"Gimana tidurnya? Nyenyak?"
Viona hanya tersenyum lalu mengangguk. Tidurnya semalam sebenarnya kurang nyenyak. Meski lelah karena pagi acara nikahnya dan sore sudah terbang ke Samarinda, namun ternyata karena berada di tempat baru ia masih merasa belum nyaman. Padahal kamarnya dingin, ber AC. Tak seperti kamarnya di kos nya yang gerah meski sudah ada kipas angin. Belum lagi menjelang subuh ia tak sengaja mendengar desahan dari pergumulan panas Adel dengan Derik dari kamar sebelah. Kemarin yang menikah kan dirinya, tapi malah menghabiskan malam dengan orang lain. Ya, bukan orang lain juga. Melainkan istri pertamanya.
"Iya."
"Kamu biasanya ngapain sehari-hari?" tanya Adel.
"Kerja saja di warung."
Adel mengangguk-angguk. "Sekarang jadi bisa santai ya. Kamu nggak ada sibuk apa-apa kan hari ini?"
"Enggak sibuk apa-apa, Kak. Dari tadi juga tiduran di kamar karena masih agak pusing setelah perjalanan," alasan Viona. Setelah sarapan yang membuatnya canggung karena kemesraan Adel dan Derik, Viona memilih kembali ke kamar. Menata barang-barang lalu baring sejenak. Sekarang pulul sepuluh pagi, dan ia mendatangi Adel yang sedang baca-baca majalah di ruang tengah. Selain karena bosan dan bingung, ia juga ingin mengakrabkan diri dengan Adel.
"Jalan yuk!" ajak Adel.
"Ke mana, Kak?"
Adel mengetuk telunjuk di dagu. Mencoba berpikir. "Ke mana ya .... ehm. Kita jalan aja pokoknya."
"Tapi, Kak, aku belum mandi."
Adel menggeleng dan berdecap dengan senyuman ringan. "Astaga. Ya sudah kamu mandi dan siap-siap dulu. Aku juga akan siap-siap di kamar."
Keduanya pun masuk kamar masing-masing. Adel ganti baju dan berdandan, sementara Viona mandi dan menyiapkan baju yang sekiranya cocok ia kenakan. Sayang, bajunya hanya itu-itu saja. Kemeja, kaus, jaket dan celana. Ada dua baju lebih bergaya saja, hanya untuk kondangan.
***
"Kamu pilih saja baju yang kamu mau."
Viona melongo. Ia diajak Adel ke mall. Tadinya ia kira hanya berkeliling-keliling saja. Ada sopir yang siap mengantarkan. Ternyata malah turun di mall.
"Maksudnya?" Viona masih bingung.
"Pilih dan ambil baju yang kamu suka."
"Tapi harganya mahal-mahal, Kak." Melihat angkanya yang tiga digit sebelum nol saja sudah membuatnya panas dingin. Ia biasa beli di pasar dengan harga dua digit angka. Sudah mentok di sana. Jangan tambah. Berat di dompetnya yang tak pernah tebal, meski dengan receh dua ribuan sekalipun. Karena begitu gajian, ia langsung membagu uang tersebut untuk biaya kos bulanan, mengirim ke ayahnya di kampung, dan masuk dompet kecil untuk jaga-jaga ada keperluan mendadak. Selebihnya tinggal beberapa lembar guna hidup sehari-hari. Dicukup-cukupkan.
Adel tersenyum dan menepuk pundak Viona. "Tenang, aku yang belikan. Sudah sana, ambil sesukanya. Kamu kan sekarang adik aku. Sudah sewajarnya seorang kakak membelikan untuk adiknya."
Viona hanya bisa mengangguk canggung dan mengucapkan terima kasih. Ia pun maish dengan tangan gemetar memilih baju. Ia pilih yang harganya paling minim. Meski dibelikan, ia harus tahu diri. Tak ingin merepotkan. Tak bisa minta yang semena-mena.
"Jangan dipandangi harganya terus. Ambil saja. Ini, aku sudah pilihkan beberapa. Coba kamu pakai di ruang ganti. Cocok apa tidak."
