Enam | Orang Kaya Baru

2010 Kata
Baju yang dikenakan Viona hari ini, agaknya berbeda. Jelas, ia tak memakai baju lamanya. Adel memintanya berganti baju. Padahal hanya ke rumah sakit. "Kak, kita nggak perlu antri?" Ia heran begitu Adel mengajaknya ke rumah sakit, baru daftar dan tak beberapa lama sudah dipanggil. Karena yang ia tahu,  saat berobat di puskesmas ia datang pagi guna mengambil nomor antrian. Masuk buat registrasi, dipanggil untuk periksa, duduk antri lagi menunggu dipanggil guna mengambil obat. Itu baru di puskesmas. Saat ibunya dulu sakit malah lebih repot. Sebelumnya ia akan ke puskesmas guna meminta surat rekomendasi berobat ke rumah sakit. Sampai di sana pagi, ia registrasi dengan bejibun manusia sakit yang minta kesembuhan. Setelah dipanggil untuk registrasi, ia akan antri lagi menuju tempat pemanggilan di mana ia nanti akan berobat. Lebih tepatnta poli yang dituju. Setelah dapat nomor antrian, ia pergi menuju poli periksa. Di sana masih harus menunggu dokternya datang yang katanya jam sepuluh pagi tapi molor sampai jam dua belas siang bahkan bisa lebih. Dari yang antri bejibun di depan tadi, baru tinggal beberapa belas atau puluh orang yang menggu di depan ruang dokter. Dipanggil satu per satu sesuai nomor yang sudah didapat di depan dan saat pagi tadi. Masuk ke ruangan, diperiksa. Selesai, pergi lagi menuju depo pengambilan obat yang tempatnya bisa bertolak belakang. Tadi di sisi samping kanan sekarang ke samping kiri. Belum lagi antri dengan pasien lain yang berasal dari poli berbeda. Sungguh harus sabar. Antri pagi, bisa saja pulang siang atau malah sore. "Nggak usah. Aku udah langganan di sini." Baiklah, Viona harus memaklumi. Orang sakit saat punya status, akan beda perlakuan. Punya status berduit dan mandiri, jauh lebih cepat dan berkualitas. Dilayani dengan senyuman, diantar sampai ke dalam ruangan. Berbeda kala hanya menggunakan asuransi. "Kamu tunggu di sini saja. Aku tidak lama kok." Viona mengangguk. Ia tak masalah menunggu. Toh ia sudah biasa menunggu seperti ini di rumah sakit saat ibunya dulu sakit. Melihat Adel sudah masuk ruangan, Viona pun mengeluarkan ponsel. Ia lihat akun sosmednya yang hanya memiliki dua statua dan satu foto saat ia berada di bandara kala pertama kali datang ke kota ini. *** Derik menata beberapa berkas berisi surat tanah yang sudah dipecah beberapa kavling. Menatap jam dinding sejenak, sudah pukul delapan malam. Hadi, sopirnya yang sedang ngopi di warung dekat kantor pemasaran perumahan milknya ia panggil melalui telepon. "Kita pulang sekarang." Sembari menunggu Hadi datang, Derik mencoba panggilan dengan istrinya di rumah. Tadi pagi saat ke rumah sakit, Adel sudah menghubungi. Bahkan saat pulang juga Adel meneleponnya. Mengatakan ia langsung pulang tanpa pergi jalan seperti kemarin. Namun sampi malam, Adel tak lagi mengabarinya. Tak biasanya, karena Adel yang paling sering mengabari. Dering kedua barulah panggilannya dijawab. "Hai?" sapa Derik. Adel di seberang juga membalas, "Hai, Sayang. Belum pulang?" "Ini sedang menunggu Hadi." "Oh." "Bagaimana periksa tadi?" Ada desahan di seberang sana. "Yah, begitu. Seperti biasanya." "Oh. Kalau begitu aku pulang dulu." Derik hendak menutup, tapi Adel mencegah. "Ya, ada apa?" "Beliin aku martabak manis ya. Spesial keju s**u kayak biasa." Derik mengangguk. "Iya." "Eh bentar, aku tanya Viona dulu dia