Empat | Perjanjian

1522 Kata
Jejak hujan membasahi tanah Borneo. Musim hujan atau kemarau, bukan hal yang bisa diprediksi di kota ini. Meski sedang musim kemarau, bisa saja hujan deras hingga banjir melanda. Kadang pagi hujan lebat, siang sedikit sudah terik tak kira-kira. Menjelang malah kembali hujan. Tanpa ada mendung, angin atau pertanda lainnya. Seperti nasib Viona saat ini, yang tak mengenal musim. Kemarin masih kemarau karena desakan rentenir kampungnya soal hutang sang Ayah, kini ia diguyur hujan tak kira-kira karena dalam hitungan menit saja hutangnya sudah lunas. Rentenir tua beristri banyak itu hanya melongo bingung kala Derik datang sambil membawa amplop berisi uang hutang dan selembar tanda bukti serta perjanjian. Bahwa hutang ayah Viona sudah lunas. Pihak Viona akan terbebas dari jeratan apa pun termasuk bunga yang mencekik. Di kemudian hari mereka tak berhak menagih apa pun pada keluarga Viona, termasuk menjadikan Viona istri sebagai penebusan hutang. "Apa sudah cukup? Kalau sudah, ayo kita pergi." Derik berdiri lebih dulu diikiti ayah Viona dan Viona sendiri. Dua orang tersebut saling berpegangan karena tatapan anak buah sang rentenir yang masih mencekam ke arahnya. Padahal ia sudah membayar lunas hutang yang sudah menjerat bertahun-tahun. Derik tiba di rumah Viona, diiringi tatapan dan kasak-kusuk tetangga. "Wah, ini calonnya Viona ya?" "Kerja baru berapa tahun sih, sudah bawa calon suami aja." "Kapan diresmiin. Anak perawan di rantauan, pasti rawan diperawanin." "Kamu gaet bos di tempat kerja ya, Vin? Oke juga gayamu." Dan berbagai selentingan yang makin menjadi kala Viona memilih tak menanggapi. Ia mengajak Derik masuk ke rumahnya yang tak sebanding dengan istananya bersama Adel. Tapi, mau bagaimana lagi. Hanya rumah itu satu-satunya yang mereka miliki. "Mau minum apa, Mas?" tanya Viona. "Teh saja." Viona mengangguk lalu berjalan ke belakang. Ia siapkan teh celup yang dibelinya sachetan di warung. Mencampurkannya dengan gula pasir dua sendok. Air dalam termos ia tuang setengah, lalu ditambahkan air dingin agar teh tersebut tidak terlalu panas. **** Acara akad nikah berlangsung sederhana dan tertutup. Derik melaksanakannya di KUA terdekat. Segala urusan surat menyurat sudah ia urus sejak di Samarinda. Atas bantuang sang mertua barunya, Derik tinggal datang dan duduk di depan penghulu. Saking sederhananya, hanya ada ayah Viona dan dua orang saksi yang merupakan pegawai KUA yang sedang tak repot. Asal pernikahan sah, Derik tak masalah. Viona hanya menurut, meski ia melaksanakan  pernikahan tanpa riasan, baju kebaya, atau bahkan mahar yang dihias seperti pengantin lain. Satu amplop putih berisi uang tunai ia terima sebagai mahar pernikahan. Ayah Viona yang menyaksikan, hanya bisa pasrah menerima sang anak harus dilepas dengan cara tiba-tiba. Pernikahan mendadak, dengan menantu yang tak ia kenal sebelumnya. Saat Viona mengatakan akan menikah dan mendapat solusi akan hutang, ia hampir menangis. Berat rasanya melihat sang anak berkorban untuk dirinya. Ayah macam apa, yang merelakan sang anak menikah untuk melunasi hutang. Apalagi jadi istri kedua. Ya, Viona sudah bercerita tentang status Derik. Tentang Adel yang bak malaikat, juga kebahagiaan setelah bertemu suami istri tersebut. Minus perjanjian bahwa dirinya hanya jadi bayang-banyang, tanpa dianggap sebagai istri. "Sekarang, kalian sudah sah jadi suami istri." Dengan ragu, Viona mencium tangan Derik. Ayah