Mau Jemput Dara

1202 Kata
"Fanianya ada Kak?" tanya Bayu pada Kyna. "Bukannya Fania sama kamu, kok kamu tanya ke aku," balas Kyna dengan suara yang terdengar begitu sewot. "Tadi kakak tanya sama Fania, katanya dia mau pulang sama kamu," lanjut Kyna. "Harusnya memang sama aku tetapi--" "Tetapi apa?" tanya Kyna yang tak suka dengan gaya bicaranya Bayu. "Tadi Fania bilang mau pulang sama Rafa soalnya tadi aku bilang ke Fania kalau aku nggak bisa jemput dia," jelas Bayu. Kyna menatap Bayu penuh dengan selidik, mencari-cari ciri seseorang yang sedang berbohong, dan pikiran Kyna salah, Bayu tak sedang berbohong dan Kyna tahu. Bayu dipersilahkan duduk oleh Kyna namun, dia menolaknya, Bayu memilih untuk pamit pada Kyna dan ingin mencari Fania. Baru mau masuk ke dalam mobil, HP Bayu bergetar dan dengan cepat Bayu mengambil HP itu, berharap kalau Fania yang meneleponnya. Harapan Bayu tak terwujud, ternyata Dara yang meneleponnya. Dengan malas Bayu menerima telepon itu. "Bay ...," panggil Dara dari telepon, suaranya terdengar sangat cemas. "Ada apa?" tanya Bayu berpura-pura ikut cemas. Lewat telepon Dara memohon-mohon pada Bayu untuk mau menolongnya, lebih tepatnya, memaksa Bayu untuk mau menjemputnya. Bayu menjadi tak tega pada Dara, dia akhirnya mengiyakan permintaan Dara, dia menjalankan mobilnya bergerak menuju ke bandara sesuai arahan yang diberikan oleh Dara. Di dalam mobil, pikirannya Bayu tak bisa dihilangkan mengenai Fania, apa lagi Fania begitu jujur pada Bayu kalau dia bersama Rafa, harusnya Fania sadar, Rafa tak pantas dia sebut pada seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya. HP Bayu terus berbunyi, dia busa menebak kalau yang meneleponnya adalah Dara, soalnya bukannya Dara punya sifat yang tak sabar atau tak suka menunggu tetapi dia tak bisa saja tak diberi kepastian, dia kalau iya ya harus iya kalau tidak harus tidak juga. Dara menjadi cemas, takutnya Bayu tak bisa menjemputnya, padahal Dara juga tahu kalau Bayu pasti sedang di perjalanan dan pasti malas untuk mengangkat teleponnya. Dara punya pikiran untuk meminta tolong pada Fania, memang sudah pasti kalau dia meminta tolong pada Fania, Fania tak akan menolaknya. Fania sebelum masuk ke mobil, dia mengecek HP-nya dan dia lupa kalau tadi HP-nya itu tak dia aktifkan, Fania langsung mengaktifkannya dan baru membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalamnya. "Kenapa nggak aktif," ucap Dara pelan, tatapannya tertuju pada HP-nya yang menampakkan nomor Fania. Setelah membayar baksonya, Rafa segera menyusul Fania ke mobil dan dengan cepat dia masuk ke dalamnya. Rafa sedikit memutar kepalanya untuk melihat Fania, dan mengetahui kalau Fania sudah siap, dia segera menjalankan mesin mobilnya. Hal pertama yang dilihat Fania saat HP-nya sudah aktif kembali adalah telepon dari Dara dan Bayu. Fania memilih menelepon kembali Dara dan mengabaikan Bayu. Saat mau memasukkan HP ke dalam tas, Dara merasa HP-nya bergetar, itu membuatnya mengurungkan niat untuk memasukkan HP-nya ke dalam tas. Dara tersenyum lega, dia mengangkat telepon Fania. "Assalamualaikum," salam Fania dari telepon. "Wa'alaikummusalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Dara. "Fan, kamu bisa jemput aku? Aku di bandara," ucap Dara tanpa menunggu pertanyaan dari Fania terlebih dahulu. "Kamu sudah pulang?" tanya Fania basa-basi. "Belum, ya sudah Fania, kalau belum untuk apa aku minta kamu jemput aku di bandara." jawab Dara dengan gereget. Fania tersenyum lebar. "Iya, aku ke sana," ucap Fania menjawab kemauan dari Dara. "Cepat!" perintah Dara. "Siap bos," jawab Fania. Dara kemudian mengucapkan dalam dan setelah mendengar Fania menjawab salamnya, dia mematikan HP-nya, dia sudah sedikit tenang. "Siapa yang telepon?" tanya Rafa yang tahu Fania sudah mengakhiri teleponnya dengan seseorang. "Dara," jawab Fania. "Oh," "Rafa kamu bisa antar aku ke bandara jemput Dara? Dia tadi minta dijemput, kamu bisa kan, bisa?" Fania mulai bertanya dan bermaksud memohon. "Iya," jawab Rafa singkat namun, cukup membuat Fania tak lagi