Viona menerima dua potong baju terusan dengan lengan terbuka dan satunya bertalu pinggang dan berhias pita di sisi samping. Menawan, cantik dan harganya pasti tak murah.
Viona membawa baju tersebut ke ruang ganti yang ia temukan setelah melihat-lihat sekeliling. Begitu masuk, ia coba potongan pertama. Pas di badannya. Ia juga terlihat berbeda. Pantulan di cermin membuat Viona yang memilki wajah serta tubuh pun merasa pangling. Kenyataannya, memang berbeda. Ia jadi lebih punya kesan mahal seperti harga bajunya.
Baju kedua ia coba. Ternyata, makin menawan saja melekat di tubuhnya. Ia merasa aneh, bagaimana bisa Adel memilihkan baju yang ukurannya pas di tubuhnya.
Begitu keluar, rupanya sudah ada Adel yang berdiri sambil menunggunya. "Gimana? Pas?" tanyanya penasaran. Ia tadi hanya melihat sekilas tubuh Viona. Mengira-kira ukuran yang tak jauh beda dengannya. Hanya saja Viona lebih pendek darinya.
"Iya, pas."
Adel mengangguk. Jadi benar perkiraannya. Ia pun meminta Viona memasukkan dua baju tersebut ke dalam tas yang disediakan pemilik toko.
"Ayo ke sini. Aku tadi lihat baju bagus. Sepertinya cocok untukmu."
Adel menggandeng Viona menuju gantungan yang berada di sisi sebelah. Begitu Adel menunjukkannya, Viona takjub. Ia memegang salah satu baju. Kainnya lembut dan jatuh. Dingin, serta jahitannya rapi. Menemukan label harga, matanya langsung melotot.
"Bagus kan? Mau coba juga?"
"Nggak usah, Kak. Ini saja sudah cukup," tolak Viona. Ia tak mau makin merepotkan. Harga dua baju tadi saja sudah jutaan, masa ditambah baju lagi.
"Nggak papa. Ambil dan coba. Aku tunggu di sini sama belanjaan kamu."
"Tapi, Kak...."
Viona menolak, tapi malah didorong Adel agar segera mengambil dan menuju ruang ganti.
"Buruan dicoba, Vin."
"Nggak usah, Kak. Kita langsung bayar saja yang dua tadi." Viona masih berusaha menolak.
Adel menggeleng. "Udah jangan mikir lama. Cepetan, Vin. Apa langsung masuk tas saja deh kalau kamu nggak mau coba."
Adel bergerak mengambil baju tersebut karena Viona terlalu lama memutuskan. Viona memegang tangan Adel untuk mencegah, tapi gagal. Baju itu sudah masuk ke dalam tas belanjaan. Viona pasrah dengan pundak terkulai lemas, sementara Adel tertawa senang.
Keduanya berjalan ke kasir. Begitu dijumlah harga tiga baju, Viona melotot dan hampir menjerit tak percaya. Sementara itu Adel malah santai mengeluarkan kartu dan menggesek tanpa pikir panjang. Kasir menyerahkan kembali kartu Adel lalu menoleh pada Viona.
"Udah. Kita cari makan yuk! Lapar."
Mau bagaimana lagi, Viona mana bisa menolak. Ia ikuti terus Adel yang menggandengnya menuju gerai makanan yang memilik pusat di daerah Jakarta dan menyebar di berbagai kota di Indonesia.
***
Makanan di depan Viona tampak menggoda. Padahal ia hanya pesan nasi goreng saja. Tapi tampilannya sangat berbeda dengan yang ia beli biasanya di warung dekat tempat kerjanya. Soal rasa, ia belum mencoba karena masih kagum dengan penyajian. Nasi dicetak setengah lingkaran. Suwiran ayam berada di atas dengan tatanan yang manis. Tepat menumpuk di atas tanpa ada yang jatuh. Tiga ekor udang ditata seperti lipas di bagian pinggir. Tak lupa tomat berbentuk bunga, mentimun, dan duan selada yang juga menjadi penyegar.
"Dimakan, Vin!" seru Adel yang mulai melahap steak dengan pan panas yang membuat daging mengeluarkan desis dan asap panas. Belum lagi letupan kecil kala bertemu dengan saus.
"Iya, Kak."
Viona pun mulai melahapnya. Perlahan ia sendok dan memasukan ke mulut. Soal rasa, rupanya hampir sama dengab nasi goreng yang ia nikmati hasil beli di warung sekitar kos atau tempat kerja.
Tiga suapan ia telan, kemudian makana lain datang. Udang goreng tepung, ayam saus asam manis dan kentang goreng. Viona hanya memandangi kala pelayan menyajikan. Ia tak merasa memesan.
"Kok banyak banget, Kak?" bingung Viona menyuarakan isi hati setelah pelayan yang mengantar tadi pergi.
"Nggak lah. Cuma beberapa. Kamu mau pilih yang mana, makan saja."
Viona menggeleng. "Bukannya ini pesan buat Kak Adel?"
Adel mengulas senyum dan terkikik geli. "Buat kamu. Nasi goreng di sini porsinya sedikit. Pasti kamu kurang kenyang. Jadinya aku pesankan saja menu lain. Nggak berat kok, cuma menu camilan. Sudah, cepat habiskan nasi gorengnya biar bisa makan yang lain."
Viona hanya menurut saja. Ia nikmati nasi goreng yang memang porsinya sedikit tapi harganya tiga kali lipat dari harga biasanya ia beli di warung.
Setelah menghabiskan nasi goreng dan menandaskan setengah gelas es teh manisnya, Viona mencoba potongan ayam yang dibalur telung dan dimasak dengan bawang bombay, daun bawang, saua tiram serta saus tomat. Ada rasa asam dan manis di mulut. Ayam gorengnya juga masih terasa renyah meski sudah ditumis bersama kuah asam manis yang sedikit dibuat agak kental.
Garpunya beralih pada udang goreng tepung yang ia cocol ke saus tomat pedas. Rasanya gurih dan manis. Tanda udang tersebut masih segar.
Selesai makan, Adel membayar dan keduanya berjalan pulang. Adel sudah harus sampai rumah karena tubuhnya merasa lelah. Ia tak bisa banyak beraktifitas seharian penuh, mengingat kondisi tubuhnya yang tak prima. Sejak kecil ia memang gampang sakit. Daya tahan tubuhnya kurang. Maka dari itu ia tak banyak bermain di luar. Saat sekolah juga ia sama sekali tak mengikuti ekstra kulikuler sekolah. Pulang sekolah saja ia sudah lelah, dan langsung pulang guna istirahat. Belum lagi vitamin yang selalu ia konsumsi, agar selalu memiliki energi.
Sampai di rumah pukul tiga dua siang. Adel masuk kamar ingin istirahat, sementara Viona ingin santai setelah gantu baju dan mandi. Ia bosan di dalam kamar terus. Sambil meluruskan kaki, ia senderkan punggung lalu mencari remote yang tadi sebelum berangkat jalan ia lihat di sofa. Setelah menemukan, ia nyalakan TV berukuran empat sampai lima kali lipat dari TV rumah dan warung tempatnya kerja. Besar, dan membuat Viona jadi ingat saat menonton bioskop.
Menikmati acara sinetron sore, ia sedikit terhibur. Hingga tak sengaja ia jatuh tertidur di sofa. Tangannya menggenggam remote, mulutnya terbuka dan TV menyala tanpa ada yang melihat. Bahkan hingga petang dan gelap. Magrib memanggil, membuat Viona baru terbangun. Ia menatap sekeliling, dan pandangannya terpaku pada sosok yang menenteng tas sambil balas menatapnya dengan sengit.
"Eh, Mas. Sudah pulang?"
Derik melengos. Ia langkahkan kaki menaiki tangga. Mengabaikan Viona yang menyapanya. Sambil melangkah ia bergumam, "Berlagak seperti nyonya rumah saja."
Viona yang diabaikan, hanya bisa diam. Tak lepas ia pandangi Derik yang menaiki anak tangga satu demi satu hingga sampai di kamar. Membuka pintu dan hilang tertelan. Mendesah, ia hanya mengelus d**a agar tetap sabar. Tak dianggap juga tak masalah seharusnya. Ia pun bergerak ke kamar. Menyegarkan badan, sebelum nanti ia diajak makan bersama.
