Viona berasal dari keluarga pas-pasan. Dulu, ayahnya memiliki toko hasil bumi seperti beras, gula, kacang, minyak, dan banyak kebutuhan. Digerus oleh toko-toko yang lebih luas dan memiliki pelayanan serta nama lebih terkenal, toko milik ayah Vio jadi sering sepi. Akibatnya bangkrut. Serint nombok uang kulak barang, telat bayar gaji, dan berakhir dengan hutang pada rentenir licik di desanya. Bunga mencekik hingga banyak yang menggadaikan rumah, kambing, motor, dan anak gadis mereka.
Viona pun akan berakhir seperti itu. Andai ia tak nekat kabur ke luar pulau dan menjadi pekerja warung seperti ini. Ia anak tunggal. Ibunya meninggal karena sakit setelah ayahnya bangkrut. Biaya berobat juga menjadi kebutuhan yang tak main-main.
Sigit harus banting tulang bekerja menjadi kuli bangunan agar hutang bisa dilunasi. Viona tak tega. Lulus SMA ia pergi ke Samarinda. Sudah dua tahun dan ia bersyukur bisa tetap hidup tanpa menjadi istri Warto. Meski gaji pas-pasan tak mengapa.
"Heh! Ngelamun aja."
Agus menegur Viona yang duduk melamun setelah membereskan meja pelanggan. Tersisa empat orang yang merupakan satu keluarga sedang makan. Belum selesai, jadi tugasnya untuk beres-beres masih aman terkendali.
"Ih, ngapain sih. Ganggu aja."
Viona sewot, tapi tak marah. Agus duduk di sebelahnya. "Ada apa sih? Tanggal tua, gajian masih lama. Nggak usah galau gitu."
Viona tahu, gajian masih minggu depan. Tapi ia butuh uang sekarang. Pinjam Agus, ah pasti juga sama-sama pailit. Ia dan Agus juga tak beda jauh. Agus datang dari Blitar, sementara ia dari Kediri. Sama-sama merantau mengadu nasib agar punya kehidupan yang lebih baik. Hidup bersama adik ibunya yang lebih dulu di Samarinda berjualan sayur di pasar. Hidup sehari-hari juga di kos tapi tak satu tempat dengan Viona.
"Iya tahu."
"Ya udah, yok kerja. Tuh pelanggan udah selesai makan. Bentar lagi juga si bapaknya bayar."
Benar saja yang dikatakan Agus. Pelanggan tersebut membayar dan tak lama kemudian pergi. Viona bergerak membereskan meja. Empat piring ia bawa dalam satu tumpukan. Empat gelas dibawa oleh Agus menuju dapur belakang.
Sudah ada Acil May yang siap bergerak mencuci piring-piring kotor.
***
Di kamar kos, Viona masih termenung galau. Ia tadi ditelepon oleh Derik. Besok meminta keputusan tentang tawaran yany ia berikan tempo hari.
Jadi istri kedua ya. Ah, kok nasibnya harus begini sih. Pilihannya sulit. Jadi istri ke delapan dengan resiko ditelantarkan tapi hutang lunas seketika itu juga. Atau jadi istri kedua yang ia yakini tak dicintai sepenuh hati mengingat Derik menjadikannya istri kedua atas permintaan sang istri tercinta, istri pertamanya. Hutang lunas masih bulan depan, tapi ia bisa bebas. Tak kerja, hanya menemani Adek sebagai adik di rumah. Sepertinya pilihan kedua lebih menggiurkan. Hidupnya tak terlalu payah kerja.
"Apa aku terima saja ya, tawaran Pak Derik? Lumayan kalau istri cuma status. Kerjaan nemenin Bu Adelia. Nggak dicintai kayaknya nggak masalah juga asal dapat uang dan hutang Ayah lunas. Warto tak akan mengusik ayahku lagi. Ayah juga bisa buka toko lagi. Kasihan kalau jadi kuli di usia yang nggak muda."
Merenung sambil mendengarkan tembang dua ribuan di radio lokal, mata Viona terpejam. Lagu dari Astrid yang berjudul Jadikan Aku Yang Kedua menemani lelapnya.
Jika dia cintaimu
Melebihi cintaku padamu
Aku pasti rela untuk melepasmu
Walau ku tau ku kan terluka
Jikalau semua berbeda
Kau bukanlah orang yang kupuja
Tetapi hatiku telah memilihmu
Walau kau tak mungkin tinggalkannya
Jadikan aku yang kedua
Buatlah diriku bahagia
Walau pun kau takkan pernah
Kumiliki selamanya
***
Derik duduk dengan tenang. Badannya tegap, wajahnya masih saja dingin tanpa senyuman. Sementara Viona di depannya hanya menghela napas berat setelah membaca dan menandatangani surat perjanjian. Yang mana isinya tak lain mengenai kontraknya jadi istri kedua. Apa saja yang bisa ia dapatkan, tapi juga apa saja yang tak boleh ia lakukan. Salah satunya adalah status dirinya sebagai istri kedua Derik. Semua itu hanya status belaka.