Viona menangis haru, begitu pula dengan Viona. Bapak dan anak itu saling berpelukan. *** Sore setelah akad nikah selesai, Derik mengajak Viona untuk langsung terbang kembali ke Samarinda. Tak diberi kesempatan lebih lama untuk Viona dan ayahnya melepas rindu. Sang Ayah sudah meminta, setidaknya menginap sehari saja. Tapi tak juga digubris. Derik beralasan ia sudah ada kerjaan esok hari. Bisa tak bisa  malam ini sudah sampai di Samarinda. "Hati-hati ya, Nak." Ayah Viona berpesan pada anaknya. Berat memang melepas ajak satu-satunya. Ia sudah sama-sama sebatang kara. Ayahnya tinggal sendiri, dan Viona selama merantau juga tinggal sendiri. Sekarang, ayahnya harus melepas Viona untuk menjadi istri orang. Meski berat terasa. Pernikahan yang ia harapkan jauh dari keinginan. Melepas anak semata wayang dengan dasar bayar hutang. Tapi, ia berdoa semoga pilihan anaknya adalah pilihan yang baik. Dan Derik bisa memperlakukan Viona dengan baik juga. Ayahnya yakin akan hal itu. "Kami pulang dulu, Yah. Hati-hati di rumah. Jaga kesehatan, dan jangan bekerja terlalu keras." Keduanya berpelukan dan menangis ringan. Tak ada isakan, hanya sendu dan setetes dua tetes air mata yang jatuh membasahi pipi. Setelahnya, Viona melambai dan menjauh menuju mobil yang akan membawa keduanya menuju bandara. Di dalam mobil yang mengantar keduanya,  Viona dan Derik duduk di belakang. Diam, senyap, tanpa suara. Derik sibuk dengan ponsel, sementara Viona melihat jalanana melalui jendela. Rumah-rumah berbaris rapi. Kota Kediri tampak ramai. Pabrik gudang garam yang menjadi sumber penghasilan warga sekitar tampak menjulang tinggi. Kemudian mobil bergerak  meninggalkan kota Kediri dan masuk ke kota Jombang. Penjual kerupuk pasir berjejer. Manusia-manusia yang sedang bekerja di pinggir jalan tampak memikul barang dagangan. Bus-bus berhenti, mengeluarkan dan memasukkan penumpang. Mobil bergerak lagi menuju kota Mojokerto. Mata Viona sedikit mengantuk. Ia pejamkan mata dan bersandar di punggung kursi. Sayup ia mendengar ponsel Derik berbunyi. Tak lama kemudian terdengar laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu berbicara dengan orang di seberang. Melihat dari percakapannya, Viona menduga bahwa telepon itu dari Adel, istri pertamanya. "Ini masih perjalanan menuju bandara." Viona bisa mendengar meski matanya memejam. Ia tak ingin ikut campur. Lebih baik ia tidur saja. Semua pasti akan baik-baik saja. "Dia baik-baik saja." Pasti Adel membicarakan dirinya, pikir Viona dalam tidur ayamnya. "Iya. Aku langsung pulang. Siapkan saja kamar untuknya di sebelah kamar kita." Viona yakin ia akan punya kamar sendiri. Tidak mungkin satu kamar dengan suaminya. Ah, pernikahannya hanya di atas kertas, bukan di atas ranjang. Sudah pasti ia akan tidur di kamar sendiri sementara pasangan suami istri sesungguhnya berada dalam satu kamar. Setidaknya ia bersyukur di kamar sendiri. Ia bisa bebas melakukan apa saja. Tidur tanpa memikirkan ada orang lain di sampingnya. Tak perlu malu bertingkah kurang sopan. Ia juga bisa mendengkur dan berliur kala tidur tanpa khawatir dengan komen orang yang tidur di sebelahnya. Bisa bernyanyi di kamar, seperti yang ia lakukan di kamar kos dulu. Bisa teleponan dan main game sesuka hati. Toh, ia sudah terbiasa tidur di kamar sendiri sejak kecil, remaja, hingga ia tinggal di kos sendirian. "Aku juga merindukanmu." Kalimat terakhir yang didengar Viona, sebelum panggilan itu benar-benar