***
Seperti yang Adel tadi katakan saat tiba di rumah selepas jalan dan hendak masuk ke kamar, ia pesan pada Viona untuk tak lupa makan bersama tiap malam. Tidak selalu dengan kehadiran Derik. Karena suaminya tersebut tidak bisa selalu pulang di jam yang sama tiap hari dan saat makan malam tiba. Jadilah Adel akan tetap makan bersama meski hanya berdua dengan Viona. Bukankah kini ia sudah punya teman makan?
"Eh, kamu udah duluan, Vin."
Adel datang dengan langkahnya yang anggun. Menarik kursi, lalu duduk dengan nyaman.
"Iya. Tadi aku habis mandi langsung ke sini. Masih sepi, hanya ada Nenek saja yang nata piring. Tak apa aku nunggu di sini daripada kembali ke kamar," alasan Viona.
Tak berapa lama Derik datang menyusul. Ia menarik kursi dan duduk. Gestur tubuhnya selalu mengarah pada Adel yang duduk di sisi kanan. Sementara Viona di sisi kiri tak pernah sekalipun dilirik.
"Bagaimana tadi jalan-jalannya? Kamu senang?"
Adel mengangguk senang. "Iya. Sekarang ada Viona yang bisa aku ajak jalan dan belanja." Lalu melirik pada Viona yang hanya tersenyum canggung.
"Kamu belanja apa?"
Adel menggeleng. "Aku nggak belanja apa-apa. Semua belanjaan untuk Viona."
Mendengarnya, Derik melirik Viona sinis. Ia makin kesal pada gadis yang tiba-tiba hadir di keluarganya. Padahal baru dua hari, tapi rasanya seperti benalu yang sudah hidup lama.
Menyadari bahwa tatapan Derik tak suka melihat Viona, buru-buru Adel menepuk lengan Derik yang diletakkan di atas meja.
"Aku yang belanjakan. Bukan Viona yang minta. Aku paksa dia tadi, Sayang. Sudah, jangan cemberut begitu. Makan saja yuk."
Adel berhasik merubah suasa. Piring mulai diambil. Adel mengambil dua potong roti dan mengolesinya dengan selai kacang. Ia tidak makan berat kala sarapan. Sementara Derik mengambio dua centong nasi kuning buatan Nenek. Ayam haruan dibumbu merah sebagai pelengkap. Sementara Viona mengambil setelah Derik selesai. Ia mengambil dua centong nasi kuning, telur bumbu merah dan serundeng. Ketiganya menikmati sarapan dengan suara dentingan sendok.
Dering ponsel Derik membuat laki-laki itu segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ke telinga.
"Sebentar lagi aku berangkat."
Ia matikan ponsel lalu meletakkan di meja. Melirik pada Adel. "Sepertinya aku harus berangkat sekarang."
Adel ikut meletakkan potongan roti tawar ke piring. "Buru-buru sekali? Ada masalah serius?"
Derik menggeleng pelan. "Tidak. Bukan hal serius."
"Oke."
"Aku berangkat dulu."
Derik lalu mengecup pipi Adel yang dilanjutkan dengan keduanya saling berciuman singkat sebagai tanda pamitan. Viona yang duduk di hadapan mereka, hanya bisa memandang tanpa berkomentar. Pipinya memanas, padahal bukan dirinya yang dicium. Hanya saja ia belum terbiasa menghadapi kemesraan secara langsung orang-orang di dekatnya itu. Mereka pun tak sungkan melakukan di tempat terbuka. Padahal Viona merasa malu sendiri.
"Kak?"
Adel menjawab, " Ya?"
"Padahal sarapannya belum habis, tapi Mas Derik sudah buru-buru berangkat."
Adel mengangkat bahu. "Ya begitulah. Sudah, lanjutkan makan kamu. Habis ini aku mau ke dokter buat cek kesehatan. Kamu mau ikut?"
Viona hanya bisa mengangguk. Daripada ia di rumah sendirian malah bingung. Toh kali ini di tempat periksa. Tak ada kelelahan belanja dan jalan memutari mal seperti kemarin. Pasti lebih cepat pulang.
__________