Adel meminta Viona jadi istri Derik tapi juga sebagai adik. Ia sendirian dan kesepian di rumah. Pembantu hanya bekerja tapi bukan di mana ia bisa bebas bercerita. Melihat kejujuran dan kepolosan Viona saat jam tangan Derik tertinggal dan sampai repot mengembalikan, ia yakin Viona gadis yang baik. Pasti menyenangkan punya adik angkat di rumah.
"Jadi, gimana? Ada yang kamu butuhkan sekarang?"
Derik bersuara setelah Viona selesai menanda tangani. Gadis di depannya kikuk hendak bersuara tapi malu. Masalahnya, ia ingin pembayaran uang bulanan sebagai nafkah istri seperti yang Derik janjikan itu ingin ia minta di awal. Ah, maksudnya sekarang.
"Anu, Pak. Saya boleh minta uang bulanan sekarang?"
Derik mengernyit. "Matre juga kamu," cibirnya.
Sungguh sakit. Tapi mau bagaimana lagi. Ia butuh uang untuk bayar hutang ayahnya di kampung. Biar saja Derik menganggapnya seperti itu.
"Nanti aku transfer ke rekeningmu."
"Terima kasih, Pak."
"Satu hal lagi yang harus kamu ingat sebelum semua ini dimulai." Derik memberi peringatan.
"Kita tidak tidur dalam satu kamar. Jangan harap saya akan mencintaimu, karena saya cinta pada Adel. Bagaimanapun cara kamu menggoda saya, lupakan niatan itu. Saya tidak akan terpengaruh sedikit pun."
Peringatan keras dan tegas dari Derik hanya diangguki Viona dengan pasrah. Ia kaum jelata bisa apa memangnya. Semuanya para orang kaya memandang rendah orang-orang seperti dirinya. Minta duit dikira matre. Cuma mengiyakan kontrak tapi sudah dianggap akan merebut. Ah, nasib orang miskin memang begini. Tapi, ia juga tak ingin munafik. Semuanya butuh uang. Kencing di pom bensin, di toilet umum, bahkan di beberapa mall saja butuh uang. Apalagi untuk makan. Tidak mungkin setiap hari sebungkus nasi akan turun sendiri dari langit. Air minum kalau tahan, ya minum air di sungai Mahakam. Baju juga zamannya sudah beli semua. Tidak buat sendiri seperti zaman dahulu tak pakai uang. Tempat tinggal juga bayar. Kos Viona biar kecil begitu tapi biaya sewanya lumayan. Kecuali jika ia anak pemilik kos. Pasti tak bayar selama-lamanya.
Uang memang segalanya. Orang bisa jadi setan dan tak punya hati jika berhubugan dengan uang. Rela merendahkan harga diri, rela membunuh, rela bercucuran air mata, rela menahan lelah, bahkan rela menggadaikan masa depan. Seperti dirinya. Tak tahu bagaimana nasib masa depannya kelak di tangan Derik. Ah, lebih tepatnya di tangan sepasang suami istri tersebut. Semoga pilihannya tak salah.
"Ini uang muka. Anggap saja buat uang jajan dan beli baju. Besok langsung datang ke rumah. Adel sudah menunggumu. Dan soal ayahmu, minggu depan sudah aku siapkan tiket ke sini untuk akad nikah. Pastikan ayahmu juga bisa menjaga rahasia ini."
"Baik, Pak."
Derik beranjak pergi, menuju sopir yang duduk menunggu di bangku depan restoran. Mobil melaju, langsung menuju sebuah perumahan tempat ia bekerja.
Sepeninggal Derik, Viona menghitung lembaran merah yang dikeluarkan Derik dari dalam dompetnya. Ia hitung, jumlahnya ada dua puluh lembar. Lumayan untuk mencicil hutang daripada untuk beli baju seperti yang Derik minta.
Meski hatinya terluka karena ucapan Derik, tapi Viona senang. Di tangannya ada uang untuk dikirim ke ayahnya. Hutangnya semakin cepat dilunasi semakin cepat juga ia terbebas dari belitan hutang yang mencekik.
Memasukkan uang dalam tas, Viona lantas menghabiskan makanannya. Seumur-umur ia tak pernah makan di restoran. Melihat piring Derik masih utuh tanpa disentuh dan karena porsi makan di restoran ternyata sedikit sekali, Viona pun langsung menyambar piring Derik. Mumpung makan enak gratis di restoran pula. Viona akan menikmatinya baik-baik.
***
Adel menatap takjub pada perabotan mewah yang ada di dalam rumah tersebut. Terlihat mengkilap, berharga, dari bahan terbaik, dan pastinya tak mungkin dibeli di toko sekelas Pasar Pagi atau Citra Niaga.
"Duduk."
Adel mempersilakan Viona duduk. Ia yang baru datang dari kamar, langsung bersemangat kala seorang pembantu mengabari bahwa Viona datang. Adel lekas menghabiskan obatnya, lalu mematut diri sebentar. Sekiranya sudah tampak tak pucat, ia hampiri Viona di ruang tamu.
"Sudah siap?" Adel melihat dua tas milik Viona yang tergeletak di dekat kaki.
"Iya," jawab Viona lirih.
"Kamarmu ada di sebelah sana. Anggap saja rumah sendiri ya. Dan juga, anggap saja aku kakak kamu."
Meski masih canggung, Viona mengangguk. "Iya."
"Ngomong-ngomong kapan pernikahannya?"
"Minggu depan kata Mas Derik."
Adel mengangguk-angguk paham. Ia sudah tahu dari Derik soal rencana pernikahan Viona dan suaminya. Meski ia tak rela dimadu, tapi ia juga tak bisa membiarkan Derik tersiksa tanpa perhatian. Lagi pula ia juga butuh teman ngobrol. Maklum, ia anak tunggal dari orang tua yang sibuk. Sejak kecil hanya berteman pembantu. Belum lagi kondisinya yang sakit-sakitan. Sejak kecil sering keluar masuk rumah sakit. Meski di rumah sakit ia ditunggu orang tuanya, namun tetap saja kedua orang tuanya sibuk dengan ponsel.
Di rumah, ia terbiasa hidup dengan pembantu. Makan, jalan-jalan, nonton TV, bermain hingga tidur. Begitu menikah, ia kira Derik akan memberikan waktu untuknya. Ternyata, Derik sama sibuknya dengan kedua orang tuanya. Lagi-lagi ia sendirian, ditinggalkan.
Begitu melihat Viona yang bisa akrab dengan suaminya, ia jadi ingin menjadikan Adel sebagai adik dan istri kedua suaminya. Kenapa ia memilih Viona, alasan lainnya adalah ia yakin Derik tak mungkin suka dengan perempuan macam Viona yang lusuh. Bahkan Adel yakin, Viona tak memakai bedak. Wajahnya terlihat kusam. Mungkin karena pekerjaannya juga yang berada di warung sebagai pelayan.
Adel jadi tenang. Ia punya saingan yang tak sepadan. Dirinya lebih cantik, dengan perawatab rutin tiap malam. Ia lebih tinggi karena gen dari orang tua. Ia juga lebih memiliki kulit cerah karena pelembab yang melembutkan dan mengenyalkan kulit. Rambutnya lebih halus karena terawat dengan sampo serta vitamin. Tak absen ke salon sesibuk apa pun ia. Matanya lehih bulat, yang membuat Derik senang saling memandang. Bibirnya berpoles merah cerah, tak kelihatan pucat. Tentu Derik akan memilih bibirnya untuk dikecup daripada Viona yang bibirnya kering tanpa sentuhan pelembab bibir atau lipstik. Belum lagi tubuh ramping Adel, lebih menggoda jika memakai baju ketat. Lekukan sempurna, hasil makan sehat dan tepat waktu. Ia tak olahraga di gym, karena kondisi kesehatannya. d**a Adel ... terlihat lebih membusung. Sayang, ia tak menyadari bahwa Viona lebih memiliki p******a yang sekal dan pas di tangan namun tertutup oleh kaus dan jaket murahan milknya.
Satu hal lagi yang paling penting. Seumur hidup, Derik hanya berpacaran dengan Adel. Tak ada yang lain, meski banyak perempuan di sekeliling Derik. Selain karena teman masa kecil, Derik juga tipe lelaki kaku yang tak pandai menggoda perempuan. Hanya Adel yang karena sudah terbiasa dan akrab sejak kecil, lambat laun meruntuhkan dinding kokoh Derik.
Keduanya berpacaran dan menikah. Cinta keduanya sudah tak bisa berpaling, pikir Adel. Jadi, bagaiamanapun godaan datang, Adel yakin bahwa Derik akan tetap memilihnya. Cinta pertama yang akan selalu jadi yang utama, terakhir dan selamanya.
Viona jadi ingat lirik lagu yang menggambarkan posisi dirinya yang hanya sebagai orang ketiga. Di Antara Kalian yang dinyanyikan oleh D'Masiv.