mau apa tidak." Derik menunggu, dan lirih ia dengarkan percakapan Adel dengan Viona di seberang sana. Tawaran Adel yang ditolak Viona. Perdebatan kecil membuat Derik jadi agak lama menunggu. "Viona bilang nggak usah. Jadi, beliin sama kayak aku aja dua ya." "Iya." Derik lekas menutup ponsel, lalu berdiri dan menghampiri Hadi yang sudah menunggunya. Perjalan dari kantornya menuju rumah tak sampai satu jam. Hanya saja saat malam, tak dipungkiri jika kemacetan melanda. Kendaraan sudah mirip di Jakarta saja. Macet di mana-mana. Kumpulan orang pulang kerja, sekolah, kuliah, atau yang baru berangkat menikmati malam seperti ke mal, makan dan pergi karaoke. Seperti keinginan Adel istrinya, Derik mampir membeli martabak manis langganannya. Antriannya lumayan banyak, tapi ia sabar menunggu. Sambil mengecek beberapa berkas di dalam mobil, Derik tetap memanfaatkan waktu untuk bekerja. Hadi ditugasi berdiri mengantri bersama manusia-manusia lain. Tempat ia beli memang terkenal tebal, enak dan harganya lebih terjangkau dibanding tempat lain. Meski antri, orang-orang rela berdiri menunggu. Ditambah banyak varian isi yang menjadi pilihan. Pernah Derik membeli empat rasa berbeda. Karena memang kesukaan satu rumah beda-beda. Derik lebih suka yang oroginal. Hanya diolesi mentega dan sedikit s**u kental manis di atasnya. Tak suka pakai toping. Adel sang istri, suka keju s**u yang spesial. Hadi, sopirnya itu suka kacang. Sementara Nenek tak suka martabak manis karena alasan giginya ngilu. Jadilah pesan martabak asin. Ia cemili sambil menggigiti mentimun dan cabe hijau. "Sudah, Pak." Derik menoleh pada Hadi yang masuk ke mobil membawa dua bungkus martabak. Ditaruhnya di kuris depan dekat Hadi. Aroma dari mentega dan s**u langsung menyeruak di dalam mobil berpendingin. Mobil melaju, menuju rumah. *** Sudah pukul sepuluh, kala pintu rumah terbuka. Ia lihat Derik datang sambil menenteng tas dan bungkusan plastik. "Sudah pulang, Mas?" Viona menyapa. Tapi lagi-lagi Derik mengabaikan. Derik menaiki tangga tanpa repot menjawab pertanyaan Viona. Mesju begitu, Viona merasa baik-baik saja. Sepeninggal Derik yang hilang ditelan pintu kamar, Viona kembali berbaring di sofa panjang. Melanjutkan menonton acara show malam yang dikemas dengan komedi. Sesekali ia akan tertawa. "Punya kamu." Viona kaget dan langsung berdiri dari posisi nyamannya. Ada Derik yang menghampirinya dan meletakkan bungkusan berisi dua kotak di meja. Viona tebak itu adalah martabak manis atau biasa ia sebut terang bulan. Tadi ia dan Adel sempat berdebat soal makanan tersebut. Ia sudah kenyang karena makan banyak. Tak ingin makan berat lagi. "Kak Adel...." "Dia sudah tidur. Kamu makan saja. Punya Adel taruh di lemari es. Biar besok dipanaskan Nenek." Viona menurut saja. Ia keluarkan satu kotak martabak dari plastik. Membuka kitak bergambar seorang chef berpakaian putih dan perutnya gendut. Begitu terbuka, aroma manis dan gurih lang melambai hidung Viona. Melihat ketebalan daging dan parutan kejunya yang tumpah ke pinggiran, membuat liurnya hendak menetes. Tapi, apa ia sanggup menghabiskannya sendiri? Ke dapur, ia hendak mengajak Nenek untik makan menikmati terang bulan bersama ... ia bertemu dengan Derik yang tengah menyeduh kopi. Nenek sedang merebus air, sementara Derik menuangkan bubuk kopi ke gelas. "Mas Derik bikin kopi? Biar aku saja." Viona maju hendak