berucap. Sekitar dua puluh lima menit, Bayu telah sampai di bandara, dia kemudian menelepon Dara dan ingin bertanya Dara ada di tempat sebelah mana. Bayu yang suah tahu tempat Dar, dia langsung menuju ke sana. "Bayu," panggil Dara dengan melambaikan tangannya. Bayu tersenyum kecil, menatap Dara yang mengeluarkan suara kerasnya untuk memanggil dirinya. "Ayo," ucap Bayu setelah berada di hadapan Dara. "Pulang?" tanya Dara. "Oh kamu mau tidur di sini," "Ya nggak, tetapi tadi ....," "Apa?" tanya Bayu. "Aku sudah minta sama temanku untuk menjemputku ke sini," jawab Dara. "Terus kenapa kamu menyuruh aku juga," sentak Bayu namun, tak menggunakan nada yang kasar. "Tadi kamu sendiri kenapa nggak mau mengangkat telepon aku? Aku kan jadi takut kalau ternyata kamu nggak bisa jemput aku, nggak mau jemput aku," omel Dara. Bayu diam, dia membenarkan semua ucapannya Dara, dia jadi menyesal sudah tak mau menjawab teleponnya Dara, kalau dia mengangkat kan dia tak akan ke bandara dan dia busa mencari Fania. "Ya sudah, kamu pulang sama aku atau menunggu teman kamu?" tanya Bayi meminta Dara untuk membuat kesimpulan. "Sana kamu saja, nanti aku kabari teman aku, bilang kalau aku sudah pulang sama kamu," jawab Dara dengan senyum semringah. "Nama teman kamu itu siapa?" tanya Bayu ingin memancing-mancing. "Fan--" ucapan Dara terpotong. "Nanti kamu juga akan tahu sendiri," lanjut Dara. Sedikit lagi Dara sudah membuka nama Fania pada Bayu, untungnya dia segera fokus dengan pertanyaan Bayu. Bayu menghembuskan nafas kasar, mendapati rencananya yang ingin mengambil kesempatan dalam tak fokuskannya Dara tak berhasil. "Kenapa? Gagal?" tanya Dara dengan senyum jailnya. Bayu tak menjawab pertanyaannya Dara, dia langsung membalikkan badannya dan berjalan ingin menuju ke tempat mobilnya. "Tunggu," teriak Dara yang tak habis pikir ternyata Bayu suka tinggalan dirinya. Mendengar Dara yang meminta untuk ditunggu, Bayu melambatkan langkah kakinya. Meski Bayu sudah memperlambat langkah kakinya, sampai di samping mobil, Dara tetap saja tak bisa mengejarnya karena Dara juga melambatkan langkah kakinya, dia malas untuk berjalan cepat apa lagi berlari. Bayu membukakan pintu untuk Dara. Dara tersenyum manis dan langsung masuk ke dalam mobil Bayu. "Kamu sudah mengabari teman kamu kalau kamu jadi pulang sama aku?" tanya Bayi setelah duduk di samping Dara. "Belum, ini baru mau telepon dia," jawab Dara. Bayu mengangguk satu kali dan Dara hanya tersenyum menatapnya. Tidak menunggu lama, telepon Dara sudah diangkat eh Fania. Dara mengucapkan semua yang telah diperintah oleh Bayu mengenai dirinya yang pulang dengan Bayu. "Jadi aku nggak perlu jemput kami ya," ucap Fania pada Dara dari telepon. "Iya, maaf ya," balas Dara. "Iya, nggak apa-apa, hati-hati ya kamu," ucap Fania tak memperlihatkan rasa marahnya atau rasa kesalnya sama sekali. "Iya," ucap Dara dan seperti biasa, Dara dan Fania mengakhiri teleponnya dengan ucapan salam. Dara menatap Bayu yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip. "Kenapa?" tanya Dara. Bayu tak menjawab, sepertinya dia kesal sama Dara karena Dara tak mengeraskan volume HP-nya saat berbicara dengan Fania di telepon. "Kamu kenapa Bay?" tanya Dara masih tak busa menebak ada salah apa dia sama Bayu sampai-sampai Bayu berekspresi marah. "Sudah?" tanya Bayu kembali menatap Dara, sebelumnya dia menatap ke arah depan saat Dara membalas tatapannya setelah selesai menelepon Fania. "Sudah," jawab Dara yang tahu arah pikirannya Bayu. "Kamu marah? Kan aku sudah bilang, nanti kamu juga pasti akan tahu," ucap Dara dengan melukiskan senyuman manis di bibirnya. "Nanti? Nanti kapan? Habis nanti-nantinya," gerutu Bayu. Bayu sekalinya marah bukan membuat Dara takut, malah membuat Dara terhibur sampai dia ingin tertawa, sangat lucu. "Nanti kalau kita sudah sah dan Fania juga sudah sah sama seseorang yang dipilih Ayahnya dan nanti kita jalan-jalan, makan-makan bersama," ucap Dara dalam hati. Ucapan Dara cukup simpel namun, sangat mustahil terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN