkan.
***
Hari ini Kyna sengaja masak banyak yang ingin mengundang Bayu untuk makan siang bersama namun, tanpa Fania karena Fania harus pergi ke kuliah.
Sebelum Fania pergi kuliah Kyna meminta pada Fania untuk mampir ke rumah Bayu dan diberi dahulu dan meminta untuk Bayu nanti siang ke rumahnya sesuai permintaan Kyna.
Bayu aslinya mau menolaknya, tetapi saat Bayu ingin mengatakan itu tiba-tiba ayah bayi berdiri di belakang bayu yang baik memulihkan badannya kemudian Anton seperti memberikan kode pada Bayu dan menjadikan Bayu tak bisa menolak permintaannya Kyna yang disampaikan oleh Fania.
Fania kemudian pamit kepada Anton dan Bayu untuk pergi ke kuliah.
Bayu memang anak pernah luput dia tidak pernah bisa menolak permintaan ayahnya meski kadang dia sering membuat ayahnya bersamamu dia tak tetap akan menuruti apa pun pemerintahan Ayahnya termasuknya juga mengambil yang bersama Kyna.
Di kantor Bayu terus mengingat iya permintaannya Kyna yang telah di setujui, tak ingin nanti Ayahnya marah padanya karena telah melupakan hal itu, Bayu sekali-kali melirik jam tangannya untuk memastikan dia tempat sampai di rumah Kyna pada waktu makan siang.
Anton menelepon Bayu pada saat bayu sudah berjalan menuju mobilnya bayu ingin pulang dahulu sebelum dia ke rumahnya Kyna, dia ingin begini baju juga ya ingin bersih-bersih terlebih dahulu agar terlihat menarik di depan Kyna.
Anton menelepon Bayu hanya ingin mengingatkan Bayu pada keinginan Kyna, Bayu sedikit merasa kesak karena tanpa di ingatkan oleh Anton pun Bayu sudah mengingatnya.
Bayu kemudian mematikan teleponnya setelah Anton mengucapkan salam.
Bayu memilih baju sesuai keinginan Anton saat di telepon tadi Anton menyuruh Bayu untuk terlihat sangat sopan di depan Fersa dan juga Kyna meski tidak ada Fania.
Bayu menuju ke rumahnya Kyna dengan kecepatan yang cukup tinggi dia sepertinya sangat kesal dan dia juga sepertinya merasa sangat terpaksa untuk ke sana karena Bayu tahu sendiri tidak ada Fania di sana.
Sampai di depan rumahnya yang pertama kali dilihat oleh bayu adalah Tio.
Bayu pacaran menuju Tio, Tio merasa asing dengan wajah Bayu, dia membulatkan kedua matanya menatap Bayu.
Bayu tersenyum manis melihat Tio.
"Hai," sapa Bayu pada Tio.
Tio tak menjawab dia semakin menajamkan tatapannya pada Bayu, dia seakan tak suka pada Bayu.
Bayu punya cara untuk meluluhkan hati anak kecil, Bayu kembali menuju ke mobilnya dan mengambil sesuatu di kursi bagian belakang dari mobilnya.
Bayu membawa sebuah kantong plastik hitam besar menuju ke Tio.
"Mau?" tanya Bayu saat sudah di depan Tio.
"Apa itu?" tanya Tio dengan cepat.
"Mau nggak?" Bayu masih dengan pertanyaan pertamanya.
"Mau," jawab Tio dengan semangat.
Tio berdiri dari tempat duduknya dan mendekat ke Bayu. Bayu sedikit membengkokkan tubuhnya agar kepalanya sepadan dengan tinggi Tio.
Bayu memberikan kantong plastik hitamnya pada Tio.
"Buka!" perintah Bayu.
Tio dengan cepat membuka kantong plastiknya dan wajahnya seketika berubah berseri menunjukkan kalau dia menerima pemberian Bayu tanpa paksaan.
Bayu orangnya cukup cerdas, radi saat Fania ke rumahnya dia sempat bertanya apa yang disukai oleh Tio dan tanpa banyak bicara, Fania langsung menjawab pertanyaan Bayu itu. "Mainan mobil-mobilan," dan Fania tak bertanya mengani Bayu yang tiba-tiba ingin tahu hal mengenai adiknya, dia bisa mengerti kalau Bayu itu orangnya super perhatian.
"Suka?" tanya Bayu.
"Iya, terima kasih Om ...," Tio terlihat berpikir.
"Om Bayu."
"Terima kasih Om Bayu."
"Iya sama-sama ...," Kali ini Bayu yang terlihat berpikir.
"Tio," ucap Tio.
"Sama-sama Tio," ucap Bayu kemudian.
Kyna keluar dari rumah, dia mendengar Tio berbicara dengan seseorang.
"Bayu, sudah lama sampai?" tanya Kyna melihat Bayu yang sedang bermain-main dengan Tio.
"Baru saja," jawab Bayu.
Bayu lalu berdiri dan diikuti Tio.
Kyna menatap Tio yang membawa mainan seperti mainanan yang baru.
"Kamu main apa?" tanya Kyna pada Tio.
"Ini mobil-mobilan, Om Bayu yang beli in," jawab Tio dengan senyum yang sangat menggemaskan menurut Bayu.
"Bayu kamu kok repot-repot beli in mainan Tio, dia itu mainannya sudah banyak," ucap Kyna malu-malu pada Bayu.
"Ya nggak repot kok beli in mobil-mobilan Tio, yang repot itu aku beli in Tio mobil asli," ucap Bayu dengan nada yang dibuat selucu-lucunya.
Kyna tertawa kecil, dia tak menyangka kalau Bayu yang punya pawakan orang yang yang tegas ini ternyata bisa juga bercanda.
Bayu dipersilahkan masuk oleh Kyna dan Tio mengekorinya dari belakang.
Kyna langsung menyuruh Bayu menuju ke ruang makan karena Kyna telah menyiapkan semuanya.
Sampai di ruang makan, Bayu disambut tatapan manis oleh Fersa.
"Om," ucap Bayu dengan langkah kaki mendekat ke arah Fersa.
Bayu mencium punggung tangan kanan Fersa kemudian Fera menyuruh Bayu untuk duduk di sampingnya.
Bayu, Fersa, Kyna dan Tio menikmati makan siang dengan sangat tenang, tak ada suara yang terdengar semua terdiam.
Selesai meneguk satu gelas air putih, Fersa membuka suaranya.
"Alhamdulillah baik Om," jawab Bayu menjawab pertanyaan Fera mengenai keadaan Anton dan dirinya.
Fersa tersenyum lebar.
"Maksud Om meminta kamu makan bersama Om di sini, Om mau menanyakan kesiapan kamu untuk menikah dengan Fania," ucap Fersa langsung mengutarakan isi kepalanya.
"Jadi Om Bayu ini mau jadi Kakak aku, ye Tio punya Kakak, Tio punya Kakak."
"Memangnya aku ini siapa?" tanya Kyna pada Tio dan Tio melongo.
"Kakak laki-laki maksudnya Tio Kak Kyna," balas Tio.