menawarkan bantuan. Bagaimanapun juga ia sudah terbiasa menyajikan untuk orang lain. Hanya kopi, dan ia sudah mahir sejak masih masa jadi anak sekolah. "Nggak usah. Aku bisa sendiri." Derik menolak bantuan Viona. Mau tak mau Viona berhenti. Ia akhirnya hanya duduk memperhatikan Derik dan Nenek melakukan aktifitas. Nenek selesai menjerang air, lalu menuangkannya ke gelas yang sudah diisi takaran kopi oleh Derik sendiri. Selesai mengaduk, Derik membawa gelasnya keluar dapur menuju ruang tengah. Viona hanya memperhatikan langkah demi langkah Derik menuju ruang tamu. "Eh, ada apa?" tanya Nenek menyapa Viona. "Ah, enggak. Oh ini, Nek. Ada martabak manis. Ayo kita makan bareng." Nenek melirik kotak dan isinya. Mendesah lalu menggeleng. "Aduh, makan begini kaki Nenek ngilu. Sudah tua, nggak bisa manis ini gigi Nenek. Makan sendiri saja." Viona kecewa. Sebanyak ini mana ia habis. Kecewa, ia bawa kotak martabak manis atau terang bulan itu kembali ke depan televisi. Ia akan menikmati cemilan tersebut di sana. Sepertinya tak akan terasa jika sambil menonton dan tertawa. *** Kepalanya pusing, tapi tak bisa tidur. Pekerjaan membuatnya lembur mengecek. Beberapa berkas ia baca satu per satu. Ia kira akan bisa mengerjakannya di kamar, sambil ditemani Adel yang makan martabak keju s**u kesukaannya. Namun, begitu masuk kamar ia mendapati Adel sang istri sudah terlelap. Sepertinya kelamaan menunggunya datang. Derik tak tega membangunkan. Penerangan di kamar gelap. Seperti itulah saat Adel tidur. Tak bisa jika lampu menyala terang benderang. Maka, jika Derik mengerjakan di kamar, jelas saja ia akan mengganggu kenyamanan Adel. Ia putuskan membawa kerjaan di ruang tengah sambil menyeduh kopi pekat dengan sedikit gula. Agar matanya terjaga lebih lama. Meski Derik tidak merokok, tapi ia tak bisa lepas dari kafein. Setiap hari pasti dan harus minum kopi, tapi tidak banyak. Kadang malam seperti ini, atau saat siang di kantor. Hadi yang biasanya memesankan. Laki-laki dan kopi memang tak bisa dilepaskan. Suara tawa dari sebelah, membuat Derik menoleh. Di sana, ada Viona yang sedang tertawa menonton TV sambil menikmati martabak keju s**u. Ia berdecap tak suka. Saat yang punya rumah sedang istirahat di kamar, orang asing malah berbuat semena-mena. Merasa layaknya pemilik rumah. Orang kaya baru seperti Viona, memang norak. Pikir Derik kemudian memalingkan pandang ke kertas di depannya lagi. Derik kembali berkutat di ruang tengah lagu. Menyeruput sedikit demi sedikit kopinya. Suara tawa masih ia dengar sesekali. Suara musik dari televisi juga ia dengar sebagai pengiring kesunyian. Biasanya jika Adel sudah tidur dan ia butuh kerja, ia biasa ke ruang tengah seperti ini. Sendirian. Bahak Nenek saja sudah tidur. Kali ini, rasanya berbeda. Ia tak lagi sendirian. Alunan musik malam dari salah satu saluran televisi membuat malamnya tak terlalu senyap. Menyeruput kopi, rupanya gelas itu sudah kosong. Derik segera ke dapur untuk membuatnya lagi. Di sisi lain, Viona sudah kenyang. Ia hendak membawa sisa martabak keju ke lemari es di dapur. Sebanyak ini, tak mungkin ia habis sendiri. Padahal ia tadi menolak saat Adel menawari. Atau kalau sudah mentok, ia cicip barang sepotong saja milik Adel. Agar tak terbuang sia-sia seperti ini. Di dapur, ia bertemu Derik yang tengah menjerang air. Setelah memasukkan ke dalam lemari es, Viona mendekat pada punggung yang membelakanginya. "Mas Derik bikin kopi lagi?" Derik menoleh saja tidak. Ia hanya diam memandangi air yang belum menunjukkan tanda-tanda berbuih. Viona tak ambil pusing. Ia lirik gelas di dekat kompor. Menduga, bahwa Derik akan membuat kopi lagi. Sudah tengah malam, harusnya Derik tak usah membuat kopi jika tak ingin susah tidur. "Mas Derik sering lembur?" Tak ada sahutan. Derik masih diam. Ia malas saja menjawab pertanyaan yang sudah ia lihat jawabannya. Ia dari tadi kan kerja. Mana mungkin main game. Seperti tak punya hal penting lain saja yang dikerjakan. "Kalau minum kopi lagi, malah bikin nggak bisa tidur." Derik hendak menyumpal perempuan di belakangnya agar tidak mengoceh berisik. Menyalakan kompor lebih besar, agar air lekas mendidih. Lalu ia terkejut kala Viona bergerak ke sampingnya. Ikut menjerang air. Menoleh sekilas, ia pandangi Viona yang melakukan hal sama dengannya. "Mau ngapain kamu? Pergi tidur sana!" Jelas saja Derik mengusir. Tapi, Viona bukannya pergi malah mengambil gelas dan mengambil jeruk nipis dari kulkas. Jeruk yang selalu Nenek stok untuk sewaktu-waktu digunakan membersihkan ikan. Adel memang suka makan ikan, dengan bumbu apa saja. Setelah membelah beberapa bagian, Viona memerasnya di gelas. Selesai, air yang di rebus sudah mendidih dan segera ia tuang ke gelas tersebut. Derik pun demikian. Airnya sudah mendidih. Menuangkan ke gelas. Baru akan mengambil sendok untuk mengaduk, gelas kopinya diambil Viona. "Eh, apa yang kamu lakukan dengan kopiku!" Derik membentak dan meraih paksa gelas kopi yang dipegang Viona. Gadis itu malah membalikkan badan, menjauhkan gelas kopi dari Derik. "Vin! Sialan! Kembalikan gelas kopiku." Derik jadinya memutar dan kini berhadapan dengan Viona. Apa maksudmu?" marahnya. Viona menghela napas. "Mas, cobalah tidak usah minum kopi. Sudah malam dan pastinya Mas Derik butuh tenaga untuk kerja esok hari. Minum saja air jeruk hangat ini." Derik berdecih. "Kenapa kamu mencampuri urusanku? Memangnya siapa kamu? Jangan mentang-mentang Adel menjadikanmu istriku, kamu bisa berlalu jadi nyonya rumah ini. Lagipula, buat apa aku harus menurutimu?" Viona tersenyum dalam hati. Setidaknya, ia akhirnya bisa mengobrol dengan sang suami meski harus bertengkar. "Mas, cobalah minum jeruk hangat ini. Nenek bilang Mas Derik sering pusing saat lembur malam lalu susah tidur setelahnya. Cobalah kali ini saja. Ini." Viona menyodorkan gelas perasan jeruknya tadi. Derik mana sudi. Ia rampas gelas kopi. Sayang, gerakannya kurang cepat yang berakhir dimenangkan oleh Viona. Derik tak mungkin juga akan menarik gelas yang pegangannya digenggam tangan Viona. Bisa salah paham dan ngelunjak nanti gadis itu. Lagian Derik juga mana sudi tangannya bersentuhan dengan gadis itu. "Kamu...." Derik kesal, karena Viona malah mengabaikan dan pergi keluar meninggalkan dapur bersama segelas kopinya yang masih mengepul. Derik melirik pada gelas di dekat kompor. Gelas dengan air tampak keruh dengan buliran jeruk nipis di dalamnya. Malas menjerang air lagi, ia pun terpaksa membawa gelas tersbut keluar dapur. Dilihatnya Viona masih baring-baring di depan televisi. Mengernyit, ia tak melihat gelas kopi yang tadi dibawa Viona. Melihat kelakuan Viona yang merasa jadi nyonya rumah, membuat Derik benci setengah mati. _____________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN