Tidak tahu yang pasti, saat ini, dua orang yang berbeda usia tengah berdiri berhadapan di ruang tamu, sedari tadi keduanya terdiam, tak ada yang mengeluarkan suara apa pun.
Kalau saja ada opsi untuk memilih antara diam dan pergi, Vera dengan nama lengkap Vera Fauli Ghanni pasti akan memilih untuk pergi.
Suara langkah kaki dua orang yang sedang berjalan berdampingan berhasil menghipnotis Vera dan orang yang ada di depannya terfokus dengan asal suara itu.
“Oma,” panggil seorang yang lebih muda.
Dia Evi, nama lengkapnya Revi Faula Ghanni. Seseorang yang berumur lima menit lebih muda dari Vera.
“Sayang,” ucap Halin.
Halin, dialah orang yang dari tadi mengunci pergerakan Vera. Halin melangkahkan kakinya mendekat ke Evi. Halin memeluk Evi.
Sosok yang berdiri di samping Evi tersenyum kecil melihat Evi dalam pelukan Halin namun, senyuman itu tak bertahan lama, Faula beralih menatap Vera dengan tatapan tak suka.
“Rangking berapa kamu?” tanya Faula dengan sifat tegasnya.
Vera tak menjawab, dia memilih menyodorkan raport dan selembar kertas tepat di hadapan Faula.
Faula tersenyum miring menerima raport Vera dengan tangan kirinya.
Faula membuka rapor Vera sebelum dia membaca selembar kertas yang ikut disodorkan oleh Vera.
“Rangking apa ini,” bentak Halin setelah merebut rapor yang dipegang oleh Faula.
“Bodoh,” bentak Halin dengan kedua tangannya menyobek piagam penghargaan lomba Olimpiade fisika milik Vera yang sebelumnya ia membanting raportnya.
Vera membulatkan kedua matanya, dia seketika mematung menyaksikan hal tak patut yang dilakukan oleh Omanya sendiri.
Menangis dalam diam, Vera mengingat akan pengorbanan yang telah dia lakukan untuk mendapatkan piagam yang tertera juara tiga yang sekarang sudah tak utuh bentuknya.
“Rangking itu seperti ini, ini baru rangking,” kata Halin dengan nada tinggi.
Halin membuka rapor Evi lebar-lebar kemudian ia mendekatkannya pada wajah Vera.
Vera sedikit memundurkan wajahnya, hampir saja rapor yang dipegang oleh Halin menempel ke hidung mancungnya.
Sia-sia Vera mundur, karena satu langkah dia mundur, satu langkah pula Halin maju mendekat pada dirinya.
Dengan indra penglihatan yang masih normal, Vera melihat tulisan rangking 1 di rapornya Evi dengan jelas.
Karena kesal dan rasa marah yang mulai meninggi, Vera mendorong rapor Evi menjauh dari wajahnya, dan sedikit lagi Vera mengeraskan dorongan itu bisa membuat Halin jatuh.
PLAK.
Tamparan maut diterima oleh pipi kanan Vera sesaat setelah Halin menyeimbangkan tubuhnya.
“Aduh ...,” Vera merintih.
“Sakit? Makanya jadi orang pintar,” sindir Evi.
“Berani kamu melawan saya?” tanya Halin bermaksud merendahkan.
“Untuk apa saya takut dengan Anda,” balas Vera dengan kedua tangan menyentuh pipinya yang memerah.
PLAK.
Halin menampar pipi Vera yang tak terhalang oleh kedua tangannya.
“Kalau saya mau, satu dorongan saja bisa membuat Anda tak bernyawa,” sentak Vera menahan rasa perih di kedua pipinya.
Halin membisu, ucapan Vera membuat jantungnya berdetak cepat dan tak terkendali.
Evi yang melihat Omanya tak punya kekuatan itu maju ke hadapan Vera.
Evi mendorong Vera dengan semua tenaga yang dia punya.
Vera yang sebelumnya sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh saudara kembarannya, dia bisa menahan tubuhnya dan tak terjatuh.
Vera tersenyum ganas, rasa sakit di fisiknya sama sekali jauh berada di bawah rasa sakit hatinya. Bukannya Vera tak mau melawan, tapi Vera tak mau saja akhir dari aksinya adalah penyesalan yang tak tertunda.
***
Bel sekolah berbunyi tepat setelah Vera melewati gerbang sekolah, dengan nafas kasar, wajah pucat, dan baju lecuh Vera menguatkan diri melangkah menyusuri kelas demi kelas untuk sampai di kelasnya.
Hari Selasa, hari yang mengharuskan Vera untuk membersihkan kelas. Tidak untuk hari ini, setelah beberapa detik duduk di kursinya mungkin guru mapel pertama sudah masuk ke dalam kelas.
Vera akan memilih membersihkan kelas waktu pulang sekolah meski itu risikonya besar, dari dia yang akan sulit mencari kendaraan untuk mengantarnya pulang, dan sampai di rumah dia harus menerima kemarahan Omanya yang berujung dengan penghukuman.
Egra si ketua kelas Xl MIPA 3 berdiri di samping pintu, Egra menyipitkan kedua matanya menatap Vera.
“Aku pikir kamu nggak sekolah,” ucap Egra pada Vera yang sedang mengatur nafas di hadapannya.
“Nggak mandi kamu?” Egra menunjuk-nunjuk rambut Vera yang belum tersisir sempurna.
Merasa tak ada gunanya Vera menjawab pertanyaan Egra, Vera memilih melangkah masuk ke dalam kelas.
“Hai Ti.” Vera tersenyum menatap sekretaris kelas yang melirik dirinya dengan tajam.
Orang yang merasa disapa oleh Vera tak balik menyapa.
Tak tahu yang pasti kenapa, semua murid perempuan di kelas Xl MIPA 3 memang pada tak mau berteman dengan Vera.
Vera hanya punya dua teman di sekolah—Clara dan Keyra namanya—mereka masuk ke dalam kelas unggulan, kelas Xl MIPA 1. Bukan Clara dan Keyra lebih pintar dari Vera namun, Vera memiliki Oma yang membuatnya terima saja masuk di kelas Xl MIPA 3.
Kalau boleh dites, kepintarannya Vera berada di atas Evi, walaupun Vera selalu dapat peringkat ke dua, peringkat di mana dia di bawahnya Evi, tetapi itu semata-mata karena posisi kelasnya, sudah menjadi jejak kalau setiap peringkat pararel di sekolah pasti di dapat oleh salah satu penghuni kelas MIPA 1, penilaian yang berdasarkan objektif.
Bu Haya, guru KIMIA SMA Spensa 2 Jakarta mengucapkan salam selesai memberi PR pada Vera dan teman-temannya.
Bu Haya keluar dari kelas kemudian disusul oleh para penghuni Xl MIPA 3 yang sudah tak bisa menahan rasa laparnya.
Egra menghampiri Vera yang sepertinya tak berniat untuk ikut keluar kelas.
Egra duduk di kursi depan meja Vera dengan menghadap ke belakang dan bisa menatap wajah Vera.
Berusaha menganggap tak ada siapa-siapa di hadapannya, dengan santai Vera merapikan buku-buku yang ada di atas mejanya.
Tahu Vera telah mengacanginya, Egra sedikit memajukan kursi yang dia duduki untuk lebih dekat ke Vera.
“Mau apa hah?” sentak Vera merasa terganggu dengan makhluk bumi yang jarak wajahnya tak jauh dengannya.
“Mau ganggu kamu,” jawab Egra dengan entengnya.
Vera menatap tajam wajah Egra.
“Maju satu senti meter lagi aku tusuk kamu,” ancam Vera dengan menyulurkan pensilnya bagai pisau tajam.
Vera yang tahu Egra tak akan menggerakkan tubuhnya, dia mengambil kesempatan untuk berdiri tapi, baru juga hendak melangkah melewati Egra, Egra mengerem langkah kakinya dengan menarik pelan lengan kanannya.
Vera mengibaskan tangannya agar cepat terlepas dari genggaman Egra namun, untuk melepaskan genggaman Egra sepertinya tak cukup hanya mengibaskannya.
Egra berdiri dengan tangan kirinya yang masih setia menggenggam lengan bagian tengah tangan kanan Vera.
Di kelas Vera sebenarnya belum terlalu sepi, masih ada beberapa murid, tapi mereka tak akan kaget juga dengan kelakuannya Egra pada Vera, mereka menganggap sudah biasa.
“Kamu lepas atau aku potong,” kelakar Vera dengan melototkan kedua matanya untuk menakuti Egra.
Egra tersenyum kaku, kalau dipikir ucapannya Vera termasuk kategori menyeramkan, tapi kalau dimasukkan ke dalam hati, ucapannya Vera malah termasuk lelucon, menggemaskan.
“Vera,” panggil seseorang yang tak begitu asing suaranya di telinga Vera.
Egra dengan cepat melepaskan genggaman tangannya pada Vera, dia tak mau kalau sampai ada yang berpikir macam-macam mengenai dirinya dan Vera.