berakhir. Setelahnya, panggilan datang hanya membahas pekerjaan saja. Perlahan  Viona benar-benar tertidur. *** "Ingat perjanjian kita. Tidak ada hubungan suami istri yang mungkin kamu harapkan. Aku menikahimu hanya karena permintaan Adel. Pergilah tidur di kamarmu. Tidak usah melakukan apa pun, cukup temani Adel ke mana saja dia pergi." Viona mengangguk, sebelum pintu gerbang terbuka dan mobil Derik masuk ke halaman rumah. Adel terlihat berjalan mendekati mobil. Derik keluar dan langsung dipeluk Adel. Viona yang melihat hal tersebut hanya mendesah. Ia bingung bagaimana bersikap. Ia keluar perlahan dari mobil lalu berdiri sambil menutup pintu. "Hei, Viona." Adel melepas pelukan pada Derik lalu berjalan memutar melewati mobil bagian depan lalu memeluk Viona. Gadis itu terkejut kala Viona tanpa ragu dan tampak akrab memeluk dirinya erat. Tangannya melingkar di pinggung Viona. "Ya, Mbak." "Selamat ya, sudah menikah dengan Derik. Sekarang kita adalah keluarga. Jangan sungkan di rumah kita. Yuk, aku antar ke kamar kamu." Viona mengulas senyum tipis dan berjalan mengikuti langkah Derik dan Adel yang berjalan lebih dulu di depannya. Ia angkat tas yang dibawanya dari rumah dan mampir sejenak mengambil barang di kamar kos lamanya. Memasuki rumah yang sudah pernah ia singgahi, masih saja tersisa rasa tak percaya. Ia akan hidup di rumah ini. Bersama suami dan istru dari suaminya. Ia hanya orang ketiga, tapi tinggal satu atap. "Kamar kamu di atas. Tepat di sebelah kamar kami." Viona mengangguk. Seorang wanita paruh baya mendekat dan membantu membawakan tas Viona. "Ayo saya antar ke kamar," katanya. Viona berjalan menaiki tangga bersama seorang wanita yang sudah dikenalnya sebagai pembantu di rumah tersebut. Kakinya melangkah ke anak tangga satu per satu. Sesekali matanya memandang seisi rumah. Hingga tak terasa ia sampia di anak tangga paling atas. Diliharnya loros panjang dengan empat pintu kamar. Satu kamar di dekat tangga, adalah kamar Derik dan Adel. Begitu kata Nenek, panggilan wanita itu. Meski tak tua-tua amat dan cekatan kerjanya, tapi Adel terbiasa memanggil wanita itu dengan sebutan tersebut sejak kecil. "Kamar kamu di sini. Silahkan." Viona mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Wanita tersebut kembali turun. Viona memandangi hingga wanita itu sampai di undakan terakhir. Setelahnya, ia baru membuka pintu. Matanya membelalak begitu melihat isi kamarnya. Ranjang yang lebih besar dari kasurnya du kos maupun di rumahnya sendiri. Lalu ada meja rias, tidak seperti miliknya yang hanya rak kecil kaca rias gantung murahan. Sebuah televisi, yang ia tonton hanya di tempat kerja. Itu pun dengan acara yang sama dalam waktu lama. Akan dipindah jika sedang tayang sinetron atau acara bola. Belum lagi lantai kamar yang mengkilap, kamar mandi pribadi, sebuah lemari besar dari kayu berpoles warna cokelat tua. Tak seperti lemari plastik di kamar kosnya yang ditarik seperti laci empat tingkat. Viona takjub. Ia sampai berdiri memandangi semua perabot yang akan ia nikmati di rumah ini. Ia bahkan belum maju selangkah guna segera ganti baju atau melepas lelah dengan tiduran seperti yang ia lakukan sepulang kerja. Udara dingin menyapanya lembut. Sepertinya sudah dinyalakan sebelum ia datang. Seperti mimpi bisa tinggal di kamar seperti itu. Semoga mimpi indah ini, bisa sedikit menghapus mimpi buruk Viona yang sekarang punya status istri kedua. ___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN